Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Bayi Arka
Hutan di lereng utara Merapi menjadi rumah sementara Sari dan Arka selama bulan-bulan pertama setelah kelahiran. Kuil rahasia sudah ditinggalkan—terlalu berbahaya setelah konfrontasi dengan tetua klan. Sari membawa Arka ke sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik air terjun kecil, tempat yang hanya diketahui oleh beberapa Phoenix tua yang pernah mengasingkan diri. Gua itu hangat secara alami dari panas bumi, dindingnya dipenuhi lumut bercahaya samar, dan pintu masuknya tertutup kabut api tipis yang Sari ciptakan sendiri—pertahanan yang cukup untuk menahan mata-mata klan atau binatang liar.
Arka tumbuh cepat, terlalu cepat untuk makhluk hidup biasa. Dalam minggu pertama, tubuhnya sudah sebesar anak anjing besar. Sisik merahnya yang awalnya lembut seperti sutra terbakar mulai mengeras, membentuk pola seperti bara yang membara di bawah kulit. Sayapnya yang dulu rapat mulai terbuka sedikit demi sedikit, ujungnya masih tipis dan transparan seperti daun yang terbakar tapi belum hancur. Matanya merah lava itu selalu mencari Sari—setiap kali Sari pergi mencari makanan atau air, Arka mengeluarkan suara kecil yang seperti tangisan bayi, meski suaranya sudah mulai dalam seperti gemuruh api kecil.
Sari tidak pernah jauh. Ia belajar menjadi ibu bagi makhluk yang seharusnya tidak punya ibu manusia. Ia memberi makan Arka dengan potongan daging rusa yang ia buru dengan api Phoenix—daging itu selalu dimasak sempurna di telapak tangannya sendiri. Arka makan dengan rakus, tapi selalu menyisakan sedikit untuk Sari, mendorong potongan itu dengan moncong kecilnya sambil mengeluarkan dengkuran puas.
“ Kau tidak perlu sisakan untukku,” kata Sari sambil tersenyum, mengusap sisik kepala Arka. “Aku bukan naga. Aku cukup dengan buah dan akar.”
Arka menggelengkan kepala kecilnya—gerakan yang lucu tapi tegas. “Kau… ibu api,” katanya dengan suara yang semakin jelas setiap hari. “Makan… bersama.”
Sari merasa dadanya hangat—bukan api Phoenix, tapi sesuatu yang lebih lembut, lebih manusiawi. Ia tidak pernah punya anak sebelumnya, tidak pernah membayangkan akan menjadi ibu bagi naga. Tapi setiap kali Arka bersandar di pangkuannya (meski sudah terlalu besar untuk itu), Sari merasa seperti ada bagian dari dirinya yang selama ini kosong akhirnya terisi.
Tapi masa bayi Arka tidak selalu damai.
Arka belum bisa mengendalikan api sepenuhnya. Setiap kali ia marah atau takut—misalnya saat Sari pergi terlalu lama—api kecil muncul dari mulut dan sayapnya. Api itu tidak besar, tapi cukup untuk membakar lumut di dinding gua atau menghanguskan tikar pandan. Sari harus selalu siap memadamkannya dengan api Phoenix-nya sendiri—api yang lebih dingin, lebih terkendali.
Suatu malam, Arka terbangun dari mimpi buruk. Ia menggeliat, sayapnya membentang tiba-tiba, dan api merah menyala dari seluruh tubuhnya. Gua kecil itu langsung terbakar—lumut terbakar, batu retak karena panas mendadak, dan Sari terpaksa memeluk Arka erat-erat, menyelimuti tubuh kecil itu dengan api Phoenix-nya sendiri.
“Tenang… tenang…” bisik Sari, napasnya tersengal karena panas yang luar biasa. “Ini hanya mimpi. Kau aman.”
Arka bergetar di pelukannya, api di tubuhnya perlahan meredup. Matanya merah lava itu berkaca-kaca—air mata naga, yang jatuh sebagai tetesan lava kecil yang mengeras menjadi batu permata merah di lantai gua.
“Aku… takut,” katanya dengan suara kecil. “Aku takut… membakar kau.”
Sari mengusap kepala Arka. “Kau tidak akan membakarku. Api kita sama. Kita saling melindungi.”
Arka mengangguk pelan, tapi Sari tahu—ketakutan itu tidak akan hilang begitu saja. Arka mulai sadar bahwa kekuatannya bukan hanya anugerah, tapi juga kutukan potensial. Ia mulai menghindari kontak fisik yang terlalu dekat dengan Sari, takut api-nya akan melukai.
Sementara itu, intrik klan Phoenix tidak berhenti.
Raden Surya tidak puas dengan keputusan Dewi Lara yang membiarkan Sari dan Arka pergi. Ia diam-diam mengumpulkan faksi kecil yang masih takut pada kelahiran naga baru. Mereka percaya telur itu hasil hubungan terlarang Naga Cahaya dan Phoenix—pengkhianatan terhadap keseimbangan empat raja yang sudah dipulihkan setelah kutukan lama.
Suatu malam, saat Sari sedang mengajari Arka bernapas api secara terkendali (Arka harus meniup api kecil dari mulutnya tanpa membakar apa pun di sekitar), Raden Surya dan tiga Phoenix lain muncul di mulut gua.
“Kau sudah melanggar perintah,” kata Raden Surya. Tombak api di tangannya menyala terang. “Dewi Lara mengizinkan kalian pergi, tapi bukan untuk hidup bebas. Kami datang untuk mengakhiri ini sebelum naga itu tumbuh dan membakar kita semua.”
Arka bersembunyi di belakang Sari, tubuh kecilnya gemetar. Api kecil muncul dari mulutnya—bukan untuk menyerang, tapi karena ketakutan.
Sari berdiri di depan Arka, api Phoenix-nya meledak penuh. “Kalian tidak akan menyentuhnya. Ia masih bayi. Ia tidak bersalah.”
Raden Surya menggeleng. “Bayi naga yang bisa membakar gunung bukan bayi biasa. Kami tidak akan mengulang kesalahan masa lalu.”
Ia melemparkan tombak api ke arah Sari. Sari menangkis dengan api Phoenix-nya—tombak itu meleleh di udara sebelum menyentuhnya. Tapi dua Phoenix lain maju dari sisi, rantai api mereka menyambar ke arah Arka.
Sari berteriak. Ia melompat ke depan Arka, rantai api itu menyambar lengannya—luka bakar dalam yang langsung mengeluarkan darah emas. Sari tidak berteriak kesakitan; ia hanya memeluk Arka lebih erat.
Arka melihat luka itu. Matanya merah lava menyala terang. Untuk pertama kali, ia mengeluarkan raungan kecil—raungan bayi naga yang masih lemah, tapi penuh kemarahan.
Api merah meledak dari tubuhnya—bukan api kecil lagi, tapi badai api yang membakar rantai-rantai itu hingga meleleh. Phoenix-pengikut Raden Surya terdorong mundur, kulit mereka terbakar ringan.
Raden Surya mundur setengah langkah. “Kau lihat? Ia sudah berbahaya!”
Sari berdiri meski lengannya terluka. “Ia melindungi aku. Seperti aku melindunginya. Kalian yang berbahaya—kalian yang datang untuk membunuh anak yang tidak bersalah.”
Arka merangkak ke depan Sari, tubuh kecilnya gemetar tapi tegar. Ia mengeluarkan api kecil lagi—bukan untuk menyerang, tapi untuk menyembuhkan luka Sari. Api itu menyentuh luka bakar, dan luka itu perlahan menutup, meninggalkan bekas merah samar.
Raden Surya menatap itu lama. Lalu ia menghela napas. “Kau menang malam ini, Sari. Tapi ini belum selesai. Kami akan kembali. Dan kalau naga itu tumbuh menjadi ancaman… kami tidak akan ragu lagi.”
Mereka pergi, meninggalkan gua yang masih berasap dari api.
Sari berlutut di depan Arka, memeluknya erat. “Terima kasih,” bisiknya. “Kau sudah melindungiku.”
Arka bersandar di dadanya, suaranya kecil. “Aku… tidak mau kehilangan ibu api.”
Sari menangis pelan—air mata emas yang jatuh ke sisik Arka, membuat sisik itu berkilau lebih terang.
Malam itu, Sari tahu: Arka bukan hanya naga api. Ia adalah bukti bahwa api bisa lahir dari cinta, bukan hanya dari kehancuran.
Tapi ia juga tahu: klan tidak akan berhenti. Dan dunia luar mulai merasakan kehadiran Arka.
Getaran api baru sudah menyebar ke empat raja.
Dan keseimbangan yang sudah pulih… mulai goyah lagi.