NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cypress Mountain

Mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak taman yang luas menuju gerbang depan. Norah berjalan di samping Greta dengan langkah yang masih sedikit salah tingkah setelah ketahuan menguping tadi. Dari kejauhan, terlihat Luca Blight sedang berbincang dengan nada tinggi kepada penjaga gerbang, tangannya sesekali menunjuk ke arah rumah utama.

​Raut wajah Luca langsung berubah lega—seolah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya—saat melihat sosok Greta muncul di kejauhan.

​"Luca... maaf ya. Aku sebenarnya ingin mengajakmu masuk, tapi... Ibuku..." ucap Norah dengan nada menyesal yang dibuat-buat, sambil sesekali melirik Luca dari balik bulu matanya.

​"Tidak apa-apa Norah, terima kasih sudah mengantar Greta sampai ke sini," jawab Luca singkat namun tulus.

​Mendengar pujian yang sebenarnya sangat biasa itu, Norah mendadak tersenyum malu. Pipinya merona merah dan ia sempat memutar-mutar ujung rambutnya, merasa seperti baru saja mendapat perhatian besar dari Luca.

​Namun, senyum itu tidak bertahan lama. Wajah Norah kembali cemberut seketika saat melihat Luca dengan sangat perhatian mengambil helm dan memakaikannya ke kepala Greta. Luca memastikan tali helm itu terpasang dengan pas, jemarinya hampir bersentuhan dengan dagu Greta—sebuah pemandangan yang membuat Norah mendengus pelan.

​Tanpa banyak bicara lagi, Luca menghidupkan mesin motornya yang menderu. Tak lama kemudian, mereka pun hilang dari pandangan, meninggalkan debu tipis di depan gerbang mewah keluarga Vanderbilt.

​Norah masih berdiri mematung di sana dengan muka cemberut dan tangan bersedekap, menatap jalanan kosong yang dilewati Luca tadi. Penjaga gerbang yang melihat ekspresi aneh majikannya itu memberanikan diri bertanya.

​"Nona Norah... ada apa? Kenapa mukanya ditekuk begitu?" tanya si penjaga polos.

​Norah yang sedang kesal setengah mati langsung melayangkan pukulan ringan namun telak ke bahu penjaga itu. "Diam kau!! Masuk sana ke pos!" bentaknya sambil menghentakkan kaki dan berjalan masuk kembali ke rumah dengan perasaan dongkol.

Greta memeluk pinggang Luca dengan erat, namun pikirannya masih tertinggal di ruangan Eleanor. Tangannya meremas bungkusan ponsel di balik cardigannya.

​Luca memacu motornya mendaki jalanan berkelok menuju Cypress Mountain. Angin malam Kanada yang menusuk tulang membuat Greta semakin erat memeluk Luca. Begitu sampai di Highview Lookout, Luca memarkirkan motornya.

​Di bawah mereka, lampu-lampu kota Vancouver terlihat seperti lautan api yang dingin di tepi samudra Pasifik yang gelap.

​"Tarik napas, Greta," ucap Luca sambil melepas helmnya. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin gunung. "Di sini tidak ada Eleanor, tidak ada pengawal, dan tidak ada yang menguping."

​Luca menatap Greta yang masih mematung, lalu pandangannya jatuh pada cardigan Greta yang tampak mengganjal karena bungkusan dari Eleanor.

​"Apa yang dia katakan padamu sampai kau terlihat seperti baru saja melihat hantu?" tanya Luca dengan nada menuntut namun sarat akan kekhawatiran. "Dan apa itu yang kau sembunyikan di balik cardigan mu?"

​Greta menarik napas panjang, uap air keluar dari mulutnya karena suhu yang dingin. Ia perlahan mengeluarkan bungkusan ponsel itu.

"​Ibu Norah memberikan ini untukku," ucap Greta pelan sambil menyerahkan bungkusan itu.

​Luca meraihnya, menimbang berat kotak ponsel mahal tersebut di tangannya. Matanya yang tajam beralih dari benda itu ke wajah Greta yang tampak gelisah. "Lalu apa lagi? Tidak mungkin dia hanya memanggilmu ke ruangan pribadinya yang menyeramkan itu cuma untuk membagikan doorprize."

​Greta terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Ia teringat ancaman Eleanor tentang Namsan Orphanage Foundation yang bisa rata dengan tanah dan bisikan nama Jung Eunha. Ia tidak mungkin menceritakan hal itu sekarang; taruhannya terlalu besar.

​"Tidak ada... Hanya itu," jawab Greta lirih.

​Luca menatap Greta dengan raut tak percaya. Alisnya bertaut, menunjukkan kecurigaan yang nyata. "Tidak mungkin, Greta. Aku tahu siapa Eleanor Vanderbilt. Dia tidak akan memberikan ponsel semahal ini tanpa ada sesuatu yang ingin dia dapatkan darimu. Dia itu hiu korporat, bukan ibu peri."

​Greta berpikir keras, otaknya berputar cepat menggali alasan agar Luca tidak curiga lebih jauh. Matanya bergerak ke sana kemari sebelum ia menemukan satu alasan yang terdengar masuk akal bagi Luca.

​"Eh... itu... sebenarnya Ibu Norah ingin aku tidak mengganggu Norah lagi," ucap Greta cepat, mencoba terdengar meyakinkan. "Mungkin dia merasa kehadiranku di dekat Norah memberikan pengaruh buruk atau semacamnya."

​Luca yang mendengar hal itu terdiam sesaat, lalu tiba-tiba tawa renyahnya pecah di tengah kesunyian Cypress Mountain Lookout.

​"Bukannya Norah yang selalu mengganggumu ya?" Luca tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tampaknya geli dengan alasan yang dibuat Greta. "Aneh sekali Eleanor itu. Memberikan ponsel supaya kau menjauhi anaknya? Itu cara menyuap yang sangat tidak kreatif untuk orang sekaya dia."

Greta, dalam kepanikan yang hampir meledak, berusaha mengalihkan perhatian Luca dari interogasinya. "Umm... Luca, coba buka bungkusnya... Aku mau lihat isinya," ucap Greta dengan nada yang sedikit dipaksakan.

​Luca yang masih menunggu jawaban Greta menurutinya. Ia merobek segel bungkusan itu lalu merogoh tangannya ke dalam kotak. Ia menarik tangannya kembali namun dengan tangan hampa, dan berkata, "Sepertinya ini bukan ponsel... tapi tikus!"

​Greta langsung tersenyum karena tahu diledek Luca saat hari pertama bersekolah kotak makannya dimasukkan seekor tikus oleh Norah, dan sekarang oleh ibunya. "Jangan begitu Luca!" ucap Greta kesal.

​Ia pun melompat kecil dari dudukan bangku motor Luca ke permukaan tanah untuk menjangkau Luca di depannya yang sedang berdiri meledeknya. Namun, ketika sepatu Greta mendarat, kerikil batu kecil membuatnya kehilangan keseimbangan.

​"Eh—!"

​Greta limbung ke arah Luca. Luca refleks merentangkan tangan untuk menangkapnya. Namun, karena Greta masih berusaha mati-matian menyelamatkan bungkusan ponsel itu agar tidak terbentur tanah, ia malah mendarat dengan gerakan canggung di atas Luca.

​Bruk!

​Mereka berdua terjatuh di atas hamparan rumput liar yang dingin. Luca mendarat dengan punggungnya terlebih dahulu, sementara Greta jatuh tepat di atas tubuhnya.

​"Ponselnya selamat!" seru Greta penuh kemenangan, tangannya masih mengangkat bungkusan itu tinggi-tinggi, melupakan bahwa ia sedang menindih Luca.

​Luca yang terengah-engah dan merasa tertindih mendengus. "Baguslah, tapi tulang rusukku sepertinya tidak selamat."

​Greta sontak menyadari posisinya. Wajahnya merona merah. Ia buru-buru ingin bangkit, namun karena panik, tangannya yang baru saja menyentuh tanah menjadi sedikit licin terkena embun rumput. Alhasil, saat ia hendak menopang tubuh, wajahnya justru merosot dan mendarat tepat di bibir Luca.

​Dunia seakan membeku.

​Mata mereka beradu pandang dalam jarak yang begitu dekat. Ciuman tak sengaja itu hanya berlangsung sepersekian detik, namun cukup untuk membuat jantung Greta berdebar kencang. Ia ingin segera menjauh, namun Luca dengan refleks melingkarkan lengannya di pinggang Greta, menahannya tetap di sana.

​"Kalau mau minta maaf, jangan cuma setengah-setengah," bisik Luca, suaranya terdengar berat dan serak.

​Lalu, tanpa menunggu reaksi Greta, Luca menutup kembali jarak di antara mereka. Ciuman itu kini bukan lagi sebuah kecelakaan, melainkan sebuah sentuhan lembut yang dalam dan hangat, menghapus semua pikiran tentang Eleanor, ancaman, dan rahasia yang mengerikan. Di bawah taburan bintang di Cypress Mountain, Greta merasakan untuk pertama kalinya ia adalah seseorang yang benar-benar diinginkan, bukan hanya seorang "hantu" tanpa identitas.

Greta berusaha sekuat tenaga melepaskan pelukan Luca. Dengan jantung yang masih berdegup tidak karuan, ia duduk di samping Luca sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangan. "Ih... Luca... Apaan sih!" serunya dengan muka merah padam, sengaja membuang muka ke arah lampu-lampu kota yang kelap-kelip agar Luca tidak melihat betapa malunya dia.

​Luca tidak beranjak, ia tetap berbaring di rerumputan sambil tertawa puas melihat reaksi Greta. "Sini ponselnya, biar kulihat dengan benar sekarang," ucapnya dengan nada yang masih sisa-sisa tawa.

​Tanpa menoleh sedikit pun, Greta menyodorkan bungkusan itu ke arah Luca. Luca pun mulai membuka kotak iPhone 17 berwarna hitam yang sangat elegan itu. Ia menyalakan perangkatnya, melewati proses setup awal, dan dengan teliti memeriksa setiap sudut sistem ponsel tersebut untuk memastikan tidak ada aplikasi pelacak atau hal mencurigakan lainnya. Semuanya terlihat bersih dan normal, persis seperti ponsel baru dari toko.

​Sambil tersenyum jahil, Luca membuka aplikasi kontak. Ia mengetikkan nomor ponselnya sendiri dan menamainya "Pangeran Greta" dengan tambahan emoji mahkota, benar-benar tanpa sepengetahuan Greta yang saat ini masih sibuk memalingkan wajah dan menenangkan detak jantungnya.

​"Nah, sudah siap digunakan," ucap Luca sambil bangkit duduk dan menyodorkan ponsel itu kembali. "Sudah ada satu nomor penting di dalamnya kalau kau butuh bantuan mendadak."

​Greta meraih ponsel itu, masih sedikit cemberut. "Nomor siapa? Norah? Atau Ibumu?"

​Luca hanya mengangkat bahu sambil nyengir misterius. "Coba saja cek nanti."

Luca tiba-tiba menarik kembali ponsel itu sebelum Greta sempat menyimpannya. "Sini, Greta. Tiduran di sampingku," ucapnya dengan nada perintah yang tak bisa dibantah namun terdengar hangat. "Kita foto bareng pakai HP barumu."

​Greta, yang tadinya masih cemberut dan malu karena kejadian ciuman tadi, anehnya malah menurut tanpa protes. Ia perlahan merebahkan tubuhnya di atas rumput, tepat di samping Luca. Wangi jaket Luca dan aroma rumput malam Vancouver bercampur, menciptakan suasana yang membuat hatinya makin tak karuan.

​Luca mengangkat ponsel hitam itu tinggi-tinggi, mengarahkan kamera depan ke arah mereka. "Senyumnya mana, Greta?" tanya Luca sambil melirik layar yang sudah menampilkan pantulan wajah mereka berdua di bawah cahaya bulan.

​Greta menatap layar itu, melihat wajahnya yang masih merah padam, lalu bergumam pelan, "Gak mau..." sambil tetap mempertahankan wajah cemberutnya yang menggemaskan.

​"Yaudah gak apa-apa, cemberut juga masih cantik kok," sahut Luca santai.

​Cekrek!

​Luca menekan tombol foto tepat saat Greta sedikit melirik ke arahnya. Tanpa menunggu lama, dan tentu saja tanpa sepengetahuan Greta yang langsung membuang muka karena malu, Luca dengan cekatan menyetel foto itu sebagai wallpaper utama. Foto mereka berdua—Luca yang tersenyum bangga dan Greta yang sedang cemberut cantik—kini menghiasi layar iPhone 17 itu.

​Setelah selesai, Luca memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam kotaknya. Dengan gerakan perlahan, ia menaruh bungkusan itu tepat di atas perut Greta yang masih berbaring diam di sampingnya.

​Suasana mendadak menjadi sangat sunyi dan emosional. Mereka berdua terdiam, menatap langit malam yang sama, membiarkan momen itu meresap sebelum mereka harus kembali ke kenyataan pahit di bawah bayang-bayang keluarga Vanderbilt.

​"Greta," panggil Luca lirih tanpa menoleh. "Apapun yang dikatakan Eleanor padamu tadi... ingat, jangan hadapi sendirian."

Angin malam Vancouver berembus semakin kencang, membawa aroma pinus yang dingin, namun Greta merasa hangat di bawah tatapan Luca. Mereka akhirnya bangkit dari rerumputan Cypress Mountain, membersihkan sisa-sisa daun kering yang menempel di baju, lalu berjalan pelan menuju motor.

​Di perjalanan pulang, Greta memeluk pinggang Luca lebih erat dari biasanya. Ia menyandarkan kepalanya di punggung kokoh pemuda itu, sementara tangan kirinya mendekap erat bungkusan ponsel di balik cardigannya, Sebuah benda yang kini bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan saksi bisu dari momen yang baru saja mereka lalui.

​Motor Luca berhenti tepat di depan gedung Apartemen tempat Greta tinggal. Luca mematikan mesinnya, membuat suasana sekitar mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung mereka yang masih belum stabil. Luca melepas helm Greta, lalu merapikan anak rambut gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut.

​"Istirahatlah," ucap Luca pendek, menatap mata Greta dalam-dalam.

​Greta hanya mengangguk kecil, memberikan senyum tipis yang tulus sebelum turun dari motor dan melambaikan tangan. Ia berjalan masuk ke lobi apartemen yang sepi, menaiki tangga dengan perasaan yang melayang.

​Begitu sampai di dalam unit apartemennya, Greta segera mengunci pintu dan melempar tasnya di atas tikar. Dengan tangan sedikit gemetar, ia duduk di tepi tempat tidur dan membuka kotak ponsel itu. Cahaya layar iPhone 17 yang cerah langsung menerangi kegelapan ruangan apartment nya yang sempit.

​Napas Greta seketika tertahan. Di sana, terpampang foto mereka berdua di bukit tadi sebagai wallpaper. Luca yang tersenyum maskulin dan dirinya yang sedang cemberut malu, namun terlihat sangat manis.

​Greta memeluk ponsel itu di dadanya, merebahkan tubuhnya ke kasur sambil tersenyum lebar sendirian. Namun, di tengah rasa baper yang membuncah, bayangan Eleanor kembali melintas. Nama Jung Eunha dan rahasia Namsan Orphanage Foundation tetap menjadi hantu yang mengintai di balik pintu apartemennya.

​Ia tahu, malam ini ia bisa tidur dengan senyuman, tapi esok, permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
watno antonio
ayo lanjut thor
spill.gils: terimakasih atas dukungannya, mohon di tunggu 🙏
total 1 replies
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!