"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keliling Kota
"Akhirnya Mas pulang juga." Ucap Naina sangat senang menyambut kepulangan Dimas.
Dimas membalas ucapan Naina dengan senyum kecil, "Aku mandi dulu ya, Nai."
"Iya, Mas. Sepertinya, hari ini hari yang melelahkan." Naina menatap Dimas.
"Ya, begitulah."
Dimas berjalan meninggalkan Naina, sedangkan Naina duduk menunggu di sofa ruang tamu.
Beberapa menit berlalu, Dimas datang dengan memakai baju kaos dan celana pendek. Ia duduk di sebelah Naina yang memang menunggu dari tadi.
"Jadi pergi?" Tanya Dimas. Di mata Naina pria itu terlihat berbeda.
"Apa Mas capek? Kalau capek kita bisa pergi lain kali."
"Gak, kok. Aku kan udah janji sama kamu untuk pergi malam ini."
"Yasudah, aku ambil tas dulu." Balas Naina.
*
Setelah semua beres Dimas berjalan menenteng kunci mobilnya. Tapi Naina dengan sigap memberhentikan langkah Dimas.
"Kenapa?" Tanya Dimas, heran.
"Tidak usah pakai mobil, Mas. Pakai ini saja." Ucap Naina sembari memberikan kunci motornya.
Dimas terdiam sesaat. "Pakai motor?"
Naina mengangguk girang. "Biar bisa lebih menikmati pemandangan malam."
"Ada-ada aja." Dimas menyunggingkan senyum kecil.
Mereka berdua lalu berboncengan menggunakan motor.
Langit malam di penuhi bintang. Cahaya lampu saling menyorot menghiasi isi kota. Jalanan masih di padati oleh kendaraan, karena saat ini masih belum terlalu larut.
"Kita mau kemana, Nai?" Dimas sedikit memelankan laju motor agar suaranya dapat terdengar oleh Naina. Ramainya kendaraan lain membuat mereka harus mengencangkan suara agar terdengar satu sama lain.
"Keliling keliling saja, Mas. Aku suka liat pemandangan malam di sini. Kan selama kita pindah, kita belum pernah jalan-jalan mengitari kota saat malam hari. Dan ternyata sungguh indah."
"Oke, Baiklah."
Dimas yang sudah lama tidak menggunakan motor agak sedikit canggung saat menggunakan kendaraan itu, hingga tanpa sengaja ia menarik gas motor terlalu kencang, membuat tubuh Naina tak sengaja merapat ke punggungnya dan membuat tangan gadis itu berpegangan erat pada pinggang Dimas.
"Sorry, Nai." Ucap Dimas sedikit tak enak hati. Tapi justru di belakang sana Naina hanya diam dan mengulum senyum. Wajahnya memerah.
Naina lantas melepas pegangan tangannya dan sedikit memundurkan badan. "Maaf juga, Mas." Balas Naina.
"Gak apa-apa pegangan aja. Takut nanti kejadian lagi. Takut kamu terjatuh."
Dalam keraguan, Naina kembali melingkarkan tangannya dan memeluk Dimas sangat erat.
Mereka kembali berkeliling melewati jalan demi jalan. Lalu, mereka singgah sebentar di tepian Taman Kota untuk membeli beberapa jajanan, dan setelah itu lanjut berkeliling sembari menikmati jajanan yang mereka beli di atas motor.
Dimas yang biasa dingin terlihat bahagia sekali. Ia seakan sangat menikmati malam ini. Tawanya terdengar sangat lepas.
"Motoran dan keliling gak jelas kaya gini ngingetin waktu di jaman sekolah." Ucap Dimas."
Mereka mengarungi malam itu dengan penuh suka cita, sampai akhirnya jam menunjukkan pukul sepuluh malam dan mereka kembali ke rumah.
*
"Capek juga ya, Mas. Padahal cuma duduk di atas motor."
"Yaudah, kamu istirahat. Besok kan kamu masuk kerja."
"Iya, Mas. Mas juga."
Naina berjalan ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Setelah semua beres, ia kembali ke kamar. Naina terlihat sibuk menyibak beberapa baju di dalam lemari untuk mencari piyama. Setelah menemukannya, ia bergegas membuka baju yang tadi ia kenakan untuk menggantinya.
Satu persatu kain di tubuhnya Naina lepaskan, ia tidak menyadari ada Dimas yang tiba-tiba masuk kekamar itu. Saat menyadari akan kedatangan Dimas, Naina diam mematung dengan mata melotot. Tubuhnya seakan membeku. Sedangkan Dimas juga hanya diam, ia segera mengalihkan pandangan dan berbaring di kasur serta menyelimuti tubuhnya.
Naina lompat dan menarik selimut yang Dimas gunakan.
"Aku sudah melihatnya, Nai." Ucap Dimas.
Wajah Naina memerah. Mulutnya kaku. Malu, itu yang ia rasakan. Dimas membalikkan badan membelakangi Naina hal itu ia lakukan agar gadis itu dapat segera memakai piyama dan tidak bisa di bohongi, jantung Dimas berdetak kencang.
*
Setelah mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur, Naina merebahkan diri di sebelah Dimas. Pria itu sudah tertidur pulas. Naina menatap wajah Dimas sangat dalam, walaupun cahaya di dalam sana remang-remang, tapi Naina dapat melihat wajah itu dengan jelas.
"Cintaku masih sama sejak pertama kita bertemu, Mas. Aku masih tidak menyangka akan menjadi istri Mas." Benak Naina. Ia lantas mengambil satu tangan Dimas, menggenggamnya erat, dan meletakkan tangan itu ke wajahnya.
Hangat...
Naina memejamkan mata. Merasa sangat nyaman dengan menggenggam tangan itu.
Lalu tiba-tiba tubuh Naina terasa tertarik. Kali ini lebih hangat dari sebelumnya. Naina terbenam dalam pelukan tubuh Dimas.
"Ma-mas...?" Lirih Naina.
"Tidurlah." Balas Dimas yang seperti tanpa kesadaran.
udah muak gw di otak nya sarah mulu, kasian naina,,
sarah jga udah tau dimas laki orang, malah di biarin anak nya deket sma si dimas, kan cari masalah pusing sndri krna udah terlanjur deket,,
kasih dia cwok gih biar gak recokin rumah tangga orang mulu,,,
kalau Dimas masih datangin sarah dan Kimmy,,buat naina pergi jauh dan Dimas nangis darah..