NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Komedi / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Office Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 — LUKA HARGA DIRI

Pagi itu, cahaya matahari jatuh lurus di atas lantai marmer apartemen Arsenio. Tajam. Dingin. Dan seperti pemiliknya, terlalu sempurna untuk dicela.

Alinea berdiri mematung di depan cermin tinggi yang semalam sengaja dipasang di tengah ruang. Rambutnya disanggul rapi, helai demi helai terkunci tanpa cela. Gaun krem yang membalut tubuhnya jatuh dengan elegan—hasil kurasi stylist yang didatangkan Arsenio tanpa banyak drama. Heels lima sentimeter memberikan postur tegap yang ia butuhkan sebagai tameng.

Ia menatap bayangannya sendiri cukup lama.

Cantik.

Anggun.

Layak.

Kata itu kembali bergaung, memantul di dinding kepalanya. Layak.

Ia teringat semalam, saat Arsenio berdiri tepat di belakangnya. Tangan pria itu bergerak tenang, memperbaiki posisi bahu Alinea dengan sentuhan yang terasa ringan namun tegas—seolah sedang memahat mahakarya yang tidak boleh miring satu derajat pun

“Dagu sedikit naik. Jangan terlalu sering berkedip. Kontak mata tiga detik, lalu alihkan. Senyum tipis. Jangan terlalu lebar.”

Suara Arsenio terdengar datar. Profesional. Terukur secara matematis.

Alinea membiarkan dirinya ditarik dan diatur, mengikuti setiap instruksi tanpa bantahan. Di bawah kendali pria itu, ia merasa tak lebih dari sekadar boneka etalase—sebuah komoditas yang sedang dipoles habis-habisan agar tampil lebih "menjual" di pasar kelas atas.

Dan pagi ini, di balik gaun krem yang sempurna dan postur yang tegap, sesuatu di dalam dadanya terasa retak.

Sebuah retakan halus yang tak terlihat cermin, namun cukup untuk membuat seluruh harga dirinya terasa goyah.

Arsenio melangkah keluar dari ruang kerja dengan setelan hitam yang jatuh sempurna.

Tatapannya tidak menyapa, ia langsung menyapu sosok Alinea dari ujung kepala hingga ujung kaki. Itu bukan tatapan kagum, melainkan tatapan yang otomatis menilai, mengukur presisi, dan memastikan tidak ada satu pun detail yang luput dari standar perfeksionisnya.

Alinea bisa merasakan setiap inci tubuhnya seolah sedang dipindai oleh sensor digital yang dingin.

“Kamu lebih stabil berdirinya,” ucapnya singkat.

Kalimat itu menggantung di udara yang dingin. Lebih stabil. Bukan lebih cantik.

Bukan lebih percaya diri.

Hanya... lebih stabil.

Arsenio tidak sedang memuji seorang wanita,ia sedang memberikan testimoni pada sebuah produk yang baru saja diperbaiki fungsinya.

Alinea tersenyum tipis. “Terima kasih.”

Arsenio mendekat. Jarak yang ia ambil sekarang telah melampaui batas profesional yang ia tetapkan sendiri.

Ia mengangkat tangan, lalu dengan gerakan lambat—nyaris seperti sebuah belaian—ibu jarinya mengusap sisa lip tint di sudut bibir Alinea.

Sentuhan itu terasa intim, begitu panas hingga sanggup membakar kulit. Namun, saat Alinea mendongak, ia hanya menemukan sepasang mata yang tetap sedingin es. Arsenio menyentuhnya dengan kelembutan seorang kekasih, namun menatapnya dengan ketajaman seorang penguasa.

“Detail kecil menentukan persepsi,” ucapnya.

Persepsi.

Alinea menahan napas.

“Persepsi siapa?” tanyanya pelan.

Arsenio tidak menangkap nada itu.

“Orang-orang di gala nanti. Mereka membaca gestur lebih cepat dari kata.”

Tentu saja.

Segalanya adalah tentang orang lain. Tentang bagaimana mata-mata asing di luar sana akan membedah mereka. Tentang citra yang harus dikemas kedap udara. Tentang penilaian yang tidak boleh cacat barang satu poin pun.

Alinea tidak ada di sana. Yang ada hanyalah sebuah representasi.

Alinea menunduk sejenak, membiarkan satu helai napas berat lolos diam-diam, lalu kembali mengangkat wajahnya. Saat matanya bertemu kembali dengan mata Arsenio, ia telah memasang topeng paling sempurna yang pernah ia miliki.

“Kalau saya salah berdiri sedikit, harga saham perusahaan kamu turun?”

Arsenio mengerutkan dahi. “Kita bukan sedang bercanda.”

“Memang,” jawab Alinea lembut.

Ia berbalik, berjalan ke meja makan. Mengambil segelas air, meneguknya perlahan.

Arsenio mengikuti.

“Kita tinggal dua hari lagi sebelum gala. Kamu harus siap.”

Kamu harus siap.

Bukan kita.

Kamu.

Alinea meletakkan gelasnya lebih keras dari yang ia maksudkan.

“Siap jadi apa?”

Arsenio terdiam sesaat. “Partner saya.”

“Partner… atau properti?”

Sunyi.

Arsenio menatapnya tajam. “Apa maksud kamu?”

Alinea tertawa kecil. Tidak hangat.

“Saya cuma memastikan. Karena dari kemarin yang saya rasakan itu seperti sedang di-upgrade.”

“Upgrade?”

“Iya.” Alinea menoleh. Matanya tidak lagi lembut. “Cara duduk diperbaiki. Cara bicara dikoreksi. Cara tertawa diatur. Bahkan cara saya berdiri pun salah.”

Arsenio menarik napas panjang. “Itu namanya persiapan.”

“Persiapan atau perbaikan?”

“Alinea—”

“Jawab saya.”

Nada suara Alinea tidak meninggi. Namun, setiap katanya mendarat dengan dentum yang keras. Tegas. Tanpa celah untuk interupsi.

Arsenio mematung sejenak. Ia tidak terbiasa dengan frekuensi ini.

Sepanjang hidupnya, ia adalah konduktor yang menentukan tempo,ia terbiasa melihat orang lain tersengal-sengal mengikuti ritme yang ia ciptakan. Bukan justru berdiri tegak dan berani melawannya.

“Kamu terlalu sensitif.”

Kalimat itu seperti tamparan.

Alinea membeku. Udara di sekitarnya mendadak terasa setajam silet.

Sensitif.

Jadi, sekarang ini salahnya? Karena ia masih memiliki saraf yang berfungsi? Karena ia menolak menjadi sekadar dekorasi bisu di pesta yang bahkan bukan miliknya?

Alinea menatap Arsenio lekat-lekat, mencari sisa-sisa kemanusiaan di balik mata pria itu yang hanya dipenuhi oleh angka dan proyeksi citra.

Arsenio melanjutkan, masih dengan nada rasional. “Lingkungan yang akan kita hadapi berbeda dengan keseharian kamu. Saya hanya memastikan kamu tidak dipandang sebelah mata.”

“Dipandang sebelah mata oleh siapa?”

“Investor. Kolega. Media.”

Alinea menatapnya lurus.

“Jadi memang saya dipandang sebelah mata?”

Arsenio membuka mulut, lalu terdiam.

Hanya satu detik keraguan.

Kesalahan kecil.

Tapi bagi pria seperti dia, itu fatal.

“Alinea, bukan itu maksud saya.”

“Tapi itu yang kamu pikirkan.”

Arsenio mendekat. Jarak mereka kini tersisa hitungan senti.

Alinea terpaksa mendongak, menantang dominasi pria itu yang seolah menelan seluruh ruang napasnya.

“Sejak awal kamu merasa saya tidak cukup, kan?”

Arsenio menggeleng cepat. “Tidak.”

“Lalu kenapa semua harus diperbaiki?”

Karena dunia kejam.

Karena mereka akan mencari celah.

Karena saya tidak mau kamu disakiti.

Kalimat-kalimat itu berteriak di kepala Arsenio. Namun, saat bibirnya terbuka, yang keluar justru sesuatu yang kaku.

Sebuah pertahanan yang salah alamat.

“Saya tidak mau kamu mempermalukan diri sendiri.”

Dan hancurlah semuanya.

Alinea tertawa kecil. Kali ini benar-benar pahit.

“Jadi saya memalukan?”

“Bukan begitu—”

“Kalimat kamu barusan jelas.”

Arsenio meremas pelipisnya. “Kamu memelintir ucapan saya.”

“Tidak. Saya mendengarnya dengan sangat jelas.”

Dadanya sesak. Tenggorokannya panas.

Alinea bukan perempuan yang mudah tersinggung. Ia sudah kebal dengan komentar orang tentang latar belakangnya, pekerjaannya, atau gayanya yang dianggap terlalu santai. Ia tidak pernah peduli.

Tapi dari Arsenio... itu berbeda.

Karena diam-diam, Alinea ingin diakui sebagai manusia. Bukan diperbaiki seperti barang rusak.

Arsenio melangkah mendekat lagi, kali ini lebih emosional.

“Saya hanya ingin kamu tampil maksimal.”

“Menurut standar kamu.”

“Menurut standar dunia tempat saya berdiri.”

“Dan saya harus berdiri di situ juga?”

“Iya!”

Jawaban itu meluncur spontan.

Keras. Jujur. Dan telak menyakitkan.

Alinea menatapnya lekat-lekat. Matanya mulai berkaca-kaca, memanas, namun ia menolak keras untuk membiarkan satu tetes pun jatuh di depan pria ini.

“Kenapa?”

Arsenio terdiam.

Kenapa?

Karena saya ingin kamu sejajar dengan saya.

Karena saya tidak mau mereka meremehkanmu.

Karena saya tidak ingin mereka berpikir saya salah memilih.

Karena saya—

Arsenio terjebak dalam badai pikirannya sendiri. Ia tidak pernah memformulasikan alasan-alasan itu menjadi sesuatu yang bisa diucapkan. Ia terbiasa mengambil keputusan sepihak. Bukan menjelaskan perasaan yang selama ini ia kunci rapat.

“Saya tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang,” katanya akhirnya.

Alinea mengangguk pelan.

“Itu masalahnya.”

Arsenio mengerutkan dahi.

“Kamu selalu tidak menjelaskan.”

Sunyi lagi.

“Dari awal semuanya terasa seperti kontrak,” lanjut Alinea. “Aturan. Target. Deadline.”

“Memang itu awalnya.”

“Tapi saya bukan proyek.”

Arsenio membeku.

Alinea melangkah mundur satu langkah.

“Saya bukan proyek perbaikan ya?”

Kalimat itu keluar pelan. Nyaris berupa bisikan yang tertahan di tenggorokan.

Namun, efeknya menghantam lebih keras dari teriakan mana pun yang pernah Alinea dengar. Getarannya merambat, meruntuhkan sisa-sisa pertahanan diri yang sejak tadi ia bangun dengan susah payah.

Arsenio terdiam beberapa detik.

“Alinea—”

“Jawab.”

Tatapan mereka saling mengunci. Hening yang tercipta terasa lebih menyesakkan daripada perdebatan tadi.

Arsenio bisa saja berkata tidak dengan mudah. Ia punya ribuan cara untuk mengelak, memutarbalikkan kata, atau kembali menjadi dinding es yang tak tertembus.

Tapi kejujuran punya sisi kejam. Dan saat ini, kejujuran itu sedang menelanjangi semua ego yang ia bangun, memaksa mereka berdua berdiri di atas retakan yang sama.

“Semua orang selalu bisa jadi lebih baik.”

Itu bukan jawaban yang ia butuhkan.

Alinea tersenyum tipis. Hancur.

“Berarti iya.”

“Bukan begitu maksudnya.”

“Tapi itu yang terjadi.”

Alinea menunjuk dirinya sendiri.

“Saya diukur. Dinilai. Diperhalus. Dipoles. Supaya… layak.”

Kata itu kembali.

Layak.

Arsenio mendadak sadar. Selama ini ia sibuk memastikan apakah Alinea layak untuk dunianya.

Namun sekarang, ia justru bertanya-tanya: apakah ia sendiri yang tidak layak bagi wanita ini?

Semalam, tanpa sadar, ia pernah berkata, “Kamu sudah lebih layak berdiri di samping saya.”

Ia mengira itu pujian.

Ternyata itu luka.

Arsenio menyadarinya sekarang. Kata-kata yang ia susun sebagai standar kebanggaan, justru mendarat sebagai sembilu di hati Alinea.

Alinea berbalik, melangkah cepat menuju kamar.

Arsenio refleks menarik pergelangan tangannya. Sentuhan itu menyentak Alinea, membuat tubuh mereka kembali merapat.

Terlalu dekat. Hingga deru napas yang memburu itu kini saling beradu.

“Alinea, dengarkan saya.”

“Lepaskan.”

“Tidak sebelum kamu dengar.”

Tatapan mereka bertabrakan lagi.

Ada api yang menyulut amarah. Ada luka yang menganga lebar. Dan di antara keduanya, ada sesuatu yang kini tak lagi bisa disebut sekadar latihan gala.

Batas profesional itu sudah hancur total.

“Apa kamu pikir saya malu punya kamu di samping saya?” tanya Arsenio rendah.

Alinea menelan ludah.

“Entahlah. Kamu tidak pernah benar-benar bilang bangga.”

Kalimat itu membuka sesuatu yang lebih dalam. Jauh melampaui sekadar simulasi.

Arsenio kehilangan kata. Ia memang jarang memuji,baginya, memberikan ruang dan kesempatan adalah bentuk pengakuan tertinggi. Namun sekarang ia sadar, bagi Alinea, itu tidak pernah cukup.

Alinea butuh didengar, bukan sekadar diberi tempat.

“Saya membawa kamu ke dunia saya,” katanya akhirnya.

“Karena kamu butuh pendamping.”

“Karena saya pilih kamu.”

“Karena situasi memaksa.”

Setiap kalimat yang mereka lontarkan kini saling menebas, meninggalkan luka yang tak kasatmata.

Tanpa sadar, Arsenio mengencangkan genggamannya. Seolah jika ia melonggarkannya sedikit saja, Alinea akan hancur—atau justru ia sendiri yang akan kehilangan pegangan.

Alinea meringis.

“Lepas,” ulangnya.

Arsenio langsung melepaskan.

Seketika rasa bersalah menghantam.

“Alinea, saya tidak pernah menganggap kamu memalukan.”

“Tapi kamu menganggap saya belum cukup.”

Arsenio menggeleng.

“Saya hanya ingin kamu kuat.”

“Saya sudah kuat sebelum kamu datang.”

Kalimat itu seketika membungkam Arsenio.

Benar. Alinea sudah lama bertahan hidup dengan caranya sendiri. Tanpa standar gala, kelas public speaking, atau kursus body language.

Alinea sudah cukup. Hanya saja, selama ini Arsenio terlalu sibuk menilai hingga lupa untuk benar-benar melihat.

Alinea menarik napas dalam.

“Saya tahu dunia kamu keras. Saya tahu orang-orang akan menilai. Tapi saya ingin kamu melihat saya dulu sebelum mereka.”

Arsenio menatapnya.

“Saya melihat kamu.”

“Tidak. Kamu melihat potensi yang bisa diperbaiki.”

Itu menyakitkan karena ada benarnya.

Arsenio memang selalu fokus pada apa yang bisa dioptimalkan. Bahkan pada dirinya sendiri. Hidup baginya adalah serangkaian perbaikan tanpa henti—dan tanpa sengaja, ia memperlakukan Alinea sebagai proyek yang belum selesai.

“Alinea…”

Untuk pertama kalinya, suaranya tidak tegas.

Tidak dominan.

“Kalau saya mendorong kamu terlalu jauh, itu bukan karena kamu kurang. Tapi karena saya takut.”

Alinea terdiam.

Takut?

“Kamu takut apa?”

Arsenio menelan ludah.

“Takut mereka meremehkan kamu.”

“Kenapa itu penting?”

“Karena kalau mereka meremehkan kamu, itu artinya mereka meremehkan pilihan saya.”

Ego. Harga diri. Reputasi.

Alinea tersenyum pahit. Tiga kata itu adalah tembok besar yang selama ini Arsenio bangun, dan kini Alinea sadar bahwa ia hanya salah satu batu bata yang sedang disusun paksa di sana.

“Jadi ini tentang kamu.”

Arsenio terdiam.

Ia tidak bisa menyangkal sepenuhnya.

“Alinea, saya hidup di dunia di mana kesalahan kecil bisa jadi bahan tertawaan.”

“Saya bukan kesalahan.”

Kalimat itu membuat udara di antara mereka menegang.

“Saya tidak bilang kamu kesalahan.”

“Tapi kamu memperlakukan saya seperti risiko.”

Sunyi.

Arsenio mengusap wajahnya kasar. Frustrasi.

Ia tidak pernah kalah dalam debat apa pun. Namun, kali ini bukan soal logika yang bisa ia patahkan. Ini soal hati.

Dan untuk urusan itu, Arsenio sama sekali tidak terlatih.

Alinea akhirnya melangkah menjauh.

“Kita lanjut latihan nanti saja.”

Nada suaranya kembali netral.

Terlalu netral. Hingga rasanya lebih mengkhawatirkan daripada amarah yang meledak.

Sebab dalam suara itu, Arsenio bukan lagi sedang berdebat. Ia sedang menutup pintu. Rapat-rapat.

“Kamu mau pergi ke mana?”

“Ke kamar. Saya butuh ruang.”

Arsenio menahan diri untuk tidak mengejar lagi.

Pintu kamar itu tertutup pelan. Tidak ada suara bantingan. Tidak ada adegan dramatis.

Namun bagi Arsenio, suara klik pintu itu terdengar seperti jarak yang tiba-tiba melebar ribuan kilometer.

Di balik pintu yang tertutup, Alinea bersandar. Napasnya berat, dan air matanya akhirnya jatuh. Bukan karena Gala yang mengintimidasi, bukan pula karena kritik pedas yang menusuk.

Tapi karena ia sadar—ia mulai peduli.

Dan ketika seseorang yang kau pedulikan membuatmu merasa "tidak cukup", rasanya jauh lebih perih dibanding ribuan komentar orang asing.

Di luar, Arsenio berdiri diam. Tangannya mengepal di samping tubuh. Ia membenci kekacauan,ia terbiasa menaklukkan masalah dengan strategi yang presisi. Tapi situasi ini? Tidak ada manualnya.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang menampar egonya sendiri, ia tidak sedang melatih partner untuk sebuah acara formal. Ia sedang belajar bagaimana cara tidak melukai perempuan yang mulai ia anggap lebih dari sekadar kesepakatan di atas kertas.

Ego mereka baru saja berbenturan keras. Gala tinggal dua hari lagi. Namun sekarang, yang lebih mendesak bukan lagi soal bagaimana Alinea berdiri di depan kamera.

Melainkan apakah mereka masih bisa berdiri berdampingan tanpa saling meruntuhkan harga diri.

Gala tinggal dua hari lagi.

Namun, yang membuat dada mereka sesak bukan lagi daftar tamu yang mengintimidasi atau sorotan kamera yang haus berita. Melainkan satu pertanyaan besar yang menggantung di udara: apakah mereka sedang berdiri berdampingan sebagai kawan, atau justru sedang berdiri di atas luka masing-masing?

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Arsenio tidak takut pada ancaman investor atau keruntuhan saham. Ia justru merasa gentar pada satu perempuan yang memilih diam di balik pintu kamar itu.

Sebab Arsenio baru menyadari satu hal yang tak pernah ada di buku panduan bisnisnya: harga diri yang sudah terlanjur terluka, tidak akan pernah bisa diperbaiki hanya dengan pelatihan.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!