Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan siang dengan ayah dan gangguan tak terduga
Minggu pagi tiba dengan cuaca Jakarta yang cerah.
Mayra bangun lebih pagi dari biasanya, jam 7 pagi, karena gugup dengan makan siang bersama ayahnya nanti. Ini akan jadi pertemuan pertama yang benar sejak pernikahan dramatis itu, dan dia tidak tahu apa yang akan ayahnya katakan.
Setelah mandi dan bersiap, Mayra memilih pakaian yang sederhana tapi elegan: gaun selutut biru muda dengan kardigan putih dan sepatu datar. Riasan natural, rambut di-blow dry dengan gelombang lembut.
Saat keluar dari kamar, aroma kopi dan panekuk menyambut. Dev sudah ada di dapur seperti biasa.
"Selamat pagi," sapa Dev sambil membalik panekuk dengan spatula. Dia mengenakan kaos abu-abu dan celana olahraga hitam, juga rambut masih sedikit basah. Penampilan santai hari Minggu yang membuatnya terlihat lebih... mudah didekati.
"Selamat pagi," jawab Mayra sambil duduk di kursi tinggi. "Kamu masak lagi?"
"Tradisi hari Minggu," jawab Dev sambil menuang kopi untuk Mayra, sudah dengan susu dan satu sendok gula, persis seperti yang Mayra suka. "Hari kerja terlalu terburu-buru, jadi hari Minggu saya nikmati dedengan memasak."
Mayra tersenyum. "Aku menghargai itu. Panekukmu memang paling enak."
Dev meletakkan piring panekuk di depan Mayra dengan senyum tipis yang membuat Mayra sadar bahwa, ya ampun, pria ini benar-benar tampan saat tersenyum.
Hentikan, Mayra. Ini kontrak. Jangan mulai merasakan sesuatu, tegur Mayra pada dirinya sendiri.
Mereka sarapan dalam keheningan yang nyaman, sampai Dev bertanya, "Kamu gugup untuk makan siang nanti?"
"Sedikit," jawab Mayra jujur. "Aku tidak tahu Papa mau bicara apa. Dan aku... aku gugup kamu ada di sana. Takut canggung."
"Mau aku batalkan? Kamu bisa bilang saya ada urusan mendadak," tawarkan Dev.
Mayra menggeleng. "Tidak. Kamu sudah bilang akan datang. Dan jujur... aku rasa Papa juga mau lebih kenal kamu. Sebagai... suamiku."
Kata "suami" itu masih terasa asing di lidah, tapi setiap kali Mayra mengucapkannya, terasa sedikit lebih... alami.
"Oke. Kalau begitu aku akan bersikap sebaik mungkin," kata Dev dengan senyum tipis yang jenaka.
"Kamu punya 'sikap terbaik'? Kukira kamu selalu berperilaku sempurna," goda Mayra.
Dev tertawa kecil. "Kamu akan terkejut."
***
Jam 11.45, mereka sudah dalam perjalanan menuju Union Restaurant, restoran yang punya nilai sentimental untuk Mayra karena ini tempat favorit ayahnya, dan juga tempat di mana Arman dulu melamarnya.
Tapi Mayra berusaha tidak memikirkan kenangan yang terakhir itu.
"Kamu oke?" tanya Dev saat melihat Mayra menatap kosong keluar jendela.
"Ya, hanya... berpikir," jawab Mayra.
"Tentang?"
"Tempat ini. Union. Di sini Arman melamarku setahun lalu," kata Mayra pelan. "Rasanya seperti seumur hidup yang lalu."
Dev tidak berkomentar, hanya meraih tangan Mayra dan menggenggamnya dengan lembut, gerakan yang tidak terduga tapi menenangkan.
"Masa lalu ya masa lalu. Kamu sudah melangkah maju. Dan hari ini kamu di sini dengan orang yang berbeda," kata Dev dengan nada yang menenangkan.
Mayra menatap tangan mereka yang bergandengan, lalu menatap Dev. "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena ada di sini. Untuk semuanya."
Dev hanya tersenyum tipis dan tidak melepas genggaman tangannya sampai mobil berhenti di depan restoran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bambang sudah menunggu di meja yang sama dengan setahun lalu, meja di pojok dekat jendela dengan pemandangan taman yang indah.
Saat melihat Mayra dan Dev berjalan masuk bersama, Bambang berdiri dengan senyum yang agak canggung.
"Mayra, sayang," Bambang memeluk putrinya dengan erat. "Papa kangen sekali."
"Aku juga kangen, Pa," bisik Mayra sambil membalas pelukan.
Lalu Bambang menatap Dev dan mengulurkan tangan. "Dev, terima kasih sudah datang."
"Terima kasih sudah mengundang, Pak," jawab Dev sambil menjabat tangan Bambang dengan tegas tapi penuh hormat.
Mereka bertiga duduk. Mayra di tengah, Dev di sebelahnya, Bambang di seberang.
Keheningan yang canggung sebentar, lalu pelayan datang untuk mengambil pesanan. Mereka memesan beberapa hidangan untuk berbagi: pasta aglio olio, salmon panggang, dan salad Caesar.
Setelah pelayan pergi, Bambang menatap Mayra dan Dev dengan tatapan yang serius tapi penuh kasih sayang.
"Mayra, Papa mau tanya dengan jujur. Kamu... bahagia?" tanya Bambang langsung pada intinya.
Mayra terdiam sebentar. Pertanyaan yang berat.
"Aku... oke, Pa. Lebih dari oke. Dev baik padaku. Kami punya perjanjian yang jelas dan saling menghormati," jawab Mayra hati-hati.
"Perjanjian," ulang Bambang dengan nada yang agak sedih. "Bukan cinta."
"Pa..." Mayra tidak tahu harus bilang apa.
Dev tiba-tiba angkat bicara. "Pak Bambang, saya mengerti kekhawatiran Bapak. Ini bukan pernikahan tradisional yang Bapak impikan untuk Mayra. Tapi saya berjanji, saya memperlakukan putri Bapak dengan hormat dan perhatian. Dan meskipun ini dimulai sebagai perjanjian, saya berkomitmen untuk membuat ini berhasil."
Bambang menatap Dev lama, seperti sedang menilai kejujuran di mata pria itu.
"Dev, kamu pria yang sukses. Bisa dapat wanita manapun yang kamu mau. Kenapa kamu setuju dengan... perjanjian ini?" tanya Bambang.
"Karena Mayra adalah wanita yang luar biasa," jawab Dev tanpa ragu. "Kuat, berani, cerdas. Dan karena saya... lelah sendirian. Perjanjian ini memberi saya kebersamaan tanpa kerumitan... hubungan tradisional."
Kejujuran itu membuat Bambang sedikit tertegun.
"Dan Mayra?" Bambang menatap putrinya. "Kamu tidak merasa... terjebak? Kamu bisa keluar kalau kamu mau, sayang. Papa akan mendukungmu."
"Aku tidak merasa terjebak, Pa," jawab Mayra dengan yakin. "Aku memilih ini. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa... punya kendali atas hidupku sendiri."
Bambang menghela napas panjang, lalu tersenyum, senyum yang sedih tapi menerima.
"Baiklah. Kalau kamu bilang kamu bahagia, Papa percaya," kata Bambang. "Tapi Mayra, janji satu hal sama Papa."
"Apa, Pa?"
"Kalau suatu saat kamu tidak bahagia lagi, kamu akan bilang ke Papa. Jangan korbankan kebahagiaanmu demi apapun. Oke?"
Mayra merasakan matanya berkaca-kaca. "Oke, Pa. Aku janji."
Makanan tiba, dan suasana perlahan menjadi lebih santai. Mereka makan sambil berbincang tentang hal-hal yang lebih ringan: pekerjaan Mayra, proyek baru Dev, rencana Bambang untuk merenovasi rumah.
"Oh iya, Dev," Bambang tiba-tiba ingat sesuatu. "Papa mau tanya. Kamu dan Hendra... apa kalian masih berkomunikasi setelah... kejadian itu?"
Dev menatap Bambang dengan tatapan yang mengeras sedikit. "Tidak, Pak. Hendra sudah mengirim beberapa pesan dan panggilan tak terjawab, tapi saya abaikan semua. Saya tidak ada niat untuk berbaikan dengan keluarga itu."
"Papa mengerti. Mereka memang..." Bambang terdiam, memilih kata-kata dengan hati-hati. "...sulit."
"Sulit itu meremehkan, Pak," kata Dev dengan nada yang sedikit sinis.
Mayra merasakan ketegangan dan mencoba mengalihkan topik. "Pa, gimana kabar di rumah? Mama Siska dan Zakia?"
Bambang wajahnya berubah tidak nyaman. "Mereka... tidak baik-baik saja, sejujurnya. Siska masih sangat marah padamu. Dan Zakia... dia kebanyakan mengurung diri di kamar. Sepertinya dia depresi."
Mayra merasakan sedikit... apa ya? Bukan simpati. Tapi juga bukan kepuasan. Mungkin... ketidakpedulian.
"Aku tidak bisa bilang aku menyesal untuk mereka, Pa. Mereka yang membawa ini pada diri mereka sendiri," kata Mayra pelan.
"Papa tahu, sayang. Papa tahu," Bambang menggenggam tangan Mayra di atas meja. "Papa cuma khawatir tentang kamu. Bukan mereka."
Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba Mayra merasakan aura yang familiar dan tidak menyenangkan.
Dia menoleh, dan jantungnya berhenti berdetak.
Arman berdiri beberapa meja dari mereka, menatap Mayra dengan tatapan yang penuh... apa? Penyesalan? Keputusasaan?
Pria itu terlihat kacau: rambut tidak rapi, lingkaran hitam di bawah mata, wajah yang terlihat seperti belum tidur berhari-hari.
"Mayra..." suara Arman serak.
Dev langsung berdiri, menempatkan dirinya sedikit di depan Mayra. Mode protektif langsung aktif.
"Arman, pergi," kata Dev dengan suara rendah yang penuh ancaman.
"Paman, tolong. Aku cuma mau bicara dengan Mayra. Lima menit saja," mohon Arman dengan suara yang bergetar.
"Dia tidak mau bicara denganmu," jawab Dev.
"Biar Mayra yang jawab," kata Arman sambil menatap Mayra dengan tatapan putus asa. "Tolong, May. Lima menit. Kumohon."
Mayra merasakan semua mata di restoran tertuju pada mereka. Ini akan jadi adegan lagi kalau dia tidak menangani dengan hati-hati.
"Dev, tidak apa-apa," kata Mayra pelan sambil menyentuh lengan Dev.
Dev menatapnya dengan tatapan yang bertanya, kamu yakin?
Mayra mengangguk.
Dev akhirnya duduk kembali, tapi postur tubuhnya masih tegang, siap untuk melindungi Mayra kapanpun.
"Lima menit, Arman. Di sini, di depan semua orang. Tidak privat," kata Mayra dengan tegas.
Arman mengangguk cepat dan maju beberapa langkah, tapi tidak terlalu dekat, sadar bahwa Dev seperti predator yang siap menyerang kapan saja.
"Mayra, aku... aku minta maaf. Aku tahu aku sudah bilang ini berkali-kali tapi aku benar-benar menyesal," kata Arman dengan suara yang hampir menangis. "Aku bodoh. Aku sangat bodoh. Aku--"
"Arman, hentikan," potong Mayra dengan suara yang lelah. "Aku sudah dengar semua ini. Lewat pesan, lewat pesan suara. Dan jawabanku tetap sama: aku sudah melangkah maju."
"Tapi kamu tidak mencintainya!" seru Arman sambil menunjuk Dev. "Aku tahu ini cuma kontrak! Aku tahu kamu menikah dengannya untuk balas dendam padaku!"
Beberapa tamu mulai berbisik keras. Ini mulai kacau.
"Apakah aku mencintainya atau tidak bukan urusanmu lagi, Arman," kata Mayra dengan tegas. "Dan ya, mungkin aku menikah dengannya sebagai balas dendam. Tapi tahu apa? Keputusan terbaik yang pernah kubuat."
Arman terlihat seperti baru saja ditampar.
"Mayra, kumohon. Beri aku kesempatan lagi. Aku akan putus dengan Zakia. Aku akan--"
"Kamu akan apa? Berhenti jadi penipu?" potong Mayra dengan nada dingin. "Arman, kamu tidak bisa dipercaya lagi. Tidak akan pernah. Dan aku tidak mau membuang waktu untuk orang yang sudah membuktikan dia tidak layak."
"Tapi aku mencintaimu--"
"Cukup," Dev berdiri lagi, dan kali ini aura mengintimidasi-nya benar-benar terasa. "Mayra sudah bilang tidak. Berkali-kali. Kamu menguntitnya sekarang? Datang ke restoran yang kamu tahu dia akan datang?"
Arman tertegun, jelas dia memang sengaja datang ke sini karena tahu ini restoran favorit Bambang.
"Saya beri peringatan sekali ini saja, Arman," kata Dev dengan suara yang sangat tenang tapi menakutkan. "Jauhi Mayra. Kalau saya lihat kamu mendekatinya lagi, saya tidak akan segan-segan untuk melibatkan polisi dan melaporkan ini sebagai pele*cehan."
"Paman--"
"Saya bukan pamanmu lagi. Dan kamu bukan keponakanku. Sekarang pergi, sebelum saya panggil keamanan," kata Dev dengan tegas.
Arman menatap Mayra sekali lagi dengan tatapan yang penuh putus asa. "May, tolong..."
Tapi Mayra menggeleng. "Selamat tinggal, Arman. Selamanya."
Arman akhirnya berbalik dan pergi dengan langkah gontai, meninggalkan restoran dengan bahu yang membungkuk seperti pria yang sudah kalah total.
Setelah Arman pergi, Dev duduk kembali dan langsung meraih tangan Mayra. "Kamu oke?"
"Ya, aku... oke," jawab Mayra sambil menarik napas dalam. "Tadi tidak terduga."
"Dia jelas tidak stabil. Perilaku menguntit itu tanda bahaya," kata Dev dengan serius. "Mulai sekarang, kalau kamu pergi ke mana-mana, aku mau tahu. Untuk keamanan."
"Dev, kamu tidak perlu--"
"Aku perlu, Mayra," potong Dev dengan tegas. "Kamu istriku. Keamananmu adalah tanggung jawabku."
Bambang yang selama ini diam akhirnya angkat bicara. "Dev benar, sayang. Arman terlihat... putus asa. Orang putus asa bisa melakukan hal-hal yang tidak rasional."
Mayra mengangguk perlahan, masih terkejut dengan pertemuan tadi.
Sisa makan siang berlangsung dengan suasana yang agak tegang. Mereka mencoba kembali ke obrolan normal, tapi kejadian dengan Arman jelas masih mengganggu pikiran semua orang.
***
Setelah makan siang selesai dan pamitan dengan Bambang, dengan janji untuk lebih sering bertemu, Mayra dan Dev kembali ke mobil.
Di dalam Bentley, Mayra duduk diam dengan pikiran berkecamuk.
"Kamu yakin oke?" tanya Dev sambil menatap Mayra dengan tatapan khawatir.
"Jujur? Aku tidak tahu," jawab Mayra. "Melihat Arman seperti itu... aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Bukan kasihan. Tapi juga bukan puas. Cuma... sedih, kurasa. Sedih bahwa semuanya berakhir seperti ini."
Dev meraih tangan Mayra dan menggenggamnya. "Wajar merasa sedih. Kamu punya sejarah dengannya. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Normal kalau ada perasaan yang tersisa, bukan cinta, tapi... nostalgia untuk apa yang dulu kamu pikir kalian punya."
Mayra menatap Dev dengan terkejut. "Kamu... sangat pengertian."
"Saya pernah di posisimu. Ingat? Valerie," kata Dev dengan senyum yang agak sedih. "Saya tahu persis apa yang kamu rasakan."
Mayra menggenggam balik tangan Dev. Untuk pertama kalinya, dia yang memulai kontak fisik.
"Terima kasih. Karena mengerti. Karena ada di sana tadi. Karena... tidak menghakimi," kata Mayra pelan.
"Kita rekan, ingat?" kata Dev sambil tersenyum. "Kita saling mendukung."
"Rekan," ulang Mayra dengan senyum kecil.
Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman, tangan masih bergandengan, sampai mobil tiba di penthouse.
...----------------...
Malam itu, setelah makan malam sederhana yang Dev masak, spaghetti aglio olio yang ternyata enak, Mayra duduk di sofa ruang tamu dengan secangkir teh kamomil, mencoba santai.
Dev duduk di sofa seberang dengan laptopnya, mengerjakan sesuatu untuk kantor.
"Dev," panggil Mayra tiba-tiba.
"Hmm?" Dev mengangkat kepala dari laptop.
"Boleh aku tanya sesuatu yang... mungkin keterlaluan?"
"Coba saja."
Mayra menarik napas dalam. "Kamu... kesepian?"
Dev tertegun, jelas tidak mengharapkan pertanyaan itu.
"Kenapa kamu tanya?" balasnya dengan pertanyaan.
"Karena beberapa hari ini aku memperhatikanmu. Kamu punya semua yang orang inginkan: uang, kesuksesan, kekuasaan. Tapi kamu seperti... ada tembok di sekelilingmu. Seperti kamu tidak membiarkan siapapun masuk," jelas Mayra dengan hati-hati.
Dev terdiam lama, menatap Mayra dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Jujur? Ya," jawabnya akhirnya. "Saya kesepian. Sejak Valerie pergi, saya menutup diri dari semua orang. Fokus pada bisnis karena itu satu-satunya hal yang tidak akan mengkhianatiku."
"Tapi bisnis tidak bisa memberimu... kehangatan. Kebersamaan," kata Mayra pelan.
"Saya tahu. Makanya saya setuju dengan perjanjian ini," Dev tersenyum tipis. "Dengan kamu, saya dapat kebersamaan tanpa risiko... patah hati."
Mayra merasakan sesuatu yang sakit di dadanya mendengar itu. Pria ini sudah sangat terluka sampai dia lebih memilih kebersamaan kontraktual daripada mengambil risiko mencintai lagi.
"Dev, tidak semua orang seperti Valerie," kata Mayra.
"Saya tahu," jawab Dev. "Tapi trauma itu sulit untuk diatasi."
Mayra mengangguk paham. Dia juga punya trauma dengan Arman. Dia mengerti sepenuhnya.
"Tapi kamu tahu yang ironis?" kata Dev tiba-tiba sambil menutup laptopnya dan menatap Mayra sepenuhnya. "Dengan kamu, meskipun ini kontrak, aku merasa lebih... terhubung daripada dengan hubungan manapun yang seharusnya 'nyata' di masa lalu."
Jantung Mayra berdetak lebih cepat. "Benarkah?"
"Benar," jawab Dev dengan tatapan yang intens. "Kamu tidak mengharapkan apa-apa dariku. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada permainan. Cuma... kita. Menjadi diri sendiri. Itu menyegarkan."
Mayra merasakan pipinya sedikit memanas. "Aku juga merasa begitu. Mengejutkan."
Mereka menatap satu sama lain dalam keheningan yang penuh muatan, ada sesuatu di udara yang berubah.
Tapi sebelum salah satu dari mereka bisa mengatakan apa-apa, ponsel Dev berbunyi keras.
Dev mengangkat dengan kesal. "Ya?"
Ekspresinya langsung berubah. "Apa? Kapan?... Baik. Saya ke sana sekarang."
Dia menutup telepon dan langsung berdiri. "Mayra, maaf. Ada darurat di kantor. Server utama rusak dan saya harus ke sana untuk mengkoordinasi tim IT."
"Sekarang? Jam segini?" tanya Mayra sambil melirik jam, sudah jam 10 malam.
"Perusahaan kehilangan jutaan setiap menit, server mati. Saya harus pergi," jelas Dev sambil bergegas ke kamar untuk ganti baju.
Lima menit kemudian, Dev keluar dengan kemeja dan celana formal, rambut disisir cepat.
"Saya tidak tahu jam berapa pulang. Mungkin dini hari. Kamu tidur saja duluan, oke?" kata Dev sambil meraih kunci mobil.
"Oke. Hati-hati, Dev."
Dev berhenti di depan pintu dan menatap Mayra. "Kunci semua pintu. Jangan buka untuk siapapun sampai saya pulang."
"Dev, aku bukan anak kecil," kata Mayra dengan senyum.
"Saya tahu. Tapi setelah perilaku Arman tadi... saya hanya ingin memastikan kamu aman," kata Dev dengan serius.
Mayra merasakan sesuatu yang hangat di dadanya. "Oke. Aku janji."
Dev mengangguk dan akhirnya pergi, meninggalkan Mayra sendirian di penthouse yang luas.
Mayra duduk kembali di sofa, menatap pintu yang baru saja ditutup Dev.
Untuk pertama kalinya, dia merasa... kesepian.
Aneh. Biasanya dia menikmati waktu sendirian.
Tapi setelah beberapa hari hidup dengan Dev, ada di penthouse tanpa kehadirannya terasa... kosong.
Mayra menggeleng, mencoba menjernihkan pikirannya.
Hentikan, Mayra. Ini cuma kontrak. Jangan mulai mengembangkan perasaan.
Tapi jauh di dalam, dia tahu...
Sudah terlambat.
Perasaan itu sudah mulai tumbuh.
Dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
****
Bersambung...
menunggu mu update lagi