Nicholas Bryan. 35 tahun. CEO sebuah TV Swasta. Masuk dalam Jajaran Konglomerat. Arogan, Dingin, Jarang Tersenyum dan Sangat menyayangi putri satu-satunya. Seorang Duda memiliki seorang putri berusia 7 tahun. Istri Nick meninggal setelah melahirkan putri mereka. Sejak kepergian istrinya Nick larut dalam kesedihannya dan ia melampiaskan pada pekerjaannya hingga kini tak diragukan lagi Nick menjadi salah satu pengusaha papan atas yang digilai para wanita. Tidak ada satupun wanita yang mampu mengetuk hati Nick yang telah tertutup hingga suatu ketika Putri, Caca memanggil seorang perempuan dengan sebutan Bunda yang membuat Nick tidak suka dengan wanita tersebut. Nick yang sangat menyayangi putrinya tanpa sengaja membentak putrinya saat melihat Caca memeluk wanita asing dan memanggilnya. Siapakah wanita itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pradana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisik-Bisik Tetangga
Kanaya turun dari bus yang membawanya sepulang dari interview.
Hujan sudah berhenti namun langit masih saja mendung dan suara petir sedikit demi sedikit masih terdengar bergemuruh.
Kanaya memilih berjalan menuju rumah kontrakannya.
Jarak dari halte ke kontrakan Kanaya tidak jauh namun tidak dekat pula.
Lumayan menghemat dan sekaligus berolahraga begitulah yang ada dalam benak Kanaya.
Bisa saja sebetulnya Kanaya naik Ojol atau Opang, namun Kanaya memilih berhemat, karena Kanaya tak tahu sampai kapan Ia akan diterima kerja.
Memang selepas bercerai dari Alvin Kanaya memilih kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan.
Membantu Ibu Fatma, kepala panti mengasuh adik-adik panti di sana.
Selain itu Kanaya juga terkadang menerima tawaran les privat dan orderan kue.
Apapun Kanaya lakukan selama pekerjaan itu halal dan menghasilkan uang guna menyambung hidupnya yang kini sebagai seorang janda.
Namun Kanaya sadar tak selamanya ia menumpang dipanti meski Ibu Fatma mengatakan tidak mengapa Kanaya bisa tinggal dipanti, toh kehadiran Kanaya banyak membantu Ibu Fatma dalam mengasuh adik-adik sekaligus menemani Ibu Fatma.
Bu Fatma juga serasa sedih dengan apa yang menimpa Kanaya. Bagi Bu Fatma sejak pertama kali menemukan Kanaya di depan pagar Panti Asuhan, Kasih sayang Bu Fatma tulus pada Kanaya.
Kanaya menyusuri jalan yang basah banyak genangan air selepas hujan turun.
Rintik hujan tipis-tipis masih menetes membasahi kerudung Kanaya.
Status Kanaya yang seorang janda muda tak sedikit sering menjadi bahan omongan tetangga disekitar tempat Kanaya mengontrak.
Seperti saat ini ketika Kanaya pulang ia melintasi kumpulan Ibu-Ibu yang sedang antri membeli bakso.
Ibu-Ibu seolah tak habis bahan ghibah saat melihat pakaian Kanaya yang kotor.
"Eh Jeng coba lihat Si Janda, tuh bajunya kotor begitu pasti habis disiram sama Istri sah terus di labrak deh!" Nyinyiran seorang emak-emak rumpi sok tahu.
"Eh Jeng lagian si Naya itu ngapain coba tiap hari pergi pake pakaian rapi, dia kan Janda, ga kerja terus buat makan sehari-hari dari mana coba, pasti duit hasil morotin suami orang tuh!" Timpal salah satu dari Emak-Emak yang sedang menikmati bakso sambil bergosip.
Kanaya cukup kenyang setiap hari menjadi bahan pergunjingan.
Tak sedikit ia sering disindir-sindir akan status jandanya.
Seakan Kanaya wanita hina dan menjadi Janda adalah karena kesalahannya.
Kanaya paham, statusnya yang seorang Janda tentu akan banyak menimbulkan fitnah.
Namun bukan keinginan Kanaya menjadi Janda.
Jika boleh mengandai Kanaya juga ingin seperti perempuan lain hidup rukun dan harmonis bersama suami dan memiliki keturunan.
Tapi sebagai hamba yang masih punya iman Kanaya tidak pernah mengutuk diri menyesali garis hidup yang Allah takdirkan pada dirinya.
Kanaya memilih bersyukur atas hidup, nafas dan nikmat iman islam yang Allah anugrahkan pada dirinya.
Kanaya percaya bahwa Allah tidak akan memberikan ujian dan cobaan kepada hambanya melebihi kemampuan hambanya itu sendiri.
Kanaya beriman bahwa setiap ujian dan cobaan yang hadir dalam hidupnya sebagai cara Allah menyayangi dirinya dan Kanaya hanya memohon agar ia selalu diberikan kekuatan, kesabaran dan ketabahan dalam menjalani setiap ujian yang ia terima.
Kanaya tetap bersikap sopan meski para Ibu-Ibu club gosip tak henti bergunjing mengenai dirinya setiap hari.
Kanaya tidak membalas apapun tuduhan yang ditujukan kepadanya.
Kanaya sampai di depan rumah kontrakannya.
Tampaknya hujan semakin deras dan disertai angin.
Kanaya melihat teras kontrakannya basah.
Kanaya memilih masuk ke dalam berganti baju dan ia mengepel teras yang terimbas hujan.
Selesai urusan beres-beres dan mengepel Kanaya merendam kemeja yang kotor akibat cipratan ban mobil tadi.
Sambil mencuci bajunya Kanaya seakan teringat penggalan tiap sisi hidupnya.
Teringat kala ia masih tinggal di panti asuhan, Masa-masa sekolah, Remaja, Masuk dunia perkuliahan, hingga ia bertemu Alvin dan menikah.
Tanpa terasa airmata itu mengalir membasahi pipinya.
Kanaya meneruskan mencuci baju dengan kedua tangannya mengalihkan rasa sakit dalam hati.
Pukul 19.00 Kanaya baru saja selesai menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim melaksanakan shalat Isya.
Kanaya kembali melihat lowongan kerja di akun media online situs pencari kerja.
Kanaya kembali menyiapkan surat lamaran dan mengirimkan email-email ke sejumlah perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan.
Kanaya tidak pantang menyerah, selama ini ia masih aktif berjualan online dan menjadi penerjemah online dari sanalah Kanaya memiliki rezeki untuk menghidupi dirinya.
Kanaya juga masuk dalam satu portal menjadi tutor online bagi siswa - siswi yang ikut dalam jejaring kursus online tersebut.
Memang terlihat sehari-hari Kanaya seolah tidak punya pekerjaan layaknya orang lain yang dengan jelas memakai seragam sehingga tidak diragukan dari mana uang berasal.
Kanaya memaklumi jika Ibu-Ibu dilingkungannya menuduhnya tidak-tidak karena tidak pernah melihat Kanaya keluar pergi bekerja padahal di zaman sekarang bahkan orang bisa bekerja secara online bahkan sekolah dan mahasiswa pun kerap kali belajar secara daring dan virtual.
Memang benar lidah tidak bertulang. Ucapan bisa mengiris kalbu menyayat hati, memerahkan telinga.
Kanaya teringat akan ceramah salah seorang ustadzah di youtube yang ia tonton.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12].
Kanaya merinding, ia berharap semoga dirinya bukan salah satu dari yang dimaksud oleh ayat tersebut.
Dalam sepertiga malam Kanaya selalu bersimpuh dalam sujudnya menceritakan segala beban dan sesak di dadanya kepada sang pemilik jiwa dan raga.
Tangis Kanaya tumpah di sepertiga malam.
Kanaya memohon ampunan kepada zat penguasa alam semesta atas segala salah dan khilaf yang ia lakukan baik yang sengaja ataupun tidak.
Kanaya tak lupa meski ia tak pernah tahu siapa orang tuanya, dalam sujud di waktu teristimewa ia selipkan doa bagi kedua orang tuanya yang bahkan Kanaya sendiri tidak mengetahui apakah keduanya masih hidup atau sudah berpulang.
Balutan mukena putih menjadi saksi airmata yang jatuh tetes demi tetes setiap malam mengiringi interaksi seorang hamba kepada sang maha pencipta.
“Ya Allah bagi-Mu-lah segala puji, Engkaulah yang mengurus langit dan bumi serta semua makhluk yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu segala puji, Engkau Raja langit dan bumi beserta semua makhluk yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi beserta semua makluk yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu segala puji, Engkau Maha benar, janji-Mu adalah benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, ucapan-Mu adalah benar, surga adalah benar, neraka adalah benar, para nabi adalah benar dan Nabi Muhammad Saw adalah benar serta hari kiamat adalah benar.”
“Ya Allah hanya kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, hanya kepada-Mu aku kembali (bertaubat), kepada-Mu aku mengadu, dan kepada-Mu aku meminta keputusan, maka ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang kemudian serta apa yang kusembunyikan dan yang kulakukan dengan terang-terangan dan apa yang lebih Engkau ketahui dariku, Engkau yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, tiada Tuhan selain Engkau, dan tiada daya (untuk menghindar dari kemaksiatan) dan tiada kekuatan (untuk melakukan ibadah) kecuali dengan pertolongan Allah.”
Kanaya mengusap wajahnya, bersujud menutup rangkaian doa serta curahan hati pada sang pemilik hati.
Kanaya membuka al quran membacanya dengan tartil.
Sayup suara merdu Kanaya melantunkan ayat-ayat suci menentramkan hati.
Andai malam bisa bersuara dan bintang mampu berkata maka tak akan sanggup menahan untuk memuji keshalehaan seorang wanita bernama Kanaya Larasati.