Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo Menikah!
Kanaya tertegun melihat sikap Narendra yang begitu perhatian, ia akhirnya duduk dan mulai menyantap bubur yang dibawa Narendra. Meskipun lidahnya terasa pahit, perhatian kecil dari pria itu membuatnya merasa sangat dihargai.
Sementara itu, Narendra berdiri di lorong luar, bersandar pada pilar kayu sambil mengamati sekitar. Narendra memperhatikan beberapa tetangga yang mulai keluar dari kamar mereka dan meliriknya dengan takut-takut, teringat ancaman yang ia lontarkan kemarin dan kali ini tidak ada yang berani berbisik-bisik.
Sepuluh menit kemudian, Kanaya keluar dengan mangkuk yang sudah kosong, wajahnya sedikit lebih segar meski memar itu masih tetap ada.
"Sudah habis?" tanya Narendra dan langsung berdiri tegak saat melihat Kanaya.
"Sudah, terima kasih. Narendra, lain kali kamu tidak perlu repot-repot begini," ucap Kanaya.
"Aku tidak repot kok," ucap Narendra.
Narendra melangkah masuk ke dalam kamar kos Kanaya yang sempit itu tanpa ragu, ia berdiri di tengah ruangan dan membuat kamar yang memang sudah kecil itu terasa semakin sesak oleh kehadirannya yang dominan.
Matanya kembali menyapu sekeliling, kali ini lebih detail mulai dari tumpukan buku di sudut ruangan hingga pakaian yang terlipat rapi di atas lemari kayu tua.
"Narendra, kenapa masuk?" tanya Kanaya bingung.
Kanaya berdiri di ambang pintu yang sengaja dibiarkan terbuka lebar oleh Narendra untuk menghindari fitnah dari tetangga. Narendra tidak menjawab, ia justru meraih kipas angin kecil yang tampak sudah berdebu dan berbunyi bising di sudut kamar dan mematikannya lalu menoleh ke arah Kanaya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kanaya," panggil Narendra.
"Ya?" tanya Kanaya.
"Ayo menikah!" ajak Narendra.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Narendra, tanpa suasana romantis. Hanya ada suara bising dari gang sempit dan aroma pengap kamar kos, namun kata-kata itu sanggup membuat jantung Kanaya seolah berhenti berdetak.
Kanaya terpaku di ambang pintu, mangkuk kosong yang dipegangnya hampir saja terlepas jika ia tidak segera mencengkeramnya kuat-kali ini bukan karena luka di bibirnya, tapi karena syok yang luar biasa.
"Apa... apa kamu bilang?" tanya Kanaya suaranya bahkan nyaris tidak terdengar.
Narendra melangkah mendekat dan memangkas jarak di antara mereka hingga Kanaya bisa mencium aroma parfum maskulin yang kontras dengan bau kayu lapuk di sekelilingnya.
"Ayo menikah, Kanaya. Saat ini Aku tidak sedang bercanda," ajak Narendra lagi.
"Kamu gila, Narendra," ucap Kanaya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Gila karena kamu," ucap Narendra.
"Ta-tapi...," belum sempat Kanaya menyelesaikan perkataannya, Narendra sudah bersuara.
"Untuk sekarang kamu istirahat dulu, dan besok aku akan datang," ucap Narendra lalu pergi begitu saja.
Narendra melangkah pergi dan meninggalkan Kanaya yang masih mematung di ambang pintu, suara langkah sepatunya yang tegas di atas semen gang seolah menjadi penanda bahwa ucapan tadi bukanlah sekadar angin lalu.
Kanaya menutup pintu kamarnya dengan tangan gemetar, ia menyandarkan punggungnya di pintu dan perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Jantungnya berdegup kencang memompa darah yang terasa panas hingga ke pipinya yang memar.
"Menikah? Dia benar-benar gila," gumam Kanaya di kesunyian kamarnya.
Kanaya memeluk lututnya erat dan menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangan, di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya remang dari ventilasi kecil itu, realita menghantamnya jauh lebih keras daripada tamparan Shinta kemarin.
"Menikah katanya? Dengan siapa? Narendra itu anak orang kaya, aku pernah dengar kalau dia itu anak tunggal dan pewaris bisnis keluarganya," gumam Kanaya.
Pikiran Kanaya melayang jauh ke masa lalunya yang kelam, rumah kecil beratap rumbia di kampung halaman di mana ibunya harus bekerja serabutan hanya untuk membelikannya sepatu sekolah. Kanaya ingat betul bagaimana rasanya lapar yang melilit perut dan bagaimana ia harus berjuang mati-matian mendapatkan beasiswa.
Bagi Kanaya, Narendra adalah matahari, sedangkan ia adalah bayangan yang hidup di sudut-sudut gelap kota ini.
"Dasar bodoh kamu, Kanaya. Pria seperti dia itu butuh wanita yang bisa menemaninya di pesta dansa, bukan wanita yang sibuk menghitung sisa butir beras di dapur," gumamnya.
Minggu pagi yang seharusnya tenang justru terasa sangat berat bagi Kanaya, meski luka di bibirnya sudah sembuh dan memar di pipinya kini hanya menyisakan semu kekuningan yang tipis dan luka di pikirannya justru semakin lebar.
"Narendra ngajak aku nikah itu, karena dia cuma kasihan lihat aku babak belur kemarin," gumam Kanaya sambil menjemur beberapa helai pakaiannya di depan kamar.
Kanaya mencoba menertawakan dirinya sendiri, baginya mana mungkin seorang Narendra Atmaja ingin menikah dengan Kanaya.
"Nggak apa-apa, Kanaya. Bagus kalau dia sadar lebih cepat sebelum semuanya jadi makin rumit," ucap Kanaya untuk menghibur dirinya sendiri.
Baru saja Kanaya hendak memutar ember plastiknya, suara ketukan terdengar lalu Kanaya mengusap tangannya yang basah ke daster yang ia kenakan, dengan ragu ia membuka pintunya.
Saat Kanaya membuka pintu kamarnya, ia melihat Narendra berdiri di depan kamar kosnya. "Sudah siap?" tanya Narendra.
"Siap? Siap ke mana?" tanya Kanaya bingung.
"Pergi," jawab Narendra.
"Aku baru cuci baju, aku juga belum mandi terus aku cuma pakai daster," ucap Kanaya.
"Mandi dan ganti bajumu, aku tunggu sepuluh menit," ucap Narendra.
"Mau kemana memangnya?" tanya Kanaya.
"Jalan-jalan, aku dengar di dekat taman ada festival," ucap Narendra.
"Tapi...," Kanaya begitu ragu untuk menerima ajak Narendra.
"Tidak ada tapi-tapian, aku tunggu ya," ucap Narendra lalu Kanaya pun akhirnya masuk kedalam kamar dan bersiap-siap.
Sepuluh menit kemudian, Kanaya keluar dari kamarnya. Narendra yang sedang menyandarkan tubuhnya di dinding lorong sambil memainkan kunci mobil seketika menegakkan tubuh, matanya menelusuri penampilan Kanaya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Cantik," gumam Narendra pelan, namun cukup jelas untuk membuat telinga Kanaya memerah.
"Ayo berangkat sebelum matahari makin terik," ajak Narendra tanpa memberi kesempatan Kanaya untuk merasa canggung.
Mereka berjalan menyusuri gang sempit menuju mobil Narendra yang terparkir di ujung jalan, sepanjang jalan Kanaya bisa merasakan tatapan para tetangganya termasuk Bu Ratna yang mengintip dari balik gorden kamarnya. Namun, kehadiran Narendra yang berjalan tepat di sampingnya seolah memberi Kanaya perisai yang tak terlihat.
Di dalam mobil, suasana sempat hening. Narendra fokus menyetir, sementara Kanaya sibuk menenangkan detak jantungnya sendiri.
Narendra memutar kemudi dengan tenang membelah jalanan kota yang mulai ramai, keheningan di dalam mobil terasa begitu pekat, Kanaya sesekali melirik Narendra. Rahang yang tegas, tatapan yang fokus ke depan dan jemari yang mengetuk setir dengan ritme teratur, pria ini tampak sangat tenang seolah mengajak menikah adalah hal biasa seperti mengajak makan siang.
"Kamu terus-terusan melihatku, Kanaya. Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Narendra tanpa menoleh, namun ada senyum tipis yang tersungging di sudut bibirnya.
Kanaya tersentak dan langsung membuang muka ke arah jendela, "Ti-tidak," jawab Kanaya gugup.
.
.
.
Bersambung.....