Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Sebuah Tekad
Pagi itu, di perpustakaan kampus UIN Bandung terasa lebih sunyi dari biasanya. Syafina duduk di sudut ruangan, di hadapannya tumpukan referensi skripsi yang seharusnya ia baca. Namun, fokusnya buyar. Matanya terus terarah pada jari manisnya sendiri.
Cincin emas putih itu tampak begitu cantik, tapi setiap kali melihatnya, ada rasa sesak yang halus di dada Syafina.
Kekasih. Kata itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Syafina menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang dingin. Ia bersyukur Erlaga menyatakan cintanya, tapi status "kekasih" rasanya terdengar rancu dan tidak biasa.
Baginya yang tidak pernah mencicipi dunia pacaran, status ini seperti berdiri di tengah jembatan yang tidak jelas ujungnya di mana.
Ia teringat obrolan Aanya bersama sang papa tentang kepastian. Syafina sadar, ia tidak boleh terlena hanya karena kata-kata manis. Ia harus tetap menjadi Syafina yang "mahal", yang tidak mudah didapatkan hanya dengan seikat bunga atau sebentuk cincin hadiah.
Sore harinya, Erlaga sudah menunggu di tempat biasa. Pria itu tampak sangat bersemangat. Wajah rupawannya tidak berhenti memperlihatkan rona bahagia. Sejak status mereka berubah menjadi "sepasang kekasih", Erlaga seolah kehilangan saringan untuk menunjukkan rasa sayangnya.
"Selamat sore, Sayang. Gimana kuliahnya? Pasti lelah, ya?" sapa Erlaga begitu Syafina masuk ke dalam mobil.
Syafina hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang elegan namun tetap menyimpan jarak. "Lumayan, Kak. Banyak tugas."
"Ya sudah, kita makan sore dulu ya. Kakak tahu tempat makan baru di daerah Setiabudi. Katanya ayam bakarnya enak," ujar Erlaga riang. Tangannya dengan lincah memutar kemudi, sesekali melirik Syafina dengan binar mata yang penuh rasa memiliki.
Sepanjang perjalanan, Erlaga benar-benar menunjukkan sisi romantisnya yang baru. Ia memutar musik instrumen yang syahdu, bercerita tentang masa kecilnya, dan tidak jarang menyisipkan kata "Sayang" di setiap akhir kalimatnya.
Syafina sangat terharu. Ia bisa merasakan ketulusan di setiap ucapan Erlaga. Namun, justru karena ia sayang, ia harus tetap menjaga batasan itu.
Setibanya di rumah makan yang dimaksud, suasana sangat ramai karena bertepatan dengan jam pulang kantor. Mereka harus berjalan agak jauh dari tempat parkir menuju pintu masuk.
Jalanan trotoar yang sempit dan licin karena sisa hujan membuat Erlaga bertindak protektif.
Erlaga berjalan di sisi luar, memposisikan dirinya sebagai pelindung bagi Syafina. Saat sebuah motor melintas agak kencang di samping mereka, secara refleks, Erlaga mengulurkan tangannya yang kokoh. Ia bermaksud meraih telapak tangan Syafina, ingin menuntunnya agar lebih aman.
Namun, sebelum jemari Erlaga benar-benar bersentuhan dengan kulitnya, Syafina melakukan gerakan yang sangat tenang namun tegas. Ia menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik jilbab lebarnya. Ia tetap melangkah, tanpa ekspresi kaget yang berlebihan, tapi anggun.
Syafina berhenti sejenak, menoleh ke arah Erlaga yang tangannya kini menggantung canggung di udara.
"Maaf, Kak Laga... Fina belum bisa," ucap Syafina dengan suara yang sangat lembut, namun sorot matanya menunjukkan prinsip yang tidak bisa ditawar.
Erlaga tertegun. Ia menarik kembali tangannya, wajahnya yang biasanya tegas kini tampak sedikit memerah karena kikuk di depan umum. Ada rasa "tertolak" yang sempat menyengat egonya sebagai seorang perwira.
"Ah... iya, Kakak lupa. Maafkan Kakak, Sayang," jawab Erlaga dengan suara rendah. Ia berdeham, mencoba mengusir rasa malu yang mendadak muncul.
Syafina menatap Erlaga dengan tatapan yang dalam. "Fina menghargai perhatian Kakak. Tapi bagi Fina, status 'kekasih' bukan berarti kita sudah halal untuk bersentuhan. Fina ingin menjaga diri Fina, dan Fina harap Kakak juga membantu Fina menjaganya."
Kalimat itu sederhana, tapi efeknya bagi Erlaga seperti sebuah ledakan yang tak terduga. Ia tidak marah, justru rasa hormatnya pada Syafina melonjak berkali-kali lipat. Ia menyadari bahwa gadis di depannya ini bukan sembarang perempuan yang bisa luluh hanya karena romansa.
"Kakak yang salah, Fin. Terima kasih sudah diingatkan," ucap Erlaga tulus. Ia kemudian meletakkan kedua tangannya di saku celana, berjalan di samping Syafina dengan jarak satu jengkal yang aman. "Kakak malah makin bangga punya kekasih seperti kamu."
Syafina tersenyum, kali ini senyumnya lebih tulus. "Terima kasih sudah mengerti, Kak."
Namun dalam hati, Syafina berbisik, status kekasih ini memang manis, tapi tantangannya baru dimulai. "Kalau Kakak benar-benar ingin menuntun tangan ini tanpa rasa berdosa, Kakak tahu apa yang harus segera Kakak lakukan pada di hadapan Papa."
Malam itu, keromantisan mereka tidak lahir dari sentuhan fisik, melainkan dari rasa saling menghargai yang kian mengakar.
Erlaga pulang dengan sebuah tekad baru yang membara di kepalanya, ia tidak ingin lama-lama berada di status "kekasih" yang membuatnya harus terus-menerus menahan diri. Ia harus segera memberikan kepastian yang sesungguhnya.
"Kalau begitu, aku harus segera melamarnya," gumamnya penuh tekad,