Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar yang Berbeda
Apartemen di tengah dinginnya New Zealand itu kini berubah menjadi pusat badai yang membara. Suasana yang tadinya tenang mendadak dipenuhi oleh ketegangan yang pekat. Julius, yang selama ini dikenal sebagai pria paling terkendali dan berdarah dingin, kini benar-benar kehilangan kendalinya saat melihat Jane yang hanya terbalut jubah mandi putih yang longgar.
Melihat kulit bahu Jane yang tersingkap, api gairah yang selama ini dipendam Julius selama berbulan-bulan melalui pesan-pesan misterius Mr. A meledak seketika. Tanpa kata-kata lagi, ia menarik Jane ke dalam pelukan yang sangat posesif, melahap bibir gadis itu dengan ciuman yang haus dan penuh rasa lapar.
Sentuhan Julius tidak lagi ragu-ragu. Ia membiarkan instingnya memimpin, menjelajahi setiap inci tubuh Jane yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. Saat tangannya menari-nari di area sensitif, Jane merasakan sensasi listrik yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Desahan nikmat tanpa sengaja lolos dari bibir Jane, yang justru menjadi bahan bakar bagi gairah Julius yang sudah di puncak.
Di tengah kabut gairah itu, Julius masih menyisakan sedikit kesadarannya sebagai pria yang sangat menghormati Jane. Ia menatap mata Jane dengan pandangan yang dalam, mencari persetujuan terakhir. "Bolehkah, Jane? Aku ingin kau menjadi milikku sepenuhnya malam ini," bisiknya serak.
Jane, yang sudah terhanyut dalam pesona sang Matahari, hanya bisa mengangguk pasrah. Kepalanya bersandar pada bantal, matanya sayu menatap pria yang ternyata adalah Mr. A itu.
Dengan gerakan yang efisien namun penuh perasaan, Julius menanggalkan pakaiannya sendiri. Ia tidak langsung melakukan penyatuan; dengan sisi jeniusnya yang selalu ingin memberikan yang terbaik, ia justru memanjakan Jane terlebih dahulu. Ia memberikan kenikmatan yang membuat Jane melayang, membuat gadis itu merasa begitu dicintai dan dipuja.
Hingga akhirnya, momen penyatuan itu terjadi. Di tengah keheningan malam New Zealand, Jane sempat meneteskan air mata—bukan karena sedih, melainkan karena rasa sakit yang bercampur dengan kelegaan yang luar biasa. Ia menangis karena akhirnya, setelah semua drama, kasta, dan kebohongan Grace, ia benar-benar bersatu dengan pria yang ia cintai.
Julius mengecup air mata itu dengan lembut. "Jangan menangis, Jane. Aku berjanji, mulai detik ini, tidak akan ada lagi air mata kesedihan. Kau adalah rumahku."
Setelah malam yang panjang dan melelahkan namun sangat indah, matahari New Zealand mulai menyelinap masuk melalui celah gorden apartemen. Julius masih memeluk Jane dengan sangat erat di bawah selimut tebal, seolah tak membiarkan satu inci pun celah di antara mereka.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu apartemen yang brutal memecah kesunyian.
"JULIUS! BUKA PINTUNYA! AKU TAHU KAU DI DALAM BERSAMA GADIS ITU!"
Suara lengkingan Grace Liberty terdengar dari luar, bercampur dengan suara berat ayah Julius yang memerintah pengawal untuk mendobrak pintu.
Jane tersentak bangun, wajahnya pucat. "Julius, mereka di sini..."
Julius tetap tenang. Ia justru menarik selimut untuk menutupi tubuh Jane, lalu mengecup keningnya. "Biarkan saja. Mereka sedang melihat kehancuran mereka sendiri di internet saat ini. Clark dan Lucia sudah merilis bukti tes DNA palsu Grace satu jam yang lalu."
Suara teriakan Grace di luar sana perlahan memudar, tenggelam oleh suara napas yang menderu dan suhu ruangan yang kian memanas. Julius benar-benar telah memutus hubungannya dengan dunia luar. Baginya, teriakan histeris mantan tunangannya itu hanyalah kebisingan latar belakang yang tak berarti dibandingkan dengan pemandangan Jane yang berada di bawah kuasanya.
"Abaikan dia, Jane," bisik Julius dengan seringai nakal yang belum pernah diperlihatkan pada dunia. "Dia punya dunianya sendiri, dan aku punya duniaku... yaitu kau."
Julius kembali menggoda Jane, memicu gairah yang seolah tak ada habisnya. Malam itu menjadi saksi bisu pelepasan yang terjadi berulang kali, sebuah perayaan atas kebebasan dan cinta yang selama ini terkekang. Jane, yang sudah lemas dan kelelahan karena digempur habis-habisan oleh sang Matahari yang ternyata sangat haus, hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang merah padam di balik bantal. Ia masih tak percaya bahwa pria sedingin kutub ini bisa berubah menjadi api yang begitu membara.
Setelah badai itu mereda, Julius menunjukkan sisi romantis yang bisa membuat wanita mana pun pingsan. Dengan lembut, ia menggendong Jane yang sudah tak bertenaga ke kamar mandi. Ia memandikan Jane dengan sangat teliti, menyeka air yang membasahi tubuh gadis itu, lalu memakaikannya salah satu kemeja putih miliknya yang kebesaran.
Sambil menunggu Jane beristirahat, Julius membereskan tempat tidur. Matanya menatap bercak merah di atas sprei—bukti kepemilikan dan kesucian yang baru saja ia terima. Ia teringat istilah konyol Henry tentang "cairan cinta" dan tiba-tiba ia tertawa sendiri.
Sial, aku benar-benar sudah gila seperti Henry, batinnya. Namun, ia tidak menyesal. Kegilaan ini terasa jauh lebih baik daripada kewarasan yang dipaksakan ayahnya.
Setelah Julius selesai mandi dan menyegarkan diri, suasana apartemen yang sempat tenang kembali terusik. Bel pintu berbunyi, namun kali ini ketukannya tidak brutal seperti Grace. Ketukannya berirama, sebuah kode yang sangat ia kenal.
Julius melirik Jane yang sudah tampak lebih segar meski masih malu-malu, lalu berjalan ke depan untuk membuka pintu.
Di depan pintu, berdiri Lucia dan Clark. Lucia membawa sebuah koper besar, sementara Clark memegang laptop yang masih menyala dengan grafik berita yang bergerak liar.
"Jules, gue tahu lo lagi sibuk merayakan kebebasan," ucap Lucia sambil melirik ke arah kamar dengan senyum penuh arti. "Tapi Grace sudah dibawa pergi oleh polisi karena laporan percobaan perusakan properti, dan bokap lo sedang kena serangan jantung ringan, eh, jangan khawatir, dia cuma kaget liat saham Randle Group anjlok 15% pagi ini gara-gara foto lo."
Clark masuk tanpa diundang dan langsung meletakkan laptopnya di meja bar. "Dan ini yang paling penting. Gue bawa koper Jane. Lucia bilang, mulai hari ini Jane nggak boleh balik ke apartemennya sendiri. Keamanan dia terancam setelah foto itu viral."
Julius menatap koper itu, lalu menatap Jane yang mengintip dari balik pintu kamar. Ia tersenyum tipis. "Dia memang tidak akan pernah kembali ke sana. Dia tinggal di sini sekarang. Bersamaku."
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍