"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberanian saja tidak cukup untuk bertahan
“Hei, lihat itu!”
Bisik-bisik itu melayang seperti pisau tipis yang sengaja diarahkan ke punggungnya.
“Itu Selir Xue!”
Langkah Bai Ruoxue terhenti sesaat, nyaris tak terlihat. Namun telinganya menangkap setiap kata dengan jelas. Terlalu jelas. Seolah semua suara itu memang sengaja diperdengarkan untuknya—tanpa usaha menurunkan volume, tanpa rasa sungkan.
“Astaga… jadi selama ini sikapnya itu cuma topeng, ya?”
Nada suara para selir itu penuh kepura-puraan. Ada tawa kecil yang ditahan, ada desahan sok terkejut, tapi yang paling kentara adalah kepuasan. Kepuasan melihat seseorang yang dulu dipuja, kini dijatuhkan ramai-ramai.
“Tentu saja. Kalau tidak begitu, mana mungkin Yang Mulia selalu terpikat padanya?”
Bai Ruoxue tetap berjalan, punggungnya tegak, langkahnya anggun sebagaimana seharusnya seorang selir kekaisaran. Namun di balik ketenangan itu, dadanya terasa seperti diremas perlahan. Ada panas yang menjalar, bercampur dengan rasa muak yang menyesakkan.
Lalu matanya menangkap sosok itu.
Mei Yuxin.
Wanita itu berdiri sedikit menjauh dari kerumunan, dikelilingi beberapa selir lain. Bibirnya melengkung dalam senyum tipis—bukan senyum ramah, melainkan senyum licik yang seolah berkata lihatlah, semua berjalan sesuai rencanaku. Tatapan mereka bertemu sesaat, dan Mei Yuxin bahkan tidak berusaha menyembunyikan ekspresinya.
Senyum kemenangan.
“Entah apa yang sebenarnya terjadi pada lehernya, ya?”
Suara lain menyusup, lebih pelan, namun cukup nyaring untuk sampai ke telinga Bai Ruoxue.
“Eh, kau belum dengar?” selir itu mendekatkan wajahnya ke temannya, berpura-pura berbisik. “Katanya… dicekik.”
Langkah Bai Ruoxue akhirnya berhenti total. Dadanya naik turun.
Dicekik.
Kata itu bergaung di kepalanya, memanggil kembali ingatan malam itu—rasa sakit yang nyata, napas yang terputus, tatapan dingin seorang pria yang sama sekali tak ia kenal. Kejadian yang sama sekali tak ia ketahui. Namun bagi mereka, semua itu hanyalah bahan gosip yang lezat. Sesuatu yang digunakan untuk menjatuhkan seseorang dengan sangat mudah.
Awalnya, pagi ini Bai Ruoxue hanya ingin berjalan-jalan. Menghirup udara, menenangkan pikirannya, mencoba berdamai dengan kekacauan yang tak pernah ia minta. Namun rupanya, ketenangan adalah kemewahan yang tak diizinkan untuknya di istana ini.
“No—nona…” Shuang Shuang berbisik cemas di sampingnya, menarik sedikit lengan bajunya. Wajah gadis itu penuh khawatir dengan segala bisikan yang ada. Khawatir dengan kondisi Bai Ruoxue sekarang.
Namun suara-suara itu terus berlanjut. Tidak peduli pada peringatan tak bersuara dari dayang kecil itu.
“Siapa tahu kan,” ujar seorang selir dengan senyum penuh maksud, “bekas cekikan itu karena dia bermain dengan pria lain di belakang Yang Mulia?”
Darah Bai Ruoxue mendidih.
“Yang benar?!”
“Tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin ada bekas seperti itu?”
Tawa kecil menyusul, diiringi bisikan lain yang lebih kejam.
“Berarti tubuhnya sudah kotor dong?”
Mata Bai Ruoxue berkilat tajam. Tangannya mengepal tanpa ia sadari.
“Tentu saja,” lanjut suara itu, kali ini tanpa sedikit pun ditahan, “sekarang dia sudah jadi wanita murah—”
Plak!
Suara tamparan itu menggema keras di udara. Semua percakapan terhenti seketika.
Selir yang ditampar itu terhuyung, matanya membelalak tak percaya, tangannya refleks menutupi pipinya yang memerah.
“Apa—?!” Ia menatap Bai Ruoxue dengan wajah terkejut bercampur marah. “Selir Xue! Apa kau sudah gila?!”
Bai Ruoxue berdiri di hadapannya, wajahnya dingin, matanya tak menunjukkan penyesalan sedikit pun.
“Iya,” ucapnya pelan namun tegas. “Aku sudah gila.”
“A—apa?!” Selir itu semakin tersulut. “Kau bahkan tidak tahu malu! Dasar wanita murah—”
Plak!
Tamparan kedua mendarat lebih keras.
Kali ini, bisik-bisik langsung meledak di sekitar mereka. Ada yang terkejut, ada yang ketakutan, ada pula yang diam-diam menikmati keributan ini.
“Ya ampun… Selir Xue benar-benar berani…”
“Dia tak takut apa?”
Langkah pelan terdengar mendekat.
“Wah, wah…” Suara itu manis, tapi menusuk. “Kau benar-benar sudah kehilangan akal, ya?”
Mei Yuxin.
Ia mendekat dengan langkah anggun, wajahnya penuh kepura-puraan, seolah benar-benar prihatin. Namun matanya berkilat tajam penuh kelicikan.
“Kau ingin menulis aturan istana lagi, Selir Xue?” lanjutnya, bibirnya tersenyum.
“Ya,” jawab Bai Ruoxue tanpa gentar. “Aku sudah kehilangan akal. Tapi setidaknya aku wanita yang tidak munafik.”
Senyum Mei Yuxin menegang sesaat. Amarah melintas cepat di wajahnya, namun segera ia sembunyikan kembali di balik ekspresi lembut.
“Kau banyak berubah,” katanya ringan. “Di mana sikap anggunmu yang dulu kau jaga mati-matian itu?”
Bai Ruoxue hanya menatapnya, dingin dan tajam.
Ia tidak tahu bagaimana sikap Bai Ruoxue jika menanggapi hal seperti ini. Namun, sekarang tubuh ini adalah miliknya. Ia yang menempati raga ini. Maka, ia pun tak akan bersikap penuh kemunafikan seperti semua wanita di sini. Jika ia dihina, ia akan membalas. Tak peduli hukum dunia ini. Dari dulu ia paling tidak suka seseorang yang merendahkan harga dirinya.
“Kau tak bisa menjawab?” Mei Yuxin melanjutkan, mendekat satu langkah. “Biar kuberitahu.”
Nada suaranya merendah, berbahaya. Gerak-gerik wanita itu selalu tampak licik.
“Pasti sudah hilang… bersamaan dengan rasa malumu saat bersama pria lain—”
Plak!
Tamparan itu kembali terdengar.
Untuk sesaat, dunia terasa berhenti.
Mei Yuxin terhuyung mundur—lalu jatuh terduduk di rerumputan, tangannya memegangi pipinya, matanya berkaca-kaca. Suaranya terisak seolah itu tadi adalah dorongan kasar yang begitu melukainya.
Bai Ruoxue membeku.
Ia menatap tangannya sendiri. Ia tahu betul seberapa kuat ia menampar. Tidak sekeras itu. Tidak sampai membuat seseorang terjatuh seperti baru saja dipukul habis-habisan.
Astaga.
“Selir Mei!”
Teriakan panik memecah keheningan. Beberapa dayang bergegas mendekat, membantu Mei Yuxin berdiri. Tangisannya kini pecah, bahunya bergetar, tampak rapuh dan menyedihkan.
Lalu, sebuah aura dingin menyelimuti tempat itu.
“Ada apa ini?”
Semua langsung menunduk.
Bai Ruoxue mengangkat pandangannya dan melihat sosok wanita itu—berdiri tegak, berwibawa, dengan tatapan yang membuat seluruh istana diam. Auranya mirip kaisar… meski berbeda, kekuasaannya tak kalah menekan.
Siapa…?
Ingatan Bai Ruoxue berputar cepat.
Permaisuri.
“Ya—Yang Mulia, Permaisuri…” ujar seorang dayang gemetar.
Mei Yuxin menangis tersedu, bersandar lemah. “Saya… saya hanya mengingatkan Selir Xue…”
Ia terisak. “Saya hanya ingin kebaikan terpencar di istana ini…”
Bai Ruoxue akhirnya mengerti segalanya.
Senyum licik tadi. Provokasi yang tak henti. Tamparan yang dibuat seolah lebih keras. Semua ini… sudah direncanakan.
Mei Yuxin tahu permaisuri akan datang.
Dasar wanita licik.
“Selir Xue,” suara permaisuri terdengar dingin dan mutlak. “Ikut denganku.”
Bai Ruoxue menunduk pelan.
Di sudut matanya, ia melihat senyum kemenangan di wajah Mei Yuxin.
Dan untuk pertama kalinya, Bai Ruoxue sadar.
Di istana ini, keberanian saja tidak cukup untuk bertahan hidup.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi