Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UJIAN LISENSI
Gedung Asosiasi Hunter Nasional di Jakarta Pusat berdiri tinggi seperti menara gading mengejek kemiskinan di sekitarnya. Dinding kacanya pun memantulkan cahaya matahari pagi yang panasnya mulai menyengat di kulit, sementara di dalamnya, ribuan calon Hunter sudah berjajar seperti antrian bansos.
Aroma di aula itu adalah campuran antara parfum mahal milik anak-anak orang kaya, bau bau keringat kecemasan, hingga sisacsisa energi magis dari senjata yang belum disarungkan.
Di antara kerumunan itu, Kenzo merasa seperti orang asing. Dia memakai hoodie hitam pemberian Elara yang serat kainnya terasa sedikit gatal di leher dan menyebabkan bercak merah, fitur concealer Mana nya sedang bekerja, meredam luapan energi di dalam tubuh Kenzo agar tetap stabil.
Kalau bukan karena alat itu, Kenzo yakin orang-orang di sekelilingnya sudah pingsan karena tekanan Mana yang bocor dari pori porinya.
"Woi, liat tuh. Ada yang mau ikut ujian pakai baju gembel gitu anjir?"
Tawa pecah dari sekelompok pemuda yang memakai zirah kulit mengilap. Kenzo hanya melirik sekilas dari balik tudung hoodie-nya. Dia bisa mendengar detak jantung mereka cepat, tidak beraturan, tanda bahwa nyali mereka tidak sebesar ototnya. Sejak sistem "Extraction" menyatu dengan syarafnya, Kenzo bukan lagi sekadar mendengar; dia bisa merasakan aliran darah orang di sekitarnya.
Sabar, gumam Kenzo dalam hati. Hari ini cuma soal legalitas.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat membungkam aula. Seorang pria dengan rahang tegas dan bekas luka melintang yang membuat wajahnya tampak seperti peta jalanan rusak, berjalan naik ke podium. Kapten Bram. Hunter peringkat Rank S yang rumornya bisa membelah gedung hanya dengan satu jentikan jari.
"Dengerin baik-baik, para pecundang!" Suara Bram serak dan berat, hasil dari bertahun tahun menghirup asap Dungeon.
"Gue nggak peduli lo anak siapa atau seberapa mahal pedang yang lo bawa. Di sini, cuma ada dua pilihan: lo jadi predator, atau lo jadi pupuk buat monster di luar sana. Yang ngerasa nyalinya cuma seujung kuku, silakan keluar sekarang!" Teriak bram.
Hening. Tidak ada yang bergerak, meski beberapa peserta di barisan depan tampak pucat dan nyaris muntah karena tekanan aura yang sengaja dilepaskan Bram.
"Oke. Tahap pertama: Tes Potensi Mana. Maju satu satu ke kristal itu. Jangan ada yang nangis kalau hasilnya cuma selevel lampu taman." Sinis Bram.
Antrean mulai bergerak. Mesin pengukur itu adalah sebongkah kristal raksasa yang tampak haus akan energi. Warnanya berubah ubah, menjadi indikator masa depan setiap orang di sana.
"Peserta 045: peringkat Rank D. Lumayan buat jadi tukang bawa barang."
"Peserta 102: Gagal. Pulang sana, bantu emak lo jualan pulsa."
Aula mendadak riuh saat seorang cowok berambut klimis dengan zirah berlapis perak menempelkan tangannya. Kristal itu meledak dalam cahaya kuning terang.
"Peserta 215: Rank C. Akhirnya ada yang agak bener dikit."
Kini giliran nomor 333. Kenzo melangkah maju. Sepatu ketsnya yang sudah jebol berdecit di atas lantai marmer. Bram menyipitkan mata, memperhatikan setiap gerak-gerik Kenzo yang tampak terlalu santai bahkan cenderung malas.
"Tempel tangan lo sini," kata Bram pendek. Dia merasa ada yang aneh dengan bocah ini.
Ada sesuatu yang tertutup rapat, seolah olah Kenzo adalah sebuah kotak pandora yang digembok paksa.
Kenzo menempelkan telapak tangannya. Dia memejamkan mata, memvisualisasikan Mana nya sebagai kran air yang hanya dibuka sedikit demi sedikit. Dia harus menahan diri. Kalau dia melepaskan semuanya, gedung ini mungkin tidak akan punya kaca lagi dalam sedetik.
BZZZT...
Kristal itu bergetar hebat. Warnanya berubah menjadi putih, lalu kuning, lalu tiba-tiba meledak menjadi biru pekat yang menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya. Warna biru itu begitu gelap, hampir mendekati hitam di intinya.
[Hasil: peringkat Rank B - Puncak]
"Hah? Peringkat Rank B?!"
"Bercanda Lo ya? Bocah dekil itu peringkat B?"
Bram tidak bicara. Dia turun dari podium, mendekati Kenzo, lalu menatap tajam ke mata pemuda itu.
"Lo... lo dapet kekuatan ini dari mana? Lo bukan orang baru di dunia ini, kan?" tanya Bram.
"Saya cuma mantan seorang cleaner yang lagi beruntung, Kapten," jawab Kenzo datar.
"Lanjut ke tes fisik," desis Bram, meski matanya tetap mengikuti punggung Kenzo dengan rasa curiga yang mendalam.
Ruang tes fisik terasa lebih dingin, tapi ketegangannya jauh lebih tinggi. Di tengah ruangan, sebuah karung pasir raksasa yang terbuat dari kulit monster tergantung kokoh.
Ini bukan samsak biasa; benda ini didesain untuk menahan hantaman meriam.
Seorang peserta peringkat Rank C tadi maju, memberikan pukulan terbaiknya. Suara debukan keras terdengar, dan skor muncul 1.200 poin. Dia menyeringai bangga, pamer otot di depan kamera wartawan yang lagi meliput.
Kenzo berjalan ke depan samsak itu. Dia tidak mengambil ancang ancang kuda kuda yang rumit. Dia hanya berdiri, menarik napas panjang, dan membiarkan energi Heavy Strike mengalir ke pergelangan tangannya.
Di matanya, samsak itu punya satu titik lemah sebuah titik hitam kecil yang hanya bisa dilihat oleh Predator's Eye.
Kenzo memukul. Tak ada suara teriakan. Hanya satu ledakan udara yang memekakkan telinga.
BOOM!
Bukan samsaknya yang berayun, tapi kulit monster yang tebal itu meledak hancur berkeping keping. Pasir khusus di dalamnya menghujur keluar seperti hujan abu. Sensor digital di dinding berkedip agak gila sebelum akhirnya mati total dengan tulisan ERROR.
Seluruh aula mendadak sunyi. Bahkan suara napas pun tidak terdengar. Kapten Bram yang berdiri di pojokan perlahan melepaskan rokok dari mulutnya.
"Mesinnya nggak rusak," gumam Bram pada asistennya yang gemetar. "Anak itu... kekuatannya udah kaga masuk di akal buat ukuran manusia."
"Tapi Pak, dia cuma peringkat Rank B..." ucap asistennya.
"Lupain dulu lah soal Rank. Lanjutin ke tes tempur. Gue mau liat apa dia bisa bertahan lawan robot simulasi tingkat tinggi." suruh Bram.
Ujian terakhir adalah panggung pembantaian bagi mereka yang sombong. Sebuah arena luas yang dikelilingi pagar listrik. Di hadapan Kenzo, berdiri sebuah mesin pembunuh setinggi empat meter dengan empat lengan yang masing-masing memegang pedang laser. Robot itu diprogram dengan pola serangan monster peringkat Rank A: cepat, presisi, dan tanpa ampun.
"Mulai!" ucap Bram.
Robot itu melesat. Kecepatannya melampaui batas pandangan mata manusia biasa. Pedang lasernya menyambar, menciptakan gelombang panas yang membakar udara. Tapi Kenzo? Dia masih berdiri diam, tangannya masih anteng di saku jaket.
Syut.
Dalam hitungan detik, Kenzo menghilang. Robot itu berputar, sensor radarnya mencari-cari keberadaan target, tapi Kenzo seolah sudah menyatu dengan bayangan di bawah kaki robot itu sendiri.
Kenzo muncul tepat di pundak mesin raksasa itu. Tangannya menyentuh pelat baja di bagian kepala robot. "Ekstraksi," bisiknya.
Dia tidak menghancurkan sirkuitnya. Dia melakukan sesuatu yang jauh lebih ngeri. Dia menyedot seluruh inti energi yang menggerakkan mesin itu melalui telapak tangannya.
Cahaya biru terang ditarik paksa keluar dari tubuh robot, mengalir masuk ke dalam tubuh Kenzo. Robot raksasa itu bergetar hebat, lalu dalam sekejap, seluruh lampunya padam. Mesin berat itu ambruk ke lantai arena dengan dentuman yang menggetarkan seluruh gedung.
Sepuluh detik. Ujian yang seharusnya berlangsung lima menit kelar dalam sepuluh detik tanpa Kenzo mengeluarkan satu tetes keringat pun.
Kapten Bram berdiri, matanya berkilat. "Kasih dia Lisensi Rank A. Sekarang."
"Tapi Kapten, hasilnya menunjukkan..."belum sempat si asisten bicara.
"Gue bilang Rank A! Kalau lo kasih dia Rank S sekarang, seluruh dunia bakal ngincer dia sebelum kita bisa ngamanin dia. Bocah itu bukan cuma Hunter... dia itu anomali." bentak Bram.
Kenzo berjalan keluar dari gedung asosiasi dengan sebuah kartu lisensi baru di tangannya. Dia tidak merasa bangga. Dia justru merasa lapar. Energi dari robot tadi terasa hambar, tidak senikmat energi makhluk hidup.
"Kenzo! Gila bener lo ya!"
Elara sudah menunggunya di atas motor sport hitamnya di parkiran. Dia menyodorkan tablet yang layarnya dipenuhi berita utama.
"HUNTER MISTERIUS HANCURKAN SENSOR ASOSIASI". Video pukulan Kenzo tadi sudah viral di forum forum gelap.
"Udah gue duga lo bakal bikin keributan kek gini anj lah," Elara menggeleng, tapi senyumnya nggak bisa bohong. "Tapi hati-hati. Gara-gara video ini, beberapa klan besar mulai nanyain siapa lo. Termasuk sindikat 'Cobra'. Mereka nggak suka ada orang kuat yang nggak ada di bawah kaki mereka."
Kenzo naik ke boncengan di motor Elara. "Biarin aja. Malah bagus kalau mereka dateng."
"Maksud lo gimana? Gila nih bocah" sahut elara.
"Gue butuh banyak poin buat level up. Kalau mereka dateng buat berantem, berarti mereka cuma tumpukan nutrisi yang nganterin nyawa sendiri." seringai Kenzo.
Elara bergidik. Dia bisa merasakan aura Kenzo yang sekarang jauh lebih tajam.
"Lo makin serem, Ken. Beda banget sama Kenzo yang dulu nangis gara gara gajinya dipotong Binsar." Mendengar nama Binsar, Kenzo tersenyum tipis.
"Ngomong-ngomong soal Binsar... lo udah tau dia di mana?" tanya Kenzo.
"Dia sekarang cuma jadi gelandangan di pinggiran kota, Ken. Kekuatannya kaga balik balik. Tapi denger denger, dia lagi minta perlindungan ke klan lamanya buat bales dendam sama lo." jawab elara.
"Bagus," kata Kenzo sambil menatap langit Jakarta yang mulai tertutup awan mendung. "Gue bakal tunggu dia. Bareng siapa pun yang dia bawa."
[Ding! Misi Utama Selesai bos.]
[Mendapatkan Skill: Mana Pressure (Rank A).]
[Level Meningkat: Lv.18.]
Di dalam kegelapan tudung hoodienya, mata Kenzo berkilat emas. Dia bukan lagi korban. Dia bukan lagi sampah yang dibuang. Dia adalah predator yang sekarang sedang mencari mangsa yang lebih besar.
"Elara, cabut sekarang. Gue mau ngetes Mana Pressure ini di Dungeon liar malam ini juga." ucap Kenzo.
"Malam ini?! Lo nggak capek apa? Gila bener nih bocah ya" kesal elara.
"Dunia nggak bakal nunggu gue istirahat, El. Dan gue... gue udah nggak sabar mau liat siapa lagi yang bisa gue telan." ucap kenzo santai.
Motor itu melesat membelah jalanan Jakarta yang mulai macet, meninggalkan gedung asosiasi yang masih gempar oleh kehadiran sang anomali baru. Hari itu, sejarah Hunter Indonesia resmi berubah. Dan nama Kenzo, akan menjadi nama yang paling ditakuti oleh siapa pun yang berani menyebut diri mereka penguasa.