"Gue ga nyangka lo sanggup nyelesain 2 tantangan dari kita" Ardi menepuk pundak Daniel
"Gue penasaran gimana caranya si culun Rara bisa jatuh cinta sama lo?" Tanya David.
Daniel kemudian mendekati David dan berkata "lo harus pintar - pintar ngerayu bro.. bahkan gue ga nyangka kalo bisa dapat perawannya dia" dengan bangganya Daniel berkata demikian kepada para sahabatnya.
Eric yang duduk di atas meja langsung berdiri "gila! Yang bener lo bro! Lo ga bohongin kita kan?" David dan Ardi hanya melongo menatap Daniel tak percaya
"Emang selama ini gue pernah bohong apa" ucap Daniel menyakinkan mereka.
Ardi melemparkan kunci mobilnya ke meja David "karena lo menang taruhan, mulai sekarang mobil gue jadi hak milik lo. Surat-suratnya semua ada di dalam mobil" Ucap Ardi menambahkan.
Tanpa mereka sadari, Rara yang mendengarnya, tak kuasa menahan laju air matanya. Hatinya begitu sakit mengetahui bahwa dirinya hanya di jadikan taruhan. Kehamilannya di jadikan taruhan. Pandangan Rara mulai kabur, dan semakin lama semakin gelap. Hingga ia jatuh tak sadarkan diri
Baaaaaaappp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LidyaMin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cucu Mami
Rutinitas yang selalu Rara lakukan setiap pagi adalah menyiapkan semua kebutuhan putra putrinya sebelum dia berangkat kerja. Pagi ini Rara sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Dia membuat nasi goreng sederhana. Tentu saja Ria sangat menyukainya karena itu adalah makanan favoritnya.
"Abang, ade, sarapan dulu sayang." Rara memanggil anak - anaknya untuk sarapan bersama.
Keduanya patuh dan duduk di kursi masing - masing. Sambil menikmati sarapannya, Rara memperhatikan keduanya yang makan dengan lahap.
"Minggu depan ulang tahun abang dan ade. Mau dirayakan dimana?" Rara membuka percakapan di antara mereka.
Dengan mata berbinar - binar Ria berteriak girang. "Horeeeeeeee ade ulang tahun."
"Ck..berisik." Rio mendelik sebal pada Ria di sebelahnya.
Seketika wajah ceria Ria berganti jadi cemberut dan memalingkan wajahnya.
"Biarin..wleeeee"
"Sudah..sudah..kalian mau di rayakan dimana? Mau di rumah atau di mana?"
Dengan senyuman Rara menengahi perdebatan kecil di antara kedua putra putrinya dan kembali menanyakan keinginan mereka.
"Abang mau di rumah saja bunda." Rio menjawab
"Ade gimana?"
Dengan ragu, Ria menjawab seperti yang di katakan Rio karena melihat tatapan tajam dari abangnya.
"Ade ngikut kaya abang aja bunda." Cicit Ria.
Sambil bertepuk tangan sekali, Rara mengangguk senang. "Baiklah kalau abang dan ade mau di rayakan di rumah. Nanti kita akan bikin pesta yang meriah." Rara tersenyum bahagia.
"Bunda, apa boleh Om Daniel Datang?"
Pertanyaan Ria sukses menghentikan kegiatan Rara menyuap nasi gorengnya. Kemudian dia menatap putranya, seakan meminta persetujuan atau pendapat. Rio sempat bertemu tatap dengan bundanya tapi kemudian kembali menikmati sarapannya.
"Nanti bunda pikirkan tentang itu. Karena om Daniel orangnya sibuk." Rara memberikan pengertian pada Ria walau hatinya sedikit tidak nyaman melihat bagaimana tatapan putranya tadi.
Setelah sarapan, Rara bersiap - siap untuk berangkat kerja. Marwah yang di tunggu pun sudah datang. Sebelum berangkat dia menghampiri Ria dan Rio, kemudian mengecup kedua pipi mereka.
"Bunda berangkat dulu ya. Ingat jadi anak pintar selama bunda tinggal ya." Keduanya mengangguk mengiyakan.
"Marwah saya titip mereka. Kalau ada apa - apa segera hubungi saya."
"Iya bu" Kata Marwah dengan sopan dan mengantar kan majikannya sampai pintu depan.
***
"Pagi mbak Nita." Sapa Rara ketika sampai di kantor.
"Pagi juga mbak Rara." Nita tersenyum ramah menjawab sapaan Rara.
Rara memasuki ruangan kerjanya dan sekilas melihat ke arah meja Daniel yang kosong dan melihat jam di pergelangan tangannya. Tak berselang lama Daniel pun datang memasuki ruangan kerja yang sama.
"Selamat pagi Pak." Sapa Rara pada Daniel.
"Pagi." Balas Daniel.
Rara meletakkan tasnya ke atas meja, kemudian berjalan menuju pantry yang ada di dalam ruangan tersebut. Dia membuat secangkir hot cappucino dan segelas teh hijau.
Rara menaruh secangkir hot capuccino tadi di atas meja Daniel.
"Thanks" ucap Daniel.
Rara hanya mengangguk dan berbalik menuju meja kerjanya. Sambil menikmati teh hijaunya, Rara fokus pada pekerjaannya. Sesekali dia mengecek pesan di ponselnya.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Maaf Pak, ada nyonya Mahendra ingin bertemu Bapak." Kata Nita.
Daniel sempat berpikir sebentar, ada apa maminya tiba - tiba datang ke kantor. Tidak biasanya.
"Suruh saja masuk." Ujar Daniel.
"Baik Pak." Balas Nita dan mempersilahkan mami Daniel untuk masuk ke dalam.
Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruang kerja Daniel. Meskipun sudah tidak muda lagi, tapi penampilannya sangat elegan dan masih terlihat cantik.
"Ada kabar apa mami kesini?" Daniel berdiri dan menghampiri kemudian memberikan kecupan di pipi maminya.
Nyonya Mahendra memukul lengan Daniel pelan. "Kamu ini ya..kalo bukan orang tua ini yang mencari mu, kamu ga bakalan punya waktu menjenguk papi sama mami. Kapan kamu pulang ke rumah? Banyak hal yang ingin papi kamu bicarakan dengan kamu."
"Daniel masih sibuk mi. Masih ada proyek besar yang sedang di tangani. Kalau sudah selesai Daniel janji pasti akan pulang." Daniel tersenyum dan bermanja seperti anak kecil pada maminya.
Jujur saja Daniel juga merindukan kedua orang tuanya, tapi padatnya pekerjaan yang membuat dia mengurungkan niatnya untuk pulang.
Rara diam - diam memperhatikan interaksi keduanya. Rara kemudian teringat dengan kedua orang tuanya yang sudah lama tiada. Dia merindukan mereka. Tanpa disadari, setetes air matanya jatuh. Dengan cepat dia menyeka air matanya agar tak di ketahui Daniel atau mami nya. Rara memilih berdiri dan menyapa mami Daniel.
"Selamat pagi Nyonya. Kenalkan saya Rara sekretaris Pak Daniel." Rara menyalami Nyonya Mahendra dan membungkuk sopan.
Mami Daniel membalas menjabat tangan Rara dan tersenyum ramah. "Kamu sangat cantik dan baik." Mami Daniel begitu terkesan dengan keramahtamahan Rara.
"Terimakasih nyonya." jawab Rara sopan.
"Jangan panggil saya nyonya. Tidak enak di dengar. Panggil saya mami saja." Ucap mami Daniel menatap suka pada Rara.
Daniel dan Rara sama - sama terkejut mendengar ucapan Nyonya Mahendra. Daniel berpikir ada apa dengan mami nya. Biasanya maminya itu selalu terkesan tidak ramah pada teman wanita yang pernah bertemu dengan maminya. Tapi kenapa dengan Rara dia seperti mengganggap Rara putrinya. Daniel sempat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya??" Ujar Rara bingung.
"Koq kaya orang bingung gitu?" Tegur mami Daniel pada Rara.
"Bagaimana mungkin saya memanggil Anda dengan tidak sopan begitu nyonya?" Rara masih di landa kebingungan dengan sikap mami Daniel.
"Siapa bilang tidak sopan?? Itu sangat sopan. Jadi mulai sekarang kalau ketemu saya, kamu harus panggil saya mami. Tidak ada bantahan." Nyonya Mahendra tersenyum lebar dan memberikan pelukan pada Rara.
Rara berdiri mematung dan tidak membalas pelukan mami Daniel. Dia juga sempat menatap pada Daniel. Daniel hanya menggedikkan kedua bahunya tanda dia pun tidak mengerti.
"B-baik ma-mami." Jawab Rara terbata - bata.
"Eeemm..mami mau minum apa?" Tanya Rara.
"Terserah apa saja. Yang penting tidak banyak gula."
Rara mundur beberapa langkah kemudian berbalik ke arah pantry membuat teh hijau untuk mami Daniel. Selesai membuatnya Rara meletakkan nya di atas meja.
"Terima kasih sayang." kata Nyonya Mahendra.
"Sama-sama mami." Ujar Rara canggung kemudian kembali ke meja kerjanya.
Pikiran Rara masih mencerna maksud dan tujuan dari Nyonya Mahendra yang memintanya untuk memanggil Mami padanya. Apa mungkin mereka mengetahui tentang Ria dan Rio? Batin Rara. "Aahh itu tidak mungkin" Rara mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
"Apa yang tidak mungkin?" Dari meja kerjanya Daniel menatap Rara heran yang masih belum menjawab pertanyaannya.
Rara mengerjapkan kedua matanya dan tersadar dari lamunannya.
"Tidak..tidak ada apa - apa." Jawab Rara gugup.
"Apa kau yakin sayang? Apa kau sedang tidak sehat?" Mami Daniel datang menghampiri Rara mengecek keadaanya dan meletakkan telapak tangannya di dahi Rara.
Rara memundurkan sedikit kepalanya karena kaget dengan perlakuan mami Daniel. "Tidak mi..saya baik - baik saja."
"Syukur lah kalau begitu." Mami Daniel kembali duduk di sofa.
Daniel terus memperhatikan tingkah laku Rara. Ada sesuatu yang Rara sembunyikan darinya. Dan itu sangat mengganggu pikiran Daniel. Mungkin ini ada kaitannya dengan si kembar, pikir Daniel.
"Daniel, kapan kamu kasih cucu untuk mami dan papi?"
Uhuk..uhuk..uhuk..
Daniel tersedak air minumnya sendiri. Pertanyaannya mami nya yang tiba - tiba menanyakan perihal cucu membuat Daniel terkejut. Rara segera beranjak dari tempat duduknya memberikan tisu pada Daniel. Sementara Rara juga tidak kalah terkejutnya mendengar hal itu.
Sembari menatap Rara, Daniel menjawab pertanyaan maminya dengan senyum jahilnya tapi punya arti lain.
"Mami tenang saja, cucu mami akan segera bertemu dengan mami dan papi.Bukan cuma satu tapi dua." Ujar Daniel sambil tersenyum lebar.
Rara membulatkan matanya dan menatap tajam Daniel. Dia mengerti maksud dari perkataan Daniel. Karena kesal Rara menghempaskan kotak tisu di atas meja Daniel.
"Heh. Kalau ngomong yang bener sama mami. Maksud kamu apa cucu mami ada dua??" Nyonya Mahendra menatap tajam Daniel.
Dengan senyuman nakalnya Daniel duduk di sebelah maminya kemudian mengelus punggung tangan maminya dengan lembut.
"mami dan papi tidak usah kuatir. Kalau sudah waktunya Daniel akan memberikan seperti apa yang mami dan papi minta."
"Ya sudah kalau begitu. Mami mau pulang dulu. Ingat kalau ada waktu longgar pulang ke rumah. Ajak Rara juga. Biar papi kenal."
Nyonya Mahendra berdiri dan bermaksud ingin pergi tapi sebelumnya dia menatap Rara dan menghampirinya "Sekali - kali kunjungi mami ya."
"Iya mami. Hati - hati di jalan." Rara tersenyum ramah dan Nyonya Mahendra pun beranjak pergi.
Rara mengalihkan pandangannya dengan tatapan tidak suka pada Daniel. "Apa maksud perkataan kamu tadi pada mami mu??"
Bukannya menjawab Daniel malah semakin mendekat maju dan membuat langkah Rara semakin mundur ke belakang. Daniel terus saja maju. Sampai hampir tidak ada jarak di antara mereka. Langkah Rara terhenti karena sudah tidak bisa mundur lagi. Punggungnya kini mentok di dinding. Daniel mengunci pergerakkan Rara dengan menumpu kedua tangannya di dinding. Hembusan nafas Daniel bisa Rara rasakan di wajahnya. Wajah Daniel semakin mendekat dan membuat Rara memejamkan matanya. Jantung Rara berdetak cepat. Demikian juga Daniel.
"Apa kamu ingin menjelaskan sesuatu padaku? Atau aku akan mencari tau sendiri?" Daniel berbisik di telinga Rara.
Seketika tubuh Rara menegang dan membuka matanya. Manik mata mereka saling bertemu. Daniel bisa melihat ada tatapan terluka di sana. Ingin dia membuat luka itu berubah menjadi suka bahagia. Tapi Daniel ragu apakah dia sanggup merubahnya.
Dia sempat menundukkan kepalanya, sebelum akhirnya dia kembali menatap wajah Rara. Wajah yang cantik alami, mulus putih bersih tanpa cela. Perlahan - lahan Daniel semakin mendekat kan wajahnya dan mulai memejamkan matanya. Hidungnya sudah menyentuh hidung Rara, sedikit lagi bibir Daniel bertemu dengan bibir Rara sebelum akhirnya Rara mendorong paksa dada Daniel dan bergerak menghindar.
"Tidak ada yang perlu aku jelaskan" tegas Rara dan memilih berjalan keluar.
Daniel mengusap kasar wajahnya dan mengumpat "shiiiitttttt".