Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratu yang Kembali
Dua hari dua malam apartemen itu menjadi saksi bisu bagaimana Andrea Sterling Valerius menenggelamkan rasa sakit hatinya ke dalam gairah yang menyesatkan bersama Xavier.
Di sana, di balik pintu yang terkunci, ia bukan lagi pengantin yang dikhianati, melainkan penguasa atas raga pria yang paling membencinya atau setidaknya, begitulah menurut pikirannya yang angkuh.
Pagi itu, Andrea melangkah keluar dari mobil sport merahnya di area parkir universitas.
Semua mata tertuju padanya. Bisik-bisik yang tadinya riuh mendadak senyap saat sepatu hak tinggi Andrea mengetuk lantai marmer koridor kampus. Berita tentang skandal malam pengantin Aldrian Cavanough telah menjadi konsumsi publik. Semua orang berekspektasi akan melihat Andrea yang kuyu, dengan mata sembab dan bahu yang merosot karena malu.
Namun, yang mereka lihat adalah sosok Andrea yang jauh lebih bersinar, lebih tajam, dan lebih angkuh dari sebelumnya. Ia mengenakan setelan blazer hitam custom-made dengan kerah tinggi, pilihan gaya yang kini menjadi favoritnya untuk menyembunyikan tanda kepemilikan Xavier yang masih samar di lehernya.
Andrea berjalan dengan kepala terangkat tinggi, tas desainer di lengan kirinya, dan tatapan mata yang seolah mengatakan bahwa seluruh dunia berada di bawah kakinya.
"Lihat dia... bagaimana bisa dia tetap setenang itu?" bisik salah satu mahasiswa di pojok kantin.
"Mungkin dia memang tidak punya perasaan. Bayangkan, suaminya tertangkap basah dengan pelayan di malam pertama, tapi dia berjalan seolah baru saja memenangkan lotre."
Andrea mendengar itu semua, tapi ia hanya tersenyum tipis. Mereka tidak tahu bahwa lotre yang ia menangkan jauh lebih panas dan berbahaya daripada sekadar harga diri yang terluka.
Di dalam kelas Mikroekonomi, Andrea mengambil tempat duduk favoritnya di barisan depan. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Xavier Cavanough masuk.
Langkah Xavier tidak berubah, tetap tegap dan penuh otoritas. Namun, ada yang berbeda dari tatapannya pagi ini. Saat ia duduk di samping Andrea, aroma parfum sandalwood yang sangat dikenal Andrea selama dua hari terakhir menyeruak, memicu memori panas yang membuat kulit Andrea meremang di balik pakaiannya.
Xavier meletakkan bukunya di meja, lalu melirik Andrea dari sudut matanya. Ia melihat Andrea yang kembali ke mode Putri Angkuh, wanita yang siap berdebat dan merendahkan siapa pun dengan kecerdasannya.
Xavier tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang nyaris tak terlihat oleh orang lain, namun sangat bermakna bagi Andrea. Senyum itu seolah berkata, Dunia mungkin mengasihanimu, tapi hanya aku yang tahu betapa liarnya suaramu saat mendesah di bawahku semalam.
"Selamat pagi, Nona Valerius," ucap Xavier datar, kembali ke mode profesional kampusnya. "Saya harap istirahat Anda cukup untuk mengikuti kuis hari ini."
Andrea menoleh, menatap Xavier dengan sorot mata menantang yang kini memiliki kedalaman yang berbeda. "Tuan Cavanough, istirahat saya lebih dari cukup untuk melampaui nilai Anda. Dan saya harap... fokus Anda tidak terganggu oleh hal-hal yang tidak penting."
Beberapa mahasiswa di belakang mereka saling lirik. "Mereka masih saja cekcok. Luar biasa, Andrea benar-benar kuat."
Namun, di bawah meja yang tertutup, tangan Xavier bergerak cepat, menyentuh lutut Andrea sejenak, sebuah sentuhan posesif yang singkat sebelum ia menariknya kembali. Andrea tersentak kecil, napasnya tertahan, namun ia segera menguasai diri. Ia tetap menatap lurus ke depan, ke arah Profesor yang baru masuk, meski jantungnya berdegup kencang.
Xavier merasa sangat puas. Ia tidak peduli jika publik mengira Andrea hancur. Baginya, melihat Andrea kembali tegak dan sombong adalah pemandangan terindah, karena ia tahu, di balik tembok keangkuhan itu, ada rahasia besar yang hanya ia yang memegang kuncinya.
Xavier benar-benar telah memenangkan permainan ini. Aldrian kehilangan segalanya dalam satu malam, sementara Xavier mendapatkan wanita yang ia cintai seumur hidupnya, meskipun wanita itu saat ini hanya menganggapnya sebagai pelarian gairah.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear😍