"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33. Labirin Cahaya Neon
Hana Tanaka duduk di kursi plastik yang sangat keras di dalam gerbong kereta bawah tanah yang melaju kencang. Pakaian seragamnya masih terasa sangat lembap dan juga sangat dingin karena terkena air hujan tadi. Dia bisa merasakan tetesan air dari ujung rambutnya jatuh perlahan mengenai punggung tangannya yang pucat.
Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel besi menciptakan kebisingan yang sangat memekakkan telinga para penumpang. Hana terus menundukkan kepalanya agar wajahnya tidak terlihat jelas oleh orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Dia merasa setiap pasang mata di dalam gerbong kereta tersebut sedang mengawasi gerak-geriknya dengan penuh kecurigaan.
Kaito Fujiwara berdiri tepat di depan Hana sambil memegang tiang besi kereta dengan genggaman tangan yang sangat kuat. Matanya terus bergerak liar menatap ke arah pintu gerbong setiap kali kereta berhenti di stasiun berikutnya.
Kaito memberikan isyarat kepada teman-temannya untuk segera turun saat kereta berhenti di stasiun Ikebukuro yang sangat ramai. Mereka berlima melangkah keluar dari gerbong kereta dengan gerakan yang sangat cepat dan juga sangat waspada.
Udara di dalam stasiun Ikebukuro terasa sangat pengap dan juga penuh dengan aroma asap rokok yang sangat menyengat. Mereka berjalan melewati kerumunan orang yang sedang terburu-buru pulang menuju rumah mereka masing-masing setelah bekerja seharian. Akane Sato terus memegang lengan baju Hana agar mereka tidak terpisah di tengah lautan manusia yang sangat padat tersebut.
Ren Ishida berjalan paling belakang untuk memastikan bahwa sosok pengintai berbaju hitam tadi tidak lagi mengikuti mereka. Dia sesekali menoleh ke belakang dengan tatapan mata yang sangat tajam dan juga sangat penuh dengan intimidasi.
Mereka berhenti di depan sebuah gedung tua yang memiliki papan reklame neon berwarna merah muda yang sudah mulai redup. Gedung itu adalah sebuah warnet atau internet cafe yang buka selama dua puluh empat jam penuh setiap harinya.
Tempat seperti ini sering menjadi pelarian bagi para remaja yang tidak memiliki rumah atau yang sedang menghindari masalah. Yuki Nakamura melangkah masuk terlebih dahulu dan dia segera memesan sebuah ruangan besar untuk mereka berlima gunakan bersama.
Penjaga warnet tersebut hanya menatap mereka sekilas tanpa menanyakan kartu identitas atau alasan mereka berkunjung di jam sekolah. Suasana di dalam warnet tersebut sangat remang-remang dan juga dipenuhi oleh suara dentuman papan ketik dari pengunjung lain. Mereka masuk ke dalam bilik kecil yang hanya beralaskan matras tipis dan juga memiliki aroma debu yang sangat tebal.
Yuki Nakamura segera menyalakan komputer yang ada di dalam bilik tersebut dengan gerakan tangan yang sangat terampil. Cahaya biru dari layar monitor memantul di wajah Yuki yang terlihat sangat lelah dan juga sangat penuh dengan kecemasan. Dia mulai memasukkan beberapa baris kode perintah untuk memeriksa apakah ada perangkat pelacak yang aktif di ponsel mereka.
Dia meminta semua temannya untuk mematikan ponsel mereka dan juga melepaskan baterainya jika hal tersebut memungkinkan dilakukan. Yuki menjelaskan bahwa menteri pendidikan yang baru memiliki akses penuh terhadap data lokasi seluruh siswa di negara Jepang.
Sistem demokrasi perak ini telah berubah menjadi sebuah sistem pengawasan massa yang sangat kejam terhadap generasi muda. Mereka semua sekarang sudah dianggap sebagai ancaman bagi keamanan nasional karena telah mencoba membongkar korupsi pemerintah.
Hana Tanaka duduk di pojok ruangan sambil memeluk kedua lututnya dengan perasaan yang sangat hancur dan berantakan. Dia teringat pada wajah ibunya yang pasti sekarang sedang menunggunya pulang dengan rasa khawatir yang sangat besar sekali.
Hana merasa sangat bersalah karena dia telah menyeret teman-temannya ke dalam masalah yang sangat berbahaya dan juga mematikan ini. Kaito Fujiwara duduk di samping Hana dan dia mencoba memberikan sebuah botol air mineral dingin yang dia beli tadi. Kaito mengatakan bahwa mereka tidak boleh menyerah sekarang karena kebenaran ada di pihak mereka berlima sejak awal.
Dia berjanji akan menggunakan seluruh sisa kekuatan keluarganya untuk melindungi Hana dari ancaman pamannya yang sangat licik tersebut. Kaito merasa bahwa integritas dirinya sedang diuji oleh darah dagingnya sendiri yang sangat haus akan kekuasaan politik.
Akane Sato mulai membuka laptop miliknya dan dia mulai memeriksa pergerakan berita di media sosial dengan sangat teliti sekali. Dia menemukan banyak unggahan dari siswa lain yang juga mengalami intimidasi setelah menyuarakan kritik terhadap kebijakan sekolah.
Banyak remaja yang mulai menggunakan tagar gacha kehidupan untuk menceritakan penderitaan mereka di bawah sistem pendidikan yang kaku. Akane menyadari bahwa gerakan mereka telah menjadi simbol harapan bagi jutaan remaja yang selama ini hanya bisa diam saja. Dia ingin terus menyebarkan informasi mengenai kecurangan anggaran beasiswa agar masyarakat luas tahu tentang kebusukan pemerintah.
Namun dia juga menyadari bahwa setiap unggahan yang dia buat bisa menjadi petunjuk bagi pihak kepolisian untuk melacak mereka. Mereka harus bersembunyi di dalam bayang-bayang dunia digital agar tetap bisa bertahan hidup lebih lama lagi.
Ren Ishida berbaring di atas matras sambil menatap langit-langit bilik yang penuh dengan noda air hujan yang sudah mengering. Lutut kirinya kembali berdenyut sakit karena dia terlalu banyak berjalan dengan sangat cepat di tengah cuaca yang dingin. Ren merasa bahwa hidupnya sebagai atlet sudah berakhir dan sekarang dia hanya memiliki teman-temannya sebagai tujuan hidup.
Dia bersumpah akan menjadi benteng pertahanan terakhir bagi mereka berlima jika pihak keamanan sekolah berhasil menemukan tempat ini. Ren tidak lagi takut pada cedera fisiknya karena rasa sakit hatinya terhadap sistem pendidikan jauh lebih besar lagi.
Dia melihat dunia ini sebagai sebuah arena pertandingan yang sangat tidak adil bagi mereka yang lahir tanpa keberuntungan. Ren menyadari bahwa mereka harus menciptakan aturan main mereka sendiri untuk bisa mengalahkan para penguasa tua tersebut.
Tiba-tiba layar televisi kecil yang ada di dalam bilik warnet tersebut menayangkan sebuah berita darurat yang sangat mengejutkan mereka. Paman Kaito yang baru saja dilantik menjadi menteri pendidikan sedang berdiri di podium dengan wajah yang sangat tegas sekali. Beliau mengumumkan sebuah kebijakan baru mengenai pengawasan ketat terhadap seluruh kegiatan siswa di luar jam sekolah secara resmi.
Kebijakan ini mencakup pemeriksaan rutin terhadap konten media sosial dan juga riwayat percakapan digital milik seluruh siswa SMA. Paman Kaito menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk melindungi para remaja dari pengaruh buruk ideologi subversif yang berbahaya.
Dia secara eksplisit menyebutkan bahwa ada kelompok kecil siswa yang sedang berusaha untuk menghancurkan moral bangsa Jepang. Hana merasakan sekujur tubuhnya menjadi sangat dingin saat melihat wajah menteri baru tersebut tersenyum di layar televisi.
Hana Tanaka menyadari bahwa paman Kaito sedang memberikan pesan peringatan secara langsung kepada mereka berlima melalui media massa nasional. Pria itu ingin menunjukkan bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengendalikan narasi publik sesuai dengan keinginan pribadinya sendiri.
Kebebasan berpendapat bagi para remaja sekarang sudah benar-benar terkubur di bawah kepentingan politik golongan tua yang berkuasa. Sistem gacha kehidupan telah ditingkatkan menjadi sebuah penjara digital yang sangat rapat dan juga sangat sulit untuk ditembus.
Mereka berlima merasa seperti tikus kecil yang sedang terjebak di dalam labirin cahaya neon yang sangat luas dan membingungkan. Ruang gerak mereka semakin sempit dan juga semakin terbatas seiring dengan berjalannya waktu yang terus berputar cepat. Mereka harus segera mencari aliansi baru jika mereka ingin tetap hidup dan terus melawan ketidakadilan ini.
Yuki Nakamura kembali memanggil teman-temannya untuk melihat sebuah temuan baru yang sangat mengejutkan di layar monitor miliknya pagi itu. Dia berhasil mendekripsi sebuah file tersembunyi yang ada di dalam dokumen anggaran beasiswa yang dia curi sebelumnya. File tersebut berisi daftar nama perusahaan swasta besar yang menerima aliran dana haram dari kementerian pendidikan Jepang.
Perusahaan-perusahaan tersebut ternyata adalah penyedia teknologi pengawasan massal yang sedang digunakan oleh pihak kepolisian saat ini. Jadi dana pendidikan yang seharusnya digunakan untuk membantu siswa miskin justru digunakan untuk memata-matai mereka semua secara ilegal.
Hana Tanaka merasa sangat mual saat menyadari betapa busuknya skema yang dibuat oleh para pejabat kementerian tersebut. Mereka memakan hak-hak anak bangsa demi membangun sistem penindasan yang jauh lebih canggih dan juga efektif.
Kaito Fujiwara mengenali beberapa nama perusahaan yang ada di dalam daftar tersebut sebagai mitra bisnis lama dari keluarga besarnya. Dia merasa sangat malu dan juga sangat marah karena ternyata keluarganya terlibat langsung dalam merusak masa depan generasinya.
Kaito mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih karena rasa emosi yang sangat meluap-luap di dalam dadanya. Dia bersumpah akan membongkar semua rahasia ini ke hadapan publik meskipun dia harus menghancurkan nama baik keluarganya sendiri. Akane Sato segera menyalin data tersebut ke dalam beberapa kartu memori kecil sebagai cadangan jika laptopnya disita nanti.
Mereka sekarang memegang senjata yang sangat mematikan untuk menjatuhkan menteri pendidikan yang baru saja dilantik tersebut. Namun mereka juga tahu bahwa memegang rahasia sebesar ini adalah tiket untuk menuju ke arah kematian yang sangat cepat.
Suasana di dalam bilik warnet tersebut menjadi sangat sunyi dan juga sangat penuh dengan aura ketegangan yang sangat pekat. Mereka berlima menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi kembali ke kehidupan normal sebagai siswa SMA yang biasa saja. Mereka telah melewati batas yang sangat berbahaya dan tidak ada jalan kembali menuju masa lalu yang penuh dengan kedamaian.
Hana Tanaka menatap satu per satu wajah teman-temannya dengan sorot mata yang penuh dengan rasa terima kasih yang sangat besar. Dia merasa sangat beruntung karena dia tidak harus menghadapi kegelapan dunia ini sendirian tanpa adanya dukungan sahabat.
Mereka semua telah memilih untuk menjadi bagian dari perlawanan terhadap sistem gacha kehidupan yang sangat tidak adil ini. Mereka akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan demi mendapatkan kembali hak-hak mereka sebagai manusia merdeka.
Mereka mulai menyusun rencana untuk meninggalkan distrik Ikebukuro sebelum matahari terbit dan juga menyinari seluruh penjuru kota Tokyo. Yuki Nakamura menyarankan agar mereka berpindah-pindah tempat setiap beberapa jam sekali agar pola pergerakan mereka tidak terdeteksi radar. Mereka akan menggunakan bus antar kota yang tidak memerlukan pemeriksaan kartu identitas yang sangat ketat seperti kereta cepat Shinkansen.
Akane Sato akan mulai merilis potongan informasi kecil secara anonim melalui forum-forum diskusi bawah tanah di internet malam ini. Mereka ingin menciptakan kebisingan di dunia digital agar perhatian pihak keamanan terpecah ke berbagai arah yang berbeda-beda.
Kaito akan mencoba menghubungi mantan asisten ayahnya yang dia percayai untuk mencari tempat perlindungan permanen yang jauh lebih aman. Mereka harus tetap bergerak cepat dan juga tidak boleh meninggalkan jejak sedikit pun di tempat-tempat umum.
Hana Tanaka mencoba untuk memejamkan matanya sejenak untuk mengistirahatkan pikirannya yang sudah sangat lelah dan juga terasa sangat berat. Dia bermimpi tentang masa kecilnya yang sangat sederhana saat dia masih bisa bermain di taman bersama kedua orang tuanya dahulu.
Di dalam mimpinya tersebut tidak ada sistem gacha kehidupan dan juga tidak ada tekanan demokrasi perak yang sangat menyiksa. Semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh besar dan juga mengejar impian mereka tanpa adanya batasan sosial. Namun suara bising dari luar bilik warnet tersebut segera membangunkan Hana dari mimpi indahnya yang sangat singkat itu.
Dia kembali ke realitas pahit di mana dia sedang menjadi buronan negara hanya karena dia ingin menyuarakan sebuah kejujuran. Hana menghela napas panjang dan dia segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan pelariannya bersama dengan teman-temannya.
Mereka meninggalkan warnet tersebut saat jarum jam menunjukkan pukul empat pagi ketika suasana kota Tokyo masih sangat sunyi. Udara pagi terasa sangat menusuk tulang dan juga membawa kabut tipis yang menutupi sebagian besar jalanan utama di kota. Mereka berjalan menyusuri gang-gang sempit untuk menghindari kamera pengawas yang terpasang di setiap sudut perempatan jalan besar.
Hana merasa seperti seorang pengungsi di negaranya sendiri yang sedang mencari tempat untuk sekadar bisa bernapas lega. Dia melihat ke arah langit yang mulai berubah warna menjadi biru gelap dengan garis-garis jingga di ufuk timur.
Harapan kecil tetap ada di dalam hatinya meskipun dia tahu bahwa hari esok akan menjadi hari yang jauh lebih sulit. Mereka berlima terus melangkah maju tanpa menoleh ke belakang sedikit pun demi masa depan yang jauh lebih adil.
Saat mereka sedang menunggu bus di sebuah halte yang sangat sepi di pinggiran kota ponsel Yuki tiba-tiba bergetar sangat hebat. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal namun memiliki kode area khusus dari kantor pusat kepolisian nasional.
Yuki merasa sangat ragu untuk mengangkat panggilan tersebut namun dia juga merasa penasaran dengan identitas sang penelepon misterius itu. Dia akhirnya menekan tombol jawab dan dia menyalakan fitur pengeras suara agar teman-temannya juga bisa mendengar pembicaraan tersebut.
Suara di seberang telepon adalah suara seorang pria dewasa yang memiliki nada bicara yang sangat tenang dan juga sangat berwibawa. Pria tersebut menyebutkan nama lengkap Hana Tanaka dan juga menyebutkan lokasi tepat mereka saat ini berada di halte bus tersebut.
"Jangan menoleh ke belakang tetapi segera masuklah ke dalam mobil hitam yang baru saja berhenti di depan kalian," ujar pria tersebut.
Sebuah mobil sedan hitam dengan kaca yang sangat gelap tiba-tiba berhenti tepat di depan halte tempat mereka berlima sedang berdiri menunggu. Pintu belakang mobil tersebut terbuka secara otomatis dan juga memperlihatkan interior mobil yang sangat mewah dan juga sangat elegan.
Hana Tanaka menatap ke arah teman-temannya dengan penuh rasa bimbang dan juga rasa takut yang sangat hebat sekali saat ini. Mereka tidak tahu apakah ini adalah sebuah jebakan dari pamannya Kaito atau sebuah bantuan dari pihak yang tidak terduga. Namun mereka juga menyadari bahwa mereka sudah tidak memiliki pilihan lain untuk melarikan diri dari pengepungan polisi yang mulai terlihat.
Sinar lampu sirene polisi mulai terlihat berkedip di kejauhan dari arah jalan utama yang menuju ke arah halte bus tersebut. Hana Tanaka menarik napas panjang dan dia melangkah mendekati mobil hitam tersebut dengan perasaan yang sangat penuh dengan ketidakpastian.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍