NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BADAI SEBELUM PERTEMPURAN

Seminggu setelah Surya kembali ke ibu kota...

Desa Qinghe terasa berbeda.

Bukan secara fisik — sawah tetap hijau, toko tetap ramai, anak-anak tetap bermain di jalan. Tapi ada sesuatu di udara. Sesuatu yang tidak terlihat, tapi terasa.

Wei Chen merasakannya. Setiap pagi, saat dia membuka jendela kantornya, dia menatap ke selatan. Ke arah ibu kota. Ke arah Hartono.

Dia tahu.

Dia yakin Hartono sudah tahu. Tidak mungkin Surya tidak melaporkan kecurigaannya. Dan Hartono — dengan kecerdasannya — pasti sudah menghubungkan titik-titik itu.

Tapi Wei Chen tidak takut. Justru sebaliknya.

Dia menunggu.

---

Pagi itu, Lim Xiu masuk dengan wajah tegang.

"Wei, kabar dari ibu kota."

Wei Chen mengangkat alis. "Apa?"

"Temanku bilang, Hartono mengadakan pertemuan besar. Mengundang semua pedagang besar di timur." Lim Xiu meletakkan surat di meja. "Dia mau bentuk kartel dagang. Semua harus bergabung, atau dianggap musuh."

Wei Chen membaca surat itu. Matanya menyipit.

"Kartel?"

"Iya. Semua aturan harga, jalur distribusi, kuota — diatur dia." Lim Xiu menghela napas. "Ini cara dia kuasai pasar."

Wei Chen diam. Di bumi, dia sudah sering melihat taktik seperti ini. Perusahaan besar memaksa pesaing kecil bergabung atau hancur.

"Kita diundang?"

"Tidak. Tapi mungkin sebentar lagi." Lim Xiu menatapnya. "Kita harus siap."

"Kita siap."

Lim Xiu menggeleng. "Kau selalu bilang siap. Tapi kenyataannya, kita punya apa? Beberapa ratus karyawan, dua klan mitra, dan teknologi." Dia menghela napas. "Hartono punya koneksi istana, uang tak terbatas, dan pasukan pribadi."

Wei Chen tersenyum tipis. "Kau lupa satu hal."

"Apa?"

"Kita punya sesuatu yang tidak dia miliki."

"Apa itu?"

"Waktu." Wei Chen menatapnya. "Hartono terburu-buru. Dia ingin cepat kuasai pasar. Tapi kita bisa bergerak lebih lambat, lebih hati-hati, lebih cerdas."

Lim Xiu diam. Lalu mengangguk.

"Kadang aku lupa kau ini bukan orang biasa."

"Aku memang tidak biasa."

---

Sore harinya, Wei Chen pergi ke rumah Kakek Tio.

Pria tua itu sedang duduk di beranda, seperti biasa. Mengunyah sirih, menatap hutan di kejauhan.

"Nak Wei." Dia tersenyum. "Sudah kuduga kau akan datang."

Wei Chen duduk di sampingnya. "Kakek, aku butuh nasihat."

"Tentang Hartono?"

Wei Chen mengangguk.

Kakek Tio diam lama. Lalu, "Kau tahu, Nak, aku sudah hidup 70 tahun. Aku lihat banyak orang datang dan pergi. Banyak penguasa naik dan turun." Dia menatap Wei Chen. "Dan satu hal yang kupelajari: kekuasaan itu seperti pasir. Makin kau genggam erat, makin cepat dia lolos."

Wei Chen diam.

"Hartono itu tipe orang yang suka menggenggam erat," lanjut Kakek Tio. "Dia takut kehilangan. Itu kelemahannya."

"Jadi aku harus bagaimana?"

"Biarkan dia menggenggam." Kakek Tio tersenyum misterius. "Biarkan dia sibuk mengatur, sibuk mengontrol. Sementara kau... kau lakukan hal-hal kecil. Hal-hal yang tidak dia lihat."

"Seperti?"

"Bangun hubungan. Dengan klan-klan. Dengan rakyat kecil. Dengan siapa pun." Kakek Tio menatapnya. "Suatu hari, saat dia sibuk dengan pasirnya yang lolos, kau akan punya gunung."

Wei Chen merenungkan kata-kata itu.

Bangun hubungan. Bukan kekuasaan.

"Terima kasih, Kek."

Kakek Tio mengangguk. "Hati-hati, Nak. Badai akan datang."

---

Malam harinya, Wei Chen duduk bersama Mei Ling.

Langit cerah. Bintang-bintang bertaburan. Tapi angin berembus dingin — lebih dingin dari biasanya.

"Chen, aku dengar Hartono mau bentuk kartel."

Wei Chen mengangguk.

"Kau khawatir?"

"Tidak."

"Kenapa?"

Wei Chen menatap bintang. "Karena aku tahu dia. Di bumi, dia pakai taktik yang sama. Memaksa pesaing kecil bergabung, lalu perlahan-lahan menyingkirkan mereka."

Mei Ling meraih tangannya. "Terus?"

"Di bumi, aku lawan dia. Dan hampir menang." Wei Chen tersenyum tipis. "Tapi aku lengah. Percaya dia terlalu lama."

"Sekarang?"

"Sekarang aku tidak akan lengah."

Mei Ling memeluknya. "Aku di sini. Apa pun yang terjadi."

Wei Chen membalas pelukannya. Hangat.

---

Tiga hari kemudian, utusan dari Hartono datang.

Bukan Surya kali ini. Tapi seorang wanita — cantik, anggun, dengan senyum ramah yang tidak pernah sampai ke mata.

"Nona Mei Hua," dia memperkenalkan diri. "Utusan khusus Tuan Hartono."

Wei Chen menerimanya di kantor. Lim Xiu duduk di sampingnya.

"Nona Mei, ada perlu apa?"

Mei Hua tersenyum. "Tuan Wei, Tuan Hartono mengagumi kemampuan Tuan. Dia mengundang Tuan untuk bergabung dalam kartel dagang yang baru dibentuk."

Dia mengeluarkan dokumen. "Ini syarat-syaratnya. Tuan akan mendapat 5% saham di kartel, dan akses penuh ke pasar ibu kota."

Wei Chen membaca dokumen itu. 5%. Jumlah yang menghina.

"5%?" Lim Xiu tidak bisa diam. "Kau tahu nilai perusahaan kami?"

Mei Hua tetap tersenyum. "Tuan Hartono menghargai Garuda Trading. Tapi kartel ini besar. 5% dari pasar ibu kota nilainya jauh di atas pendapatan Tuan saat ini."

Wei Chen mengangkat tangan, menyuruh Lim Xiu diam.

"Nona Mei, tolong sampaikan terima kasih pada Tuan Hartono atas tawarannya." Suaranya tenang. "Tapi aku tolak."

Mei Hua mengangkat alis. "Tolak?"

"Tolak."

"Tuan Wei, kau sadar konsekuensinya?"

"Aku sadar."

Mei Hua diam. Lalu tersenyum — senyum yang berbeda. Lebih dingin.

"Baik. Aku sampaikan." Dia berdiri. "Tapi ingat, Tuan Wei. Hartono tidak suka ditolak."

Dia pergi. Meninggalkan keheningan.

Setelah dia jauh, Lim Xiu berkata, "Wei, ini perang."

"Aku tahu."

"Kau siap?"

Wei Chen menatap pintu. Matanya dingin.

"Aku sudah menunggu."

---

Malam harinya, Wei Chen menulis surat.

Bukan untuk Hartono. Tapi untuk dua klan mitranya — Klan Naga Hitam dan Klan Bunga Naga.

Isinya sederhana: "Hartono mulai bergerak. Dia akan coba kuasai pasar timur. Kalau kalian tidak mau jadi bagian dari kartelnya, kita harus bersatu."

Dia kirim surat itu lewat Budi dan Joko, dengan instruksi: rahasia.

---

Seminggu kemudian, jawaban datang.

Dari Klan Naga Hitam: "Kami dengar kabar. Hartono sudah kirim utusan. Tawaran bagus. Tapi kami lebih percaya padamu. Beri tahu apa yang harus kami lakukan."

Dari Klan Bunga Naga: "Kami tidak suka dipaksa. Hartono mungkin besar, tapi di wilayah ini, kata kami yang berkuasa. Kami siap."

Wei Chen membaca surat-surat itu. Lega.

Dia tidak sendiri.

---

Sementara itu, di ibu kota...

Hartono membaca laporan dari Mei Hua. Wajahnya gelap.

"Dia tolak?"

"Tolak, Tuan." Mei Hua menunduk. "Dengan tegas."

Hartono diam. Lalu tersenyum. Senyum yang aneh — campuran marah dan kagum.

"Wei Chen... Wei Chen..." Dia menggumam. "Dulu kau juga begitu. Keras kepala. Tidak mau tunduk."

Mei Hua mengerutkan kening. "Dulu, Tuan?"

Hartono tersadar. "Tidak penting." Dia berdiri, berjalan ke jendela. "Kalau dia tidak mau bergabung, kita hancurkan."

"Cara biasa, Tuan?"

"Tidak." Hartono menggeleng. "Dia tidak seperti yang lain. Dia pintar. Licin." Dia tersenyum. "Tapi aku tahu kelemahannya."

"Apa?"

Hartono menoleh. "Gadis itu. Mei Ling."

Mei Hua mengangguk. "Aku lapor, mereka dekat. Sangat dekat."

"Bagus." Hartono tersenyum lebar. "Kalau begitu, kita ambil gadis itu."

---

Di Desa Qinghe, Wei Chen tiba-tiba merasa tidak nyaman.

Dia menengok ke arah rumah. Mei Ling sedang tidur. Atau setidaknya, dia harap begitu.

"Lim Xiu." Dia memanggil.

Lim Xiu masuk. "Apa?"

"Tambah penjaga di rumahku. Dua orang. Bergantian."

Lim Xiu mengerutkan kening. "Kau curiga?"

"Aku tidak mau ambil risiko."

Lim Xiu mengangguk. Pergi mengatur.

Wei Chen kembali menatap ke selatan. Ke arah ibu kota.

Kalau kau sentuh dia, Hartono...

Dia mengepalkan tangan.

Aku akan hancurkan kau dengan tanganku sendiri.

---

Chapter 19 END.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!