Nova lisma, gadis desa yang tiba-tiba mendapat sistem keberuntungan, tentu saja terkejut. namun, dia langsung memanfaatkan semuanya. dan dia yang mengupayakan untuk kuliah, benar-benar memanfaatkan sistem tersebut.
dia mengumpulkan modal dari hadiah sistem, dan kemudian perlahan membuka usahanya sendiri.
sementara, setelah dirinya mendapatkan sistem, dia pun jadi melupakan kebiasaannya yang selalu menempel pada seorang laki-laki yang merupakan seniornya. Julian.
lalu bagaimanakah selanjutnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirta_Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Tiara kecelakaan
ketika selesai makan malam, dan Putri sudah tidur di kamar kedua orang tuanya, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Nova yang melihat kalau panggilan itu berasal dari Aulia, langsung mengangkatnya.
"sebentar ya bang, kak." ucapnya. dia pun mengangkat panggilan telepon itu.
"assalamualaikum au..?"
"waalaikumsalam nov. nov maaf banget ganggu kamu malam-malam begini.. ada kabar mendadak dari Tiara. dia kecelakaan, sekarang sudah dibawa ke rumah sakit. ayo kita ke rumah sakit!!" seru Aulia yang langsung membuat Nova terkejut.
"astaghfirullahaladzim!! kalau begitu Kamu tunggu di kontrakan kamu aja, biar aku jemput."
"nggak usah!! aku sudah jalan ke kontrakan kamu. nanti kita ke sananya naik mobil kamu aja ya.. ini sudah malam, dan bahaya kalau harus bawa motor."
"baiklah baiklah!! Aku tunggu kamu datang.." akhirnya panggilan itu pun berakhir. Nova memandang ke arah kedua abang dan kakak iparnya.
"bang, kak. aku keluar dulu ya. teman kami Tiara dia kecelakaan. sekarang dia sedang berada di rumah sakit. abang dan kakak Langsung istirahat saja. kalau lapar dan haus di malam hari langsung bangun dan makan dan serta minum saja. mungkin aku akan lama berada di luar, pintunya langsung dikunci saja dan lepaskan kuncinya, Nanti kalau aku pulang tidak perlu ganggu Abang sama kakak lagi." tutur Nova, sambil bersiap dan menggunakan kerudung instan, dan juga baju yang berlengan panjang.
"ini sudah malam dek!! apa nggak papa ?" tanya Iqbal yang tentu saja mengkhawatirkan adiknya.
"nggak papa bang. aku perginya sama Aulia. kami pergi naik mobil. jadi Abang tidak perlu khawatir." mendengar itu, Iqbal mencoba untuk mempercayai adiknya.
"baiklah kalau begitu dek.. kalian hati-hati ya." ucapnya.
Tak lama, Aulia pun datang. Mereka berdua pun langsung segera meninggalkan kontrakan itu dan pergi ke rumah sakit.
sesampainya mereka di rumah sakit, dengan segera mereka mencari ruangan Tiara. keduanya langsung menuju meja resepsionis.
"permisi sus!! ruangan Tiara Arkana , dimana ya..?" tanya Aulia.
"sebentar ya mbak.. saya cari dulu." suster itu pun langsung mencari nama pasien yang disebutkan oleh Aulia.
"pasien yang baru saja masuk, masih ada di ruangan UGD Mbak. belum ada keluarga yang datang untuk mengurus administrasi pasien." ujar susternya.
"kalau begitu kami yang akan urus sus. mana berkas-berkasnya." Nova langsung bergerak cepat. Aulia yang mendengar itu mencoba untuk menghentikan Nova.
"nov.." Nova yang paham menggelengkan kepalanya.
"tidak apa-apa au. kalau bukan kita yang bertindak sekarang siapa lagi. ayo sus, segera."
"kalau begitu tunggu sebentar ya mbak.." suster itu pun langsung menghubungi pihak yang menangani pasien atas nama Tiara Arkana.
"ini berkas dan formulirnya Mbak.. silakan diisi, dan ditandatangani sebagai penanggung jawab terhadap pasien." Nova yang mendengar itu pun langsung bergerak cepat. dia langsung memindahkan Tiara ke kamar VIP. agar mereka juga bisa istirahat dengan tenang di sana.
"sudah sus." Nova juga langsung mengeluarkan handphonenya, dan langsung membayar tagihan rumah sakit yang dibebankan atas nama Tiara arkana. Nova di sana menghabiskan uang 96 juta, untuk mengambil ruangan VIP dengan lama pengobatan yang masih belum ditentukan.
"silakan di scan Mbak. total semua gaya rumah sakitnya 96 juta." Aulia yang mendengar itu melototkan matanya. mahal sekali! ruangan seperti apa yang diambil oleh temannya ini.
"kenapa mahal sekali tagihannya sus?" tanya Aulia. suster itu pun tersenyum.
"Iya mbak! karena mbaknya mengambil tagihan dan ruangan VIP untuk ruang perawatan Tiara arkana. dan, ini belum pembayaran final. masih ada lagi tagihan berikutnya Mbak." Aulia langsung melotot ke arah Nova.
"nov.."
"sudah nggak papa!" Nova pun langsung menscannya dan mengirimkan uang sebanyak 96 juta.
"sudah sus." ucap Nova sambil memperlihatkan bukti transaksi pembayarannya. setelah di acc oleh pihak rumah sakit, Mereka pun langsung mengurus ruang perawatan Tiara.
"ayo au. kita tunggu Tiara di sana." Aulia yang mendengar itu pun mau tidak mau langsung mengikuti langkah kaki Nova. Apakah Nova sebaik itu ?
mengapa Nova sangat mudah mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk membantu Tiara ? yang nyatanya merupakan orang lain, walaupun saat ini mereka berteman.
(ah.. apa yang aku pikirkan. anak ini memang polos dan baik. mudah-mudahan rezekinya selalu berlimpah dan tidak pernah sombong.) batin Aulia. dan setelah mereka meninggalkan meja resepsionis, saat itu pula suara sistem kembali berbunyi.
Ting
"tuan rumah kembali terdeteksi telah melakukan transaksi sebanyak 96 juta, dan menolong sesama. tuan rumah juga berhak mendapatkan hadiah dari sistem. uang cashback senilai 4,8 miliar, dan berhak mendapatkan kemampuan untuk meracik herbal." mendengar itu, mata Nova kan langsung melotot bahagia.
(ssstt.. 4,8 miliar masuk lagi ke rekening. uang-uang ini akan aku manfaatkan dengan baik, agar aku bisa mendapatkan hadiah lagi dari sistem.) batinnya.
akhirnya, Mereka pun tiba di ruang VIP. di mana Di sana, Tiara sudah dipindahkan oleh pihak rumah sakit ke dalam ruangan tersebut. mereka masuk ke dalam ruangan itu, dan langsung mendapati seorang suster yang sedang mengurus Tiara.
"permisi sus.."
"oh ya mbak.. silakan masuk. nanti kalau ada apa-apa dengan pasien, silakan tekan tombol yang warna hijau itu ya mbak." tutur susternya memberikan nasehat kepada kedua gadis itu. Nova dan Aulia yang mendengar penuturan itu menganggukkan kepala mereka.
"baik sus. terima kasih banyak.." suster itu pun kemudian langsung meninggalkan tempat itu. sementara, Aulia dan Nova juga langsung mengambil posisi di samping tempat tidur Tiara yang masih belum tersadari itu.
"bagaimana kondisinya..?" tanya Nova kepada Aulia.
Puk
"astaghfirullahaladzim.. kita lupa nanya sama dokternya.." ucapnya. nova yang mendengar itu juga ikut menggelengkan kepala dan menyayangkan tentang kekeliruan mereka ini.
namun mereka tetap berdiri untuk melihat kondisi Tiara. Nova langsung menggunakan mata dewanya, untuk mendiagnosa tubuh temannya itu. dari sana dia melihat, kalau tidak ada tulang yang patah, ataupun luka dalam lainnya.
tampaknya, sebelum kecelakaan mobil terjadi, Tiara sigap melindungi dirinya sendiri. namun walaupun begitu, kondisinya juga tidak bisa dibilang baik-baik saja.
"kondisinya tidak apa-apa. tapi juga tidak bisa dikatakan tidak apa-apa. Dia tidak memiliki luka bagian dalam, cuma mungkin, saat ini kondisinya sedikit kritis." tutur Nova. Aulia yang mengetahui kalau Nova memiliki sedikit kemampuan spesial untuk mendiagnosa, membuatnya langsung menghela nafas lega.
"sebaiknya kita istirahat juga. oh ya, besok jangan lupa bangunkan aku ya Au. soalnya, besok aku mau temani abang dan kakak iparku dulu untuk mengecek kondisi keponakanku. nanti kita gantian ya.." ucap Nova kepada Aulia.
"baiklah baiklah.. itu gampang." akhirnya kedua gadis itu langsung mengambil posisi duduk di kursi sofa, yang jaraknya tidak jauh dari ranjang tempat di mana Tiara terbaring tak sadarkan.