NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ratu neraka yang terpikal dan rahasia sang istri

Pagi itu di Lembah Aethelgard, kabut tipis masih menyelimuti sawah yang baru saja diperluas. Namun, ketenangan pagi itu tidak bertahan lama. Di petak sawah paling ujung, dua pria paling ditakuti di alam semesta sedang bergelut dengan lumpur dan kotoran ternak.

Irfan, Sang Raja Neraka, sedang berusaha menggiring seekor sapi liar ke dalam kandang barunya. Wajahnya yang tampan kini tercoret lumpur hitam, dan rambut peraknya yang biasanya tertata rapi kini acak-adakan. Sementara itu, Ferdi, Sang Raja Kegelapan, sedang mengayunkan cangkul dengan ritme yang stabil, seolah-olah ia sudah menjadi petani selama seratus tahun.

"Ferdi! Sapi ini menendangku lagi! Aku bersumpah akan mengirimnya ke neraka terdalam jika dia tidak mau masuk!" teriak Irfan sambil memegangi tali tambang dengan urat leher yang menonjol.

Ferdi bahkan tidak menoleh. "Sapi tidak takut pada neraka, Irfan. Mereka hanya takut pada perut yang lapar. Gunakan tenagamu, jangan gunakan emosimu."

"Mudah bagimu bicara! Kau mencangkul tanah yang diam saja, sedangkan aku melawan binatang yang punya otak keras kepala ini!" Irfan kembali mengumpal-umpal.

Tiba-tiba, ruang di atas sawah bergetar. Sebuah retakan dimensi berwarna ungu gelap terbuka perlahan. Hawa dingin yang elegan dan aroma bunga mawar hitam menyeruak keluar. Sesosok wanita cantik dengan gaun hitam yang mewah dan mahkota duri kecil di kepalanya melangkah keluar dengan anggun.

Itu adalah Cika, Sang Ratu Neraka, istri dari Irfan.

Cika berdiri di pematang sawah, menatap pemandangan di depannya dengan mata terbelalak. Ia melihat suaminya—pria yang biasanya duduk di takhta tengkorak sambil memerintah jutaan iblis—kini sedang bergulat dengan seekor sapi sambil berlumuran lumpur sawah.

Hening sejenak.

"Pfft... Hahahaha! HAHAHAHA!"

Tawa Cika pecah seketika. Ia tertawa begitu keras hingga harus memegangi perutnya. Keanggunannya sebagai Ratu Neraka runtuh total saat ia menunjuk-nunjuk Irfan yang mematung karena malu.

"Irfan?! Apakah itu benar-benar kau?! demi api neraka..aku mencarimu ke seluruh dimensi kegelapan, mengira kau sedang bertarung melawan dewa kuno, tapi ternyata... kau sedang menjadi buruh ternak?!" Cika tertawa sampai air mata keluar di sudut matanya.

Irfan melepaskan tali sapinya (yang langsung lari menjauh) dan berdiri dengan wajah merah padam. "Cika! Berhenti tertawa! Ini adalah... ini adalah latihan fisik tingkat tinggi yang disarankan Ferdi!"

"Latihan fisik?!" Cika menyeka air matanya, masih terpingkal. "Kau terlihat lebih seperti pengembala yang gagal, Sayang!"

Pertemuan Dua Ratu: Ghibah Tingkat Tinggi

Vani keluar dari gubuk sambil membawa keranjang cucian. Saat melihat Cika, mata Vani berbinar. Ia langsung meletakkan keranjangnya dan menghampiri Cika.

"Wah, kau pasti Cika, kan? Istri si Raja Berisik ini?" tanya Vani dengan senyum ramah.

Cika menoleh dan tertegun melihat kecantikan suci Vani. "Dan kau... Ratu Vani? Ratu Cahaya yang melegenda itu?"

Vani mengibaskan tangannya santai. "Aduh, panggil Vani saja. Di sini tidak ada Ratu-ratuan. Lihat saja suamiku itu," Vani menunjuk Ferdi yang masih asyik mencangkul tanpa mempedulikan mereka. "Raja Kegelapan katanya, tapi kalau sudah disuruh mencangkul, dia lebih patuh daripada kerbau."

Cika tersenyum lebar, ia merasa langsung akrab dengan Vani. "Senang bertemu denganmu, Vani. Aku tidak menyangka kita akan bertemu dalam kondisi... seperti ini. Suamiku benar-benar terlihat konyol."

"Sangat konyol!" Vani menimpali sambil melirik Irfan yang mencoba membersihkan lumpur di celananya. "Kemarin dia hampir menangis karena digigit serigala kecil, padahal dia bilang dia bisa menghancurkan dunia."

"HEI! Aku tidak menangis! Aku hanya kaget!" teriak Irfan dari tengah sawah.

"Diam kau, Irfan! Lanjutkan kerjamu atau tidak ada jatah makan siang!" bentak Vani yang membuat Irfan seketika bungkam dan kembali menarik sapinya.

Cika tertawa lagi. "Luar biasa. Aku belum pernah melihat Irfan sepatuh itu pada orang lain selain aku."

"Itu karena dia tahu aku bisa memasak hal yang lebih enak daripada belerang neraka," bisik Vani sambil merangkul lengan Cika. "Ayo, Cika. Biarkan para 'pekerja kasar' ini menyelesaikan tugasnya. Aku mau mengajakmu ke pasar desa. Aku perlu membeli beberapa bumbu, dan kita bisa mengobrol lebih banyak."

Vani dan Cika berjalan menyusuri jalan setapak menuju pasar. Perpaduan mereka benar-benar mencolok; Vani dengan aura cahayanya yang hangat dan Cika dengan aura kegelapannya yang misterius namun cantik. Penduduk desa yang melihat mereka hanya bisa terpaku, merasa seolah melihat dua dewi sedang berjalan-jalan.

"Jadi, bagaimana rasanya menikah dengan Ferdi?" tanya Cika sambil melihat-lihat kain sutra di salah satu kios.

Vani menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan ekspresi gemas. "Ferdi itu... dia sangat kaku, Cika. Kau tahu, di awal pernikahan kami, kalau aku bertanya 'Kau mau makan apa?', dia hanya menjawab 'Apapun yang tidak beracun'. Dia tidak punya selera! Dia pikir hidup ini hanya soal bertahan hidup dan perang."

Cika tertawa kecil. "Irfan juga sama! Bedanya, Irfan itu terlalu banyak bicara dan sombong. Dia sering sekali berdiri di depan cermin di istana neraka hanya untuk merapikan rambutnya dan bertanya padaku, 'Cika, apakah aku terlihat cukup mengerikan hari ini?'. Aku hanya bisa menjawab, 'Iya Sayang, kau sangat menakutkan', padahal dalam hatiku aku ingin tertawa."

"Benarkah?!" Vani terbelalak. "Raja Neraka secuek itu ternyata narsis?"

"Sangat narsis!" Cika curhat dengan semangat. "Tapi yang paling menyebalkan adalah saat dia mencoba bersikap romantis. Suatu kali dia membawakanku jantung naga hitam yang masih berdetak sebagai hadiah ulang tahun. Dia bilang itu simbol cinta abadi. Aku hampir pingsan karena baunya sangat amis!"

Vani tertawa terbahak-bahak sampai memegang tiang kios. "Astaga! Ferdi lebih parah! Dia pernah memberiku pedang terkutuk yang bisa bicara. Pedang itu terus-menerus memaki setiap orang yang mendekatiku. Aku harus membuangnya ke laut karena aku tidak bisa tidur tenang!"

Mereka berdua tertawa bersama, berbagi cerita tentang betapa konyolnya pria-pria yang ditakuti dunia itu saat berada di depan istri mereka.

"Tapi kau tahu, Cika..." Vani merendahkan suaranya, matanya melembut. "Meskipun Ferdi dingin dan kaku, aku tahu dia mencintaiku dengan caranya sendiri. Dia rela meninggalkan takhta dan kemuliaannya hanya untuk menemaniku menanam sayur di sini. Dia tidak pernah mengeluh, meskipun tangannya yang dulu memegang pedang suci sekarang penuh kapalan karena cangkul."

Cika terdiam, matanya berkaca-kaca. "Aku mengerti. Irfan juga begitu. Dia selalu bilang dia benci tempat ini, tapi aku melihat matanya saat dia menanam padi kemarin. Ada ketenangan yang tidak pernah kutemukan saat dia duduk di singgasana neraka. Mereka... mereka hanya pria-pria yang lelah dengan perang, Vani."

Vani menggenggam tangan Cika. "Itulah kenapa kita ada di sini, Cika. Untuk memastikan mereka tetap 'manusia'. Biarkan mereka mencangkul, biarkan mereka berburu babi, dan biarkan mereka mengomel. Itu jauh lebih baik daripada melihat mereka berlumuran darah di medan perang."

Cika mengangguk mantap. "Kau benar. Aku akan lebih sering datang ke sini. Aku ingin belajar memasak dari kamu. Aku ingin melihat wajah Irfan saat aku menyajikan makanan yang bukan berasal dari api neraka."

"Tentu! Ayo, kita beli daging sapi terbaik. Malam ini kita buat pesta lagi. Kita biarkan Irfan dan Ferdi yang menyiapkan apinya. Mereka kan 'ahli' dalam hal membakar sesuatu," goda Vani.

Sepanjang jalan di pasar, kedua wanita itu terus mengobrol dan tertawa. Mereka membicarakan segalanya, mulai dari cara menanam tomat hingga cara menghadapi kemarahan suami dengan senyuman (atau omelan yang lebih keras).

Persahabatan antara Ratu Cahaya dan Ratu Neraka terbentuk begitu alami, dipersatukan oleh satu kesamaan: memiliki suami yang sangat kuat namun sangat konyol di mata mereka.

Sore harinya, saat mereka kembali ke gubuk, mereka melihat Ferdi dan Irfan sudah duduk di teras. Mereka tampak sangat kelelahan. Kandang ternak sudah rapi, dan sawah sudah tertata dengan sangat baik.

Irfan melihat Cika datang dan langsung berdiri dengan bangga, meskipun bajunya compang-camping. "Cika! Lihat! Aku sudah menyelesaikan semuanya! Aku adalah Raja Petani sekarang!"

Cika berjalan menghampiri suaminya, mengeluarkan sapu tangan, dan menyeka lumpur di pipi Irfan. "Iya, Sayang. Raja Petani yang sangat kotor. Tapi kau melakukannya dengan baik."

Irfan tersipu, wajah garangnya menghilang seketika. "Benarkah? Kau tidak tertawa lagi?"

"Sedikit," bisik Cika sambil mengecup pipi Irfan. "Tapi aku bangga padamu."

Ferdi yang melihat itu hanya diam, namun Vani datang dan menyandarkan kepalanya di bahu Ferdi.

"Kerja bagus, Pak Tani. Sekarang, bantu aku menyiapkan lampu. Malam ini kita akan makan besar bersama Cika dan Irfan."

Ferdi mengangguk kecil, tangannya yang besar merangkul pinggang Vani dengan protektif. "Apapun untukmu, Vani."

Malam itu, di bawah cahaya lampu kristal yang baru dibeli Vani, gubuk kecil di Aethelgard dipenuhi oleh kehangatan yang tak ternilai. Dua pasang penguasa alam semesta itu duduk bersama,

tertawa, dan makan dengan lahap. Mereka menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang seberapa luas kerajaan yang mereka miliki, melainkan tentang siapa yang ada di samping mereka saat mereka meletakkan cangkul di penghujung hari.

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!