Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 15
"Semalam kamu pergi kemana? Apa kamu sudah terbiasa kelayapan tengah malam?" tanya Gavin saat Ayana membangunkannya.
"Mana ada aku pergi! Aku ada di kamar, kerja!" bohong Ayana.
"ck! Aku melihatnya semalam kamu pergi membawa motor sambil mengendap-ngendap!" jawab Gavin tapi Ayana tak berniat menjawab dan beralih ke lemari menyiapakan pakaian Gavin.
sreeeeettttt
Gavin kesal karena merasa di abaikan oleh Ayana sehingga dia menarik tangan Ayana sampai mereka berhadapan dan dekat sekali. Gavin malam di buat kelimpungan menatap wajah cantik Ayana.
"Katakan padaku! Jangan sampai aku kesal dan melaporkannya kepada mami dan papi kalau wanita yang selalu dia bilang baik itu tak sebaik seperti yang mereka pikirkan!" tanya Gavin kembali, entahlah dia merasa kesal saat Ayana pergi semalam tanpa memberitahu kepadanya dulu.
"Aku ada di rumah dan tak kemana-mana! lagian kalau aku pergi juga bukan urusan kamu kan? Toh pernikahan kita hanya keisengan kamu!" jawab Ayana menghempaskan tangan Gavin.
"Bajunya sudah aku siapkan! Mandilah, Bu Tanisa bilang dia akan datang ke rumah ini, dia sedang dalam perjalanan," ujar Ayana sebelum beranjak pergi.
"Loh kok mami nggak menghubungi aku,?" tanya Gavin, Ayana mengangkat kedua bahunya acuh dan pergi dari sana.
"ck! Aku kira semalam dia sedang meratap di atas tempat tidur! Kenapa harus ketahuan kalau aku pergi? sepertinya Aku harus berhati-hati saat akan keluar dari rumah ini. Aku harus segera keluar dan bebas dari rumah ini. Satu-satunya adalah aku harus bisa segera menemukan Vania biar Gavin melepaskan aku dan menikah dengan wanita kecintaannya! pria bodoh itu pasti masih mengharapkan wanita seperti Vania walau bukti ada dia tetap tak percaya. heran bodohnya kebangetan tapi bisa jadi wakil CEO," celoteh Ayana sambil menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Kau sedang mengumpat ku?" tanya Gavin duduk di kursi meja makan.
"Begitulah. Aku mengatakan kenyataan!" jawab Ayana santai dan memberikan kopi kepada Gavin.
"Aku akan membantu kamu menemukan kekasihmu, mungkin aku butuh waktu satu atau dua Minggu," ujar Ayana saat mereka sedang sarapan sandwich.
"Kenapa?" tanya Gavin setelah menelan sandwich dengan susah payah karena kaget dengan ucapan Ayana.
"Agar kamu bisa bersama dengan kekasihmu, dan kita bisa mengajukan pembatalan pernikahan," jawab Ayana santai.
"Apa kamu tak sedeng mengejekku?" tanya Gavin kesal.
"Mana ada? Kamu saja yang baperan! Apa yang salah dengan ucapanku tadi?" jawab Ayana bingung.
"Aku sedang sedih dan sedang down karena mengetahui bukti semalam. Dan kamu malah dengan entengnya bilang begitu!" kesal Gavin.
"Loh bukannya semalam kamu sendiri yang bilang tak percaya dengan semua bukti yang aku dapat dengan susah payah?" tanya Ayana.
"Apa yang kalian ributkan? Bukti apa itu Ayana?", tanya mami Tanisa yang ternyata sudah berada di rumah Gavin.
"Loh mami? Kok mami datang kesini nggak bilang-bilang?" tanya Gavin pura-pura kaget dan mengkode ayana untuk tak mengatakan apapun tentang bunti Vania dan keluarganya.
"Mami hubungi kamu, tapi nomor kamu nggak aktif. Makanya mami tadi ngabarin kepada Ayana! Sudah selesai sarapannya! Kalau sudah kita pergi sekarang," jawab Mami Tanisa.
"Pergi kemana Mi?", tanya Gavin malas kemana-mana.
"Ke mall! Mami mau ajak Ayana jalan-jalan membeli beberapa kebutuhan Ayana di sini! Kalau kamu memang tidak mau ikut ya terserah! Mami bisa pergi berdua dengan Ayana, " jawab Mami Tanisa.
"Jangan sampai Ayana malah mengatakan semuanya kepada Mami. Dia kan ember kalau dengan mami. Bisa-bisa mami memarahi aku, aku belum bisa menceritakan semuanya sebelum semua bukti jelas aku dapatkan dan terutama aku harus melihat dengan mata dan kepalaku sendiri! Sekarang jangan sampai mami atau papi tahu. Aku tak boleh membiarkan mereka pergi berdua!" batin Gavin.
"Gavin ikut!" jawab Gavin menyambar kunci mobil.
"ck! Kanapa cepat sekali dia berubah pikiran? Mendingan di rumah saja lah meratapi nasib!" celetuk Ayana sambil berjalan menuju ke kamarnya mengambil tas dan ponsel yang masih ada di sana.
"Loh! Kok Ayana masuk ke dalam kamar sebelah? Kalian tidak tidur satu kamar?" teriak Mami Tanisa.
"ish mami nggak usah teriak kek di hutan bis anggak sih? Lagian kenapa harus satu kamar sebelah coba? Aku dan Ayana juga menikah karena terpaksa kan? Jadi nggak ada masalah juga seharusnya!" jawab Gavin.
"Ya tapi kan kalian itu menikah secara agama dan juga hukum pemerintahan kita! Kalian sah dan wajib satu kamar agar tidak berdosa. Lagian kamu nggak ingat ucapan papi setelah kalian selesai resepsi?" kesal Mami Tanisa, kekhawatiran nya menjadi kenyataan jika keduanya tak tinggal dalam satu kamar.
"Iya ingat! Tapi kan perlu waktu mi, sudahlah nggak usah mikirin masalah itu!" jawab Gavin malas melanjutkan perdebatan dengan ibunya.
"Apa kamu masih berharap kepada wanita dan keluarga penipu itu? Sudah mami katakan jika dia bukan wanita baik-baik tapi kamu ngeyel! sudah rugi uang yang banyak, waktu belum lagi perasan!" kesalnya.
"Namanya juga bulol mi, pastinya dia tak akan pernah sadar! Di mata dia Vania tetap wanita yang paling baik. Bidadari tanpa sayap," ujar Ayana membuat Gavin mendengkus kesal.
"Apa bulol?" tanya Mami Tanisa bingung.
"Bucin tolol!" Ayana menjawab dengan santai membuat Mami Tanisa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan menantunya bahkan tanpa ekspresi.
"Astaga bener, Gavin memang bulol. Sampai-sampai habis semuanya! Tapi dia sampai sekarang masih nggak sadar dan mengira kalau wanita itu adalah bidadari. Ish, kalau sampai suatu hari dia kembali dengan alasan ini dan itu! Terus kamu kembali kepada dia dengan bodohnya! Ingat ini baik-baik Gavin. Kamu akan mama coret dari kartu keluarga dan juga daftar penerima warisan. Lebih baik mami donasikan semua harta mami dan papi daripada untuk kamu dan wanita durjana itu!" ancam Mami Tanisa membuat Gavin menelan ludahnya kasar.
Seram sekali ancaman dari maminya itu, Apa kabar kalau Mami dan papinya tahu siapa sebenarnya Vania. Wanita yang bahkan berjualan kepada temannya sendiri? Si-alnya selama ini dia tak pernah percaya saat teman-temannya mentertawakan dia. Dia merasa menjadi manusia paling bodoh selama ini. Bucin tolol seperti yang di katakan Ayana. Ah, wanita itu juga kenapa dia pintar sekali mengambil hati maminya.