NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Us

---

Matahari belum sepenuhnya muncul di ufuk timur ketika deretan rumah di Griya Asri mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Kompleks perumahan mungil ini terletak di sebuah sudut tenang kota—cukup jauh dari kebisingan pusat metropolis, namun tidak terlalu terpencil hingga membuat penghuninya merasa terasing.

Di sinilah, di antara pagar-pagar rendah yang lebih banyak dihiasi tanaman rambat daripada besi tajam, sebuah komunitas kecil tumbuh dan berkembang. Bukan hanya sekadar tetangga, tapi keluarga pilihan.

---

Rumah Nomor 7: Jane & Mario

Pukul 05.30, lampu dapur di rumah nomor 7 menyala pertama kali. Mario, seorang pria dengan rambut ikal tipis dan senyum yang selalu siap terukir, sedang sibuk di depan kompor. Aroma telur dadar dan roti panggang mulai memenuhi ruangan kecil itu.

"Sayang, kamu sebaiknya tidur lagi," suara Jane terdengar dari ambang pintu dapur. Wanita itu berdiri dengan tangan memeluk perut—gerakan yang akhir-akhir ini menjadi kebiasaan barunya. Rambut hitam panjangnya sedikit berantakan, matanya masih sayu karena baru bangun.

Mario menoleh, senyumnya melebar. "Bangunin kamu, ya? Padahal aku sengaja pelan-pelan."

"Bukan kamu yang bangunin. Ini..." Jane mengelus perutnya yang mulai membuncit, "dia yang nendang-nendang minta sarapan."

Mario segera mendekat, berlutut di depan Jane, dan menempelkan wajahnya ke perut sang istri. "Halo, Nak. Sabar ya, Ayah lagi siapin sarapan terbaik buat Bunda dan kamu."

Jane tertawa kecil, jari-jarinya menyisir rambut suaminya dengan lembut. "Kamu ini... setiap hari kayak gini. Nanti anaknya besar jadi manja."

"Biarin. Tugas Ayah memang memanjakan." Mario mengecup perut Jane, lalu berdiri dan menuntun istrinya duduk di kursi makan. "Duduk dulu. Lima menit lagi selesai."

Jane menurut, menikmati pemandangan suaminya yang sibuk di dapur dengan celemek biru lusuh—hadiah ulang tahun pernikahan pertama mereka dua tahun lalu. Ia ingat betapa kikuknya Mario saat pertama kali mencoba memasak. Sekarang, pria itu sudah bisa membuat sarapan lengkap tanpa kewalahan.

"Mario," panggil Jane pelan.

"Hm?"

"Aku seneng."

Mario menoleh, tersenyum. "Seneng kenapa?"

"Seneng aja. Hidup ini. Kamu. Rumah ini. Calon anak kita." Jane mengelus perutnya lagi, matanya berkaca-kaca. "Kadang aku takut... ini semua terlalu indah buat jadi kenyataan."

Mario mematikan kompor, menghampiri Jane dan berlutut lagi di depannya. Kali ini ia menggenggam kedua tangan istrinya.

"Dengar, Jane. Ini nyata. Aku nyata. Cinta aku nyata. Dan anak kita juga nyata." Ia mencium punggung tangan Jane. "Kita akan bahagia. Bukan karena hidup kita sempurna, tapi karena kita punya satu sama lain. Oke?"

Jane mengangguk, seulas senyum mengembang di wajah cantiknya. "Oke."

Sarapan pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya. Di luar, matahari mulai meninggi, menyapa dunia dengan semburat jingganya.

---

Rumah Nomor 9: Irene & Elgi

Jika rumah nomor 7 tenang dan damai, rumah nomor 9 adalah pusat keceriaan. Terutama di pagi hari.

"RAFA! Jangan lari-lari di dalam rumah!" teriak Irene dari dapur, tapi suaranya tenggelam oleh tawa riang putra kecilnya yang berusia tiga tahun.

Rafa—nama lengkapnya Rafandra—sedang berlari keliling ruang tamu dengan mobil-mobilan di tangan, mulutnya menirukan suara mesin: "Brum... brum... BRUUUM!"

Elgi, suami Irene, baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk masih melingkar di leher. Ia melihat kekacauan pagi itu: bantal-bantal berserakan di lantai, beberapa mainan tergeletak di sofa, dan putranya yang sedang berpura-pura menjadi mobil balap.

"Raf, sini sama Ayah." Elgi membuka tangan.

Rafa berhenti sejenap, menatap ayahnya dengan mata bulat cokelat yang sama persis dengan Irene. Lalu, dengan senyum nakal, ia berlari ke arah Elgi dan melompat ke pelukannya.

"Ayah! Ayo main!" teriak Rafa.

"Nanti, Nak. Sekarang mandi dulu. Nanti wangi, terus kita sarapan." Elgi menggendong Rafa sambil berjalan ke kamar mandi.

Irene menghela napas lega. Keajaiban seorang ayah: mampu menenangkan anak dalam hitungan detik. Ia kembali fokus pada pancake yang sedang ia masak—menu spesial akhir pekan.

Dari jendela dapur, Irene bisa melihat ke rumah sebelah. Rumah nomor 7. Lampu dapur Jane dan Mario sudah menyala sejak tadi. Ia tersenyum. Senang rasanya punya tetangga yang juga bangun pagi seperti dirinya.

"Bu! Aku mau pancake!" Rafa sudah kembali, kali ini dengan piagam bersih dan rambut basah yang baru dikeringkan asal-asalan oleh Elgi.

"Iya, Sayang. Duduk manis dulu."

Rafa naik ke kursi makannya dengan bantuan Elgi. Pria itu duduk di samping putranya, mengelus kepala kecil yang masih sedikit basah.

"Irene," panggil Elgi.

"Hm?"

"Nanti sore, jangan lupa ada janjian sama yang lain di taman. Kata Bu Jane, mau ngobrol-ngobrol."

Irene menoleh, tersenyum. "Iya, inget. Udah seminggu nggak kumpul. Pasti banyak cerita."

"Terutama soal kehamilan Jane," tambah Elgi. "Kasih dia semangat, ya."

"Iya, Sayang."

Pagi di rumah nomor 9 adalah perpaduan sempurna antara kekacauan dan kehangatan. Dan bagi Irene, tidak ada yang lebih ia syukuri selain itu.

---

Rumah Nomor 11: Soo Young & Endy

Tidak jauh dari rumah Irene, di ujung jalan buntu, berdiri rumah nomor 11 dengan halaman depan yang paling rindang se-Griya Asri. Berbagai tanaman pot berjejer rapi di teras, beberapa di antaranya sedang berbunga.

Di halaman itu, Soo Young—wanita keturunan Korea dengan senyum lembut khas ibu rumah tangga—sedang menyiram tanaman. Gerakannya pelan, penuh perhatian, seolah setiap daun adalah makhluk hidup yang perlu disapa.

"Dih, udah dari tadi?" Suara Endy datang dari belakang, diikuti oleh dua cangkir kopi yang disodorkan ke hadapan Soo Young.

Soo Young menerima satu cangkir, tersenyum. "Baru aja mulai. Tanaman-tanaman ini haus, lihat tanahnya sudah kering."

Endy berdiri di samping istrinya, menyesap kopi sambil menikmati pemandangan pagi. "Kamu ini, kalau udah berkebun bisa lupa waktu."

"Kamu juga, kalau udah baca buku bisa lupa kalau punya istri."

Mereka tertawa bersama. Tawa yang mudah, tawa yang lahir dari belasan tahun kebersamaan.

"Kapan kita tanam bunga baru?" tanya Endy. "Yang mawar putih itu udah mulai tua."

"Sabtu depan, kalau kamu libur. Kita cari ke pasar bunga."

"Deal."

Mereka berdiri bersebelahan, sesekali sikut-menyikut, sesekali saling melempar senyum. Seperti anak SMA yang baru pacaran, bukan pasangan yang sudah menikah lima belas tahun.

Dari kejauhan, mereka melihat mobil Leon—tamu dari Australia yang sedang mengunjungi Chaeyoung di rumah nomor 5—melintas pelan. Leon melambai dari balik kemudi. Endy membalas lambaian itu.

"Orang Australia itu baik ya," komentar Soo Young.

"Iya. Dan sabar banget pacaran jarak jauh sama Chaeyoung."

"Namanya juga cinta." Soo Young menatap suaminya. "Kayak kita dulu. Ingat pas kamu pacaran jarak jauh waktu tugas di luar kota?"

Endy mengangguk, tersenyum. "Inget. Tiap minggu nyetir delapan jam cuma buat ketemu kamu dua hari."

"Dan sekarang? Nggak nyesel?"

Endy mengecup pipi Soo Young pelan. "Nggak sedikit pun."

---

Rumah Nomor 3: Jisoo & Amora

Di rumah nomor 3, suara tawa kecil mengalun dari kamar tidur utama. Jisoo—kakak kandung Jane—sedang membantu putrinya, Amora, memilih baju untuk hari itu.

"Amora mau pakai yang mana? Pink atau ungu?" tanya Jisoo sambil menunjukkan dua buah gaun kecil.

Amora, yang baru berusia lima tahun, mengerutkan dahi dengan serius. Matanya yang bulat dan panjang berpindah dari satu gaun ke gaun lainnya. Akhirnya, ia menunjuk gaun pink dengan motif kupu-kupu.

"Ini, Ma. Pink. Biar cantik kayak Mama."

Jisoo tertawa, memeluk putrinya erat. "Kamu sudah cantik tanpa baju apa pun, Sayang."

"Mama juga cantik."

Mereka berpelukan beberapa saat, sampai suara bel pintu memecahkan kehangatan itu.

"Wah, siapa ya pagi-pagi?" Jisoo bangun, berjalan ke pintu. Saat dibuka, Jane berdiri di sana dengan sepiring kue di tangan.

"Jeng!" sapa Jane ceria. "Ini, aku barusan bikin kue pisang. Kebanyakan, Mario sarapannya sedikit. Jadi titip ke sini."

Jisoo menerima piring itu, lalu menatap adiknya. "Jane, kamu hamil muda jangan kecapekan. Biar Mario aja yang masak."

"Iya, iya. Tadi cuma iseng-iseng. Lagian Mario yang bantuin kok." Jane mengelus perutnya. "Kita berdua yang masak."

Dari dalam, Amora berlari keluar. "Tante Jane! Tante Jane!"

Jane berlutut, membuka tangan lebar. Amora segera memeluknya erat.

"Amora kangen Tante Jane!" serunya.

"Aduh, Tante juga kangen banget sama Amora." Jane mengecup puncak kepala Amora. "Wah, bajunya baru? Cantik sekali."

"Ini buat hari ini. Amora mau main di taman sore-sama Mama."

"Nanti Tante juga ke taman, ya. Kita main bareng."

"Asik!"

Jisoo tersenyum melihat interaksi itu. Sejak suaminya meninggal dua tahun lalu, Jane dan tetangga-tetangga lain menjadi penyangga utama kehidupannya. Mereka bukan sekadar saudara atau tetangga—mereka adalah keluarga pilihan.

---

Rumah Nomor 5: Chaeyoung & Leon

Di rumah nomor 5, yang paling dekat dengan pintu masuk kompleks, suasana sedikit berbeda pagi ini. Leon—pria Australia dengan rambut pirang kecokelatan dan senyum ramah—sedang membuat sarapan khas negaranya: baked beans on toast.

Chaeyoung duduk di meja makan, memperhatikan kekasihnya yang sibuk di dapur kecilnya. Leon datang dua hari lalu, dan sejak itu rumah Chaeyoung tidak pernah sepi. Tetangga-tetangga silih berganti datang, penasaran dengan pria bule yang konon akan menikahi Chaeyoung tahun depan.

"Smells good," puji Chaeyoung dalam bahasa Inggris, lalu cepat-cepat tertawa. "Aduh, jadi ikut-ikut logat kamu."

Leon menoleh, tersenyum lebar. "It's okay. Aku suka denger kamu bicara campur-campur. Cute."

"Sini kamu." Chaeyoung memanggil dengan jari.

Leon mendekat, dan Chaeyoung segera meraih wajahnya, mengecup bibirnya cepat. "Makasih udah masakin sarapan."

"My pleasure." Leon mengecup kening Chaeyoung. "Hari ini kita mau ngapain? Aku bawa mobil sewaan, kita bisa jalan-jalan."

"Siang-siang aja. Pagi ini aku janjian sama teman-teman di taman."

"Oh, the girls' gathering?"

"Iya. Mau ngobrol-ngobrol santai. Kamu mau ikut? Biasanya para cowok juga kumpul di sana."

Leon mengangguk antusias. "Tentu. Aku mau kenal mereka lebih dekat. Mereka udah kayak keluarga kamu, kan?"

"Lebih dari itu." Chaeyoung tersenyum. "Mereka keluargaku. Keluarga pilihan."

---

Pukul 07.30, matahari sepenuhnya terbit di atas Griya Asri. Di setiap rumah, aktivitas pagi mulai usai. Para suami bersiap berangkat kerja, para istri membereskan rumah, dan anak-anak bersiap untuk hari yang baru.

Di taman kecil di tengah kompleks, bunga-bunga bermekaran disiram embun pagi. Bangku-bangku taman masih kosong, menanti kehadiran para penghuni di sore hari nanti.

Griya Asri bukanlah kompleks mewah dengan fasilitas berlimpah. Tidak ada kolam renang, tidak ada pusat kebugaran, tidak ada taman bermain modern. Yang ada hanyalah deretan rumah mungil dengan halaman hijau, pagar rendah yang mudah dilangkahi, dan penghuni yang saling peduli.

Dan di sinilah, di sudut tenang kota ini, harmoni tumbuh subur—bukan karena kebetulan, tapi karena pilihan. Pilihan untuk saling membuka hati, pilihan untuk menjadi keluarga, pilihan untuk merawat kebersamaan.

Seperti pagi ini, ketika matahari menyapa dengan hangatnya, kelima rumah di Griya Asri bersiap untuk menjalani hari. Masing-masing dengan ceritanya sendiri, namun terikat oleh satu benang merah: cinta.

Cinta pada pasangan.

Cinta pada anak.

Cinta pada sahabat.

Cinta pada kehidupan.

Inilah awal dari sebuah kisah tentang harmoni. Harmoni yang tercipta dari nada-nada sederhana yang dinyanyikan bersama.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!