Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jeritan di balik rintikan hujan
Sugeng menghela nafas panjang...
"Sebenarnya niat aku juga mau akrab sama Isna, Mbak. Tapi mau gimana lagi... mungkin Isna masih butuh waktu, udah ngga papa, Aku tau pikiran kamu mbak. Udah ngga masalah, aku ngga papa, aku nggak kecewa atau apalah. Ini masalah sepele ngga usah terlalu berlebihan mikirnya. Nanti lama kelamaan juga Isna mau akrab.." ucap Sugeng sembari memgambil kunci motor dan uang kemudian pergi.
Baru 15 menit Sugeng pergi hujat lebat mengguyur dengan derasnya di iringi dengan angin yang berhembus kencang.. Sekar tampak sibuk menutup pintu folding warungnya.
"Hmm... Isna apa bener bener kerumah temennya ya?" Tanya Sekar dalam hatinya, "kasihan Sugeng, dia udah berusaha akrab sama Isna tapi anaknya malah gitu... apa aku gagal didik dia ya?" Imbuhnya dalam hati.
Tepat bersamaan dengan itu Sugeng sudah sampai di gerai ponsel saat hujan turun.
"Selamat gak kehujanan.." gumam Sugeng seraya turun dari motor.
Sugeng mendekati wanita yang menjaga gerai ponsel tersebut.
"Mbak saya mau beli hape."
Wanita pegawai gerai tersebut tersentak kaget dari lamunannya yang menatap Sugeng.
"Hape apa mas?" Tanya wanita pegawai gerai hape tersebut.
"Hape apa ya? Emm yang kekinian buat remaja, mbak. Apa ya kira kira?"
"Untuk adiknya ya mas? Biasanya kalau remaja sukanya yang ramnya gede, buat main game biar ngga nge-lag... emm adiknya cowok apa cewek mas?"
"Cewek mbak.."
"Ohh cewek ya, berarti ram gede sama resolusi kamera yang bagus. Ada mas ini, rekomendasi saya." Pegawai tersebut mengambil 3 hape dengan jenis yang berbeda.
"Yang ini 1,8 juta, ini 2,3 juta, yang ini 3,7 juta mas."
"Hmm... pasti bagus 3,7 juta itu ya mbak?"
"Hehe, brand aja sih mas. Hampir sama sih spesifikasinya, beda ram aja menurutku. Yang 2,3 juta udah bagus kameranya, mas. Jadi mau beli yang mana?"
"Udah pas yang ini mbak, ngga bisa kurang?" Tunjuk Sugeng kepada hape yang seharga 3,7 juta.
"3,6 Mas, ngga bisa turun banyak, itu udah dapat bonus free perdana dan voucher 50 ribu, mas."
"Saya cuma bawa uang cash 3 juta mbak, yang 600 pake debit bisa nggak?"
"Bisa mas."
Setelah Sugeng membayar pegawai itu langsung mengaktivasi ponsel tersebut. Sugeng tetap berada di gerai tersebut karena hujan masih belum reda.
"Oh iya! Di jok kan ada mantel." Sugeng baru ingat, ia segera menuju ke jok motornya memakai mantel dan meluncur pergi.. tak lupa ia mampir ke tukang bakso membeli bakso 4 bungkus kemudian bergegas pulang.
***
Seorang gadis tampak meringkuk di dalam gubuk kecil sembari memeluk seekor kucing imut dan gemoy berbulu putih bersih sedikit kotor.
Di sekitar gadis tersebut tampak buku dan alat tulis yang berceceran.
"Kamu dingin ya pasti, Tuti?" Ucap gadis itu yang tak lain adalah Isna.
Ya Tuti yang di maksud Isna bukanlah manusia melainkan kucing. Isna bertemu dengan kucing tersebut di kebun warga. Saat itu ia sedang jalan kaki hendak pulang kerumah setelah sekolah. Saat itu ia melihat kucing berbulu putih jalan terpincang pincang di pinggiran kebun. Isna yang kasihan pun membawa kucing tersebut namun karena ia takut jika ibunya tak mengizinkan memelihara kucing alhasil ia membawanya di gubuk kosong ini.
Gubuk yang tak terlalu jauh dari gapura desa Bojongbata dengan sekelilingnya adalah sawah, ya gubuk tersebut terletak di pinggiran sawah.
Isna menamai kucing itu Tuti yang artinya Tukang Tidur.
Hujan begitu lebat dengan angin yang begitu kencang.. Isna memilih untuk keluar dari dalam gubuk dan duduk di luar, mencoba melihat pemandangan jalan di depannya.
Ia memeluk Tuti erat, dengan jari yang menggenggam dan saling merekatkan jarinya. Tangannya menjadi satu menahan dingin sembari memeluk Tuti di pangkuannya.
Jalanan tampak lenggang begitu kosong, sama sekali tidak ada kendaraan yang melintas. Mungkin karena itu jalanan di luar kampung dan sedang di guyur hujan lebat..
2 menit kemudian hujan tak kunjung reda, justru semakin bertambah lebat. Satu sepeda motor butut melintas, tampak tiga pemuda yang tampilannya seperti anak punk berboncengan seraya tertawa terbahak bahak. Salah satu di antara mereka secara sekilas melihat ke arah Isna dengan tatapan bengong. Sepeda motor itu masih melaju semakin menjauh.
Tak di sangka mereka berbalik dan menghampiri isna yang duduk di depan gubuk kosong tersebut.
Isna sedikit takut dan curiga. Ia mempererat pelukannya kepada Tuti.
Ketiga pemuda berpenampilan seperti anak punk itu turun dari sepeda motornya, menghampiri Isna dengan senyuman aneh. Tiga pemuda yang tampak seperti anak punk dan pemabuk berusia sekitar 21 tahunan.
Isna bisa merasakan bau mulut mereka yang beraroma alkohol.
"Gak kedinginan sendirian Dek?" Tanya salah satu pemuda di iringi gelak tawa yang lainnya.
Melihat gelagat aneh ketiga pemuda itu, membuat Isna semakin ketakutan ia melepaskan pelukannya kepada Tuti dan beranjak berdiri hendak pergi. Ia berniat pulang tanpa memperdulikan apapun.
"Woi tunggu dulu!!!" Ucap salah satu pemuda yang langsung mengejar Isna dan memegang pergelangan tangannya dengan erat..
"Lepasin!!!" Teriak Isna keras, namun suaranya menghilang tertimpa rintikan air hujan yang teramat deras.
"Percuma aja teriak, nggak ada yang denger. Bagi duit! Buat beli rokok.."
"Gak ada..!!!"
"Bohong, pasti ada.. kalian berdua periksa kantongnya."
Dua pemuda lainnya dengan cepat kebelakang Isna, alih alih memeriksa saku kemeja dan celana bunga. Mereka justru mer*mas pay*d*ra dan pantat Isna sambil tertawa terbahak bahak.
"Tolooonggg!!!" Teriak Isna sekencang kencangnya. Ia sadar posisinya saat ini dalam keadaan yang sangat berbahaya.
Dari belakang salah satu pemuda mendekap mulut Isna. Tangan kasarnya menarik hijab Isna, dan menjambak rambutnya. Hijab itu jatuh di tanah begitu saja. Mereka bertiga menggotong tubuh Isna ke dalam gubuk itu, agar tak terlihat orang di jalanan. Sayangnya mereka lupa dengan hijab dan sendal Isna.
"Ampuuunnn...!!!! Tolong...!!! Jangaann..!!" Teriak Isna histeris penuh ketakutan.
Tubuh Isna di baringkan ke tanah, satu pemuda dari belakang memegang tangannya. Dua pemuda berdiri menatap nanar Isna.
Isna terus memberontak dan menjerit. Hingga mulut serta wajahnya di injak seperti di tekan oleh satu kaki.
Satu pemuda duduk di perut Isna dan melakukan aksinya.
Breett!!!
Kancing kemeja Isna putus bersamaan.
"Cepat wei..!! Keburu reda hujannya. Bahaya nanti kalau ada yang lewat." Ucap salah satu pemuda.
Isna terus berteriak sekuat tenaga walaupun mulutnya di injak.
Teriakan Isna yang semakin keras membuat mereka panik, mereka sedikit emosi dan langsung mencengkram mulut Isna dengan kuatnya.
"Diam gak kamu!!!"
kalo bisa up nya jgn lama2 ya min