NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Duda / Romansa / Pengasuh
Popularitas:91.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Wawancara Calon Pengasuh

Raisa menoleh. Dan refleksnya sangat jelas—bahunya menegang, rahangnya mengeras sedikit. Ia mengeringkan tangannya dengan lap yang tergantung di sisi wastafel.

“Iya, Mas?” jawabnya datar.

Tangisan baby Ezio menggema di antara mereka.

Krisna membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia menarik napas, menurunkan nada suaranya—sesuatu yang jarang ia lakukan dengan sengaja.

“Mmm, Ezio … rewel lagi,” katanya.

“Terus kalau rewel, kenapa?” Ingin sekali Raisa menjawab seperti itu. Tapi kalimat itu hanya tertahan di tenggorokan.

Raisa melirik bayi itu sekilas. Tangisannya seperti memanggil naluri yang tidak bisa ia abaikan.

“Kamu … bisa gendong sebentar?” lanjut Krisna, kalimat itu keluar kaku, jelas tidak terbiasa meminta.

Raisa mengangkat alis tipis. “Bukannya Mas bilang saya nggak punya pengalaman? Masih bocah yang nggak ngerti cara mengasuh anak?”

Kalimat itu meluncur tanpa emosi berlebihan, tapi cukup tajam.

Beberapa ibu di dapur saling melirik.

Krisna mengatupkan rahang, menahan komentar defensif. “Ini cuma sebentar. Ibu saya akan mengawasi kamu dan Ezio.”

Raisa menatap Krisna lurus-lurus. Tatapan mereka beradu—dingin dan api. Lalu Raisa menghela napas pendek. Ia memang orangnya tidak tegaan kalau lihat anak kecil nangis.

“Baik,” katanya akhirnya. “Hanya sebentar, ketimbang nanti kena salah lagi.”

Ia mendekat, mengulurkan tangan. Gerakannya refleks berubah lembut saat tubuh kecil Ezio berpindah ke pelukannya.

Begitu itu terjadi—

Tangisan berhenti.

Seolah seseorang menekan tombol mati.

Ezio mendengus kecil, kepalanya bersandar nyaman di bahu Raisa. Tangannya kembali menggenggam kain kemeja Raisa, seperti menemukan sesuatu yang ia cari.

Dapur yang tadinya riuh mendadak sunyi.

“Lho,” gumam salah satu ibu.

Raisa mengayun pelan, matanya menatap wajah kecil itu dengan ekspresi yang jarang ia tunjukkan—lembut, sabar, nyaris penuh kasih.

“Dede tuh ribut amat sih,” bisiknya pelan. “Kan, jadi capek sendiri.”

Baby Ezio mengeluarkan suara kecil, bukan tangisan—lebih seperti dengusan puas.

Krisna berdiri terpaku.

Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa seperti diremas pelan. Pemandangan ini tidak seharusnya membuatnya merasa apa-apa. Tapi entah kenapa, ada rasa asing yang mengendap—campuran kagum, bingung, dan sesuatu yang hampir mirip rasa bersalah.

“Kamu … sering ngurus bayi?” tanya Krisna akhirnya.

Raisa tidak menoleh. “Sering ngurus anak orang lain sejak SMP,” jawabnya datar. “Adik tetangga. Anak sepupu.”

Krisna terdiam.

“Bayi itu bukan rumus matematika, Mas,” lanjut Raisa pelan. “Kadang mereka cuma pengen ngerasa aman dan nyaman.”

Kalimat itu sederhana. Tapi menghantam tepat ke dada Krisna.

Ia menelan ludah.

“Terima kasih,” katanya akhirnya, nyaris terdengar seperti pengakuan kalah kecil.

Raisa meliriknya sekilas. “Saya cuma gendong. Bukan lagi ngelamar kerja.”

Krisna mengangguk. “Saya tahu.”

Mereka berdiri berhadapan di dapur yang penuh aroma masakan dan hiruk pikuk persiapan. Di antara mereka, ada bayi yang akhirnya tenang—seolah menjadi jembatan yang tidak mereka rencanakan.

“Kalau … kamu capek,” kata Krisna ragu, “bilang.”

Raisa mendengus kecil. “Capek itu urusan nanti.”

Krisna mengusap tengkuknya yang tiba-tiba saja berat dan bisa-bisanya ia berkata seperti itu. Mana dibalas dengan ketusan pelan.

Di luar dapur, tiga perempuan yang melamar sebagai pengasuh menunggu dengan gugup.

Dan tanpa mereka sadari, di dalam rumah besar itu, pilihan yang paling masuk akal mungkin sedang berdiri tepat di depan Krisna—tanpa surat lamaran, tanpa niat melamar, tanpa ambisi apa pun selain bertahan hidup.

Dan itulah yang membuatnya jauh lebih berbahaya bagi hatinya.

***

Ruang tamu rumah Pak Wijaya berubah suasana.

Meja kecil di tengah telah dirapikan. Kursi disusun rapi menghadap sofa tempat Krisna duduk. Di sampingnya ada map berisi catatan kecil, pulpen, dan segelas air putih yang nyaris tak tersentuh. Wajahnya kembali ke mode profesional—dingin, datar, dan menjaga jarak.

“Panggil yang pertama, Bik,” katanya singkat.

Bik Sum mengangguk dan melangkah ke depan.

Tak lama kemudian, seorang perempuan masuk dengan langkah agak ragu tapi penuh percaya diri. Rambutnya dikuncir rapi, wajahnya dipoles tipis, bajunya sopan tapi jelas dipilih dengan cermat.

“Silakan duduk,” kata Krisna.

Perempuan itu tersenyum. “Terima kasih, Pak.”

“Nama?” tanya Krisna, membuka map.

“Mayang Sari, Pak. Masih satu desa.”

Krisna mengangguk kecil. “Usia?”

“Dua puluh lima.”

“Pendidikan terakhir?”

“SMA, Pak.”

Krisna mencatat sesuatu. “Kenapa melamar sebagai pengasuh bayi?”

Mayang tersenyum lembut, menautkan jari di pangkuannya. “Saya suka anak kecil, Pak. Dari dulu sering bantu ngurus adik-adik di rumah.”

“Pernah mengurus bayi?” tanya Krisna tanpa ekspresi.

“Belum yang bayi banget, Pak,” jawab Mayang jujur. “Tapi saya cepat belajar. Saya  penyabar.”

Krisna menatapnya sejenak. “Siap kerja dari pagi sampai sore? Kadang malam, bahkan menginap?”

“Siap, Pak,” jawab Mayang cepat. “Asal kerja jelas dan ... gajinya juga jelas ”

Krisna mengangguk tipis. “Baik. Tunggu di depan.”

Mayang berdiri, tersenyum sekali lagi sebelum keluar.

Tak lama, Bik Sum memanggil pelamar kedua.

Perempuan berikutnya masuk dengan gaya sedikit lebih berani. Rambutnya tergerai, lipstiknya lebih mencolok, matanya terang memandang Krisna.

“Saya Ayu,” katanya sambil tersenyum. “Umur dua puluh lima juga.”

Krisna mengangguk. “Pengalaman?”

“Saya pernah kerja di toko pakaian dua tahun,” jawab Ayu. “Kalau soal bayi … memang belum, tapi saya yakin bisa mengurusnya.”

“Yakin berdasarkan apa?” tanya Krisna datar.

Ayu tersenyum lebih lebar. “Saya cepat belajar, Pak. Dan bayi itu kan cuma butuh perhatian saja.”

Krisna tidak menanggapi senyum itu. “Ini bukan cuma soal perhatian.”

“Iya, Pak. Saya ngerti. Tapi saya niat kerja,” jawab Ayu sedikit menahan diri.

Krisna mencatat lagi. “Baik. Tunggu di depan.”

Ayu berdiri, melirik sekeliling rumah besar itu sejenak sebelum keluar.

Pelamar terakhir masuk dengan langkah paling pelan.

Perempuan itu berusia hampir tiga puluh. Wajahnya sederhana, tanpa rias berlebihan. Matanya terlihat lelah, tapi tatapannya mantap. Ada sesuatu yang lebih dewasa dalam caranya berdiri.

“Nama?” tanya Krisna.

“Lena, Pak,” jawabnya lirih. “Umur dua puluh sembilan.”

“Status?”

Lena menunduk sejenak. “Janda, Pak. Punya satu anak.”

Krisna mengangkat pandangannya. “Usia anak?”

“Enam tahun.”

“Pengalaman mengurus bayi?”

Lena mengangguk. “Anak saya sendiri, Pak. Dari lahir sampai sekarang.”

Krisna mencatat. “Kenapa melamar?”

Lena menggenggam ujung bajunya, suaranya bergetar tipis. “Saya butuh kerja, Pak. Anak saya butuh makan. Sekolah. Saya janji jaga bayi Pak Krisna seperti anak saya sendiri.”

Nada memelas itu membuat Krisna terdiam sejenak. Ia menatap Lena, lebih lama dari sebelumnya.

“Baik,” katanya akhirnya. “Tunggu di depan.”

Lena mengangguk berkali-kali, lalu keluar dengan langkah cepat seolah takut air matanya jatuh di ruangan itu.

Begitu pintu tertutup, Krisna menyandarkan punggung ke sofa. Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan, lalu menggeleng kecil.

Cantik. Rapi. Meyakinkan.

Terlalu meyakinkan.

Di luar, ketiga perempuan itu duduk berjejer di bangku panjang. Senyum-senyum tipis tersungging di wajah mereka, tapi mata mereka saling melirik dengan sinis.

Mayang memecah keheningan. “Saingannya berat, ya.”

Ayu tersenyum miring. “Yang penting percaya diri.”

Lena diam saja, tangannya terlipat di pangkuan, pandangannya lurus ke depan.

Sementara itu, di dapur—

Raisa duduk di kursi kecil dekat meja makan. Di hadapannya, baby Ezio duduk di baby chair, celemek kecil terpasang di lehernya. Semangkuk MPASI hangat berada di tangan Raisa.

Raisa menyendok perlahan, meniupnya sebentar, lalu mendekatkan ke mulut kecil itu.

“Duh, dede ganteng makannya lahap ya,” katanya lembut, nada suaranya nyaris seperti orang lain. “Pinter makannya. Biar cepat besar.”

 Bersambung .... 💔

1
astr.id_est 🌻
diam distuuuuu 😅😅😅
astr.id_est 🌻
raisa seperti ibu peri sungguh ajaib, seketika ezio lngsg tenang
astr.id_est 🌻
kocak lena 🤣🤣
Elizabeth Zulfa
udah kebuka blm kris mata kamu... zg br pengalaman blm tentu memberikan rasa nyaman tpi klo rasa aman sudah didapat pengalaman akan ikut menyertainya... sampai sini paham kan ya abang duda... 😜😜😜klo msih mentingin ego brrti fix kamu tega sama dedek Ezio
astr.id_est 🌻
👍👍👍👍
kaylla salsabella
alhamdulillah dedek udah tenang
@Arliey🌪️🌪️
pawang nya ezio nich senggol dong🤣🤣🤣
kaylla salsabella
semoga habis ini dedek sembuh
RiriChiew🌺
nahkan pada akhirnya kalau pawang ezio hadirr dari tdi pasti udh sunyii gak akan nangis sepanjang hari . bapaknye ngeyell si pengasuh juga bermuka dua mana mau bayi nempel
@alfaton🤴
jangan nangis lagi ya de Zio..... momy Raisa udah dipelukanmu.... sekarang istirahat...... dan kamu Lena......masih mau berdebat tentang Ezio..... pengalaman jadi baby sitter mu mengalahkan Raisa yang suka dengan anak kecil..... karena tugasmu itu memang kewajiban dan tanggung jawab sebagai ibu dari anakmu ... paham lena😅😅😅😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
coba dr awal begini ga cape bayangin bayi sekecil ezio nangis2 sampe demam 🙂
citraalief
Ibu Peri Raisa hadir😊
Dew666
👄💜🏆
nyaks 💜
uhhhh masuk pawangnya Ezio
Mommy El
Lega dah, Dede zio gak nangis lagi.
menanti gebrakan apa yang akan dilakukan Lena untuk mencelakai/ mengusir Raisa.. Lena sudah diliputi amarah dan cemburu,, bahaya menanti mu Raisa hati hati lah.
Esther
Dede Ezio langsung tenang dalam dekapan kakak Raisa.
Ego dan gengsi Krisna kesentil dengan kehadiran Raisa yang ternyata menenangkan buat Ezio.

Ketahuan tuh watak aslinya Lena, awas ya kalau kamu ada niat jahat ke Raisa
Ruwi Yah
si janda kegatelan segera pecat aja bu lita
Esther
Akhirnya yang ditunggu datang.
2 juta....terima Raisa, kan urusan kamu sama bu Lita, nah kalo Lina sama Krisna.
Sudah gak sabar pingin ngendong dan nenangin Ezio ya Raisa

😄😄😄😄
Asang Ana
lagi thor💪👍
A3
👏👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!