Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.
Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiba-tiba di serang
Marvel baru saja meletakkan gelas wiskinya ketika dentuman keras mengguncang seluruh lantai teratas gedung. Kaca jendela yang semula menampilkan pemandangan kota hancur berkeping-keping dalam sekejap.
Serangan mendadak ini datang bukan dari pintu depan, melainkan dari langit. Dua helikopter tanpa identitas muncul dari balik awan hitam, memberondong ruang kerja Marvel dengan senapan mesin berat.
Sebelum peluru pertama menembus meja marmernya, Marvel sudah berguling ke balik pilar beton. Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut; matanya justru berkilat tajam, seolah-olah ia sudah lama menantikan hiburan ini.
Ruangan yang semula mewah dalam sekejap menjadi medan tempur penuh asap. Tim pengawal elit Marvel
yang berada di luar ruangan segera merangsek masuk, namun mereka tertahan oleh tim breacher musuh yang turun menggunakan tali dari atap gedung.
Penyerang ini menggunakan perlengkapan taktis militer lengkap, jauh lebih canggih daripada Klan Valerius. Mereka bergerak dengan formasi yang sangat disiplin, menunjukkan bahwa ini adalah unit tentara bayaran profesional atau agensi rahasia.
Saat Marvel mencoba meraih senapan serbu di balik lemari tersembunyi, sebuah peluru kaliber .50 menghantam bahu pilar beton tepat di atas kepalanya. Ada penembak jitu (sniper) dari gedung seberang yang mengunci pergerakannya.
"Bos! Kita harus ke bunker!" teriak salah satu anak buahnya sambil membalas tembakan.
Marvel memeriksa sisa peluru di pistol cadangannya. Ia menyeka debu semen dari jasnya yang kini koyak. "Bunker itu untuk mereka yang ingin bertahan hidup," suaranya tetap rendah namun penuh otoritas. "Aku ingin mereka yang datang ke sini menyesal karena telah bangun pagi ini."
Vico menekan tombol di jam tangannya, mengaktifkan protokol "Zero Frost"—sistem pertahanan otomatis gedung yang akan mengunci seluruh akses dan memenuhi koridor dengan gas pelumpuh.
Marvel idak menunggu gas pelumpuh bekerja sepenuhnya. Ia memanfaatkan kepanikan musuh yang mulai tersedak untuk melancarkan serangan balik yang lebih brutal.
Di tengah kabut gas dan debu bangunan, pertempuran kembali memanas:
Marvel menghilang ke dalam lorong-lorong rahasia di balik dinding kantornya. Ia muncul dari langit-langit di belakang dua tentara bayaran, menghujamkan pisau taktis ke leher mereka sebelum mereka sempat berbalik. Gerakannya sunyi, cepat, dan mematikan.
Marvel melempar granat termobarik ke arah helikopter yang masih melayang di dekat jendela. Ledakan dahsyat itu melontarkan bola api yang menelan ekor helikopter, membuatnya kehilangan kendali dan menghantam sisi gedung seberang dengan dentuman yang menggetarkan bumi.
Lampu gedung padam total. Marvel menggunakan kacamata night vision dan mulai memburu sisa-sisa penyerang di koridor. Ia tidak
Marvel idak menunggu gas pelumpuh bekerja sepenuhnya. Ia memanfaatkan kepanikan musuh yang mulai tersedak untuk melancarkan serangan balik yang lebih brutal.
Di tengah kabut gas dan debu bangunan, pertempuran kembali memanas:
Marvel menghilang ke dalam lorong-lorong rahasia di balik dinding kantornya. Ia muncul dari langit-langit di belakang dua tentara bayaran, menghujamkan pisau taktis ke leher mereka sebelum mereka sempat berbalik. Gerakannya sunyi, cepat, dan mematikan.
Marvel melempar granat termobarik ke arah helikopter yang masih melayang di dekat jendela. Ledakan dahsyat itu melontarkan bola api yang menelan ekor helikopter, membuatnya kehilangan kendali dan menghantam sisi gedung seberang dengan dentuman yang menggetarkan bumi.
Marvel melompati balkon yang hancur, mendarat di gang sempit di belakang gedung saat sirene polisi mulai meraung di kejauhan. Bahunya bersimbah darah, dan napasnya berat, namun ia tetap bergerak dengan efisiensi seorang predator yang terluka.
Tiba-tiba, di balik tumpukan krat kayu, ia menabrak seseorang.
Seorang gadis berdiri di sana, mendekap tas belanjaan yang kini jatuh berserakan. Namanya Alya, seorang pelukis jalanan yang sering Marvel ihat dari kejauhan saat ia butuh ketenangan. Matanya yang bulat membelalak menatap sosok di depannya: seorang pria berjas mahal yang kini koyak, memegang senjata, dengan wajah yang separuhnya tertutup darah.
"M-marvel ?" suara Elara bergetar. Ia tidak tahu siapa Marvel sebenarnya; baginya, pria ini hanyalah pelanggan misterius yang selalu membeli lukisannya tanpa menawar.
"Jangan bersuara," desis Marvel . Ia menarik Elara ke balik bayangan tepat saat lampu sorot dari helikopter musuh menyapu gang itu.
Di telinga Marvel , suara radio musuh terus berderit mencari posisinya. Tangannya yang dingin masih menggenggam pistol kencang.
Di pelukan Marvel, ia bisa merasakan jantung Elara berdegup kencang seperti burung yang terperangkap. Bau parfum vanila gadis itu menyeruak di tengah bau mesiu dan darah.
Marvel menatap mata Elara. Untuk pertama kalinya, tatapan abu-abu bajanya sedikit goyah. Ia tahu, membawa elara bersamanya berarti menyeret gadis itu ke neraka. Namun, membiarkannya di sini berarti membiarkannya dibantai oleh tentara bayaran yang tidak meninggalkan saksi.
"Ikut aku jika kau ingin hidup," ucap Marvel , suaranya kembali datar namun ada nada mendesak yang tidak biasa.
Elara menatap tangan Marvel yang penuh luka, lalu menatap wajahnya. Tanpa kata, ia mengangguk dan menggenggam erat kemeja Marvel . Sang "Glacier" kini harus berperang bukan hanya untuk takhta, tapi untuk nyawa seseorang yang tidak punya urusan dengan dunianya.
Marvel menarik elara masuk ke dalam mobil sedan hitam yang tersembunyi di balik gudang tua. Ia memacu mesin hingga menderu, membelah jalanan kota yang basah oleh hujan, sementara lampu sorot helikopter masih liar mencari mereka di atas langit.
Di dalam mobil, suasana terasa mencekik. Elara duduk mematung di kursi penumpang, jemarinya yang gemetar mencengkeram sabuk pengaman. Ia melirik tangan Marvel pada kemudi—tangan yang biasanya memberikan lembaran uang dengan sopan, kini berlumuran darah yang mulai mengering.
"Siapa mereka, Marvel ? Mengapa mereka menembakmu?" suara Elara pecah, nyaris tak terdengar di antara deru mesin.
Marvel tidak menoleh. Matanya tetap tajam menatap jalanan di depan. "Orang-orang yang melakukan kesalahan besar dengan berpikir mereka bisa mengakhiriku.
Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam muncul dari persimpangan dan menghantam sisi mobil mereka. BRAK!
Mobil Marvel terseret beberapa meter. Elara berteriak. Sebelum musuh sempat keluar untuk menembak, Marvel sudah menarik pistolnya.
"Tundukkan kepalamu!" perintah Marvel keras.
Elara meringkuk di bawah dasbor, menutup telinganya rapat-rapat saat suara kaca pecah dan letusan peluru kembali memenuhi udara. Marvel keluar dari mobil, menggunakan pintu sebagai perisai. Ia bergerak dengan presisi yang mengerikan—tiga tembakan, tiga musuh tumbang di aspal.
Ia kembali masuk ke mobil, wajahnya tetap datar seolah serangan barusan hanyalah gangguan kecil. Ia menatap Elara yang menggigil ketakutan. Untuk sesaat, es di mata Marvel mencair, digantikan oleh kilatan rasa bersalah yang asing baginya.
Marvel melepas jasnya yang hancur dan menyampirkannya ke bahu Elara. "Maaf kau harus melihat ini. Aku akan membawamu tempat di mana tak ada seorang pun bisa menyentuhmu."
"Ke mana?" tanya Elara dengan suara parau.
"Ke satu-satunya tempat yang masih suci di kota ini. Rumah masa kecilku," jawab Marvel sambil memutar kemudi dengan tajam menuju pinggiran kota yang sunyi.
Marvel menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai. Jarum speedometer melesat melewati angka 160 km/jam. Di belakang mereka, tiga SUV hitam milik tentara bayaran mengepung seperti kawanan serigala yang lapar.
"Pegang erat-erat!" perintah Marvel singkat.
Aksi kejar-kejaran itu berubah menjadi tarian maut di jalanan pinggiran kota yang berkelok
Marvel menarik rem tangan, membuat mobil mereka berputar 180 derajat di tikungan tajam yang berbatasan dengan jurang. Sambil menyetir dengan satu tangan, ia menurunkan kaca jendela dan memuntahkan tembakan ke arah ban SUV terdepan. DUAR! Mobil musuh itu terbalik dan meledak, menciptakan barikade api yang menghambat pengejar lainnya.
Musuh yang tersisa tidak menyerah. Mereka mengeluarkan senapan mesin dari jendela, memberondong bagian belakang mobil Marvel . Kaca belakang hancur berkeping-keping. Alya menjerit, menutupi kepalanya di bawah dasbor yang kini penuh serpihan kaca.
Marvel melihat sebuah truk tangki di depan. Bukannya melambat, ia justru memacu kecepatan. Ia menyalip di sela-sela ruang sempit antara truk dan pembatas jalan, memaksa SUV musuh untuk membanting stir ke arah yang salah dan menghantam bak truk.
Setelah melewati terowongan gelap, Marvel mematikan lampu utama mobil dan berbelok masuk ke jalan tanah yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Ia menghentikan mobil, mematikan mesin, dan suasana tiba-tiba menjadi sunyi senyap—hanya menyisakan detak jantung Elara yang memburu.
Marvel bersandar di kursi, darah menetes dari pelipisnya ke jok kulit. Ia menoleh ke arah Elara yang masih meringkuk. Dengan tangan yang masih memegang pistol, ia perlahan mengulurkan tangan lainnya untuk merapikan rambut Elara yang berantakan.
"Kita sudah jauh dari mereka," bisik Marvel , suaranya parau.
Elara mendongak, matanya berkaca-kaca menatap pria dingin yang baru saja menunjukkan sisi iblis dan pelindungnya secara bersamaan. "Mengapa kau melakukan ini untukku?"
Marvel terdiam. Pertanyaan itu lebih sulit dijawab daripada merancang strategi perang. "Karena kau adalah satu-satunya hal yang tidak ingin aku hancurkan di dunia ini."
Namun, di kegelapan hutan itu, sebuah titik laser merah tiba-tiba muncul di dada Marvel melalui lubang kaca depan yang pecah.
Marvel bereaksi secepat kilat. Sebelum titik merah itu sempat bergeser ke arah jantungnya, ia merangkul Elara dan menekannya hingga ke dasar kursi, sambil di saat yang sama menendang pintu mobil hingga terbuka lebar sebagai pengalih perhatian.
Ting!
Peluru sniper menghantam bingkai pintu logam, memercikkan bunga api tepat di atas kepala mereka.elara tidak memberi kesempatan kedua bagi si penembak.
Sambil tetap melindungi tubuh Elara dengan kaki dan badannya, marvel mengeluarkan magnum miliknya. Tanpa melihat menggunakan mata, hanya mengandalkan insting dan arah kilatan cahaya dari lensa sniper di kejauhan, ia melepaskan dua tembakan beruntun.
Terdengar suara benda berat jatuh dari pohon besar di seberang jalan. Titik laser itu menghilang. Sniper itu tumbang.
Marvel segera menghidupkan mesin kembali. Kali ini ia tidak lewat jalan utama. Ia memacu mobil menembus semak belukar hingga sampai di sebuah dermaga kecil yang tersembunyi. Di sana, sebuah kapal cepat (speedboat) sudah menunggu dengan mesin yang sudah menyala—disiapkan oleh tim logistik rahasianya.
Titik Aman: Mereka melesat membelah air laut yang gelap, meninggalkan daratan yang penuh api dan darah. Di atas kapal, Marvel akhirnya bisa bernapas lega. Ia memeriksa luka alya; hanya goresan kecil di lengan.
Vico merobek kain kemejanya sendiri, lalu dengan sangat lembut—gerakan yang sangat tidak biasa bagi seorang mafia kejam—ia membalut luka alya
"Kau aman sekarang," ucap marvel .Suaranya tidak lagi dingin, melainkan berat karena kelelahan dan kelegaan.
Elara menatap garis pantai yang menjauh. "Kau berhasil, Marvel Kita berhasil."
Marvel menatap tangannya yang gemetar bukan karena takut, tapi karena untuk pertama kalinya ia merasakan tanggung jawab atas nyawa seseorang yang ia cintai. Ia telah memenangkan pertempuran ini, dan ia telah berhasil menjaga "cahaya" terakhirnya tetap menyala.