NovelToon NovelToon
MAWAR DI TANGAN GAARA

MAWAR DI TANGAN GAARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:799
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: SANGKAR EMAS YANG TERKUNCI

Suara gemericik hujan yang tersisa di talang air terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuran. Juliet duduk diam di depan meja riasnya. Matanya yang sembap menatap bayangannya sendiri di cermin—seorang gadis yang tampak sempurna dengan gaun sutra merah mudanya, namun di dalamnya, ia merasa seperti mawar yang akarnya telah dicabut paksa dari tanah.

Adam tidak pulang ke hotel. Atas izin Pak Wijaya, pria itu menginap di kamar tamu agung. Kehadirannya di rumah ini terasa seperti kabut tebal yang menyesakkan. Adam terus mencoba bersikap manis, seolah-olah kemarahannya di taman tadi siang hanyalah angin lalu.

"Juliet, Sayang? Boleh aku masuk?"

Suara ketukan pintu itu membuat Juliet tersentak. Itu suara Adam. Lembut, teratur, dan penuh percaya diri.

"Masuklah," jawab Juliet pelan.

Adam melangkah masuk membawa sebuah kotak beludru kecil. Ia berjalan mendekati Juliet dan berdiri di belakangnya, menatap pantulan wajah tunangannya di cermin. Tangan Adam yang halus—tangan yang tidak pernah menyentuh cangkul atau lumpur—mendarat di bahu Juliet.

"Aku membawakan ini. Aku memesannya khusus dari seorang pengrajin di Sydney. Berlian merah muda, langka seperti dirimu," ucap Adam sambil membuka kotak itu.

Sebuah kalung berlian berkilau di bawah lampu kristal kamar Juliet. Indah, mahal, namun terasa berat seperti rantai bagi Juliet.

"Terima kasih, Adam. Tapi kau tidak perlu melakukan ini," Juliet mencoba tersenyum, meski bibirnya terasa kaku.

"Aku perlu melakukannya, Jul. Aku ingin mengingatkanmu bahwa tempatmu adalah di sini, bersamaku. Bukan di taman belakang bersama... orang-orang seperti itu." Adam mengecup puncak kepala Juliet. "Ayahmu sudah menceritakan semuanya. Tentang bagaimana si tukang kebun itu memanipulasi perasaanmu karena dendam masa lalu keluarganya. Dia hanya memanfaatkanmu, Sayang."

Juliet mengerutkan kening. "Memanipulasi? Gaara tidak pernah memintaku melakukan apa pun, Adam."

"Oh, Sayang. Orang-orang miskin punya cara yang sangat halus untuk terlihat seperti korban. Dia tahu kamu punya hati yang lembut, jadi dia menjual cerita sedih tentang ibunya agar kamu merasa iba dan memberikan uang. Itu taktik lama."

Juliet terdiam. Ia teringat tatapan mata Gaara yang tulus saat merawat mawar, dan tatapan penuh kebencian yang tertahan saat melihat ayahnya. Apakah itu semua hanya akting? Logikanya berkata tidak, tapi keraguan yang ditanamkan Adam mulai tumbuh seperti benalu.

"Besok kita akan pergi fitting baju pengantin," lanjut Adam tanpa menunggu jawaban Juliet. "Lupakan soal taman itu. Aku sudah menyewa perusahaan lanskap ternama untuk merombak total taman belakang. Kita akan mengganti mawar-mawar tua itu dengan tanaman yang lebih modern dan minimalis. Taman itu butuh nafas baru, seperti hubungan kita."

"Merombak total?" Juliet berbalik cepat, matanya membelalak. "Tapi itu mawar peninggalan Ibuku, Adam! Kau tidak bisa menghancurkannya begitu saja!"

Adam menghela napas, seolah sedang menghadapi anak kecil yang sedang tantrum. "Bunga-bunga itu sudah hampir mati, Jul. Dan jujur saja, mereka hanya mengingatkanmu pada kejadian memalukan dengan si tukang kebun itu. Kita butuh awal yang bersih. Percayalah padaku."

Adam mengecup dahi Juliet sekali lagi sebelum melangkah keluar kamar. "Tidurlah. Besok akan jadi hari yang panjang."

Begitu pintu tertutup, Juliet merasa dunianya runtuh. Menghancurkan taman mawar berarti menghancurkan satu-satunya memori fisik yang ia punya tentang ibunya. Dan ia tahu, ayahnya pasti setuju dengan rencana Adam.

Sementara itu, di sebuah sudut sempit di pinggiran Jakarta yang bising, Gaara sedang duduk di teras kontrakan batanya yang lembap. Ibunya sudah tertidur setelah meminum obat penenang. Di depannya, ada sebuah laptop tua yang layarnya sudah sedikit bergaris.

Gaara sedang menatap sebuah folder terenkripsi berjudul “Proyek Wijaya - 2016”.

Isinya adalah salinan cetak biru desain asli ayahnya yang dicuri oleh Pak Wijaya. Selama bertahun-tahun, Gaara mengumpulkan bukti-bukti digital, testimoni mantan karyawan yang dipecat secara tidak hormat, dan aliran dana gelap yang digunakan Pak Wijaya untuk menyuap pejabat agar desain ayahnya dipatenkan atas nama Grup Wijaya.

"Sedikit lagi," gumam Gaara. Tangannya mengepal erat.

Ia sebenarnya bisa saja membocorkan ini ke media sejak lama. Namun, ia tahu Pak Wijaya punya pengacara hebat yang bisa memutarbalikkan fakta. Ia butuh momen yang tepat. Momen di mana kehancuran Pak Wijaya akan menjadi tontonan publik yang paling memalukan.

Dan momen itu adalah pernikahan Juliet dan Adam.

Sebuah pesan masuk ke ponsel Gaara. Nomor tidak dikenal.

“Dia akan menghancurkan taman mawarmu besok pagi. Adam sudah memanggil buldoser kecil. Jika kau ingin menyelamatkan mawar Juliet Rose itu, kau tahu harus ke mana.”

Gaara menatap layar ponselnya lama. Ia tahu ini mungkin jebakan. Bisa jadi ini kiriman Vina yang ingin menjebaknya kembali ke rumah itu agar ditangkap polisi, atau mungkin kiriman Juliet yang sedang putus asa.

Namun, bagi Gaara, mawar itu bukan sekadar bunga. Itu adalah saksi bisu kebaikan ibu Juliet pada keluarganya. Ia tidak bisa membiarkan simbol kebaikan itu hancur di tangan pria sombong seperti Adam.

Gaara berdiri, mengambil jaket hitamnya, dan menyelipkan sebuah pisau lipat kecil ke saku celananya—bukan untuk melukai orang, tapi untuk memotong dahan mawar dengan teknik yang benar agar bisa dipindahkan.

Pukul tiga pagi. Rumah Wijaya sunyi senyap.

Juliet tidak bisa tidur. Ia duduk di balkon, memandangi taman yang gelap. Tiba-tiba, ia melihat bayangan seseorang bergerak di antara rumpun mawar. Jantungnya berdegup kencang. Apakah itu Gaara?

Tanpa pikir panjang, Juliet meraih senter kecil dan menyelinap keluar. Ia tidak peduli jika Adam atau ayahnya terbangun. Ia harus menyelamatkan mawar ibunya.

Ia sampai di tengah taman dan menemukan seseorang sedang sibuk menggali tanah dengan tangan kosong, persis seperti yang dilakukan Gaara di hari pertama.

"Gaara?" bisik Juliet.

Sosok itu berhenti. Saat cahaya senter Juliet mengenai wajahnya, benar saja, itu Gaara. Wajahnya terlihat sangat lelah, rambutnya acak-acakkan, dan tangannya berdarah karena terkena duri.

"Apa yang kau lakukan di sini?! Kau gila? Jika Adam melihatmu, dia akan menembakmu!" Juliet menarik lengan Gaara agar berdiri.

"Lepaskan, Juliet. Aku harus memindahkan mawar ini. Adam akan meratakan tempat ini besok pagi," ucap Gaara dengan suara serak.

"Kau tahu dari mana?"

Gaara tidak menjawab. Ia terus menggali, mencoba mengambil akar mawar Juliet Rose paling besar tanpa merusaknya. "Bantu aku memegang senter ini. Aku tidak punya banyak waktu."

Juliet tertegun. Di tengah dendam dan kebenciannya pada ayahnya, Gaara masih peduli pada warisan ibunya. Juliet berjongkok di samping Gaara, memegang senter dengan tangan gemetar.

"Kenapa kau peduli, Gaara? Kau bilang kau benci keluargaku."

Gaara berhenti sejenak, menatap mawar yang kini sudah mulai terangkat dari tanah. "Aku benci ayahmu. Aku benci tunanganmu. Tapi aku tidak pernah bisa membenci mawar ini... dan aku tidak bisa membenci orang yang merawatnya bersamaku malam itu."

Mata mereka bertemu di bawah temaram cahaya senter. Dalam keheningan malam, perasaan yang selama ini mereka coba tekan meledak begitu saja. Tidak ada kata-kata. Gaara perlahan mendekatkan wajahnya, dan Juliet tidak menarik diri.

Saat bibir mereka hampir bersentuhan, lampu taman yang sangat terang tiba-tiba menyala, membutakan mata mereka.

"Lihat siapa yang sedang berkencan di tengah malam!"

Suara melengking Vina terdengar dari arah teras. Di sampingnya berdiri Adam, yang wajahnya kini terlihat sangat mengerikan, dan Pak Wijaya yang tampak sangat murka. Di tangan Adam, ada sebuah tongkat golf besi yang berkilau di bawah lampu.

"Jadi ini alasanmu menolakku di kamar tadi, Juliet?" suara Adam bergetar karena amarah yang memuncak. "Kau lebih memilih kotoran tanah ini daripada aku?"

Adam melangkah maju dengan cepat. Ia mengayunkan tongkat golfnya ke arah pot bunga di dekat Gaara, menghancurkannya hingga berkeping-keping.

"Adam, berhenti!" teriak Juliet, mencoba menghalangi.

"Minggir, Juliet! Aku akan memberi pelajaran pada tikus ini!"

Adam mengayunkan tongkatnya ke arah Gaara. Gaara yang sigap berhasil menghindar, namun bahunya terkena hantaman keras. Gaara tersungkur ke tanah, tepat di atas mawar yang baru saja ia gali.

"Gaara!" Juliet berlari memeluk Gaara yang merintih kesakitan.

"Hebat sekali," sindir Pak Wijaya sambil berjalan mendekat. "Seorang pewaris Wijaya bersimpuh di kaki seorang pengemis. Kau benar-benar memalukan, Juliet."

Pak Wijaya menatap Gaara dengan jijik. "Aku sudah memperingatimu. Sekarang, jangan salahkan aku jika kau menghabiskan sisa hidupmu di balik jeruji besi. Adam, panggil polisi. Katakan ada pencuri yang mencoba masuk dan melukai anggota keluarga."

"Dia bukan pencuri! Dia mencoba menyelamatkan mawar Ibu!" Juliet berteriak di depan wajah ayahnya.

"Mawar itu sudah mati, sama seperti ibumu!" bentak Pak Wijaya.

Kalimat itu seperti petir di siang bolong bagi Juliet. Ia menatap ayahnya dengan tatapan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya—tatapan kebencian murni.

"Kau benar, Yah," ucap Juliet pelan, suaranya dingin dan tajam. "Ibu memang sudah mati. Dan sekarang aku tahu kenapa dia lebih memilih mati daripada hidup lebih lama dengan pria sepertimu."

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Juliet. Pak Wijaya gemetar karena marah.

Gaara, meski bahunya cedera, bangkit dengan sisa tenaganya. Ia berdiri di depan Juliet, melindunginya dari ayahnya sendiri.

"Jangan pernah sentuh dia lagi," ucap Gaara dengan nada yang sangat rendah namun mengancam. "Atau aku pastikan besok pagi, seluruh dunia akan tahu bahwa kekayaan Grup Wijaya dibangun di atas darah dan air mata arsitek yang kau bunuh secara perlahan."

Pak Wijaya membeku. Rahasianya... Gaara benar-benar memegangnya.

"Kau tidak punya bukti," bisik Pak Wijaya, mencoba tenang meski keringat dingin mulai bercucuran.

"Coba saja," tantang Gaara. "Polisi akan datang sebentar lagi, kan? Mari kita lihat siapa yang akan mereka borgol lebih dulu. Pencuri bunga, atau pencuri hak kekayaan intelektual yang menyebabkan kematian seseorang."

Suasana mendadak hening. Bahkan Adam yang tadinya beringas kini terdiam, menatap Pak Wijaya dengan penuh tanya.

"Paman? Apa yang dia bicarakan?" tanya Adam bingung.

Pak Wijaya tidak menjawab. Ia menatap Gaara dengan kebencian yang bercampur ketakutan. Ia tahu, jika polisi datang dan Gaara mulai bicara, semuanya akan tamat.

"Adam... turunkan tongkatmu," ucap Pak Wijaya lirih.

"Tapi Paman—"

"Aku bilang turunkan!" bentak Pak Wijaya.

Pak Wijaya menatap Gaara. "Bawa mawar itu. Pergi sekarang. Dan jangan pernah kembali. Jika kau menyebarkan satu kata pun... aku tidak akan segan-segan menghabisimu."

Gaara tersenyum pahit. Ia meraih tangan Juliet. "Ayo, Juliet. Kita pergi dari sini."

Juliet menatap ayahnya, lalu menatap Adam yang berdiri mematung. Ia merasakan sebuah kebebasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia melepaskan kalung berlian pemberian Adam dan membuangnya ke atas tanah yang becek.

"Aku tidak butuh berlianmu, Adam. Aku lebih suka duri mawar ini," ucap Juliet.

Namun, saat mereka hendak melangkah pergi, Vina berteriak. "Kalian pikir bisa pergi begitu saja? Paman boleh takut, tapi aku tidak!"

Vina mengeluarkan ponselnya. "Aku sudah merekam semuanya. Jika kalian melangkah satu senti saja dari gerbang itu, video ini akan tersebar dan nama Juliet akan hancur sebagai wanita murahan yang lari dengan tukang kebun!"

Langkah Juliet terhenti. Ia menoleh ke arah Vina.

Gaara meremas tangan Juliet, memberinya kekuatan. "Biarkan saja, Juliet. Nama baik bisa dibangun kembali, tapi jiwa yang mati tidak akan bisa hidup lagi."

Juliet mengangguk. Mereka terus berjalan menyusuri jalan setapak taman, meninggalkan rumah mewah yang kini terasa seperti kuburan bagi mereka.

Di belakang mereka, Adam berteriak frustrasi dan menghancurkan sisa-sisa mawar yang ada dengan tongkat golfnya. Sementara Pak Wijaya terduduk di kursi taman, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan harta paling berharganya—bukan perusahaannya, tapi putrinya sendiri.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!