Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Arogansi Elang Hitam dan Belah Lautan
Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam yang pekat. Di atas perairan perbatasan Laut Selatan, sebuah helikopter militer hitam berlogo Garuda terbang membelah awan dengan kecepatan penuh.
Di dalam kabin, Arya duduk bersila dengan mata terpejam. Jaket katunnya berkibar pelan terkena angin dari celah jendela. Berbeda dengan para prajurit elit Kopassus di sekelilingnya yang mengenakan perlengkapan tempur taktis dan wajah tegang, Arya terlihat seolah sedang menumpang helikopter wisata.
Sebelum berangkat, ia telah memastikan Nadia aman. Istrinya itu menunjukkan bakat kultivasi yang sangat mengerikan; hanya dalam semalam, Sutra Bulan Es Sejati telah membentuk pusaran Qi dingin di Dantian-nya. Selama Nadia berada di dalam formasi rumah, bahkan rudal balistik pun tidak akan mampu menyentuhnya.
"Tuan Arya," suara berat Kapten Bayu, komandan tim elit yang mendampinginya, memecah keheningan kabin. "Kita akan tiba di perimeter Pulau Karang Kematian dalam lima menit. Namun, radar kami mendeteksi masalah besar."
Arya membuka matanya secara perlahan. "Masalah?"
Kapten Bayu menyerahkan sebuah teropong militer. "Garis blokade angkatan laut kita telah ditembus. Armada dari 'Aliansi Elang Hitam'—kekuatan militer gabungan dari negara-negara Barat—telah memblokir perairan masuk menuju pulau. Mereka mengklaim pulau itu muncul di perairan internasional dan menolak yurisdiksi kita."
Arya tidak mengambil teropong itu. Mata spiritualnya sudah menembus jarak puluhan kilometer ke depan.
Di cakrawala, kabut ungu pekat yang memancarkan aura Miasma Spiritual berputar-putar menutupi sebuah pulau karang raksasa. Di depan kabut tersebut, tiga kapal perusak (destroyer) raksasa berbendera Aliansi Elang Hitam berjejer angkuh. Moncong-moncong meriam mereka diarahkan langsung ke dua kapal fregat milik angkatan laut tuan rumah yang ukurannya jauh lebih kecil.
Dari pengeras suara kapal perusak asing itu, terdengar suara pengumuman dalam bahasa Indonesia yang terpatah-patah dan penuh nada mengejek.
"Perhatian kepada kapal militer lokal. Ini adalah Komandan Krueger dari Pasukan Khusus Elang Hitam. Putar balik kapal rongsokan kalian sekarang juga. Pulau ini dan semua artefak di dalamnya sekarang berada di bawah yurisdiksi Aliansi Elang Hitam. Jika kalian melintasi garis ini, kami akan menenggelamkan kalian!"
Di atas geladak kapal fregat Indonesia, para perwira mengepalkan tangan hingga buku jari mereka memutih. Ini adalah perairan mereka, namun kekuatan militer dan teknologi lawan terlalu jauh di atas mereka. Jika mereka menembak, itu sama saja dengan bunuh diri massal.
Namun, yang membuat para prajurit Indonesia paling gentar bukanlah meriam kapal tersebut.
Di atas permukaan air laut, tepat di antara garis perbatasan kedua armada, seorang pria kaukasia bertubuh setinggi dua meter berdiri... tepat di atas ombak. Ia tidak tenggelam. Pria itu mengenakan setelan tempur berbahan logam cair, dan lengannya memancarkan aliran listrik biru yang menyambar-nyambar ke air laut di sekitarnya.
"Manusia mutan tingkat S," Kapten Bayu menelan ludah, wajahnya memucat melihat dari monitor helikopter. "Proyek rahasia militer Barat. Mereka menyuntikkan serum genetik dan menggunakan teknologi fusi untuk menciptakan tentara super. Pria bernama Krueger itu... kudengar dia bisa menghancurkan kapal selam dengan tangan kosong."
Helikopter yang ditumpangi Arya kini bermanuver dan mengudara tepat di atas kapal fregat Indonesia, berhadapan langsung dengan armada asing tersebut.
Melihat helikopter itu, Krueger yang berdiri di atas air mendongak. Ia tertawa keras, tawanya diperkuat oleh teknologi di kerahnya hingga menggema di atas lautan.
"Kalian mengirim helikopter transportasi? Untuk apa? Menjemput mayat kalian sendiri?" ejek Krueger. "Dengar, monyet-monyet Asia! Dunia ini milik yang kuat. Teknologi dan evolusi genetik kami adalah puncak rantai makanan. Pulanglah sebelum aku memanggang kalian semua menjadi ikan bakar!"
Krueger mengangkat tangan kanannya. Sebuah bola petir berwarna biru menyilaukan seukuran mobil mulai terkondensasi di telapak tangannya, menciptakan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Ia bersiap melemparkan bola petir itu ke arah kapal fregat Indonesia sebagai peringatan.
Kapten Bayu dan para prajurit elit pucat pasi. "Persiapkan perisai anti-rudal! Tembak jatuh mutan itu!"
Namun, sebelum ada prajurit yang sempat menarik pelatuk, pintu samping helikopter mendadak terbuka lebar.
Arya bangkit dari duduknya. Ia memandang ke bawah, menatap mutan petir dan tiga kapal perusak raksasa itu dengan tatapan kebosanan yang luar biasa.
"Evolusi genetik? Puncak rantai makanan?" gumam Arya pelan. "Kalian hanyalah tikus lab yang bermain dengan percikan api."
Tanpa memakai parasut, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Kapten Bayu, Arya melangkah keluar dari helikopter di ketinggian seratus meter.
"Tuan Arya!!" Kapten Bayu menjerit ngeri.
Tubuh Arya meluncur ke bawah. Namun, alih-alih jatuh menghantam air, kecepatannya melambat di sepuluh meter terakhir. Ia mendarat dengan ringan, persis sehelai bulu, menapakkan ujung sepatunya di atas permukaan laut. Riak air di bawah kakinya bahkan tidak memercik.
Seluruh medan tempur mendadak hening. Baik prajurit Indonesia maupun pasukan asing di atas kapal perusak menatap pemuda berjaket katun yang mendadak turun dari langit itu.
Krueger, sang tentara super, mengernyitkan dahi. Ia menatap pemuda kurus di depannya yang berdiri di atas air tanpa bantuan teknologi apa pun.
"Kau siapa? Pesulap murahan?" Krueger mendengus, bola petir di tangannya berderak semakin ganas. "Tidak peduli trik apa yang kau pakai, kau akan mati!"
Krueger melemparkan bola petir raksasa itu langsung ke arah Arya. Kecepatannya melampaui peluru kendali, membawa panas yang cukup untuk melelehkan baja.
Kapten Bayu menutup matanya, tak sanggup melihat utusan Sang Jenderal hancur menjadi abu.
Namun, Arya tidak menghindar. Ia perlahan mengeluarkan tangan kanannya dari saku. Matanya yang gelap memancarkan kedinginan mutlak.
Saat bola petir itu berjarak satu jengkal dari wajahnya, Arya hanya meniupnya pelan.
Wuuussshh.
Sama seperti meniup lilin ulang tahun, bola petir mutakhir seukuran mobil yang membawa daya hancur puluhan ribu volt itu... padam seketika. Berubah menjadi kepulan asap tipis yang tertiup angin laut.
Mata Krueger membelalak hingga nyaris keluar dari soketnya. "M-mustahil! Itu petir plasma bersuhu empat ribu derajat!"
"Empat ribu derajat?" Arya memiringkan kepalanya sedikit. "Di duniaku, suhu seperti itu bahkan tidak cukup hangat untuk merebus teh daun roh."
Sebelum Krueger sempat memproses apa yang terjadi, Arya menjentikkan jarinya ke udara kosong.
BAM!
Dada Krueger melesak ke dalam seolah baru saja dihantam oleh palu godam tak kasat mata seberat puluhan ton. Setelan logam cairnya hancur berkeping-keping. Mutan tingkat S kebanggaan militer Barat itu memuntahkan darah bercampur potongan organ dalam, dan tubuhnya terhempas ke belakang sejauh dua kilometer, melesat di atas air seperti batu yang dilempar, sebelum akhirnya tenggelam dan tak pernah muncul lagi.
Satu jentikan jari. Prajurit terkuat mereka tewas bagai lalat.
Di atas kapal-kapal perusak Aliansi Elang Hitam, kepanikan total meledak. Alarm tempur meraung-raung.
"Tembak!! Tembak monster itu!! Gunakan meriam utama!!" teriak komandan armada asing dengan suara bergetar ketakutan.
Ketiga kapal perusak serentak memutar laras meriam utama mereka. Tiga proyektil meriam raksasa ditembakkan, menciptakan ledakan bubuk mesiu yang memekakkan telinga.
Menghadapi peluru meriam raksasa yang meluncur ke arahnya, Arya membuang napas pelan.
"Kalian terlalu berisik," desis Arya.
Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke atas langit, lalu mengayunkannya ke bawah dalam satu tebasan vertikal yang sederhana.
Sebuah bilah cahaya keemasan setinggi lima puluh meter, terbentuk murni dari Qi spiritual, membelah langit dan lautan secara bersamaan. Bilah cahaya itu melesat ke depan, menyapu ketiga peluru meriam itu hingga menguap menjadi debu di udara.
Namun, bilah itu tidak berhenti.
ZZRRAAASSSHH!
Suara robekan logam yang sangat mengerikan bergema di atas lautan.
Kapal perusak asing yang berada di posisi tengah—sebuah monster baja berbobot sembilan ribu ton—terbelah menjadi dua bagian yang simetris dari ujung haluan hingga buritan, seolah itu hanyalah sepotong balok tahu yang dipotong oleh pisau panas.
Potongan kapal raksasa itu perlahan miring dan mulai tenggelam ditelan ombak, disusul oleh jeritan para tentara asing yang melompat ke laut. Dua kapal perusak lainnya yang berada di sisi kiri dan kanan langsung mematikan mesin mereka, membeku dalam teror absolut. Tak ada satupun meriam yang berani diarahkan lagi.
Di atas geladak kapal fregat Indonesia dan helikopter, Kapten Bayu beserta seluruh prajurit menjatuhkan rahang mereka. Senjata terkuat, kebanggaan, dan arogansi militer Barat baru saja dipotong menjadi dua hanya dengan lambaian tangan seorang pemuda!
Arya menurukan tangannya. Ia bahkan tidak melirik kapal asing yang sedang tenggelam itu. Baginya, menghancurkan kapal baja fana tidak lebih dari mematahkan mainan plastik.
Ia membalikkan badannya, berjalan dengan santai di atas ombak, melangkah masuk ke dalam pusaran kabut ungu pekat yang menutupi Pulau Karang Kematian, dan perlahan menghilang dari pandangan.