NovelToon NovelToon
Cinta Diruang Trauma

Cinta Diruang Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: Anjelisitinjak

Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 15

Sudah beberapa minggu setelah kejadian itu akhirnya hari yang dinanti-nanti itu akhirnya menyapa dengan cahaya matahari yang terasa begitu megah.

Kampus berubah menjadi lautan toga dan warna-warni kebaya. Udara dipenuhi aroma parfum mahal, sapaan riuh, dan tangis haru yang tertahan.

​Aku, Diva, dan Dhea sudah berjanji untuk tampil seragam namun tetap memiliki karakter masing-masing. Kami memilih kebaya kutubaru modern dengan bahan brokat prancis bermotif floral yang rumit dan elegan.

​Aku mengenakan warna rose gold yang lembut, memberikan kesan anggun sekaligus bercahaya di kulitku.

​Diva tampil memukau dengan warna emerald green yang mewah.

​Dhea memilih warna navy blue yang memberikan kesan tegas namun tetap cantik.

​Bawahan kami adalah kain batik tulis motif parang yang melambangkan jalinan yang tidak pernah putus dan semangat yang membara. Rambutku disanggul modern dengan hiasan hairpin mutiara kecil yang berkilau setiap kali aku menoleh.

​"Kita akhirnya sampai di sini, Guys,"

bisik Dhea sambil menggenggam tanganku dan Diva saat kami berjalan menuju gedung serbaguna.

Matanya berkaca-kaca, merusak sedikit maskara yang ia pakai.

​"Jangan nangis dulu, Dhe! Nanti makeup kita luntur sebelum difoto Tomi!" canda Diva, meski suaranya sendiri terdengar bergetar.

​Kami duduk di kursi mahasiswa yang telah disusun rapi sesuai nomor urut. Aku menoleh ke barisan kursi orang tua di belakang. Jantungku berdesir hebat saat melihat Papa dan Mama sudah duduk di sana.

​Mama terlihat sangat cantik dan bersahaja dengan kebaya yang warnanya senada denganku—rose gold. Beliau menyanggul rambutnya dengan rapi, membuat kalung pemberian Papa semalam terlihat jelas berkilau di lehernya. Di sampingnya, Papa tampak sangat gagah dan berwibawa mengenakan setelan jas hitam dengan dasi yang warnanya serasi dengan kebaya Mama.

​Saat mata kami bertemu, Papa memberikan anggukan bangga yang sangat dalam, sementara Mama melambaikan tangan kecil sambil menghapus sudut matanya dengan tisu.

Melihat mereka seharmonis itu di hari besarku adalah kado yang jauh lebih indah daripada ijazah yang akan kuterima nanti.

​Suara musik Gaudeamus Igitur mulai menggema menandakan prosesi wisuda dimulai.

Aku menarik napas panjang, mencoba meresapi setiap detik kebahagiaan ini. Di barisan depan, aku melihat Tomi yang sesekali menoleh ke arahku, memberikan jempol rahasia dan senyum lebarnya yang khas.

​Untuk sejenak, dunia terasa sempurna. Tidak ada bayang-bayang masa lalu, tidak ada ketakutan. Hanya ada aku keberhasilanku, dan keluarga yang kembali utuh.

Suasana gedung yang tadinya riuh mendadak terasa senyap di telingaku saat sang pembawa acara menyebutkan sebuah nama dengan lantang melalui pengeras suara.

"Selanjutnya, wisudawati dengan predikat Summa Cum Laude, lulusan terbaik dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis..."

Suara itu menggema, memberikan jeda yang mendebarkan.

"Hana Alysia Gunawan, S.M. Putri dari Bapak Dhani Gunawan dan Ibu Maya Gunawan. Dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,97."

(Anjayyyyy🤣🤣🤣)

Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Aku tertegun di kursi, tidak menyangka bahwa kerja keras dan air mataku selama ini membuahkan hasil setinggi ini. Diva dan Dhea langsung memelukku kiri-kanan dengan heboh.

"Han! Itu kamu! Maju, Han!" bisik Dhea sambil menangis bahagia.

Aku berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar, melangkah menuju podium di atas panggung besar itu. Setiap langkahku diiringi oleh tepuk tangan yang membahana dari seluruh penjuru gedung. Saat aku menoleh sekilas ke barisan orang tua, pemandangan itu membuat dadaku sesak oleh rasa haru.

Papa dan Mama berdiri dari kursi mereka. Papa yang biasanya terlihat kaku dan tegar, kini tidak ragu bertepuk tangan dengan sangat keras, matanya berkaca-kaca penuh kebanggaan. Sementara Mama sudah terisak, menutup wajahnya dengan sapu tangan, benar-benar hancur dalam rasa syukur melihat putrinya berdiri di sana.

Aku naik ke podium, menerima map ijazah dan bersalaman dengan Rektor. Di bawah panggung, aku bisa melihat Tomi yang berdiri di barisannya, dia bertepuk tangan paling kencang sambil berteriak kecil,

"Hebat, Hana!"

Rasanya luar biasa.

Gelar sarjana manajemen ini bukan sekadar gelar bagiku. Ini adalah bukti bahwa aku bisa bangkit dari kehancuran masa lalu. Aku membuktikan pada diriku sendiri bahwa meski sempat jatuh di lubang yang sangat dalam bersama Wira, aku mampu merangkak naik dan berdiri di puncak ini.

"Selamat, Hana. Pertahankan prestasimu," ucap Pak Rektor sambil memindahkan tali togaku dari kiri ke kanan.

Aku mengangguk, tersenyum lebar ke arah kamera, dan terutama ke arah kedua orang tuaku.

Di titik ini, aku merasa semua luka lama terbayar tuntas. Aku ingin selamanya seperti ini; melihat Papa dan Mama bangga, dan menjalani hidup yang terang.

Setelah prosesi wisuda yang khidmat selesai, gedung yang tadinya formal seketika berubah menjadi lautan tawa dan haru. Sesi foto yang paling ditunggu-tunggu pun dimulai. Aku, Papa, dan Mama segera berkumpul di area photo booth yang sudah dihias cantik.

"Sini sayang, Papa mau foto di sebelah lulusan terbaik Papa," ujar Papa dengan nada bangga yang tak bisa disembunyikan.

Ia merangkul pundakku erat, sementara Mama memeluk lenganku dari sisi lain.

Cekrek! Kilatan kamera mengabadikan senyum kami yang paling tulus.

Tak lama kemudian, keluarga Dhea dan Diva pun bergabung. Suasana menjadi semakin ramai dan hangat. Orang tua kami yang selama ini hanya saling tahu nama, kini bertemu langsung dalam suasana yang sangat akrab.

"Aduh, selamat ya Jeng Maya, Pak Dhani! Hana luar biasa sekali, lulusan terbaik!" seru Mama Dhea sambil menyalami orang tuaku dengan antusias.

"Terima kasih, Jeng. Dhea juga hebat, akhirnya mereka bertiga lulus bareng-bareng," balas Mama sambil tersenyum lebar.

Papa juga tampak asyik mengobrol dengan ayah Diva.

"Iya Pak, nggak terasa ya, kayaknya baru kemarin mereka sibuk cari tempat kos, sekarang sudah sarjana saja. Semoga setelah ini mereka bisa sukses di dunia kerja," ucap Papa sambil menjabat tangan Ayah Diva dengan akrab.

"Amin! Pokoknya mereka bertiga ini sudah kayak paket lengkap, Pak. Di mana ada Hana, di situ ada Dhea dan Diva," timpal Ayah Diva yang disambut tawa oleh semua orang.

Kami bertiga aku, Dhea, dan Diva berdiri di tengah-tengah kerumunan orang tua kami, saling berpelukan dan tertawa lepas.

"Guys, lihat deh orang tua kita. Akrab banget kayak udah temenan sepuluh tahun!" bisik Dhea sambil menyenggol lenganku.

"Iya, seneng banget liatnya. Nggak sia-sia kita begadang ngerjain skripsi kalau akhirnya begini," jawab Diva sambil mengusap air mata bahagianya.

Aku melihat ke sekeliling, merasakan energi positif yang luar biasa. Di satu sudut, aku melihat Tomi dan Yogi juga sedang sibuk berfoto dengan keluarga mereka. Tomi sempat melirik ke arahku, mengangkat ijazahnya tinggi-tinggi sambil memberikan senyum paling lebar yang pernah kulihat.

Hari ini, semua beban seolah hilang. Aku merasa benar-benar dicintai dan dihargai. Melihat orang tuaku tertawa bersama orang tua sahabat-sahabatku adalah pemandangan yang menyembuhkan banyak luka lama di hatiku.

Di tengah keramaian itu, sosok Tomi berjalan menghampiri kami. Ia tidak sendirian, di belakangnya tampak sepasang suami istri yang wajahnya sangat mirip dengannya ramah dan penuh senyum.

Tomi terlihat gagah dengan toganya, wajahnya berseri-seri saat memperkenalkan kami.

"Ma, Pa, ini Hana. Teman Tomi yang tadi jadi lulusan terbaik itu," ucap Tomi dengan nada bangga yang tak bisa disembunyikan.

Mama Tomi langsung memegang tanganku, menatapku dengan binar kagum.

"Wah, ini toh yang namanya Hana? Cantik sekali, Nak. Selamat ya, Tomi sering cerita soal kamu, tapi aslinya jauh lebih anggun ternyata," ujar beliau tulus.

Aku tersipu malu sambil menyalami mereka. "Terima kasih, Tante. Tomi juga banyak bantu Hana selama kuliah."

Melihat itu, Papa dan Mama segera menyambut orang tua Tomi. Suasana seketika menjadi sangat cair. Papa menjabat tangan Papa Tomi dengan erat.

"Dhani Gunawan, ayahnya Hana. Selamat juga ya Pak buat putranya," ucap Papa ramah.

"Saya Agung wijaya, ayahnya Tomi. Wah, Pak Dhani, anak-anak kita hebat-hebat ya. Kayaknya mereka kompak banget ini belajarnya," balas Papa Tomi sambil tertawa.

Tak butuh waktu lama bagi para orang tua orang tua aku, Dhea, Diva, dan Tomi untuk merasa akrab. Kami semua akhirnya memutuskan untuk duduk di satu baris meja panjang di area kantin VIP gedung wisuda. Di sana, suasana berubah menjadi reuni keluarga besar.

"Jeng, ini si Dhea kalau di rumah bawelnya minta ampun, eh ternyata di kampus bisa lulus juga ya," canda Mama Dhea yang disambut tawa oleh Mama Tomi dan Mamaku.

"Sama saja Jeng, si Tomi ini kalau nggak ada Hana sama teman-temannya mungkin skripsinya nggak kelar-kelar karena asyik main melulu," timpal Mama Tomi sambil melirik putranya yang hanya bisa nyengir pasrah.

Kami para wisudawan hanya bisa duduk berjejer mendengarkan para orang tua saling bertukar cerita masa kecil kami, sesekali kami ikut tertawa atau protes kalau cerita mereka mulai terlalu memalukan. Rasanya hangat sekali melihat mereka semua bisa bersenda gurau seperti itu.

Setelah hampir dua jam mengobrol, kami berenam aku, Dhea, Diva, Tomi, Yogi, dan Renata saling memberi kode lewat tatapan mata. Kami ingin merayakan ini dengan cara kami sendiri.

"Ma, Pa... Tante, Om... boleh nggak kalau sore ini kami berenam pamit sebentar buat ngumpul di kafe? Mau perayaan kecil-kecilan bareng teman-teman," ijin Tomi mewakili kami semua.

Papa menatapku, lalu melirik Papa Tomi. "Gimana Pak Agung ? Kasih ijin?"

"Tentu saja! Hari ini hari mereka. Silakan bersenang-senang, yang penting tetap hati-hati," jawab Papa Tomi yang disetujui oleh semua orang tua.

"Makasih, Pa! Makasih, Ma!" seru kami hampir bersamaan.

Kami pun bersiap-siap. Rasa lelah setelah prosesi wisuda yang panjang seolah hilang digantikan semangat untuk merayakan kelulusan ini.

1
li l
next part thor up jam berapa 🤭
Anjeli: hehe ditunggu ya jangan lupa like dan vote nya🫶😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!