NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Daffa memasuki kantor dengan langkah terburu-buru, wajahnya tegang dan penuh tekanan.

Begitu tiba di ruangannya, dua orang kepercayaannya, asisten pribadinya, Viqi, dan sekretarisnya, Mira, mengikuti langkahnya dengan wajah cemas.

"Pak Daffa, kita ada masalah besar!" Viqi membuka suara begitu pintu tertutup. "Beberapa proyek utama kita mengalami kendala serius. Para investor mulai menarik dana mereka, dan kalau ini terus berlanjut, kita terancam tidak bisa melanjutkan proyek-proyek itu."

Daffa menghela napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. "Berapa banyak yang sudah menarik dana mereka?"

"Lima investor besar sudah mengonfirmasi penarikan mereka, dan ada kemungkinan yang lain akan menyusul," jawab Viqi dengan nada penuh kecemasan.

Mira, yang sejak tadi memegang beberapa berkas, ikut angkat bicara, "Pak, jika proyek ini benar-benar gagal, kita tidak hanya kehilangan kepercayaan investor. Kita juga akan kehilangan kesempatan untuk ikut serta dalam tender proyek besar dari Wijaya Group. Ini bisa menjadi pukulan telak bagi perusahaan."

Mendengar nama Wijaya Group, ekspresi Daffa semakin keruh. Itu adalah proyek bernilai miliaran yang selama ini mereka incar. Jika mereka gagal dalam proyek saat ini, nama baik perusahaan akan tercoreng, dan peluang mereka untuk mendapatkan proyek dari Wijaya Group akan sirna.

Daffa duduk di kursinya dengan kasar, kedua tangannya mengepal di atas meja. "Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkan ini terjadi. Kita harus bertindak cepat!"

"Apa yang harus kita lakukan, Pak?" Viqi bertanya, siap dengan segala instruksi.

"Pertama, Viqi, aku ingin kau menyelidiki dengan detail proyek-proyek yang mengalami masalah. Cari tahu apa penyebabnya! Apakah ada kelalaian dari tim kita, sabotase, atau faktor lain? Aku ingin laporan lengkap secepatnya!"

"Baik, Pak! Saya akan segera menghubungi tim audit dan investigasi internal untuk menyelidikinya," jawab Viqi dengan sigap.

Daffa kemudian mengalihkan pandangannya ke Mira. "Mika, aku ingin kau mengatur pertemuan dengan para investor yang sudah menarik dana mereka. Aku harus berbicara langsung dengan mereka, meyakinkan mereka bahwa proyek ini masih bisa berjalan dan akan memberikan hasil yang mereka harapkan. Aku tidak peduli seberapa sulitnya, aku akan memastikan mereka tidak meninggalkan kita."

Mira mengangguk cepat. "Saya akan segera menjadwalkannya, Pak."

Daffa bangkit dari kursinya, matanya penuh dengan tekad. "Kita tidak akan kalah dalam permainan ini. Aku tidak peduli seberapa beratnya tantangan ini, kita harus memenangkan kembali kepercayaan mereka!"

Laras berjalan mondar-mandir di dalam kamar dengan wajah tegang. Tangannya terus mengelus perutnya yang buncit, sementara pikirannya dipenuhi kecemasan. Ia menggigit bibir bawahnya, matanya sesekali melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur.

"Tidak mungkin... Perusahaan Daffa bangkrut? Itu tidak mungkin!" gumamnya panik. "Tapi... kalau benar? Aku tidak bisa hidup miskin! Aku tidak bisa!"

Ketakutan menyelimutinya. Selama ini, ia hidup dengan kemewahan, semua keinginannya selalu terpenuhi. Jika benar Daffa akan kehilangan semuanya, bagaimana dengan dirinya? Bagaimana dengan anaknya nanti?

Dengan cepat, Laras meraih ponselnya dan segera menekan nomor Daffa. Ia menunggu dengan gelisah, kaki terus mengetuk lantai dengan tidak sabar. Setelah beberapa detik, panggilannya tersambung.

"Halo, Mas!" suara Laras terdengar cemas.

Daffa yang sedang berada di ruangannya, baru saja menyelesaikan instruksi kepada asistennya, menghela napas panjang. "Ada apa, Laras? Aku sibuk."

"Sibuk? Apa yang sebenarnya terjadi, Mas? Jangan bilang kalau semua yang dikatakan Lestari tadi itu benar! Perusahaan kita bangkrut?" nada suara Laras meninggi.

Daffa memijat pelipisnya. "Jangan asal bicara. Aku sedang mengatasi masalah ini."

"Jadi benar ada masalah?!" suara Laras semakin melengking. "Kenapa Mas tidak pernah bilang apa-apa padaku? Aku ini istrimu! Aku berhak tahu!"

Daffa mendesah kasar. "Aku tidak ingin membuatmu panik, Laras. Aku butuh fokus untuk menyelesaikan ini, bukan mendengar omelanmu!"

"Omelan?!" Laras hampir saja menjatuhkan ponselnya karena marah. "Mas Daffa! Aku ini sedang hamil anakmu! Bagaimana mungkin aku tidak panik kalau tiba-tiba aku harus jatuh miskin?!"

"Jangan berlebihan, Laras," kata Daffa dengan nada dingin. "Aku masih punya cara untuk menyelamatkan perusahaan ini. Jangan terlalu banyak drama."

"Drama? Jadi menurut Mas, aku ini berlebihan?! Aku hanya ingin memastikan bahwa aku dan anak kita masih akan punya kehidupan yang layak! Apa Mas tidak peduli?!"

Daffa menutup matanya, menahan kesabaran.

"Aku peduli, Laras. Tapi caramu ini tidak membantu! Aku sedang bekerja!"

"Oh, jadi aku ini mengganggu pekerjaan Mas?

Baiklah! Aku tidak akan mengganggu lagi! Tapi ingat, Mas! Jika sampai kita jatuh miskin, aku tidak akan tinggal diam!" bentak Laras sebelum memutus panggilan dan melemparkan ponselnya ke tempat tidur dengan kasar.

Dadanya naik turun menahan emosi. Air mata hampir menggenang di sudut matanya, tetapi ia menahannya dengan keras. Ia tidak akan membiarkan dirinya terpuruk. Jika benar perusahaan Daffa dalam bahaya, ia harus memikirkan cara agar tetap bertahan.

"Aku harus melakukan sesuatu... Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi!" katanya dengan suara gemetar. Tangannya mengepal kuat. "Aku harus memastikan aku dan anakku tetap hidup dalam kemewahan!"

Daffa menutup ponselnya dengan wajah yang semakin kesal. Rahangnya mengeras, matanya menatap kosong ke meja kerja, seakan-akan mencoba mencari solusi dalam pikirannya yang kalut. Tak lama, Tika masuk dengan wajah ragu-ragu.

"Pak Daffa, saya sudah mencoba menghubungi semua investor, tapi..." Miraa menggigit bibirnya, sedikit takut melihat ekspresi atasannya. "Sebagian besar dari mereka menolak bertemu. Namun, ada satu investor yang masih bersedia menemui Bapak."

Daffa mendongak, matanya menajam. "Siapa?"

"Pak Adrian dari PT Jaya Sentosa. Beliau masih mau mendengar penjelasan Bapak, tapi kita harus segera menentukan jadwal pertemuan."

Daffa menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan emosinya. "Baik. Atur pertemuan dengan Pak Adrian secepatnya. Aku ingin bicara langsung dengannya."

"Baik, Pak. Saya akan segera mengatur jadwalnya." Mira membungkuk sedikit sebelum keluar dari ruangan, meninggalkan Daffa yang masih termenung.

Sementara itu, di rumah, Laras menyambar tasnya dengan kasar. Rasa gelisah dan ketakutan masih menggelayut di hatinya setelah perdebatan sengit dengan Daffa di telepon. Ia tak bisa diam saja. Ia harus tahu kebenarannya langsung dari sumber lain.

Saat ia hendak melangkah keluar, suara tegas ibu mertuanya, Bu Rina, menghentikan langkahnya.

"Laras, mau ke mana kamu?" Suara Bu Rina terdengar tajam.

Laras menoleh dengan kesal. "Saya mau keluar, Ma. Saya harus tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan perusahaan Mas Daffa."

Bu Rina menggeleng tegas. "Tidak! Kamu baru saja hampir keguguran kemarin karena kecapekan. Kamu harus istirahat! Kalau terjadi sesuatu pada cucuku, bagaimana?"

Laras mendengus kesal. "Mama terlalu berlebihan. Saya masih sehat, dan saya bisa menjaga diri sendiri! Lagipula, saya tidak bisa diam di rumah sementara semuanya sedang kacau!"

"Diam di rumah adalah pilihan terbaik untukmu dan bayi dalam kandunganmu!" Bu Rina mulai menaikkan nada suaranya.

Saat suasana semakin panas, tiba-tiba Lestari datang dari arah dapur, menyaksikan adu mulut mereka. Ia menyeringai, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk membalas perlakuan Laras selama ini.

"Oh, jadi sekarang Mbak Laras mulai merasa kepanasan juga, ya? Dulu enak banget nyuruh-nyuruh aku, sekarang malah mau kabur dari rumah?" Lestari bersedekap, matanya menyipit penuh ejekan.

Laras berbalik dengan mata melotot. "Jangan ikut campur, Lestari! Ini bukan urusanmu!"

"Oh, tentu saja ini urusanku," Lestari melipat tangan di dada. "Aku ini anggota keluarga juga, kan? Atau jangan-jangan Mbak Laras selama ini menganggap aku cuma pembantu di rumah ini?"

"Lestari, jangan mulai!" Bu Rina memperingatkan, tetapi Lestari tak peduli.

"Aku mulai? Aku justru baru pemanasan, Ma!" Lestari menatap tajam ke arah Laras. "Tadi aku denger lho, Mbak Laras takut jatuh miskin. Lucu banget! Padahal dulu waktu Mbak enak-enakan duduk manis, aku yang disuruh ngeladenin ini itu, Mbak nggak peduli aku capek atau enggak. Tapi sekarang, Mbak takut susah?" Ia terkekeh sinis.

Laras menegang. "Lestari! Aku ini kakak iparmu! Hormati aku!"

"Hormati?" Lestari tertawa dingin. "Hormati orang yang nggak pernah menghormatiku? No, thanks! Mbak Laras kan yang ngajarin aku, siapa yang kuat, dia yang menang. Sekarang aku mau coba peran itu."

"Kamu keterlaluan!" Laras menggeram marah.

"Oh, keterlaluan ya?" Lestari pura-pura menaruh tangan di dada. "Mbak Laras selama ini juga keterlaluan, tapi aku diam aja. Kenapa? Karena Mbak di atas, aku di bawah? Sekarang kalau keadaan berbalik, Mbak baru ngerasain nggak enaknya?"

Bu Rina menutup wajahnya dengan tangan, menghela napas berat. "Cukup! Aku sudah pusing dengan masalah Daffa, sekarang kalian berdua malah bertengkar lagi! Lestari, jangan tambah masalah! Laras, kamu tetap di rumah! Sudah cukup!"

Lestari tersenyum puas, sementara Laras hanya bisa menatapnya dengan wajah merah padam. Namun, dalam hati, ia bersumpah tidak akan tinggal diam. Akan ada saatnya ia membalas adik iparnya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!