Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: UJIAN YANG MENENTUKAN
#
Pagi itu aku bangun jam empat.
Shalat subuh. Doa panjang. Minta sama Allah biar diberi kemudahan di ujian hari ini.
Ibu udah bangun. Masak nasi goreng buat sarapan aku. Pake telor. Pake sosis. Mewah buat ukuran kami.
"Satria... ibu doain kamu. Kamu pasti bisa."
Ibu peluk aku erat.
"Terima kasih, Bu."
Ayah dari kasur juga senyum. Meskipun masih lemah, tapi dia udah jauh lebih baik dari dulu.
"Sat... ayah yakin kamu bisa. Kamu anak yang pinter. Yang kuat. Ayah bangga sama kamu."
Aku senyum. "Aku gak akan mengecewakan ayah sama ibu."
***
Jam enam pagi aku sampe di sekolah.
Udah banyak siswa yang dateng. Pada pake seragam putih abu-abu. Bawa pensil. Penghapus. Bolpen.
Vanya, Adrian, Arjuna, Nareswari udah nunggu di depan gerbang.
"Pagi, Sat!" sapa mereka rame-rame.
"Pagi juga."
Kami jalan bareng ke ruang ujian. Ruang kami berbeda-beda. Aku di ruang 5. Vanya di ruang 3. Adrian di ruang 7. Arjuna di ruang 2. Nareswari di ruang 9.
Sebelum masuk, kami pelukan berlima.
"Semangat, temen-temen. Kita pasti bisa."
"Iya. Apapun yang terjadi, kita udah berusaha maksimal."
Kami masuk ke ruang masing-masing.
***
Ruang 5.
Ada tiga puluh siswa. Duduk sendiri-sendiri. Jarak satu meter antara meja.
Di depan ada dua pengawas. Guru dari sekolah lain. Tegas. Gak senyum.
Jam setengah delapan. Pengawas bagi soal.
Amplop cokelat. Masih tertutup rapat.
"Jangan dibuka dulu. Tunggu aba-aba."
Aku pegang amplop itu. Tangan gemetar sedikit.
Ini dia. Ujian yang nentuin masa depan aku.
Jam delapan tepat.
"Buka amplop. Mulai kerjakan."
Aku buka amplop. Aku keluarin soal.
Lembar soal tebal. Ada lima puluh soal pilihan ganda. Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris. Semua jadi satu.
Aku baca soal pertama.
Matematika. Integral fungsi trigonometri.
Gampang. Aku bisa.
Aku jawab cepat. Lanjut soal kedua.
Fisika. Gerak parabola.
Gampang juga. Aku bisa.
Soal ketiga. Keempat. Kelima.
Semua gampang. Aku bisa semua.
Aku mulai percaya diri. Aku kerjain cepat tapi teliti.
Sampai soal nomor dua puluh lima.
Aku baca.
"Sebuah partikel bergerak dengan kecepatan relativistik mendekati kecepatan cahaya. Hitung energi kinetik partikel tersebut dengan mempertimbangkan efek relativitas khusus Einstein."
Aku berhenti.
Ini... ini soal fisika relativitas. Materi yang gak pernah aku pelajarin. Gak ada di buku sekolah. Gak pernah diajarin guru.
Jantungku berdetak cepat.
Panik mulai dateng.
Aku liat soal-soal berikutnya. Ada beberapa lagi yang susah banget. Materi yang di luar kurikulum.
"Kenapa... kenapa ada soal kayak gini..."
Bisikku pelan. Mulai panik.
Tangan gemetar. Napas mulai cepat.
Aku liat jam. Masih ada dua setengah jam lagi.
"Tenang, Satria. Tenang. Kamu gak boleh panik sekarang."
Aku tutup mata. Tarik napas dalam. Inget semua perjuangan aku. Inget ayah yang hampir meninggal. Inget ibu yang nangis. Inget temen-temen yang bantuin aku.
"Aku gak boleh menyerah. Gak sekarang."
Aku buka mata. Aku liat soal lagi.
Aku skip dulu soal yang susah. Aku kerjain yang gampang dulu. Yang aku tau jawabannya.
Satu jam kemudian, aku udah kerjain empat puluh soal. Tinggal sepuluh soal yang susah.
Aku balik lagi ke sepuluh soal itu.
Aku baca pelan-pelan. Aku coba pahami. Aku coba inget semua yang pernah aku baca di perpustakaan. Semua buku fisika. Kimia. Matematika tingkat lanjut yang aku baca sendiri di luar jam sekolah.
Soal nomor dua puluh lima. Fisika relativitas.
Aku inget pernah baca buku tentang Einstein. Tentang teori relativitas. E sama dengan mc kuadrat.
Aku coba hitung. Pake rumus yang aku inget. Logika. Nalar.
Aku dapat jawaban. Aku gak tau bener atau salah. Tapi ini jawaban terbaik yang bisa aku kasih.
Soal nomor tiga puluh. Kimia organik lanjut.
Aku inget pernah baca tentang reaksi benzena. Tentang gugus fungsi kompleks.
Aku coba jawab pake logika. Pake penalaran.
Satu per satu aku jawab sepuluh soal susah itu. Gak semua aku yakin. Tapi aku coba sebaik mungkin.
Jam sepuluh setengah. Waktu hampir habis.
Aku cek ulang semua jawaban. Dari soal satu sampe lima puluh.
Aku yakin empat puluh soal aku bener. Sepuluh soal sisanya... aku gak tau. Tapi aku udah usaha maksimal.
"WAKTU HABIS! LETAKKAN PENSIL!"
Suara pengawas keras.
Semua siswa letakkan pensil. Taro lembar jawaban di meja.
Pengawas kumpulin satu per satu.
Giliran aku. Aku serahin lembar jawaban dengan tangan gemetar.
"Semoga... semoga hasilnya baik..."
Bisikku dalam hati.
***
Aku keluar dari ruang ujian.
Vanya, Adrian, Arjuna, Nareswari udah nunggu di luar. Mukanya campur aduk. Ada yang lega. Ada yang khawatir.
"Gimana, Sat? Soalnya susah gak?" tanya Adrian.
Aku ngangguk. "Susah. Ada beberapa soal yang gak pernah aku pelajarin. Tapi... tapi aku udah kerjain semaksimal mungkin."
Vanya senyum. "Itu yang penting. Kita udah usaha maksimal."
Arjuna ngangguk. "Apapun hasilnya... kita udah berjuang sekuat tenaga."
Nareswari angkat kepalan tangan. "Sekarang kita cuma bisa doa. Doa dan pasrah sama Allah."
Kami berlima pelukan. Di tengah lapangan sekolah. Di bawah matahari yang terik.
Siswa-siswa lain pada liat kami. Pada senyum. Pada kasih jempol.
"Kalian pasti lulus!"
"Kalian pasti dapet nilai bagus!"
Kami senyum balik. "Aamiin! Terima kasih!"
***
Dua minggu kemudian.
Hari pengumuman kelulusan.
Aku gak bisa tidur semalaman. Deg-degan banget.
Jam enam pagi aku udah sampe sekolah. Gerbang belum dibuka. Tapi udah banyak siswa yang nunggu di luar.
Vanya, Adrian, Arjuna, Nareswari juga udah dateng.
"Sat... lu gugup?" tanya Vanya.
Aku ngangguk. "Banget."
"Gue juga."
Jam tujuh. Gerbang dibuka. Kami semua masuk. Langsung lari ke papan pengumuman.
Udah ditempel kertas besar. Bertulisan PENGUMUMAN KELULUSAN UJIAN NASIONAL.
Di bawahnya ada daftar nama. Urut berdasarkan nilai tertinggi.
Kami berebut liat.
Dan...
Aku berhenti napas.
Nama paling atas:
**SATRIA BUMI AKSARA**
**NILAI: 100.00**
**LULUSAN TERBAIK SE-JAKARTA**
Di bawahnya ada nama-nama lain. Arjuna di urutan lima. Vanya di urutan sepuluh. Nareswari di urutan lima belas. Adrian di urutan dua puluh.
Semua lulus. Semua dapet nilai bagus.
Tapi aku... aku dapet nilai sempurna. Seratus. Gak ada yang salah.
Aku gak percaya.
"Sat... SAT LU LULUSAN TERBAIK SE-JAKARTA! NILAI LU SEMPURNA!"
Adrian teriak sambil guncang-guncang pundak aku.
Vanya nangis sambil peluk aku. "Lu luar biasa, Sat! Lu luar biasa!"
Arjuna senyum lebar. "Lu pantas dapet ini, Sat. Lu paling pinter di antara kita semua."
Nareswari juga nangis. "Aku bangga sama lu, Sat..."
Aku masih diem. Masih gak percaya.
Siswa-siswa lain pada tepuk tangan. Pada jabat tangan aku. Pada ucapin selamat.
Guru-guru juga dateng. Bu Ratna nangis peluk aku. "Satria... ibu bangga sekali sama kamu..."
Aku baru nangis. Nangis lega. Nangis bahagia.
"Terima kasih... terima kasih semua..."
***
*Andri: "Saat usahamu membuahkan hasil sempurna, jangan lupa bersujud syukur. Karena kesuksesan sejati bukan saat kau berdiri di puncak sendirian, tapi saat kau mengingat semua yang membantumu sampai ke sana."*