Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. The Metamorphosis
Empat Tahun Kemudian.
Dunia tidak lagi mengenal Alice Vane sebagai "putri pesohor yang pendiam". Kini, wajahnya menghiasi papan reklame di Times Square. Alice telah menjelma menjadi model papan atas dengan tatapan mata yang tenang namun menghanyutkan. Di industri yang penuh kepalsuan, Alice dikenal sebagai "The Silent Muse"—dia yang tetap anggun di tengah kebisingan.
Malam itu, di acara after-party peragaan busana di New York, Alice menjadi pusat perhatian. Ia mengenakan gaun sutra minimalis yang membalut tubuhnya dengan sempurna.
"Alice, kau lihat siapa yang baru datang?" bisik manajernya, sambil melirik ke arah pintu masuk klub eksklusif tersebut.
Alice menoleh sedikit, dan jantungnya yang selama ini ia kunci rapat, mendadak berdegup kencang.
Julian Reed masuk dengan aura yang jauh lebih gelap dari beberapa tahun lalu. Ia tampak kacau namun tetap mempesona. Di sampingnya, Ellena Breeze berjalan dengan jarak yang tidak biasa—tidak ada lagi pelukan manja, hanya ketegangan yang bisa dirasakan semua orang. Berita tentang hubungan toxic mereka yang putus-nyambung sudah menjadi konsumsi publik setiap hari.
"Abaikan saja," ucap Alice datar, berbalik memunggungi pintu.
Namun, mengabaikan Julian Reed adalah hal yang mustahil. Apalagi saat ini Alice sedang dikelilingi oleh pria-pria di lingkaran terdekat Julian.
"Alice, kau benar-benar luar biasa di runway tadi," ujar Sean Miller, model pria yang juga sahabat dekat Julian, sambil mendekatkan wajahnya ke arah Alice. "Aku sampai lupa bagaimana caranya bernapas."
Alice tertawa kecil, sebuah tawa yang sengaja ia keraskan. "Kau berlebihan, Sean. Tapi terima kasih."
Dari sudut ruangan, Julian mematung. Ia mengabaikan bisikan tajam Ellena di telinganya. Matanya hanya tertuju pada satu titik: Alice. Gadis kecil yang dulu kikuk dan pemalu itu kini sedang tersenyum manis, membiarkan Sean Miller membisikkan sesuatu di telinganya.
"Siapa gadis itu?" tanya Julian, suaranya rendah dan penuh penekanan.
Ellena melirik sinis. "Kau bercanda? Itu Alice Vane. Anak kecil yang dulu datang ke ruang gantimu. Dia sekarang merasa dirinya ratu hanya karena beberapa kontrak model."
Julian tidak menjawab. Ia ingat gadis itu. Ia ingat bagaimana Alice menatapnya dengan kekaguman yang tulus, bukan karena haus ketenaran. Dan melihat Alice sekarang dikelilingi oleh pria-pria seperti Sean, atau pemain basket yang merupakan rekan pestanya, membuat sesuatu di dalam dada Julian terbakar hebat. Rasa posesif yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Julian berjalan menembus kerumunan, mengabaikan Ellena yang memanggil namanya dengan marah. Ia berhenti tepat di belakang Alice.
"Sepertinya kau sudah belajar cara tidak menjadi pemalu lagi, Alice," suara berat itu muncul di balik punggung Alice.
Alice membeku sejenak, lalu perlahan ia berbalik. Ia menatap Julian dengan tatapan yang sangat tenang, berbeda dengan kegugupannya empat tahun lalu.
"Julian. Senang bertemu dengamu lagi," ucap Alice singkat, matanya hanya menatap mata Julian selama dua detik sebelum beralih kembali ke Sean. "Maaf, kami sedang membicarakan sesuatu."
Julian menyipitkan mata. Pengabaian itu terasa seperti tamparan. "Sean, kau tidak keberatan jika aku meminjam teman lamaku sebentar, kan?"
Sean mengangkat bahu sambil tersenyum menantang. "Tanya Alice saja, Man. Dia bukan lagi gadis yang bisa disuruh-suruh, kan?"
Julian menatap Alice dengan intens, seolah ingin menelanjangi semua pertahanan gadis itu. "Alice?"
"Aku tidak punya banyak waktu, Julian. Ellena sepertinya sedang menunggumu di bar," Alice menunjuk dengan dagunya ke arah Ellena yang sedang menatap mereka dengan api cemburu. "Jangan buat dia menunggu. Semua orang tahu bagaimana drama kalian akan berakhir malam ini jika kau membuatnya menunggu."
"Berhenti membicarakan Ellena," desis Julian, selangkah lebih dekat hingga aroma parfumnya yang maskulin mengepung Alice. "Kenapa kau tiba-tiba menjadi sangat dingin? Dan kenapa kau membiarkan pria-pria ini menyentuhmu seolah kau adalah milik mereka?"
Alice tersenyum miring, sebuah senyum yang membuat Julian merasa kecil. "Karena aku bebas melakukannya, Julian. Aku bukan lagi penggemar kecil yang melihatmu sebagai pusat semesta. Aku punya semestaku sendiri sekarang."
Alice melangkah pergi, meninggalkan Julian yang berdiri di tengah keramaian dengan rasa penasaran yang berubah menjadi obsesi. Julian menyadari satu hal: ia tidak pernah benar-benar melepaskan Alice. Ia hanya membiarkan Alice tumbuh, dan sekarang, ia ingin mengambilnya kembali—tak peduli berapa banyak pria yang menghalangi jalannya.
cemburu bilang /CoolGuy/
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/