NovelToon NovelToon
Puteri Sampah Yang Berubah

Puteri Sampah Yang Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:18.8k
Nilai: 5
Nama Author: ANWi

Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.

Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!

Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 : Cacing

​Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela kayu yang retak di Paviliun Pangeran Pertama. Bai Hua terbangun dengan rasa perih yang mulai berkurang di punggungnya, namun rasa kaku di kakinya tetap sama. Ia melirik ke lantai. Kosong. Pangeran Wan Long sudah tidak ada di sana.

​"Nona Muda, Anda sudah bangun?" Bibi Pong masuk dengan wajah cemas, membawa baskom berisi air hangat.

​"Di mana si Idiot itu?" tanya Bai Hua ketus sambil berusaha duduk.

​"Pangeran sedang di halaman belakang, Nona. Katanya sedang mencari cacing tanah untuk diajak bicara," jawab Bibi Pong pelan, ragu dengan kewarasan majikan barunya itu.

​Bai Hua mendengus. Bicara dengan cacing? Akting pria itu benar-benar niat sekali.

​Sambil membantu Bai Hua membersihkan diri, Bibi Pong mulai bercerita tentang situasi istana yang mencekam. "Nona, tadi pagi seorang kasim kepala datang. Ia menyampaikan pesan bahwa Kaisar telah berangkat ke perbatasan utara untuk inspeksi militer mendadak. Beliau tidak akan kembali dalam sebulan."

​"Lalu Permaisuri?" Bai Hua menyipitkan mata. "Apa dia sesakit itu sampai tidak bisa melihat menantunya?"

​Bibi Pong menunduk, suaranya nyaris berbisik. "Permaisuri mengunci diri di Paviliun Teratai. Kabarnya, beliau sedang menjalani masa penyucian diri selama tujuh hari karena ramalan bintang mengatakan kehadiran unsur tidak murni di istana akan membawa sial. Unsur tidak murni itu merujuk pada pernikahan ini, Nona."

​Bai Hua menyeringai dingin. "Penyucian diri? Itu bahasa halus untuk mengatakan bahwa dia jijik melihat kami. Kaisar pergi ke perbatasan di saat anaknya menikah, dan Permaisuri menganggap kami pembawa sial. Bagus. Setidaknya aku tidak perlu bersujud pada orang-orang munafik itu."

​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari luar, terdengar suara keributan.

​"Minggir, pelayan tua! Kami diperintahkan oleh Selir Agung untuk memeriksa inventaris paviliun ini!"

​Pintu kamar Bai Hua didobrak terbuka. Tiga orang pelayan istana berpakaian sutra hijau masuk dengan angkuh. Pemimpin mereka, seorang wanita paruh baya bernama Pelayan Ma, menatap Bai Hua dengan pandangan merendahkan.

​"Oh, jadi ini pengantin lumpuh itu?" Pelayan Ma berjalan berkeliling, menyentuh barang-barang dengan kasar. "Selir Agung khawatir Pangeran Wan Long yang malang akan ditipu oleh keluarga menteri picik. Kami di sini untuk mengambil kembali perhiasan pengantin yang diberikan istana kemarin. Toh, orang lumpuh tidak butuh emas, bukan?"

​Bibi Pong gemetar ketakutan, namun Bai Hua justru terdiam. Tangannya meraba sandaran kursi roda.

​Tiba-tiba, dari arah pintu, Wan Long masuk sambil berlari-lari kecil. Wajahnya cemong karena tanah, dan ia memegang seekor cacing yang menggeliat di tangannya.

​"Eh! Ada tamu! Ada tamu!" teriak Wan Long riang. Ia berlari ke arah Pelayan Ma. "Bibi gemuk! Lihat! Cacing ini bilang dia ingin masuk ke lubang hidungmu!"

​"Hiii! Jauhkan benda menjijikkan itu, Pangeran!" Pelayan Ma menjerit, mundur beberapa langkah.

​Wan Long tidak berhenti. Ia terus mengejar Pelayan Ma di dalam kamar yang sempit itu. Di tengah kekacauan itu, mata Wan Long sempat bertemu dengan mata Bai Hua. Sebuah kedipan singkat atau lebih tepatnya sebuah isyarat.

​Sikat mereka, itulah arti tatapan itu.

​Bai Hua langsung menangkap momentum. Saat Pelayan Ma tersandung kaki kursi roda Bai Hua karena menghindari Wan Long, Bai Hua dengan cepat menjambak rambut wanita itu dan menariknya hingga terduduk di lantai.

​"Aaaakh! Lepaskan!" teriak Pelayan Ma.

​"Dengarkan aku, pelayan rendahan," bisik Bai Hua, suaranya setajam silet tepat di telinga Pelayan Ma. "Kaisar mungkin tidak ada, dan Permaisuri mungkin sedang 'berdoa'. Tapi di paviliun ini, aku adalah nyonyanya. Jika kau berani menyentuh satu keping emas pun di sini, aku akan memastikan cacing milik Pangeran tidak masuk ke hidungmu, tapi masuk ke dalam tenggorokanmu saat kau tidur."

​"Kau... kau berani mengancam orang kiriman Selir Agung?!"

​Wan Long tiba-tiba berhenti tertawa. Ia berdiri di belakang Pelayan Ma, menjatuhkan cacingnya tepat ke leher baju wanita itu. "Hihi! Dia masuk! Dia masuk ke dalam bajumu, Bibi!"

​Pelayan Ma berteriak histeris, merasa ada sesuatu yang merayap di punggungnya. Ia dan dua anak buahnya lari terbirit-birit keluar dari paviliun sambil mengumpat.

​Setelah pintu tertutup, suasana kembali sunyi. Bibi Pong meminta izin untuk menyiapkan makanan pagi.

Sementara itu, di dalam kamar,Wan Long berdiri tegak, menghapus noda tanah di pipinya dengan lengan baju. Aura idiotnya menguap seketika.

​"Akting yang bagus, Agen 859," puji Wan Long dengan suara aslinya yang berat. "Menjambak rambut? Klasik sekali." sindir nya merendahkan Bai Hua.

​"Diam kau," balas Bai Hua sambil melepaskan pegangannya. "Kenapa kau biarkan mereka masuk sejauh ini?"

​"Aku perlu tahu siapa yang mengirim mereka. Selir Agung... dia adalah mata-mata Permaisuri. Mereka ingin memastikan apakah kau benar-benar sampah atau ancaman," Wan Long duduk di tepi meja, menatap Bai Hua dengan serius. "Kaisar sengaja pergi karena dia tidak ingin terlibat dalam pembersihan yang akan dilakukan Permaisuri pada kita. Kita dibiarkan di sini untuk mati perlahan, Hua."

​Bai Hua menyandarkan kepalanya, menatap kakinya yang mati rasa. "Mereka meremehkan kita. Mereka pikir seorang lumpuh dan seorang idiot tidak bisa menggigit."

​"Hari ini adalah hari kedua pernikahan kita," Wan Long melompat turun dari meja. "Akan ada jamuan teh kecil untuk para pangeran dan istri mereka di taman samping. Karena Kaisar tidak ada, Pangeran Kedua---adik tiriku---yang akan memimpin. Itu adalah ujian pertama kita di depan publik. Siapkan mentalmu, Bai Hua. Mereka akan menyerang kekuranganmu."

​Bai Hua menyeringai, memperlihatkan taringnya. "Biarkan mereka datang. Aku butuh hiburan sebelum kita pergi ke rumah ayahku yang brengsek itu."

​Wan Long menatap Bai Hua cukup lama, ada kilatan kekaguman yang tersembunyi. "Aku akan menyiapkan hadiah untuk adik tiriku. Sekarang, bisakah kau menyuruh pelayanmu menyiapkan sarapan yang normal? Aku lelah makan bakpao dingin."

​"Minta saja pada cacingmu," sahut Bai Hua dingin, namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

***

Happy Reading ❤️

Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih

1
Pa Muhsid
buka puasa gak usah beli kolak udah ada yang manis😍😍😍 wangyu dan meilin
Pa Muhsid
bbc berlapis ok👍
mimief
wkwkwkwkwkwk
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
Roti Bakar
lanjutttt kpn upp?
mimief
gimana?
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
Pa Muhsid
cinta sejati😘😘😘❤❤❤ berbungkus benci (benar "cinta)
Dede Dedeh
rame... pisan lanjut thor
Pa Muhsid
visual nya mana tor
mimief
wah...seru
jadi bayangin visual merekanya bertarung
SusanTee
lnjutt
mimief
bukan??🤣🤣🤣
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mimief
iy..ya
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
ANWi/Berly Re: hehe iya kak, susah susah gampang sistem retensi ini. bikin bingung😭😭😭😭
total 1 replies
mimief
senjata makan tuan ya gaes .
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sahabat pena
ga punya kak
sahabat pena: siap kak. semangat up nya
total 2 replies
Roti Bakar
ah aku paham! Jd si kaisar biarin para anjing saling tarung gitu yahh??? (permaisuri-wanjin-meteri bai vs bai hua-wan long) trs dia tinggal leyeh leyeh 🤭
Roti Bakar
oh wan jin , dia kn anak permaisuri yah?? brarti dia disitu atas printah permaisuri dong
Pa Muhsid
👍👍👍🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️💪
Pa Muhsid
👍👍👍🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
mimief
Waduuuh...
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa
Roti Bakar
ini kpn up nya????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!