Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa
Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Rahasia di Balik Garis Keturunan
Suara tawa Darwin yang melengking sebelum sambungan telepon terputus itu terasa seperti cakaran kuku di atas kaca. Jemariku mencengkeram ponsel dengan sangat stabil, meskipun isi kepalaku sedang bekerja dengan kecepatan tinggi untuk membedah ancaman barunya. Aku melirik Seeula yang duduk di kursi samping. Wajahnya terlihat sangat polos, sangat kontras dengan segala kotoran sejarah yang baru saja Darwin lemparkan kepadaku.
"Yansya, ada apa? Siapa yang meneleponmu?" Seeula menuntut penjelasan dengan nada cemas.
Aku segera menyimpan ponsel ke dalam saku jas, memberikan senyum yang paling menenangkan yang pernah aku pelajari selama dua kali masa hidup ini. Aku tidak boleh membiarkan setitik pun keraguan terlihat di wajahku karena di duniaku, keraguan adalah celah bagi musuh untuk menanamkan belati.
"Hanya Darwin yang sedang mengigau karena kehilangan hartanya, Seeula. Jangan kau masukkan ke hati," jawabku meyakinkan sambil memutar kemudi mobil.
Mobil melaju menjauh dari hangar bandara, namun fokus utamaku bukan lagi pada aspal di depan mata. Aku segera menekan tombol komunikasi di telinga untuk terhubung dengan Rian. Aku butuh data otentik, bukan sekadar gertakan dari pria kalah seperti Darwin.
"Rian, cari semua data tentang pernikahan Madam Widowati dan mendiang suaminya. Cocokkan dengan catatan rahasia ibuku yang kita temukan di panti asuhan," perintahku dengan volume suara yang sangat rendah.
"Yansya, kau sedang mencari apa sebenarnya? Bukankah kita sudah menangkap Hartono?" Rian mencecar penuh keraguan di seberang sana.
"Lakukan saja. Cari tahu apakah ada nama pria lain yang pernah dekat dengan Martha dan Widowati dua puluh tahun lalu," tegasku tanpa memberikan celah perdebatan.
Selama perjalanan menuju hotel, memori masa depanku berputar cepat. Di kehidupanku yang lama, aku tidak pernah peduli dengan silsilah Seeula. Bagiku saat itu, dia hanyalah istri yang pendiam dari keluarga kaya yang bangkrut. Namun sekarang, setelah aku menggali lebih dalam, ada benang merah yang mulai terlihat jelas.
Sesampainya di hotel, aku memastikan tim pengawal menjaga setiap jengkal koridor lantai tujuh dengan ketat. Aku membimbing Seeula masuk ke kamarnya, memastikan dia duduk dengan tenang sebelum aku pamit untuk menyelesaikan urusan teknis dengan Rian.
"Istirahatlah, Seeula. Besok adalah hari pertamamu sebagai Direktur Utama yang benar-benar berkuasa tanpa gangguan Hartono," ucapku sambil mengusap pundaknya perlahan.
"Terima kasih, Yansya. Aku merasa jauh lebih aman bersamamu," balas Seeula dengan tulus.
Aku keluar dari kamar dan langsung menuju ruang pengawasan di lantai bawah. Rian sudah menungguku dengan wajah yang sangat pucat, matanya menatap layar monitor yang menampilkan barisan dokumen hitam-putih yang sangat tua.
"Aku menemukannya, Yansya. Tapi ini benar-benar tidak masuk akal," bisik Rian saat aku berdiri di sampingnya.
Aku melihat sebuah foto lama di layar. Itu adalah surat keterangan lahir yang sudah dicoret-coret, mirip dengan dokumen yang dibawa Gunawan tempo hari. Nama ayah Seeula di sana bukan Tuan Widowati, melainkan sebuah nama yang selama ini aku kenal sebagai orang terdekat keluargaku sendiri.
"Siapa dia, Rian? Katakan dengan jelas," tuntutku dengan rahang yang mengeras.
"Ayah kandung Seeula adalah pria yang bekerja sebagai tangan kanan ayahmu dulu. Pria yang tewas bersama orang tuamu dalam kecelakaan yang disabotase Gautama," jelas Rian dengan suara yang hampir menghilang.
Darahku terasa mendidih seketika. Fakta ini tidak pernah muncul dalam ingatanku di kehidupan sebelumnya karena Gautama pasti telah memusnahkan semua saksi mata dan dokumen terkait sebelum aku sempat tumbuh besar. Jadi, Seeula bukan putri kandung dari keluarga Widowati. Dia adalah putri dari sahabat setia ayahku yang sengaja diadopsi oleh Widowati untuk menutupi rasa bersalah atau mungkin untuk menguasai aset yang ditinggalkan oleh ayah kandungnya.
Logika ini menjelaskan mengapa Madam Widowati begitu tega mencoba menjual Seeula pada pria asing. Baginya, Seeula bukan darah dagingnya sendiri melainkan hanya aset berharga yang bisa ditukar dengan uang saat perusahaan sedang goyah. Penemuan ini membuat amarahku pada keluarga Widowati semakin memuncak.
"Yansya, ada satu hal lagi. Darwin sepertinya memegang dokumen asli dari panti asuhan yang tidak sempat kita ambil. Dia punya bukti fisik tentang garis keturunan ini," lapor Rian lagi.
Aku mengepalkan tangan hingga buku-bukuku memutih. Darwin tidak hanya ingin menghancurkanku secara finansial, dia ingin menghancurkan fondasi hubunganku dengan Seeula. Dia ingin aku melihat Seeula sebagai beban masa lalu, bukan sebagai wanita yang kucintai.
"Dia meremehkanku jika dia pikir aku akan terpengaruh oleh hal itu. Justru ini akan menjadi alasan bagiku untuk menghancurkannya hingga ke akar-akarnya," ucapku dengan nada yang sangat dingin.
Aku segera menyusun rencana baru. Aku tidak boleh membiarkan Darwin menyebarkan informasi ini sebelum aku memiliki kendali penuh atas media massa di kota ini. Aku harus membungkamnya secara permanen dengan kenyataan yang jauh lebih menyakitkan bagi egonya yang setinggi langit.
"Rian, siapkan konferensi pers besok pagi di Widowati Group. Kita akan umumkan pengangkatan Seeula secara besar-besaran, dan aku ingin kau menyisipkan satu kejutan tentang penggelapan dana yayasan yatim piatu yang dilakukan Darwin selama lima tahun terakhir," perintahku dengan senyum tajam.
"Kau ingin menyerangnya di depan publik saat dia sedang memegang rahasiamu?" Rian memastikan dengan nada sangsi.
"Dia tidak memegang rahasiaku, Rian. Dia hanya memegang sebuah kertas tua, sedangkan aku memegang seluruh masa depannya," jawabku lugas.
Aku kembali ke kamar hotel Seeula, berdiri sejenak di depan pintunya yang kokoh. Wanita di dalam sana adalah putri dari pahlawan yang mati demi keluargaku. Ini bukan lagi sekadar penebusan dosa masa lalu, ini adalah janji suci untuk menjaga satu-satunya warisan yang ditinggalkan oleh masa lalu ayahku.
Aku masuk ke dalam kamar dengan langkah yang sangat pelan, melihat Seeula yang sudah tertidur pulas. Aku duduk di tepi ranjang, menatapnya cukup lama di bawah cahaya lampu yang temaram. Tanganku tergerak untuk merapikan selimutnya.
"Kau adalah permata yang sebenarnya, Seeula. Dan aku akan memastikan tidak ada satu pun orang yang bisa menyentuhmu lagi," janjiku dalam hati.
Ponselku bergetar lagi. Sebuah pesan singkat dari nomor asing masuk.
Besok pagi di acara konferensi pers, aku akan memberikan kado yang tidak akan pernah kau lupakan, Yansya. Nikmatilah malam terakhirmu dengan status pahlawan itu.
Aku langsung menghapus pesan itu tanpa membalasnya sedikit pun. Darwin benar-benar tidak tahu siapa yang sedang dia tantang. Dia pikir dia sedang bermain catur denganku, padahal aku sudah memenangkan permainan ini sebelum dia sempat melangkah.
Aku mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menguasai ruangan. Besok akan menjadi hari yang sangat panjang, dan aku harus memastikan setiap bidak caturku berada di posisi yang tepat untuk skakmat terakhir.
Namun, tepat saat aku hendak merebahkan diri, aku mendengar suara aneh dari arah balkon. Suara goresan halus yang sangat tidak wajar untuk lantai setinggi ini.
Aku segera bangkit dari tempat duduk, tanganku secara refleks meraih pisau kecil yang selalu kusembunyikan di balik ikat pinggang. Aku menajamkan indra pendengaran, memastikan bahwa ini bukan sekadar halusinasi karena kelelahan setelah pengejaran tadi.
Goresan itu terdengar lagi, diikuti oleh bayangan hitam yang melintas di balik tirai tipis balkon. Sepertinya Darwin tidak sabar untuk menunggu sampai besok pagi. Dia memutuskan untuk mengirimkan kado itu lebih awal melalui tangan orang lain.
Aku melangkah mendekati tirai dengan sangat hati-hati, membiarkan tubuhku tetap berada di area bayangan agar tidak terlihat dari luar. Denyut jantungku melambat, tanda bahwa mode bertarungku sudah aktif sepenuhnya.
Tepat saat tirai itu terbuka sedikit oleh embusan angin, sebuah tangan dengan sarung tangan hitam mencoba meraih kunci pintu balkon dari luar.
Aku menyeringai dalam kegelapan. Mereka benar-benar meremehkan sistem pengamanan yang kubangun secara personal. Aku memberikan isyarat melalui jam tangan kepada tim keamanan di luar, namun aku sendiri yang ingin memberikan sambutan hangat untuk tamu tidak diundang ini.
Aku menarik tirai itu dengan satu sentakan kuat, membuat sosok di luar tersentak kaget. Sebelum dia sempat bereaksi, aku sudah mendaratkan hantaman lutut tepat ke arah dadanya melalui celah pintu yang baru terbuka separuh.
"Selamat datang di nerakamu, penyusup," desisku sambil menatap mata pria di balik topeng hitam itu.
*OTOR GANTENG: NAGIH UPDATE TAPI KAGAK LIKE, KAGAK KOMEN, GIMANA MAU SEMANGAT... HUHHH ALAHHHH.... HUAHHHHHHH (BERUBAH JADI SUPER SAIYA)