Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk sekolah
Mobil melaju pelan membelah jalan pagi yang masih lengang. Zea bersandar di kursi belakang, kepalanya menempel di jendela. Raka duduk di sampingnya, sesekali melirik dengan wajah yang pura-pura santai tapi jelas khawatir.
"Kalo muntah bilang ya." ucap raka.
"Gue nggak hamil." balas zea lemah.
Raka mendengus. "Ya kali gua mikir lo hamil."
Mama yang duduk di depan menoleh sedikit. "Sudah, jangan bercanda terus."
Tapi sudut bibir zea sedikit terangkat, bercanda receh begitu justru membuat kepalanya terasa sedikit lebih ringan.
Rumah sakit tidak terlalu ramai, bau antiseptik langsung menyergap begitu mereka masuk, zea duduk di kursi tunggu, tubuhnya terasa makin berat.
Setelah diperiksa dokter, suhu tubuhnya tercatat hampir 39 derajat.
"Kecapekan berat." ujar dokter sambil menulis resep.
"Kemungkinan besar karena fisik dipaksakan tapi kita cek darah untuk memastikan tidak ada infeksi."
Zea menghela napas panjang, cek darah.
"Jarumnya gede nggak, dok?" tanyanya pelan.
Dokter tersenyum tipis. "Tenang, nggak segede pikiran kamu."
Raka terkekeh pelan. "Lebih pahit daripada kopi tanpa gula juga nggak?"
Zea melotot, tapi tenaga untuk protes rasanya habis.
Saat jarum menusuk kulitnya, ia refleks memalingkan wajah.
“Stop liat, stop liat…” gumamnya pada diri sendiri.
Beberapa menit kemudian selesai. Tidak semenyeramkan yang ia bayangkan, hanya saja tubuhnya tetap terasa seperti habis ditabrak kenyataan.
****
Sementara itu di sekolah.
Di kelas X-1, bangku dekat jendela kosong satu.
Chacha duduk sendiri sambil menopang dagu.
"Sepi banget tanpa si drama queen." gumamnya.
Guru masuk dan pelajaran dimulai, tapi fokus chacha jelas setengah hilang.
Di gedung sebelah, lantai dua, kelas XI-1 jauh lebih sunyi dari biasanya atau mungkin hanya leo yang merasa begitu.
Ia duduk di bangku paling belakang, buku terbuka tapi tidak benar-benar dibaca.
Tadi pagi ia sempat ke kelas zea. Alasannya? ngambil bola basket yang dipinjam adik kelas.
Kenyataannya? ia berdiri beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan, hanya untuk memastikan bangku dekat jendela itu memang kosong.
Zea tidak ada.
Dan entah kenapa, melihat kursi kosong itu terasa lebih mengganggu daripada melihat zea yang terlalu berisik.
“Lo kenapa?” tanya digo.
“Kenapa apaan?” tanya balik leo.
“Dari tadi salah nulis mulu.”
Leo mendecak pelan. "Nggak usah ngurusin gua."
Digo menyeringai tipis.
"Siapa juga ngurusin, gua cuma takut lo tiba-tiba nulis nama orang di lembar jawaban."
Leo berhenti sebentar.
"Apa sih."
Digo mencondongkan badan sedikit. "Zea nggak masuk ya?"
Tangan Leo yang memegang pulpen terdiam sepersekian detik sebelum kembali bergerak.
"Mana gua tau."
"Lah bukannya tadi pagi lo ke bawah?"
Leo menutup bukunya agak lebih keras dari yang diperlukan. "Ngambil bola, jangan sotoy."
Digo mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Iya, iya, ngambil bola bukan ngambil perhatian."
Leo melirik tajam. "Lo pengen turun juga ngambil sesuatu?"
Digo terkekeh pelan, lalu kembali fokus ke bukunya, tapi senyum tipisnya belum hilang.
****
Di ruang tunggu rumah sakit, papa duduk tegak sambil memegang map hasil administrasi. Wajahnya terlihat tenang, tapi jemarinya terus mengetuk pelan paha celananya tanda ia sebenarnya cemas.
Mama keluar dari ruang kasir dan duduk di sebelahnya.
"Labnya setengah jam lagi." ucap mama pelan.
Papa mengangguk. "Tensinya gimana tadi?"
"Agak turun tapi panasnya masih tinggi."
Papa menghela napas pelan. "Anak itu kalau udah mau sesuatu, nggak bisa setengah-setengah."
Beberapa menit kemudian, raka keluar dari ruangan zea sambil membawa roti dan minum mineral.
"Dia lagi tidur." lapor raka pelan.
Papa berdiri. "Papa lihat."
Di dalam ruang periksa, zea setengah terlelap, wajahnya pucat, rambutnya sedikit berantakan. Papa mendekat dan duduk di kursi samping ranjang, ia mengusap pelan kepala zea.
Zea membuka mata perlahan.
"Pa…"
"Iya."
"Cuma demam doang kok…"
Papa tersenyum tipis. "Papa tahu tapi papa tetap khawatir."
Zea menatap wajah ayahnya beberapa detik, dalam keadaan setengah sadar begini, gengsinya jauh berkurang.
"Maaf ya pa… maksa latihan."
Papa menggeleng pelan. "Semangat itu bagus. Tapi papa lebih senang kamu sehat daripada kamu jadi hebat."
Kalimat itu sederhana tapi membuat mata zea sedikit hangat.
"Papa nggak marah?"
"Papa cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa."
Di luar ruangan, mama dan raka memperhatikan dari kaca kecil di pintu.
"Kalo udah sama papa, dia langsung jinak." bisik raka.
Mama tersenyum kecil.
Tak lama kemudian, dokter kembali dengan hasil lab.
"Tidak ada infeksi serius, murni kelelahan dan daya tahan tubuh turun." jelas dokter.
Mama terlihat lega.
Papa mengangguk. "Rawat jalan?"
"Iya, istirahat total beberapa hari jangan aktivitas berat dulu."
Papa melirik zea yang langsung mengerutkan kening.
"Beberapa hari?" protes zea pelan.
Papa tersenyum tipis. "Dengar tuh."
Zea mendengus kecil, tapi tidak membantah.
****
2 hari kemudian....
Pagi itu zea sudah berdiri di depan cermin, mengenakan seragam lengkap meski tubuhnya masih terasa sedikit ringan terlalu ringan.
Mama berdiri di ambang pintu kamar.
"Kamu yakin udah kuat?"
Zea mengangguk cepat. "Udah mendingan kok ma, cuma duduk belajar doang."
Papa yang lewat di belakang mama berhenti.
"Dokter bilang istirahat total tiga hari."
"Ini udah hari ketiga pa." jawab zea cepat.
Raka yang sedang pakai sepatu di ruang tamu ikut nimbrung. "Lo kelihatan masih kayak habis buffering."
Zea melempar bantal kecil ke arahnya. "Berisik."
Papa menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas. "Kalau pusing sedikit, langsung ke UKS, jangan sok kuat."
Zea mengangguk, kali ini lebih serius.
****
Di sekolah.
Kelas X-1 sudah hampir penuh ketika zea melangkah masuk.
Chacha yang tadinya menunduk langsung mendongak.
"WOI...."
Zea mengangkat tangan lemas.
"Tenang, belum almarhumah." kata zea sambil tersenyum.
Chacha berdiri dan langsung memegang pipi zea. "Masih panas nggak?"
"Udah nggak, cuma badan kayak habis digilas ekspektasi."
Angel ikut menoleh. "Lo kurusan."
"Bagus dong." balas zea refleks, lalu duduk pelan.
Begitu ia duduk di bangku dekat jendela itu, ada rasa aneh yang sulit dijelaskan, dua hari kosong dan sekarang ia kembali.
Ditangga sekolah.
Leo sedang berjalan menuju kelas ketika tanpa sadar langkahnya melambat saat melewati salah satu kelas yang sejak kemarin jadi pusat perhatiannya. Entah kenapa ia berhenti sebentar lalu turun satu anak tangga, berhenti lagi.
“Ngapain sih?” tanya Digo yang berjalan di belakangnya.
“Siapa yang ngapain?” balas leo datar.
Tapi kakinya tetap bergerak turun.
Koridor kelas X-1 terlihat seperti biasa. Suara guru terdengar dari dalam, menjelaskan materi dengan nada monoton.
Leo berdiri beberapa langkah dari pintu, tidak terlalu dekat tidak terlalu jauh.
Digo menyilangkan tangan. “Lo sadar nggak sih, dari kemarin aneh banget.”
Leo mengabaikannya.
Dari celah kecil di pintu, ia bisa melihat sebagian kelas, bangku dekat jendela, terisi. Zea duduk tegak, menatap papan tulis rambutnya diikat sederhana wajahnya masih sedikit pucat, tapi jelas lebih hidup dari dua hari lalu.
Ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan saat melihatnya di sana, bukan kaget, bukan lega sepenuhnya lebih ke… sesuatu yang kembali ke tempatnya. Tiba-tiba zea berhenti menulis alisnya sedikit berkerut, seperti merasakan sesuatu, ia menoleh perlahan ke arah pintu, pandangan mereka hampir bertemu, hanya sepersekian detik.
Leo refleks mundur satu langkah.
Digo langsung menahan tawa. "Astaga, lo kayak maling."
"Berisik." desis leo.
Bel pergantian jam berbunyi, memecah momen canggung itu, leo akhirnya berbalik naik tangga lagi, pura-pura santai meski langkahnya sedikit lebih cepat.
Di dalam kelas, zea masih menatap pintu yang kini sudah kosong.
"Kenapa?" bisik chacha.
Zea menggeleng pelan. “Nggak tau, kayak ada yang...."
"Halunya kambuh?" tanya chacha sambil tertawa pelan.
Zea mendengus kecil. "Bisa aja."
Tapi jauh di dalam hatinya ia tahu satu hal, Itu bukan halu. Dan di lantai atas, leo duduk di bangku paling belakang dengan buku terbuka yang tidak benar-benar dibaca.
Bersambung