Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.
Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jantung Dunia
Tekanan di kedalaman tiga ribu meter di bawah permukaan laut bukanlah sesuatu yang bisa dibayangkan oleh manusia biasa. Di dalam kabin kapal selam The Sub-Routine yang sempit, suara logam yang meregang terdengar seperti rintihan raksasa yang sedang sekarat. Genta bisa merasakan setiap getaran air yang menekan dinding kapal, seolah-olah lautan itu sendiri memiliki kehendak untuk menghancurkan siapa pun yang berani mengusik rahasianya.
Di luar jendela kaca tebal, pemandangannya sangat mencekam. Kapal selam besar milik Kenji, Architect-01, tampak seperti pemangsa purba yang terbuat dari baja. Lampu sorot merahnya yang tajam terus menyapu kegelapan, mencari keberadaan Genta di antara celah-celah kabel raksasa yang menjuntai di dasar samudera.
"Genta! Alarm peringatan berbunyi! Torpedo akustik sudah diluncurkan dari arah belakang!" suara Sarah memecah kesunyian yang mencekam. Jemarinya bergerak lincah di atas panel kontrol, mencoba mencari celah untuk menghindar dari serangan yang mematikan tersebut.
"Sarah, lepaskan semua cadangan energi ke arah belakang! Kita gunakan sisa data biner sebagai umpan!" perintah Genta. Matanya tidak berkedip sedikit pun, tangannya mencengkeram tuas kendali dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ini adalah pertaruhan hidup dan mati bagi mereka semua.
Sarah segera menekan tombol darurat. Dari bagian belakang kapal, menyembur gumpalan cahaya oranye yang menyilaukan. Itu adalah sisa-sisa memori dunia yang sempat mereka kumpulkan selama perjalanan. Torpedo milik Kenji yang menggunakan pelacak frekuensi langsung terkecoh. Ledakan besar terjadi beberapa ratus meter di belakang mereka, menciptakan gelombang kejut yang sangat dahsyat di bawah air. Kapal selam Genta terlempar hebat, membuat mereka semua terjungkir di dalam kabin yang sempit.
"Dinding kapal di sektor belakang retak!" Aki berteriak sambil berusaha menahan kebocoran dengan peralatan darurat seadanya. "Genta, kapal ini tidak akan bertahan lebih lama lagi! Tekanan air di luar sini terlalu tinggi untuk kita lawan dengan tenaga mesin saja!"
Genta tidak menjawab dengan kata-kata. Di depan matanya, struktur Menara Core mulai terlihat menembus kegelapan laut. Bangunan itu tampak seperti menara terbalik yang tertancap di pusat bumi, dikelilingi oleh ribuan kabel raksasa yang berdenyut dengan energi biru yang misterius.
"Kita harus masuk ke dalam pipa pendingin itu!" Genta menunjuk ke arah sebuah lubang pembuangan raksasa di kaki menara. "Itu adalah satu-satunya jalur masuk yang tidak dijaga oleh senjata pertahanan otomatis!"
Dengan manuver yang sangat nekat dan berbahaya, Genta memacu kapalnya masuk ke dalam aliran air super dingin yang menuju pusat mesin. Mereka melesat seperti peluru di dalam pipa baja yang sempit. Di belakang mereka, kapal besar Kenji terpaksa berhenti karena ukurannya yang terlalu besar untuk masuk ke jalur tersebut. Kenji hanya bisa melihat targetnya menghilang ke dalam sistem pusat.
Setelah melewati perjalanan yang sangat mengguncang mental dan fisik, kapal mereka akhirnya keluar dan mendarat di sebuah kolam air yang tenang di dalam ruangan yang sangat luas. Genta membuka pintu palka kapal, dan seketika ia disambut oleh udara yang sangat bersih, dingin, dan berbau logam. Mereka telah sampai di Jantung Dunia, pusat dari segala sistem yang selama ini mengatur takdir dan keberuntungan manusia secara rahasia.
Ruangan itu luar biasa megah sekaligus mengerikan. Dinding-dindingnya terbuat dari jutaan susunan mesin yang berputar tanpa henti, memancarkan cahaya biru neon yang indah namun menakutkan. Di tengah ruangan, berdiri sebuah tiang cahaya raksasa yang menjulang tinggi ke atas. Inilah tempat di mana semua keputusan besar tentang dunia ini diproses dan dikirimkan ke permukaan.
"Jadi, ini adalah tempatnya..." bisik Sarah dengan penuh takjub sekaligus ngeri melihat skala teknologi di depannya.
"Jangan terlena dengan keindahannya," Aki memperingatkan dengan nada yang sangat serius. "Tempat ini adalah pertahanan terakhir. Setiap jengkal ruangan ini dirancang untuk menghapus siapa pun yang tidak diizinkan masuk oleh sistem utama."
Tiba-tiba, sistem keamanan ruangan itu menyala secara otomatis. Lantai di bawah mereka mulai bergeser dengan suara gemuruh yang berat, dan jaring-jaring sinar pengaman mulai ditembakkan dari segala arah. Genta harus bertindak cepat. Dengan keahlian teknisnya sebagai seorang ahli lift, ia mulai berlari melintasi ruangan tersebut. Ia melompat di antara platform yang bergerak, merayap di bawah sinar laser yang mematikan, dan terus melangkah menuju panel kontrol utama di bawah tiang cahaya.
"Hentikan langkahmu, Genta Pratama!" Sebuah suara hologram muncul di tengah ruangan. Itu adalah proyeksi wajah Kenji yang tampak sangat dingin dan tanpa emosi. "Jika kamu mematikan sistem ini, kamu akan menciptakan kekacauan yang tidak akan pernah bisa diperbaiki. Manusia tidak siap untuk memikul beban kebebasan yang kamu tawarkan itu!"
Genta sampai di depan panel kontrol yang sangat kompleks. Tangannya gemetar, bukan karena takut menghadapi maut, tapi karena beban tanggung jawab yang luar biasa terhadap miliaran nyawa. "Mungkin kamu benar, Kenji. Mungkin dunia akan jadi sangat kacau. Tapi kekacauan yang nyata jauh lebih baik daripada kedamaian yang palsu hasil rekayasa mesin!"
Tiba-tiba, suara ledakan keras terdengar dari sudut ruangan. Kapal selam Kenji ternyata memiliki alat bor raksasa dan berhasil menembus dinding ruangan Core secara paksa. Kenji keluar dari reruntuhan dengan memegang senjata energi yang sudah terisi penuh.
"AKAN KUHANCURKAN KAMU SEBELUM KAMU MENYENTUH TUAS ITU!" Kenji melepaskan tembakan energi besar ke arah Genta.
Dalam sepersekian detik yang menentukan, Aki melompat ke depan Genta, menggunakan sisa plat baja kapal sebagai perisai darurat. Benturan energi itu sangat kuat hingga Aki terpental jauh dan tidak sadarkan diri.
"AKI!" Genta berteriak dengan penuh amarah.
"Jangan pedulikan aku! Tarik tuasnya sekarang, Genta! Itu adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri semua kegilaan ini!" teriak Aki dengan sisa tenaganya yang terakhir.
Genta menatap panel di depannya untuk terakhir kali. Ia memasukkan alat teknis andalannya ke dalam slot kunci, lalu dengan seluruh emosi, keringat, dan harapannya bagi masa depan manusia, ia menarik tuas besar berwarna merah itu ke bawah dengan sekuat tenaga.
Seketika, seluruh mesin di ruangan itu berhenti berputar. Suara bising yang tadi mendominasi perlahan-lahan meredup menjadi kegelapan yang tenang dan sunyi. Sebuah suara dari sistem pusat bergema ke seluruh penjuru ruangan dengan nada datar: "Perintah diterima. Mengaktifkan mode kehendak bebas manusia. Memulai proses pembersihan total pada seluruh sistem realitas."
Seluruh struktur Menara Core mulai bergetar hebat. Cahaya putih yang sangat terang keluar dari tiang pusat, menelan segala sesuatu yang ada di ruangan itu. Genta menutup matanya, merasakan kedamaian yang luar biasa menyelimuti dirinya.
Perjuangan panjang sang teknisi lift akhirnya telah sampai pada titik akhirnya. Dunia tidak lagi memiliki kompas yang diatur oleh mesin, dan mulai detik ini, setiap orang harus menentukan jalan hidup mereka sendiri tanpa campur tangan algoritma mana pun.