NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Sebuah Fakta Terungkap Di Kota Pelajar

Udara Yogyakarta yang sedikit lebih sejuk menyambut kedatangan rombongan Bus 4 saat mereka memasuki pelataran hotel bintang empat di kawasan jantung kota tersebut. Kelelahan akibat perjalanan panjang dari Bali mulai terlihat di wajah-wajah para siswa, namun prosedur tetap harus dijalankan.

Seperti biasa, Pak Bambang selaku Wakil Kepala Sekolah sudah berdiri tegak di lobi, memberikan pidato singkat tentang aturan selama di Yogyakarta. Setelah itu, barisan diambil alih oleh Bu Ratna dan para guru wali kelas masing-masing. Namun, ada yang berbeda kali ini; kebijakan hotel di Yogyakarta mengharuskan satu kamar diisi oleh empat orang.

"Perhatikan semuanya! Karena kuota kamar di sini berbeda, Ibu akan bacakan pembagian kamar yang baru," seru Bu Ratna sambil memegang daftar nama.

Gery dan teman-temannya saling pandang. Mereka sudah terbiasa bertiga (Gery, Dion, Reno), namun pengumuman kali ini membuat mereka harus berpisah.

"Kamar 305: Dion, Gery, Sammy, dan Adrian."

Reno seketika lemas. "Yah, gue pisah sama kalian?" keluhnya pelan.

Bu Ratna melanjutkan, "Kamar 307: Reno, Feri, Raka, dan Bobi."

Gery menepuk bahu Reno untuk menghiburnya. "Cuma beda dua pintu, Ren. Jangan kayak mau pisah pulau," canda Gery.

Saat Gery memasuki kamar 305 bersama koper-kopernya, ia segera disambut oleh wajah-wajah yang sebenarnya tidak asing. Sammy adalah teman SMP Gery. Meski dulu di sekolah mereka tidak pernah satu kelas, keduanya sering menghabiskan waktu di lapangan karena berada dalam satu tim basket yang sama.

"Woi, Ger! Nggak nyangka kita satu kamar di Jogja," sapa Sammy sambil meletakkan tasnya. "Masih sering latihan basket nggak lo?"

"Jarang, Sam. Paling cuma main santai aja," jawab Gery sambil tersenyum.

Sementara itu, Adrian ternyata adalah tetangga Vanya di kompleks perumahannya. Hal ini membuat Gery sedikit merasa "diawasi" dalam tanda kutip, mengingat Adrian pasti tahu banyak tentang kehidupan Vanya di lingkungan rumah.

"Gue Adrian, Ger. Gue tetangganya Vanya, sering liat lo anter dia pulang pas tugas kelompok," ujar Adrian dengan nada ramah namun sedikit menyelidik. Gery hanya mengangguk sopan, sementara Dion sudah sibuk merebahkan diri di salah satu dari dua kasur besar yang tersedia.

Di kamar lain, Reno bersama Feri harus beradaptasi dengan Raka dan Bobi, dua siswa PH2 yang dikenal cukup pendiam namun asyik jika diajak bercanda. Meskipun formasi di Jogja ini berubah, suasana pertemanan mereka tetap solid.

Gery duduk di pinggir kasur, menatap jendela yang memperlihatkan kerlip lampu kota Yogyakarta. Perubahan teman sekamar ini membawa dinamika baru. Dengan Sammy yang tahu masa lalunya di SMP dan Adrian yang merupakan tetangga Vanya, Gery merasa babak Yogyakarta ini akan membuka lebih banyak cerita tentang siapa dirinya dan bagaimana hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya akan berkembang.

Fajar di Yogyakarta menyelinap masuk melalui celah gorden kamar 305, membawa semburat cahaya yang menandai awal petualangan mereka di Kota Pelajar. Gery, yang secara alami memiliki jam biologis lebih awal dibanding teman-temannya, sudah terjaga sejak pukul 05.30. Ia duduk di pinggir kasur, mengumpulkan nyawa sembari memperhatikan suasana tenang kamar tersebut.

Tak lama kemudian, Sammy mulai menggeliat. Ia mengerjap, menyadari Gery sudah dalam posisi duduk tegak. Sammy bangkit dengan rambut acak-acakan, lalu menoleh ke arah Gery sembari berbisik pelan agar tidak mengusik Dion dan Adrian yang masih mendengkur halus.

"Ger, lo emang nggak pernah berubah ya? Selalu bangun paling awal dari zaman SMP," bisik Sammy sembari beranjak ke arah wastafel.

Gery terkekeh kecil. "Kebiasaan, Sam. Sayang kalau melewatkan udara pagi."

Sammy menyeka wajahnya dengan air dingin, lalu kembali mendekati Gery. "Gue sering merhatiin lo di kelas, Ger. Kita emang satu jurusan, tapi duduk kita bertolak belakang banget. Lo asik di pojok belakang sama Vanya, sementara gue harus berjuang di barisan depan depan meja guru. Rasanya kayak kita beda dunia kalau udah di lingkungan sekolah."

Sammy terdiam sejenak, menatap Gery dengan tatapan penuh nostalgia. "Eh, gue baru inget. Ada lapangan basket dihotel ini ger, gue liat pas kita baru dateng, lokasinya deket kolam renang. Lo masih sanggup nggak? Terakhir kita tanding di tim basket SMP, lo yang paling lihai urusan three-point sama drive ke ring. Ayo, kita olahraga pagi bentar sebelum anak-anak bangun. Mumpung jadwal kegiatan Jogja baru mulai nanti siang, kita punya banyak waktu."

Gery sempat melirik Dion dan Adrian yang masih terbungkus selimut rapat-rapat. Tawaran Sammy membangkitkan gairah kompetitif yang sudah lama ia simpan semenjak sibuk dengan urusan sekolah dan kegiatan-kegiatan diluar sekolah.

"Boleh juga. Gue kangen keringetan di lapangan," jawab Gery mantap.

Gery segera mengganti pakaian tidurnya dengan kaos jersey tipis dan celana olahraga. Ia dan Sammy menyelinap keluar kamar dengan gerakan seringan mungkin, melewati lorong hotel yang masih sepi dan hanya dihuni oleh beberapa petugas housekeeping yang sedang mulai bekerja.

Setibanya di lapangan basket hotel, udara dingin Yogyakarta langsung menusuk kulit, namun semangat mereka jauh lebih hangat. Sammy sudah membawa bola basket yang ia pinjam dari resepsionis olahraga hotel.

"Coba tunjukin, masih sejago dulu nggak?" tantang Sammy sembari melakukan dribble rendah.

Gery tersenyum sinis. Ia segera mengambil posisi bertahan. Begitu Sammy mencoba melakukan terobosan, Gery dengan cekatan melakukan steal dan langsung berlari keluar garis three-point lalu menuju ring. Suara sepatu yang berdecit di atas semen lapangan dan pantulan bola yang ritmis menciptakan simfoni pagi yang maskulin.

Mereka bermain satu lawan satu (one-on-one). Sammy mencoba melakukan rebound keras, namun Gery dengan teknik yang masih terjaga melakukan fade-away jumper yang mulus masuk ke jaring.

"Gila, feeling lo masih dapet banget, Ger!" seru Sammy terengah-engah, peluh mulai membasahi dahinya.

"Lo juga, Sam. Masih kuat nabrak kayak banteng," balas Gery sembari mengatur napasnya.

Di sela-sela permainan, mereka duduk di pinggir lapangan, menenggak botol air mineral. Sammy menatap langit yang mulai cerah. "Ger, gue denger lo deket sama Vanya ya? Adrian, temen sekamar kita yang tetangganya itu, sempet cerita dikit pas di bus kemarin."

Gery tertegun sejenak. "Ya... gitulah, Sam. Kita saling dukung aja buat urusan sekolah."

"Baguslah. Vanya itu anak baik, tapi dia butuh orang yang stabil kayak lo. Gue kenal lo dari SMP, lo orangnya nggak banyak tingkah tapi bisa diandelin. Cocok lah kalau sama dia," kata Sammy tulus.

Obrolan itu terhenti ketika mereka melihat dari kejauhan beberapa siswa lain mulai terlihat di balkon hotel, termasuk Reno yang tampak menguap lebar dari lantai tiga. Olahraga pagi itu bukan sekadar membakar kalori, bagi Gery, itu adalah momen rekoneksi dengan jati dirinya sebelum ia harus kembali ke peran "pelindung" bagi Vanya dan "wakil ketua kelas" bagi rekan-rekannya.

Gery dan Sammy pun memutuskan untuk mengakhiri sesi basket mereka dan kembali ke kamar untuk mandi, sementara Dion dan Adrian mungkin baru saja mulai mengumpulkan nyawa mereka untuk menghadapi teriknya Yogyakarta siang nanti.

Aroma kopi instan yang kuat mulai memenuhi ruang kamar 305, beradu dengan uap hangat dari teko listrik yang baru saja mati. Gery, dengan handuk kecil yang masih melingkar di lehernya sisa olahraga tadi, bergerak dengan tenang menyiapkan minuman.

"Yon, Yan, kopi?" tawar Gery singkat. Keduanya yang masih bergelut dengan rasa kantuk di atas kasur serentak menjawab dengan anggukan mantap dan teriakan "Mau!" yang cukup kompak. Gery kemudian beralih ke Sammy. "Teh ya, Sam? Gue ingat lo nggak cocok sama kopi." Sammy tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya.

Dion segera menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi, meninggalkan Gery, Adrian, dan Sammy dalam keheningan pagi yang perlahan berubah menjadi serius.

Adrian menerima cangkir kopinya, meniup permukaannya perlahan, lalu menatap Gery dengan tatapan yang sangat dalam.

"Ger, gue mau nanya serius," Adrian memulai, suaranya merendah. "Lo beneran udah jadian sama Vanya? Maksud gue... secara resmi?"

Gery terdiam sejenak, memegang cangkirnya yang hangat. Belum sempat ia menjawab, Adrian melanjutkan dengan nada bicara yang penuh beban.

"Jujur ya, Ger, gue lebih setuju kalau Vanya sama lo. Sebagai tetangganya, gue tahu kondisi rumahnya. Orang tua Vanya udah cerai. Dia cuma tinggal sama Ibu dan adiknya yang baru masuk SD. Vanya itu... dia butuh sosok kayak lo yang tenang dan bisa membimbing," Adrian menghela napas, bayangan masa lalu seolah melintas di matanya. "Gue juga kenal mantannya. Dia temen SMP gue, sekarang di sekolah pelayaran. Sifatnya kolotan banget, Ger. Overprotektif yang nggak sehat. Gue sering banget denger mereka ribut di jalan kompleks tiap malam minggu pas gue lagi nongkrong. Kadang anak-anak kompleks sampai harus turun tangan belain Vanya kalau mantannya udah keterlaluan."

Gery mendengarkan setiap kata itu dengan saksama. Informasi ini jauh lebih berat dari yang ia bayangkan sebelumnya.

"Vanya itu sangat benci sama bapaknya yang ninggalin ibunya gitu aja," lanjut Adrian lagi. "Makanya dia haus perhatian dari laki-laki yang bisa dipercaya, yang bisa gantiin peran pelindung di hidupnya. Lo orangnya, Ger."

Sammy yang sejak tadi mendengarkan sambil menyeruput tehnya, melirik Gery lalu menatap Adrian. "Gery bisa kok, Yan. Gue temen satu SMP sama dia dan gue tahu persis sifat dia gimana. Dia nggak bakal macem-macem. Jadi, lo nggak perlu khawatir soal tetangga lo itu," sahut Sammy dengan nada meyakinkan.

Gery hanya terdiam, mencerna kenyataan pahit di balik keceriaan Vanya selama ini. Sekarang ia mengerti mengapa Vanya begitu ketakutan kehilangan arah setelah putus, dan mengapa Vanya meminta "kontrak" hubungan tersebut. Itu bukan sekadar drama remaja, melainkan bentuk pertahanan diri seorang gadis yang hatinya sudah hancur sejak di rumah.

Cklek.

Pintu kamar mandi terbuka. Dion keluar dengan uap air yang masih mengepul dari tubuhnya, mengusap rambutnya dengan handuk. Ia terhenti saat melihat tiga temannya duduk mematung dengan wajah yang sangat serius.

"Loh, ada apa ini? Suasananya tegang banget kayak lagi sidang skripsi," tanya Dion heran, matanya berpindah-pindah menatap Gery, Sammy, dan Adrian.

Gery menghela napas panjang, mencoba melepaskan sesak di dadanya akibat cerita Adrian. "Nanti gue ceritain, Yon. Nggak sekarang," jawab Gery pelan.

Tanpa banyak bicara, Adrian langsung berdiri dan menyelinap masuk ke kamar mandi, seolah ingin memberikan ruang bagi Gery untuk memproses semua informasi tadi. Gery menatap kopi di tangannya yang mulai mendingin. Di Yogyakarta ini, tanggung jawabnya terhadap Vanya terasa bergeser—bukan lagi sekadar teman belajar, melainkan menjadi satu-satunya tempat bersandar bagi seseorang yang dunianya sedang tidak baik-baik saja.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!