NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua

Bunyi bel terdengar nyaring pertanda upacara telah selesai membuat Meira mengatupkan kembali mulutnya yang hendak berbicara. Upacara telah dibubarkan dan kini semua siswa berpencar menuju gedung sekolah untuk kembali ke kelas masing-masing. Meira dan Ayara masih berdiam di tempatnya, menunggu wanita yang tadi mengantar kembali menemui mereka. Kurang lebih sepuluh menit berlalu, wanita itu kembali bersama dengan seorang guru berusia sekitar tiga puluh tahun.

Guru itu mengajak Meira dan Ayara untuk mengikutinya usai berpamitan dengan wanita tadi. Selama perjalanan, Meira dan Ayara diajak berbincang ringan mengenai sistem belajar mengajar di sekolah ini.

"Murid cowok disini ganteng-ganteng, lho." Guru yang bernama Resma itu berucap ramah.

"Wah, serius, Bu?" sahut Ayara antusias, Bu Resma mengangguk.

"Itu di depan sebentar lagi sampai ke kelas kalian." ucapnya lagi.

Ayara kembali bersuara untuk menimpali, sedangkan Meira hanya mengangguk samar sambil tersenyum kaku. Ia merasa sedikit gugup.

"Nah, ini kelasnya." Bu Resma menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu kelas yang terdapat tulisan XI IPA 1 di atas pintunya.

"Ayo, masuk." ajak Bu Resma sambil membuka pintu kelas.

Hingga tibalah mereka di hadapan seluruh murid kelas XI IPA 1. Suasana kelas yang awalnya berisik, menjadi hening ketika Bu Resma masuk membawa dua orang murid baru. Ayara menatap satu persatu orang yang ada di kelas, tiba-tiba matanya terhenti pada satu orang cowok yang sangat ia kenal. Senyuman lebar langsung terukir di wajah cewek itu. Ia baru saja akan berbisik pada Meira, namun Bu Resma bersuara lebih dahulu untuk mempersilakan mereka memperkenalkan diri.

"Silahkan, perkenalkan diri kalian." suruh Bu Resma pada Ayara dan Meira.

"Hallo semua, nama gue Ayara Alifiya Marissa. Kalian bisa panggil gue Ayara." ucap Ayara dengan senyuman lebarnya.

"Yang pinggirnya namanya siapa?" tanya Bu Resma pada Meira. Ayara melirik Meira yang mematung, menyenggol lengannya pelan.

"Saya Meira, Meira Adisty." Meira tersenyum kaku.

"Gemes banget ih, ada bolong di pipinya." celetuk Haris spontan.

Si pembuat onar kelas itu tampak terkesima melihat paras Meira. Kulit putih bersih, mata cokelat yang berbinar dan juga sepasang lesung pipi yang muncul saat ia tersenyum kaku benar-benar mencuri perhatian.

Namun, di barisan belakang, suasana mendadak berubah tegang. Seorang murid laki-laki bernama Ilham yang tadi sempat ikut mengamati Meira, menoleh ke arah temannya —Abil, duduk di sampingnya yang juga sedang melihat ke arahnya. Keduanya saling bertukar pandang dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan keterkejutan, keraguan dan sedikit rasa tidak percaya yang tertangkap dari ekspresi mereka.

Bagi mereka, wajah Meira, terutama tatapan matanya, terasa sangat familiar. Seolah-olah sebuah memori yang terkubur paksa beberapa tahun lalu tiba-tiba bangkit dan berdiri nyata di depan kelas.

Rey, sang ketua kelas yang dikenal dingin, tidak melepaskan pandangannya dari Meira. Ia mengeraskan rahangnya hingga urat di lehernya terlihat menonjol. Mata tajamnya mengamati setiap inci wajah Meira dengan intensitas yang mengintimidasi. Meira yang merasa diperhatikan sedalam itu refleks menundukkan kepala, merasa tidak nyaman sekaligus bingung.

"Dua-duanya cantik sih, kalau kayak gini, gue disuruh milih sambil merem juga udah pasti mau banget." timpal teman sebangku Haris, berusaha memecah keheningan aneh di antara Ilham dan Abil.

"Dasar playboy!" seru hampir semua cewek di kelas, mengembalikan keriuhan sejenak.

"Sudah, sudah, jangan berisik." lerai Bu Resma. "Nanti saja acara kenal-kenalannya. Sekarang izinkan mereka untuk duduk terlebih dahulu."

Bu Resma kemudian mengatur posisi duduk mereka. Meira diarahkan untuk duduk di sebelah Hesty, sedangkan Ayara duduk di samping Lana. Saat Meira melangkah menuju bangkunya, ia harus melewati meja Rey.

Langkah Meira melambat. Ia bisa merasakan aura dingin yang dipancarkan cowok itu. Rey masih tetap pada posisinya, tubuh tegak dengan mata yang terpaku pada Meira dan tangan yang mengepal kuat di atas meja. Seolah-olah kehadiran Meira adalah sebuah ancaman atau misteri besar yang harus ia pecahkan saat itu juga.

Meira berusaha tersenyum sopan saat mata mereka tak sengaja bertubrukan, namun Rey tidak bergeming. Ia tidak membalas senyuman itu. Tatapannya justru menyiratkan luka lama yang mendalam.

"Semoga kita bisa berteman baik ya, Mei." bisik Hesty saat Meira sudah mendaratkan bokongnya di kursi.

Meira hanya mengangguk samar, namun pikirannya tertinggal pada tatapan Rey. Mengapa cowok itu menatapnya seolah ia adalah seorang buronan?

"Baiklah, seperti yang Ibu janjikan minggu kemarin, hari ini kita akan ulangan harian." ujar Bu Resma membuat suasana kembali menjadi riuh.

"Yaah, Bu, harus hari ini banget?" keluh seorang cowok yang duduk dibarisan paling belakang.

"Iya, Bu, baru aja kedatangan murid baru masa udah ulangan aja." timpal yang lain.

"Bener tuh, Bu. Kasian mereka baru masuk udah disuguhi ulangan, mana ulangannya Fisika lagi."

"Betul, Bu." seru semua murid.

Bu Resma mengetuk meja dengan penghapus papan tulis, berusaha menghentikan kebisingan yang tercipta. "Ada murid baru bukan berarti kalian bisa bebas dari ulangan!" tegasnya.

"Untuk Meira dan Ayara, kalian berdua ikut saja. Nilainya bisa ibu toleransi, karena kalian baru masuk." lanjutnya.

"Baik, Bu." ucap Meira dan Ayara bersamaan. Sedangkan yang lainnya kembali mengeluh merasa tidak senang.

"Rey, tolong bagikan soalnya."

Rey berdiri dalam keheningan yang mencekam. Matanya masih sempat menyapu wajah Meira sekali lagi sebelum ia melangkah maju ke meja Bu Resma. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia sedang menyeret beban yang tak terlihat.

Ia mengambil tumpukan kertas soal itu tanpa sepatah kata pun. Meira memperhatikan punggung tegap Rey yang kini mulai berkeliling membagikan kertas. Saat tiba di meja Meira, Rey berhenti sejenak. Ia tidak langsung menjatuhkan kertas itu ke meja seperti yang ia lakukan pada murid lain.

Tangan Rey yang memegang kertas sedikit gemetar. Ia meletakkan lembar soal itu tepat di depan Meira. Jarak mereka cukup dekat hingga Meira bisa mencium aroma parfum maskulin yang bercampur dengan hawa dingin yang asing. Rey menunduk sedikit, menatap mata cokelat Meira dengan sorot yang kini tampak lebih seperti kesedihan.

Meira tersenyum tipis. "Makasih."

Rey tidak menjawab. Ia berbalik dan melanjutkan tugasnya. Di barisan belakang, Abil dan Ilham terus memperhatikan interaksi itu dengan gelisah. Kertas soal di tangan mereka bahkan belum disentuh.

"Bil, lo liat kan?" bisik Ilham tanpa mengalihkan pandangan dari Meira. "Mereka mirip banget. Matanya, lesung pipinya, itu bener-bener kayak..."

"Diam, Ham." potong Abil dengan nada peringatan. Ia mulai mencoret-coret kertas coretannya dengan kasar, berusaha mengalihkan fokus yang buyar. "Jangan sebut nama itu di sini."

Suasana kelas XI IPA 1 mendadak senyap, hanya terdengar gesekan pena di atas kertas dan detak jam dinding yang terasa lebih lambat dari biasanya. Namun bagi Meira, keheningan ini justru membuatnya merasa tercekik. Ia melirik kertas soal Fisika di depannya, namun pikirannya tiba-tiba kembali melayang pada tulisan 'Tya' di miniatur yang ada dikamar rumah Ayara.

Mengapa nama itu seolah mengikuti langkahnya? Meira menarik napas panjang, mencoba fokus pada deretan rumus di hadapannya.

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!