Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai rencana
"Kakak tidak ke kantor?" tanya Juno
"Kamu wakili kakak satu hari lagi, kakak mau ajak Adisti jalan jalan, kasihan satu minggu ini dia kakak tinggal ke luar kota" jawab Anjas
"Baiklah, tapi apa benar cabang perusahaan kita di sana bermasalah?" tanya Juno
"Tidak, ada sedikit masalah karena kesalahpahaman saja, semuanya sudah kakak urus" jawab Anjas
"Syukurlah, kalau begitu Juno berangkat ke kantor dulu kak" pamit Juno memeluk Anjas dan juga Adisti.
"Dadah Om, jangan pulang tellalu malam Om, besok saja pulangnya" ucap Adisti langsung di ciumi Anjas karena gemas.
"Om tidak pulang kamu nanti yang sibuk telepon Om" gerutu Juno juga mencubit pipi Adisti lalu pergi ke kantor.
"Ayo kita ke Mall, kita borong semua isi Mall"
"Let's go papa!" jawab Adisti semangat dan segera berlari ke arah kamarnya untuk mengambil tas kecil kesayangannya yang di hadiahkan Anjas.
"Bi hari ini mungkin kami akan makan siang di luar, mungkin akan sampai malam juga, tidak perlu memasak untuk kami, masak untuk kalian yang ada di rumah saja" ucap Anjas
"Baik pak" jawab Tari menunduk sopan.
Anjas menuntun Adisti yang hari itu memakai dress selutut berwarna ungu, warna kesukaan Aditi, rambut panjangnya sudah di ikat dengan rapi oleh Lilis dan tas selempang warna ungu dari brand ternama itu juga di belikan Anjas secara khusus.
Sampai di Mall, Adista langsung ke tempat pakaian dan sepatu, pakaian miliknya yang tidak terpakai selalu dia berikan pada anak anak panti asuhan, bahkan mainan miliknya juga banyak yang dia kirim ke panti asuhan supaya anak anak di sana bisa merasakan bermain dan memakai pakaian yang layak.
"Papa, Adis mau main di game zone"
"Ayo, kita ke sana bersama" jawab Anjas tak malu menggendong Adisti di depan orang orang yang menatap kagum padanya.
"Papa, semua olang melihat ke alah papa" bisik Adisti
"Mereka kagum dengan kecantikan putri papa yang imut ini" jawab Anjas membuat anaknya itu tersipu malu
"Pelet itu benar benar ampuh, sekarang aku di pandang penuh kekaguman oleh semua orang, bahkan tanpa aku harus melakukan apapun untuk menarik perhatian mereka" batin Anjas yang merasa lebih percaya diri.
"Ayo kita main basket pa, nanti papa bantu Adis masukkan bolanya" ajak Adisti berlari
"Adis jangan lari lari nak" panggil Anjas mengejar Adisti
Bruk.
"Aduh.. hiks... papa!"
"Makanya jangan lari lari jadi jatuh kan, aduh mas, pakaian aku jadi kotor" ucap seorang perempuan yang di tabrak oleh Adisti
"Nanti kita beli lagi yang baru, kamu jangan khawatir, hanya kotor karena es krim saja, anak siapa sih ini" bujuk si lelaki yang menggandeng perempuan itu
"Adis!" kaget Anjas segera menggendong Adisti dan menenangkan anaknya yang menangis.
"Anjas" kaget seseorang yang membuat Anjas melihat ke arah mereka
"Kalian, sedang jalan jalan?" tanya Anjas berusaha bersikap biasa saja
Itu adalah Triana mantan istrinya dan juga Hengki orang yang dulu sempat jadi sahabat terbaiknya, bahkan Hengki sudah mengambil banyak keuntungan dari hubungannya dengan Triana, tak hanya uang, tapi rumah yang dia tempati sekarang juga adalah rumah yang dia beli dengan uang pemberian Anjas dan Triana.
"Kamu terlihat berbeda" ucap Triana tak bisa memalingkan wajahnya dari Anjas
Anjas menyeringai tipis, dia senang jebakannya berhasil dan Triana sudah mulai terkena pelet yang di miliki Anjas, tak perlu melakukan ritual apapun, cukup menatap mata target Anjas dan memanggil namanya dalam hati, maka secara otomatis si perempuan akan terus memikirkan Anjas.
"Ya semua orang berubah Triana, kamu juga, kamu terlihat menyedihkan sekarang, kamu yakin Hengki akan mempertahankan kamu?" sinis Anjas
"Kamu jangan menghina dia Anjas, dia mungkin berpaling dari kamu tapi tidak saat denganku, begitupun aku, aku setia padanya" kesal Hengki
"Benarkah? Ya aku bisa melihat kesetiaan itu di mata kalian" cibir Anjas
"Papa, meleka siapa?" tanya Adisti polos
"Nak ini ma..."
"Mereka mantan pembantu di rumah papa yang dulu" jawab Anjas memotong ucapan Triana
"Oh.. halo Om, Tante, maaf Adis tadi nablak kalena mau main basket" ucap Adisti sopan
"Kamu tega mas mengatakan aku pembantu padahal aku ini adalah..."
"Sudah cukup, saya sibuk silahkan pergi dari sini" balas Anjas
"Kamu tidak bisa memisahkan mereka Anjas, anak kamu butuh Triana juga" ucap Hengki
"Tidak, dia tidak butuh siapapun, hanya aku yang anakku butuhkan, pergilah kami sibuk" jawab Anjas memasukkan handphone miliknya ke dalam tas milik Adisti.
Mata Triana langsung mengarah pada tas yang di pakai Adisti, dia tahu harga tas itu adalah ratusan juta, sangat jauh berbeda dengan tas miliknya yang hanya seharga puluhan juta hadiah dari Hengki. Seketika itu juga ingatannya di tarik ke saat saat di mana Anjas begitu memanjakannya dengan perhatian dan juga uang, matanya kembali menatap Anjas yang terlihat menghapus air mata Adisti dan mulai tumbuh perasaan menyesal setelah melihat Anjas semakin tampan dan gagah.
"Ayo kita pulang sayang, jangan berlama-lama di sini, bisa bisa dia membuat kamu keguguran" ajak Hengki cukup membuat Anjas terkejut dan mengepalkan tangannya.
"Kamu hamil?" tanya Anjas
"Aku..."
"Iya dia hamil anakku" jawab Hengki segera menarik tangan Triana supaya pergi dari sana tapi Triana masih tetap menatap Anjas.
"Selamat atas kehamilan kamu, semoga dengan adanya anak itu kalian bisa semakin dewasa dan lebih bisa setia" ucap Anjas
"Mas... aku.. Aku mau minta maaf" ucapnya Triana mendekati Anjas
"Sayang" Hengki kembali menarik tangan Triana supaya dia ikut dengan Hengki, tapi percuma saja, Triana sudah mulai terpengaruh peket di tubuh Anjas yang begitu kuat menarik pikirannya untuk terus memikirkan Anjas.
"Mas, kamu mau kan memaafkan aku? Kita mulai hidup kita dari awal lagi" bujuk Triana
"Maaf, tapi aku tidak suka barang bekas" jawab Anjas segera pergi dari sana .
"Mas.."
"Cukup Triana, kamu jangan mempermalukan dirimu sendiri! Ingat tujuan kita untuk tetap bersama adalah supaya bisa membuat Anjas semakin marah dan juga patah hati, aku mengincar semua rekan bisnisnya untuk berpindah ke perusahaan kita yang baru" bujuk Hengki
"Tapi mas, aku bosan hidup sederhana terus, dulu mas Anjas selalu memanjakan aku" keluh Triana
"Salah kamu juga dulu, kenapa merayuku untuk melakukan itu di atas kasus Anjas, kan jadi ketahuan!" kesal Hengki yang langsung menarik tangan Triana secara paksa.