Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Nafis menikmati setiap rukuk dan sujudnya. Setiap helai nafas senantiasa terucap syukur. Langkahnya mengambarkan jika hatinya mulai lapang. Jiwa yang sempat rapuh sedang mencoba perlahan menguatkan diri.
Sejak sepuluh hari dia berada di tanah suci menikmati khusuknya ibadah umroh dengan di temani kedua orang tuanya dan juga kedua anaknya. Ini sesuai azamnya, ketika semua proses itu telah berakhir maka ia akan memboyong anak dan orang tuanya ke tanah suci.
Tak lupa dia juga mengajak mbak Nur dan Mirna juga kang Tejo. Mereka bertiga adalah orang yang selama ini selalu setia menemani setiap langkahnya. Bahkan saat awal pindah ke Magelang dan rumah belum siap di tempati karena harus di renovasi di sana sini, tiga orang ingin tidak mengeluh dia ajak tinggal di ruko tempat yang sekarang Nafis gunakan untuk butiknya.
" Bunda..." Seruan lembut membuat Nafis menghentikan sejenak dzikir yang sedang ia lantunkan.
" Iya sayang, ada apa ?"
" Masih lama dzikirnya ?"
" Mbak Zizah capek ?"
" Enggak tapi, adek sudah ngantuk. Terus eyang uti juga kayaknya sudah capek." Nafis tersenyum menatap putrinya.
" Ya sudah sebentar ya, bunda sedikit lagi selesai " Zizah mengangguk lalu, kembali ke samping uti dan kakungnya.
Sementara Nafis kembali khusuk melafalkan dzikirnya dan menutupnya dengan doa dan menengadahkan kedua tangannya.
" Ya Rabb, terima kasih atas cintamu yang begitu luar biasa. Engkau telah memberiku begitu banyak kekuatan sehingga aku masih mampu berdiri sejauh ini. Ya Allah, hamba masih mengharap limpahan kasih sayangmu. Semoga engkau berkenan melimpahkan nikmat panjang umur yang barokah dan manfaat. Sehingga hamba terus dapat membersamai dua buah hati hamba sehingga mereka bisa tumbuh dengan baik dan menemukan kebahagiaan mereka kelak. Aamiin "
Nafis segera menoleh kearah keluarganya, dia tersenyum melihat putranya berusaha menahan kantuk.
" Maaf ya sayang bunda lama ya, adik pasti ngantuk banget kan ?" Naufal dengan polosnya menganguk.
" Padahal sudah sudah saya suruh tidur bu, katanya nggak mau takut bikin kotor disini "
" Ya Allah pintar sekali putra bunda ini. Mau bunda gendong sayang ?" Naufal menganguk.
" Masih kuat Fis ?" Nafis menganguki pertanyaan ibunya.
" Insya Allah masih bu "
" Biar sama saya saja bu " Kang Tejo menawarkan bantuan.
" Tidak apa-apa kang. Nanti kalau sudah capek sama kang Tejo atau biar di stroller saja "
Nafis menatap tempat ini sekali lagi, dalam hatinya dia berucap." semoga kelak dia bisa kembali kesini lagi."
Dengan langkah mantap sembari mengendong putranya Nafis meninggalkan Masjidil Haram. Ini hari terakhirnya di sini. Malan ini dia dan rombongan akan bertolak kembali ke tanah air. Sudah banyak agenda yang menanti janda muda satu ini.
Nafis lega telah melaksanakan keinginannya. Segala beban dia tinggalkan bersama langkahnya sepuluh hari lalu saat meninggalkan tanah air dan bertolak ke tanah suci. Dengan harapan ketika dia kembali ke tanah air dia sudah menjadi Nafis yang baru. Seperti terlahir kembali setelah mengeram bagai kepompong.
Sesampainya mereka di hotel segera berkemas. Karena Agensi yang menemani perjalanan mereka telah memberi tahu jika dua jam lagi mereka akan bertolak kebandara Internasional King Abdulaziz.
Beruntung mereka sudah packing sebelumnya. Sehingga tidak terlalu ribet saat seperti ini. Mereka tadi memang diizinkan untuk ikut jama'ah sholat as'ar terlebih dahulu.
" Bunda Nafis, mohon maaf nanti bisa berfoto dengan kami sebentar " Ucap salah satu petugas travel.
" Boleh mbak "
" Terima kasih banyak bunda. Padahal kami tidak endorse bunda tapi, bunda baik banget mau kami foto dan kami post di sosial media kami."
" Ya Allah santai saja mbak, mbak dan teman-teman susah mengantarkan dan mengawal perjalan ibadah umroh kami dengan baik. Ustazah Nabila juga menuntut kami. Sehingga kami tidak salah dalam melaksanakan rukun dan wajibnya umroh dengan baik."
" Masya Allah terima kasih banyak bunda. Bunda juga sudah memberi ulasan positif pada travel kami."
" Sama-sama mbak, semoga berkah semuanya."
" Aamiin "
" Oya team saya di Jakarta sudah mengirim beberapa novel ke kantor travel mbak Putri, sudah saya kasih nama buat siapa saja. Semoga suka ya"
" Ya Allah terima kasih banyak bunda. Dua novel terakhir bunda saya sudah berkali-kali order tapi, kebetulan selalu kehabisan."
" Sama-sama mbak, maaf kemaren mencuri dengar katanya mbak belum dapat novel saya. Jadi saya langsung menelfon team saya. Alhamdulillah di kantor masih ada."
" Ya Allah terima kasih banyak bunda "
" Sama-sama "
Nafis memenuhi permintaan pihak travel untuk berfoto bersama. Bahkan mereka juga berforo dengan beberapa jam'ah yang sedari kemaren ingin berforo dengan Nafis tetapi,takut menganggu fokus Nafis saat beribadah. Karena mereka melihat Nafis dan rombongan hanya fokus beribadah tanpa mengambil gambar untuk dokumentasi.
Selama mengudara Nafis duduk di sebelah putrinya. Karena Naufal memilih bersama mbak Mirna pengasuhnya.
" Bunda nanti kalau hafalan aku sudah khatam 30 juz kita kembali kesini ya ?" ucap Zizah.
" Insya Allah sayang, mbak Zizah doakan bunda sehat dan rejeki bunda banyak ya. Biar kita bisa kembali kesini lagi."
" Aamiin bunda. Pasti kalau itu "
" Terima kasih karena bunda sudah membawa mbak kesini. Jadi punya satu pengalaman luar biasa di umur mbak yang baru 14 ini bunda "
" Sama-sama sayang, bunda hanya berusaha memberi yang terbaik. Kita sama-sama berjuang ya. Mbak berjuang dengan menaham segala sesuatunya agar bisa istiqomah di pesantren dan bunda berjuang untuk memastikan masa depan mbak dan adik terjamin tanpa kurang satu apapun "
" Terima kasih bunda, sudah selalu berusaha melakukan yang terbaik buat mbak dan adik "
" Sama-sama sayang "
" Maafkan abinya mbak yang sudah menyakiti bunda ya dan mbak berharap bunda tidak lantas menjadi marah juga ke mbak dan adik" Nafis tersenyum.
" Bunda sudah ihklas dengan semua takdir Allah yang harus bunda jalani kemaren mbak. Jangan khawatir soal itu, bunda sayang kalian sepenuhnya. "
" Bunda juga berharap. Mbak jangan benci sama abi. Bagaimanapun beliau tetap abinya mbak yang berhak atas rasa hormat dan cinta dari mbak dan adik. Boleh kecewa tapi, bunda harap mbak jangan menyimpan amarah. Lepaskan agar mbak lega dan tidak menjadi penyakit. Amarah juga bisa secara perlahan merusak iman mbak yang selama ini mbak pupuk dengan baik."
" Insya Allah bunda, pelan-pelan rasa marah mbak sudah mulai reda."
" Alhamdulillah kalau begitu. Sekarang buat tidur ya, perjalan kita masih sangat panjang."
" Iya bunda "
Nafis dan beberapa penumpang pesawat terlihat memejamkan mata. Aura bahagia begitu terpancar dalam wajah mereka. Mereka akan melewati waktu 9 jam lebih mengudara. Berharap perjalanan di mendapat penjagaan dari yang Maha memberi hidup sehingga mereka bisa mendarat dengan selamat di bandara soekarno Hatta Jakarta dengan selamat.
masih sj jd laki2 model robot setelan pabrik hanafi..😁
bu suuusiiiii ada orang tak berguna tenggelamkan bu...biar jd santapan iwak teri