Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Pak Adimas
Ting
Tong
Suara bel masuk kelas terdengar di seluruh penjuru sekolah menengah atas. Seorang siswi yang baru saja tiba nampak terburu-buru dengan roti kering di mulutnya.
"Vira minggir, gua duduk sama Lyra sekarang!" ucapnya mengusir seorang teman sekelasnya yang duduk di kursi yang jelas-jelas sudah ada namanya.
"Eh, siapa kamu ngatur-ngatur aku!" tak terima diperlakukan sedemikian rupa, Zavira bangkit dari duduknya dengan tangan melipat di depan dada.
"Namaku Rani! Lo kok bego sih, bukannya kita sekelas udah tiga tahun ya? Pikun?" tanyanya, sontak seisi kelas jadi riuh.
"Rani!" Zavira menjambak rambut Rani dan mereka pun kini saling adu jambak.
"Astaghfirullah, ada apa ini?" Seorang guru masuk, kulitnya putih, hidungnya mancung, matanya behh pokoknya, sampai membuat Zavira kehilangan rasa sakit meski rambutnya rontok akibat jambakan.
"Pak, dia mengusir saya dari tempat duduk saya, Pak," ucap Zavira. Rani menghela napas kasar.
"Oke, fine!" ucap Rani. Dua bangku di depan guru yang selama ini selalu kosong akhirnya diduduki Rani. Kenapa kosong? Karena dua murid itu mengalami kecelakaan dan meninggal. Konon katanya kedua arwah mereka selalu duduk di sana.
"Ran, di sana kan ada hantunya," ingat salah satu murid dari belakang.
"Hantu-hantu, kamu tuh hantu! Baca ayat kursi aja pasti kamu yang kepanasan, ck!" decak Rani sembari duduk dengan nyaman di sana.
"Rani, apa menurutmu hantu itu tidak ada?" tanya guru tampan yang baru datang itu. Sontak saja Rani tersenyum. Senyum aneh tentu saja, mau sok imut tapi rambut acak-acakan, mau sok cool tapi kelakuan tidak tercermin, kan. Jadi, senyum itu ya begitulah.
"Pak, ada itu jin dan setan. Enggak ada dari sananya di dunia ini ada hantu. Jin yang suka menampakkan diri dan setan itu yang ada di hati kalian. Jadilah makhluk jadi-jadian yang kalian katakan hantu itu. Percaya sama makhluk gaib sih harus, tapi takut itu jangan, Pak," jawab Rani duduk dengan sok anggun.
"Ran, tumben bijak. Lo enggak takut itu dua arwah gentayangan, lo?" tanya salah satu temannya dari bangku belakang.
"Otak tuh dibawa kalau mau ke sekolah. Mana ada arwah gentayangan? Arwah itu lagi sibuk sama dunia baru mereka. Kalau lo masih nanya lagi, gua jadiin arwah sekalian biar tahu tuh gimana sibuknya jadi arwah sekarang. Enggak akan sempat tuh buat nakut-nakutin, apalagi menunjukkan eksistensinya." Guru itu terdiam dan senyum kecil tampak indah di sudut bibirnya.
"Ah, maaf Pak, saya terlambat." Elyra, gadis paling cantik, paling berprestasi, dan paling keren satu sekolah. Dia juga ketua kelas di 12 IPA 1 itu.
Elyra memberikan alasannya dan dia duduk tepat di samping Rani. Suasana kembali riuh, namun Elyra langsung membalikkan badan, dan keriuhan itu berubah senyap.
“Baik, perkenalkan nama saya Adimas Aditya. Kalian dapat memanggil saya Pak Adimas. Sekarang kita perkenalan satu-satu, ya. Berdiri dari duduknya, dan silakan perkenalkan diri kalian masing-masing.”
Perkenalan pun dimulai, semua memperkenalkan diri dengan gaya masing-masing hingga sampai di bagian Elyra dan Rani.
“Nama saya Elyra Azzahra, saya suka mendengarkan musik, tidak suka menyanyi.” Singkat Elyra dan kembali duduk.
“Ah ya, Bapak lupa, sebutkan prestasi kalian dan partisipasi kalian di sekolah juga, ya.” Elyra kembali bangkit dari duduknya.
“Maaf, Pak, apa harus semua?” tanya Elyra. Adimas mengangguk.
“Ya, harus semua. Kalian ikut ekstrakurikuler apa? Dan pernah ikut turnamen atau lomba apa? Serta prestasi apa saja yang sudah diraih,” ucap Adimas lagi. Elyra menatap semua teman-temannya.
“Pak, itu di hati Elyra lagi bilang, ‘dih, merepotkan!’ gitu, Pak!” ucap seorang siswa di barisan belakang.
“Wah, kamu CCTV di kepalaku, ya.” Canda Elyra, semuanya tertawa mendengar itu.
“Nama saya Elyra Azzahra, saya mengikuti ekstrakurikuler wajib dan bonusnya hanya voli. Sedangkan prestasi saya, prestasi nasional saya meraih Best Speaker di debat nasional. Mendapatkan juara dua di bidang desain dan kaligrafi nasional…” Elyra terus menyebutkan semua prestasinya sampai tingkat sekolah.
“Wah, Elyra lagi pamer itu.” Teriak lagi seorang siswa di pojok, Elyra tersenyum sinis.
“Kan sudah gua bilang, itu di hatinya lagi bilang merepotkan.” Tambah yang lain, sedangkan Adimas sendiri tak menyangka akan sebanyak itu. Dia tahu bila di kelasnya ada siswa berprestasi, tapi tak menyangka bila sampai semenggunung itu.
“Apa rencana setelah lulus sekolah?” tanya guru itu lagi. Elyra menatap semua teman kelasnya.
“Saya mau menikah, Pak.” Jawab Elyra, sontak sorak-sorai terdengar dari seisi kelas.
“Semua orang juga mau menikah, maksudnya rencana setelah sekolah. Melanjutkan ke perguruan tinggi mana?” tanya lagi Adimas. Elyra nampak diam sejenak.
“Setelah lulus saya mau nikah, dan untuk urusan kuliah akan dipikirkan lagi, Pak.” Hening seketika, mereka mengira bila ucapan Elyra sebelumnya adalah candaan saja. Tapi ternyata Elyra mempertegas lagi ucapannya.
“Patah hati nasional ini.” Teriak seorang siswi, sontak drama para siswa terjadi. Elyra hanya menggelengkan kepalanya dan kembali duduk.
"Nama saya Rani Jaya Almaira. Nama panggilan Rani, tapi kalau buat Pak Adimas khusus boleh deh ditambahin kata Sayangku di depannya." Usil Rani, sontak satu kelas kembali gemuruh dibuatnya.
"Hobi saya cari cuan, asal halal. Setelah sekolah saya berencana cari uang, biar bisa ke China dan bisa cariin menantu buat mamah yang kinclong kayak aktor dracin. Tapi kalau bapak tertarik jadi menantu mamah saya juga boleh kok, biar cita-cita saya diganti mulai hari ini. Menjadi istri salehot untuk Pak Adimas seorang." Ucap Rani dengan berani, sontak seruan menggema di dalam kelas itu.
"Salehot.."
"Buat Pak Adimas katanya.."
Timpal teman-teman Rani, sedangkan gadis itu hanya cengengesan. Tak ada malu yang tersirat, hanya percaya diri tinggi dan wajah tengil yang memang sudah melekat sejak dalam kandungan.
"Wah, Rani sudah mulai belok, saudara-saudari." Ucap seorang siswa dengan tawanya.
"Gak jadi roti sobek China lagi." Ucap yang lain, sontak saja Rani berbalik menatap teman-temannya.
"Oy, udah dong jangan bongkar aib gue." Ucapnya dan kembali duduk di kursinya, sedangkan Adimas hanya tersenyum. Ada-ada saja pikirnya.
"Prestasinya apa?" tanya lagi Adimas. Rani tersenyum.
"Saya juara satu di sekolah dari belakang, Pak, hehe. Prestasi saat ini enggak punya, Pak, tapi kalau perasaan buat bapak ada kok. Pencapaian terbesar saya saat ini bukan lagi soal ukuran angka, Pak. Kalau hati yang berbicara, satu bapak tambah satu saya sama dengan kita berempat, Pak, dua anak di tengah." Ucap lagi Rani, dengan tangannya menggambarkan bagaimana kronologi satu tambah satu itu.
"Sama dengan kita gak tuh!" Tawa pecah di kelas itu.
"Woooo..." Teriak teman-temannya, Elyra yang sudah duduk di sampingnya nampak sudah tak tahan ingin tertawa.
"Sudah-sudah, saya bisa diabetes bila terus mendengar ucapan manis. Mulai hari ini saya adalah wali kelas kalian, dan saya juga ditunjuk sebagai penanggung jawab nilai matematika kalian untuk ujian nasional." Rani seketika tak kuasa menahan beban tubuhnya.
"Astaga, matematika. Hapuslah harapanku," ucapnya pelan. Meja guru dan meja mereka yang dekat membuat Adimas dapat mendengarnya dengan jelas.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang