💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Malam itu, di kamar mereka masing-masing, Cia, Vano, dan Varo tenggelam dalam persiapan misi rahasia mereka. Cahaya lampu belajar menyoroti wajah-wajah serius yang dipenuhi tekad. Di atas meja, terhampar peta detail hotel, foto-foto para target yang mengintimidasi, dan dokumen-dokumen rahasia yang diserahkan Anggara. Mereka menelaah setiap informasi, meresapinya hingga ke tulang sumsum, mencoba mengantisipasi setiap kemungkinan sekecil apapun.
Vano, dengan keahliannya yang tak tertandingi dalam cybersecurity, menggumamkan kode-kode rumit di depan layar komputernya. Jari-jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan kilat, meretas sistem keamanan hotel selangkah demi selangkah. Ia berjuang menembus firewall yang berlapis-lapis, mencari celah yang bisa mereka manfaatkan untuk menyelinap masuk tanpa terdeteksi.
Cia, dengan ketenangan seorang pembunuh bayaran, membersihkan dan memeriksa persenjataannya. Ia mengusap pisau belati kesayangannya hingga berkilau tajam, melatih gerakannya hingga secepat kilat. Ia memastikan pistolnya terisi penuh, siap melepaskan tembakan mematikan jika diperlukan. Dalam benaknya, ia memvisualisasikan setiap gerakan, setiap serangan, setiap pertahanan, hingga menjadi sebuah tarian kematian yang sempurna.
Varo, yang ahli dalam menyamar dan membaur, berdiri di depan cermin besar, mengamati dirinya dengan seksama. Ia mencoba berbagai macam ekspresi wajah, gaya rambut, dan gestur tubuh. Ia ingin menciptakan identitas baru yang meyakinkan, seseorang yang tak akan dicurigai sebagai agen intelijen. Ia merubah penampilannya dengan cepat dan efektif, dari seorang businessman kaya raya hingga seorang bartender yang ramah.
Di tengah kesibukan masing-masing, mereka tetap terhubung melalui interkom mini yang terpasang di telinga mereka. Alat komunikasi canggih itu memungkinkan mereka untuk berkomunikasi secara diam-diam, tanpa diketahui oleh siapapun, termasuk Ratu dan Nathan selaku orang tua mereka.
"Vano, bagaimana dengan firewall itu?" tanya Cia, suaranya terdengar halus namun tegas melalui interkom.
"Hampir jebol. Tinggal satu lapisan lagi yang harus ditembus," jawab Vano, jarinya semakin gesit mengetik di atas keyboard.
"Bagus. Gue sudah menghafal denah hotel. Kita bisa mulai merencanakan rute penyusupan," balas Cia.
"Gue sedang mencoba beberapa identitas baru. Gue rasa gue sudah menemukan yang paling meyakinkan," timpal Varo, sambil tertawa pelan.
Mereka bertiga melanjutkan persiapan mereka, bekerja sama sebagai tim yang solid dan efisien. Vano berhasil menembus sistem keamanan hotel, memberikan Cia akses penuh ke denah dan informasi penting lainnya. Cia merencanakan rute penyusupan yang aman dan efektif, menghindari area-area yang dijaga ketat. Varo memilih identitas yang paling sesuai dengan situasi, memastikan penyamarannya sempurna.
"Oke, semuanya siap. Kita bisa istirahat sekarang," ujar Vano, mengakhiri percakapan mereka.
"Good night," balas Cia dan Varo serempak.
Malam semakin larut. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. The Silent Triple akhirnya menyelesaikan semua persiapan mereka. Mereka mematikan lampu belajar dan berbaring di tempat tidur masing-masing.
______&&______
Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai kamar Cia, memaksa gadis itu untuk membuka matanya yang masih terasa berat. Cia mendengus kesal, mengutuk pagi yang selalu datang terlalu cepat baginya. Ia meraba-raba meja di samping tempat tidurnya, mencari sumber suara berisik yang memaksanya bangun dari alam mimpi yang baru aja ia selami. Dengan gerakan malas, ia meraih ponselnya dan mematikan alarm yang sudah berdering sejak lima menit yang lalu.
"Ck!, kenapa harus pagi sih?" gerutunya pelan, sambil membenamkan wajahnya di bantal. Ia mencoba untuk kembali tidur, namun usahanya sia-sia.
Cia memang bukan tipe orang yang mudah bangun pagi. Alarm sekeras apapun tak akan mempan baginya, kecuali satu nama: Ratu, sang mama tercinta sekaligus terkejam menurut Cia. Ratu memiliki cara tersendiri untuk membangunkan putrinya, cara yang membuat Cia tak punya pilihan selain bangun dan bergegas menuju kamar mandi di pagi hari.
Tiba-tiba, pintu kamar Cia terbuka dengan sedikit kasar, menampilkan sosok Ratu yang berdiri sambil berkacak pinggang di ambang pintu. Wajahnya tampak serius, matanya menyiratkan rasa kesal yang siap meledak. Ratu memang selalu terlihat anggun dan elegan dalam balutan gaun-gaun mewahnya, namun di balik penampilannya yang sempurna itu, tersimpan jiwa bar-bar yang siap bertempur kapan saja, yang kini ia warisi pada sang putri kesayangannya.
"Alicia Alexio ... bangun! Ini sudah jam berapa? Kamu mau terlambat ke sekolah?" seru Ratu dengan suara yang menggelegar, mampu membangunkan seluruh penghuni mansion.
Cia tersentak kaget, langsung duduk tegak di tempat tidur. Ia menatap Ratu dengan tatapan memelas, mencoba mencari celah untuk merayu mamanya.
"Mama, Cia masih ngantuk banget. Boleh tidak hari ini bolos aja?" rayu Cia dengan nada manjanya. Ia berharap dengan cara ini ia bisa meluluhkan hati sang Mama.
Ratu mendengus sinis. "Tidak ada bolos-bolos! Kamu itu sudah kelas dua belas, sebentar lagi mau ujian. Kalau kamu terus-terusan bolos, bagaimana kamu bisa lulus?" balas Ratu dengan nada tegas.
"Tapi Ma ..."
"Tidak ada tapi-tapian, Cia! Sekarang, cepat bangun dan mandi! Mama tunggu kamu di meja makan lima belas menit lagi. Kalau kamu terlambat, Mama akan menambah waktu sita kartu kredit kalian!" ancam Ratu, dengan jurus pamungkasnya.
Mendengar ancaman itu, Cia langsung melompat turun dari tempat tidur. Ia tahu, Ratu tak pernah main-main dengan ucapannya. Lebih baik ia menuruti perintah mamanya daripada harus hidup menderita lebih lama tanpa kartu kredit di tangannya.
"Iya Ma, Cia bangun sekarang," jawab Cia dengan nada pasrah.
Ratu tersenyum puas. "Bagus. Mama tunggu," ucapnya, lalu berbalik dan meninggalkan kamar Cia.
Setelah Ratu pergi, Cia menghela napas panjang. Ia menatap dirinya di cermin dengan tatapan nelangsa. Rambutnya berantakan, wajahnya kusut, dan matanya sembab. Ia benar-benar terlihat seperti zombie yang baru bangkit dari kubur.
"Gue benci pagi!" gerutunya kesal.
Dengan langkah gontai, Cia berjalan menuju kamar mandi. Ia menyalakan shower dan membiarkan air dingin membasahi tubuhnya. Ia mencoba untuk menghilangkan rasa kantuk dan kejengkelan yang masih menggerogoti hatinya.
Di tengah guyuran air, tiba-tiba Cia teringat pada misi rahasia mereka. Moodnya kembali muncul di ikuti seringai tipis membayangkan keseruan misi mereka nanti malam, ia sudah gak sabar menanti malam hari tiba!
Bersambung ....
yg disini kalang kabut yg disana tenang tenang saja😄
waah mereka emang berjodoh ya😄
suka banget ma story ny kk
beda level sama km
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,