Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.
Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.
Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.
Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.
Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK YANG TAK SEHARUSNYA ADA Part 1
POV Maria Joanna
Malam turun seperti keputusan yang tak bisa ditarik kembali.
Kapal komando bergerak perlahan di atas lautan selatan. Mesin berdengung konstan, seolah berusaha meyakinkan semua orang bahwa dunia masih berjalan normal. Tapi aku tahu—kami semua tahu—normal sudah lama mati.
Aku berdiri sendiri di koridor observasi, dinding kaca memperlihatkan kegelapan laut yang nyaris tidak memantulkan cahaya bintang. Selatan selalu terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih tua.
Tekanan itu masih ada di dadaku.
Bukan rasa sakit.
Bukan peringatan keras seperti Veles.
Lebih seperti… ingatan yang menolak untuk dilupakan.
“Masih terjaga?”
Suara itu datang tanpa ancaman. Tanpa kewaspadaan.
Aku menoleh.
Adrian berdiri beberapa langkah dariku, mengenakan pakaian hitam sederhana. Tidak ada simbol kerajaan. Tidak ada pangkat. Tidak ada topeng politik.
Hanya dia.
Aku tidak tersenyum. Tidak juga menghela napas lega.
“Aku pikir kau akan tidur,” kataku.
“Dan melewatkan malam seperti ini?”
Dia mendekat, berhenti di sampingku, menjaga jarak yang sopan—terlalu sopan untuk dua orang yang pernah berbagi lebih dari sekadar sejarah.
“Aku tidak pandai melupakan,” lanjutnya pelan.
Aku menatap laut.
“Aku sedang berusaha mengingat siapa diriku,” jawabku.
Itu bukan jawaban yang ia minta. Tapi Adrian tidak pernah memaksa.
Keheningan kembali menggantung, berat namun tidak canggung. Kami berbagi jenis diam yang hanya bisa dimiliki oleh dua orang yang pernah saling mengenal sebelum dunia memutuskan untuk hancur.
“Kau berubah,” katanya akhirnya.
“Aku harus.”
“Tidak,” Adrian menggeleng. “Kau memilih.”
Aku menoleh cepat.
Dia menatapku lurus. Tidak takut. Tidak menilai. Tidak berlutut di hadapan mahkota yang bahkan tidak kupakai.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, sesuatu di dalam diriku bergeser.
“Kau selalu seperti ini,” kataku lirih.
“Melihat terlalu dekat.”
“Dan kau selalu membencinya,” balasnya.
Kami tersenyum kecil. Bukan bahagia. Bukan nostalgia murni. Lebih seperti pengakuan akan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Aku menghela napas.
“Adrian… ini bukan waktu yang tepat.”
“Sejak kapan dunia memberimu waktu yang tepat?” tanyanya lembut.
Aku menutup mata sejenak.
Arthur hadir seperti bayangan di belakang pikiranku.
Sebastian seperti jangkar di kejauhan.
Dan Adrian—ia ada di sini, sekarang, nyata.
“Kau tahu apa yang akan terjadi,” kataku.
“Dunia akan memecah belah segalanya. Termasuk kita.”
“Karena itu aku di sini,” jawabnya.
“Bukan untuk masa depan. Tapi untuk saat ini.”
Aku membuka mata.
Dan tanpa sadar—atau mungkin terlalu sadar—aku melangkah mendekat.
POV Adrian
Aku tahu ini berbahaya sejak aku melihatnya berdiri sendirian.
Maria Joanna tidak pernah sendirian. Bahkan saat ia tampak sendiri, dunia selalu mengawasinya. Menariknya. Mengukurnya. Menunggu ia retak.
Tapi malam ini—
Ia hanya seorang perempuan yang kelelahan.
Saat ia mendekat, aku bisa merasakan ketegangan yang ia simpan rapi di balik ketenangan ratu. Nafasnya terkontrol. Bahunya lurus. Tapi matanya—
Matanya terlalu jujur.
“Aku tidak datang untuk mengambil apa pun darimu,” kataku pelan.
“Aku hanya ingin kau mengingat… kau masih bisa memilih.”
Ia tertawa kecil. Rapuh.
“Pilihan adalah ilusi paling kejam.”
“Tidak,” aku menggeleng.
“Takdir adalah ilusi. Pilihan selalu menyakitkan. Itu bedanya.”
Ia menatapku lama.
Dan kemudian—tanpa aba-aba, tanpa deklarasi—ia menyentuh tanganku.
Sentuhan ringan. Hampir ragu.
Namun dunia berhenti bergerak.
Aku tidak menariknya. Tidak juga mempererat genggaman.
Aku membiarkannya memilih.
Dan ia memilih untuk tetap di sana.
POV Maria Joanna
Sentuhan itu seperti membuka pintu yang selama ini ku kunci dengan paksa.
Bukan karena aku tidak ingin masuk.
Tapi karena aku tahu apa yang ada di baliknya.
“Kau tidak seharusnya ada di sini,” bisikku.
“Tapi aku ada,” jawabnya.
Aku mengangkat tangan, menyentuh rahangnya. Dingin. Nyata. Tidak berpendar. Tidak bergetar dengan energi kosmik.
Manusia.
Dan entah bagaimana—itu membuatku ingin menangis.
“Aku takut,” kataku.
Itu pengakuan paling telanjang yang bisa kuberikan.
Adrian tidak terkejut. Tidak mencoba menenangkanku dengan janji palsu.
Ia hanya mendekat dan menempelkan dahinya ke dahiku.
“Aku tahu.”
Dan itulah yang mematahkan pertahananku.
Aku menciumnya lebih dulu.
Bukan ciuman ratu.
Bukan ciuman simbol dunia.
Ciuman seorang perempuan yang lelah menahan beban terlalu besar sendirian.
Adrian membalasnya dengan hati-hati, seolah aku terbuat dari kaca yang retak. Tangannya naik perlahan ke punggungku, tidak menahan, tidak menguasai—hanya ada.
Saat kami berpisah sejenak, napasku bergetar.
“Jika kita melangkah lebih jauh,” kataku, “tidak ada jalan kembali.”
“Tidak,” katanya jujur.
“Tapi ada kebenaran.”
Aku menutup mata.
Dan kali ini—aku tidak mundur.
Kami tidak terburu-buru.
Tidak ada hasrat yang meledak.
Tidak ada kebutuhan untuk melupakan dunia.
Yang ada hanyalah dua orang yang saling menanggalkan lapisan demi lapisan pertahanan, bukan pakaian.
Setiap sentuhan Adrian terasa seperti pertanyaan:
Apakah ini masih kau?
Dan setiap balasanku adalah jawaban:
Ya. Ini aku.
Ketika akhirnya kami bersatu, dunia di luar tetap sunyi. Mesin kapal tetap berdengung. Raja Sejati tetap bergerak di bawah es.
Tapi di ruang kecil itu—
Tidak ada mahkota.
Tidak ada takdir.
Tidak ada kiamat.
Hanya detak jantung.
Napas yang saling mencari.
Dan kehangatan yang terlalu fana untuk diselamatkan.
Aku menyebut namanya bukan sebagai ratu.
Ia menyebut namaku bukan sebagai legenda.
Dan untuk satu malam—
Itu cukup.
POV Maria
Aku terjaga lebih dulu.
Cahaya redup dari panel dinding menyinari wajah Adrian yang tertidur di sisiku. Wajah yang pernah kupikir akan selalu ada di masa laluku.
Aku tahu ini tidak mengubah apa pun.
Sebastian tetap berdiri di sisiku di medan perang.
Arthur tetap berbisik di dalam darahku.
Raja Sejati tetap akan datang.
Tapi aku tidak menyesal.
Karena malam ini mengingatkanku akan satu hal—
Jika aku harus menjadi senjata dunia,
aku ingin melakukannya sebagai manusia yang pernah dicintai.
Aku bangkit perlahan.
Saat aku melangkah pergi, tekanan itu kembali.
Lebih dekat.
Lebih dingin.
Dan untuk pertama kalinya—
Aku tahu.
Raja Sejati Kedua telah terjaga sepenuhnya.
Dan dunia tidak akan diberi malam seperti ini lagi.
Koridor kapal terasa lebih panjang dari biasanya.
Atau mungkin aku yang berjalan lebih lambat.
Lampu putih dingin memantul di lantai logam. Setiap langkahku terdengar terlalu keras. Terlalu nyata. Seolah dunia ingin memastikan aku tidak bisa pura-pura lupa apa yang baru saja terjadi.
Aku tidak menyesal.
Tapi aku tahu—malam tadi bukan hadiah.
Itu peringatan.
Tekanan di dadaku berdenyut lagi.
Lebih tajam sekarang.
Lebih… sadar.
Aku berhenti di depan jendela observasi kedua. Laut hitam terbentang tanpa batas. Selatan selalu terasa seperti pintu menuju sesuatu yang belum pernah dimaafkan dunia.
Arthur bergerak di dalam kesadaranku.
Bukan kata.
Bukan suara.
Memori.
Es pecah.
Langit kehilangan warna.
Dan sesuatu… bangkit tanpa kebencian.
Tanpa emosi.
Tanpa alasan untuk berhenti.
Aku menggenggam pagar logam.
“Belum,” bisikku.
“Belum sekarang.”
POV Dunia — Antartika
Tidak ada badai.
Tidak ada gempa besar.
Tidak ada ledakan dramatis.
Es hanya… terbelah.
Perlahan. Pasti. Seperti sesuatu di bawahnya sudah menunggu selama ribuan tahun untuk dunia akhirnya cukup lemah.
Di bawah lapisan es purba—
Mahkota hitam berdiri tegak di atas sesuatu yang tidak memiliki bentuk manusia sepenuhnya. Bukan raksasa. Bukan monster. Bukan dewa.
Lebih tua dari definisi.
Matanya terbuka.
Bukan mata hidup.
Lebih seperti dua lubang tempat cahaya menolak masuk.
Dan untuk pertama kalinya sejak dunia memiliki sejarah—
Sesuatu menilai keberadaan manusia sebagai kesalahan struktural.
POV Sebastian
Aku tahu sebelum alarm berbunyi.
Naluri.
Atau mungkin insting seseorang yang terlalu lama hidup di dekat kehancuran.
Aku berdiri di ruang taktis ketika layar tiba-tiba berubah.
Satelit Antartika hilang satu per satu.
Tidak meledak.
Tidak mati.
Hanya… berhenti mengirimkan data.
“Laporkan,” kataku.
Operator menelan ludah.
“Zona sektor Delta sampai Theta… kosong, Tuan.”
Kosong.
Bukan blackout.
Kosong.
Seolah ruang di sana memutuskan tidak ingin dilihat.
Aku menghembuskan napas pelan.
“Panggil Maria.”
POV Maria
Aku sudah berdiri di belakangnya sebelum ia selesai memanggil namaku.
Sebastian tidak menoleh langsung. Ia hanya mengangguk kecil—pengakuan bahwa ia tahu aku ada.
“Kita kehabisan waktu,” katanya.
Aku menatap layar.
Antartika bukan lagi putih.
Bukan hitam.
Lebih seperti… ruang kosong yang dipaksakan masuk ke dunia.
“Dia sudah bangun,” kataku pelan.
Sebastian menatapku sekarang.
Tidak bertanya bagaimana aku tahu.
Ia hanya menerima.
Itulah Sebastian.
“Seberapa buruk?” tanyanya.
Aku menelan napas.
“Lebih buruk dari Veles.”
Ruangan menjadi sunyi.
POV Adrian
Aku tahu aku tidak seharusnya ada di ruang komando saat ini.
Tapi tidak ada yang menyuruhku pergi.
Dan Maria tidak menoleh saat aku masuk.
Itu lebih menyakitkan dari apa pun.
Bukan karena ia menyesal.
Tapi karena ia sudah kembali menjadi ratu.
Aku berdiri di sisi ruangan, cukup dekat untuk melihat profil wajahnya.
Tenang.
Dingin.
Tak tergoyahkan.
Tidak ada jejak perempuan yang tadi malam memanggil namaku seperti aku adalah satu-satunya hal yang nyata.
Dan aku mengerti.
Dunia lebih penting.
Tapi memahami… tidak membuatnya mudah.