NovelToon NovelToon
Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / One Night Stand / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Herlina

Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudah Dimulai Jauh Sebelum Aku Tahu

“Jadi selama ini kalian…”

Suara Sasha menggantung di udara, rapuh, nyaris tak berbentuk. Matanya berpindah dari Dimas ke Gio, lalu kembali lagi, seperti menunggu salah satu dari mereka menertawakan situasi ini dan mengatakan semua ini hanya kesalahpahaman paling buruk dalam hidupnya.

Tidak ada yang tertawa.

Dimas tersenyum tipis. Senyum yang dulu Sasha kenal sebagai senyum hangat, kini terlihat seperti retakan pada kaca bening.

“Kamu pikir aku muncul tiba-tiba di hidupmu, Sha?” katanya pelan. “Tidak. Aku sudah ada di sekitarmu sejak lama. Jauh sebelum kamu sadar diperhatikan.”

Sasha menoleh cepat ke Gio. “Apa maksudnya itu?”

Gio menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, Sasha melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat di mata suaminya: rasa bersalah yang sangat dalam.

“Aku akan jelaskan,” ucap Gio pelan.

“Sekarang,” potong Sasha. “Jelaskan sekarang.”

Angin dari pintu belakang masih masuk, membuat tirai dapur bergerak pelan seperti napas rumah yang belum stabil. Bau tanah basah bercampur ketegangan yang menggantung tebal di udara.

Dimas bersandar santai di meja dapur, seolah ia bukan orang yang baru saja membuat dunia Sasha runtuh.

“Kamu ingat hari pertama kita bertemu di kampus?” tanya Dimas.

Sasha mengangguk pelan, jantungnya berdetak tidak beraturan.

“Itu bukan kebetulan.”

Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam kepalanya.

“Apa?”

Dimas menatap Gio sekilas sebelum kembali ke Sasha. “Aku disuruh mendekatimu.”

Dunia Sasha seperti kehilangan suara, ucapan itu membuat Sasha mulai emosi. "Disuruh oleh siapa?"

Tatapannya perlahan beralih ke Gio.

Gio menutup mata sejenak sebelum membukanya kembali. “Oleh aku.”

Sasha mundur satu langkah. Lalu satu lagi.

“Kamu… menyuruh dia mendekatiku?”

“Aku hanya ingin memastikan kamu aman,” jawab Gio cepat.

“Aman dari apa?” suara Sasha meninggi, retak.

Dimas tertawa pelan. “Dari banyak hal yang bahkan kamu tidak tahu, Sha. Kamu selalu berada di posisi yang salah, di waktu yang salah, di tempat yang salah. Dan Gio… terlalu protektif untuk membiarkannya terjadi begitu saja.”

Sasha merasa kepalanya berputar, semua kenangan yang dulu terasa manis kini berubah rasa. Seperti makanan yang tiba-tiba terasa pahit setelah tahu isinya.

“Jadi selama ini…” napasnya tersengal, “…aku cuma objek yang kalian awasi?”

“Bukan!” Gio melangkah maju.

Sasha mundur lagi. “Jangan mendekat.”

Gio berhenti. Wajahnya tegang.

“Aku memang mengenalmu sebelum kamu mengenalku,” katanya pelan. “Tapi bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa?”

Gio menelan ludah. “Aku melihatmu pertama kali di parkiran kampus. Kamu hampir ditabrak mobil yang remnya blong. Kamu bahkan tidak sadar seberapa dekat kamu dengan kematian waktu itu.”

Sasha mengerutkan kening. Ingatan samar muncul. Suara klakson. Orang-orang berteriak. Lengan seseorang menariknya menjauh, ia tidak pernah melihat wajah orang itu.

“Orang itu aku,” ucap Gio.

Napas Sasha tercekat.

“Aku tidak pernah lupa wajahmu sejak hari itu. Dan setelahnya… aku mulai mencari tahu siapa kamu.”

Dimas menyela, “Dan di situlah aku masuk.”

Sasha menoleh ke arahnya.

“Gio tahu ada seseorang yang mulai mengikutimu setelah insiden itu. Orang yang sama yang sekarang kita tahu adalah dalang semua ini sejak awal,” lanjut Dimas. “Tapi dia tidak bisa mendekat langsung ke kamu. Jadi aku yang melakukannya.”

Sasha menatap mereka bergantian, pikirannya berusaha menyusun potongan-potongan yang terlalu banyak sekaligus.

“Jadi kamu mendekatiku… bukan karena kamu menyukaiku?” tanya Sasha pada Dimas, suaranya hampir pecah.

Dimas terdiam dan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Sasha merasa dadanya kosong. Benar-benar kosong.

“Awalnya tidak,” ucap Dimas akhirnya. “Tapi lama-lama… semuanya berubah.”

Gio menatap Dimas tajam, tapi tidak menyela.

Sasha tertawa kecil. Tawa yang terdengar seperti isakan yang dipaksa keluar.

“Kalian berdua… luar biasa.”

Ia tidak tahu harus marah, menangis, atau tertawa.

“Lalu pernikahan ini?” tanyanya pada Gio. “Itu juga bagian dari rencana?”

Gio menggeleng keras. “Tidak. Itu keputusanku sendiri.”

“Karena kamu mencintaiku?” suara Sasha lirih.

Gio menatapnya dalam. “Karena aku tidak bisa lagi menjaga jarak.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

Untuk pertama kalinya malam itu, Sasha melihat Gio bukan sebagai suami yang dingin dan terkendali, tapi sebagai seseorang yang sudah terlalu lama menyimpan sesuatu sendirian.

Seseorang yang mungkin… sama terjebaknya dengan dirinya.

Dimas mendorong tubuhnya menjauh dari meja. “Aku rasa, bagian ini bukan lagi tentang aku.”

Ia melangkah mundur, menuju pintu.

“Tunggu,” ucap Gio tajam. “Kamu tidak pergi ke mana-mana.”

Dimas tersenyum tipis. “Tenang saja. Aku tidak akan lari. Orang yang kalian cari… bukan aku.”

Sasha menatapnya bingung.

“Maksudmu?”

Dimas memandang mereka berdua dengan tatapan aneh. “Kalian pikir aku yang selama ini mengawasi Sasha?”

Gio terdiam.

Dimas menggeleng pelan. “Aku cuma bidak. Sama seperti dulu.”

Darah Sasha terasa dingin.

“Lalu siapa?”

Dimas tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata pelan, hampir berbisik,

“Orang yang bahkan Gio tidak curigai.”

Sasha merasa kepalanya dipenuhi suara yang saling bertabrakan. Potongan-potongan kejadian yang dulu terasa acak, kini perlahan menyatu membentuk pola yang mengerikan. Cara Dimas selalu muncul di waktu yang “kebetulan”. Cara ia selalu tahu kabar Sasha, bahkan saat Sasha tidak pernah bercerita. Cara ia pernah berkata, “Kamu terlalu polos untuk dunia ini.” Dulu terdengar seperti perhatian. Sekarang terdengar seperti pengamatan.

Seperti seseorang yang sudah lama berdiri di kejauhan… memperhatikan.

“Aku tidak pernah sadar…” bisik Sasha, suaranya nyaris hilang.

Gio masih berdiri di depannya. Tatapannya tidak lagi setegang tadi, tapi jauh lebih dalam. Seolah ada sesuatu yang selama ini ia simpan, dan kini tak bisa lagi ia tahan.

“Kamu tidak mungkin sadar,” ucap Gio pelan. “Karena dia tidak pernah ingin kamu sadar.”

Sasha menelan ludah. “Sejak kapan kamu curiga?”

Gio tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke jendela, menatap pekarangan rumah yang kini terlihat gelap dan lengang. “Sejak foto pertama itu muncul.”

Sasha mengernyit. “Foto di parkiran?”

Gio mengangguk. “Sudut pengambilannya terlalu rapi. Terlalu terlatih. Dan yang paling aneh… orang itu tahu persis di mana harus berdiri untuk mendapatkan sudut yang paling merusakmu.”

Kalimat itu membuat dada Sasha terasa sesak.

“Dan kamu mengaitkannya dengan Dimas?”

“Awalnya tidak,” jawab Gio jujur. “Tapi saat aku cek latar belakang orang-orang di sekitarmu, hanya satu nama yang selalu muncul di semua fase hidupmu. Kampus. Kafe. Apartemen. Bahkan minimarket tempat motormu mogok.”

Sasha membeku.

“Dimas ada di sana?” suaranya bergetar.

“Bukan kebetulan,” jawab Gio. “Dia ada di banyak tempat yang kamu anggap kebetulan.”

Sasha memejamkan mata. Dunia terasa berputar pelan, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Semua kenangan bersama Dimas mendadak berubah warna. Tawa, obrolan ringan, candaan… kini terasa seperti adegan dalam sandiwara panjang yang ia tidak sadari.

“Kenapa dia melakukan ini…” bisiknya.

Gio berbalik menatapnya. “Karena obsesi tidak butuh alasan logis.”

Sasha membuka mata. “Obsesi?”

“Dia tidak ingin memiliki kamu,” lanjut Gio pelan. “Dia ingin mengendalikan hidupmu.”

Kalimat itu menampar Sasha lebih keras dari apa pun.

Ia terduduk di tepi tempat tidur, merasa tubuhnya mendadak terlalu lemah untuk berdiri. Tangannya gemetar kecil di pangkuannya.

“Dan sekarang dia tahu… aku di sini,” katanya lirih.

Gio mendekat. Kali ini tanpa ragu, ia berlutut di depan Sasha, sejajar dengan pandangan matanya.

“Dengar aku,” ucapnya tegas tapi lembut. “Selama kamu di rumah ini, dia tidak akan bisa menyentuhmu.”

Sasha menatap Gio. Ada keyakinan di sana. Bukan janji kosong. Bukan sekadar kata-kata untuk menenangkan.

Tapi keyakinan seseorang yang benar-benar siap berdiri di depannya sebagai pelindung.

Untuk pertama kalinya, Sasha merasa bukan hanya aman.

Tapi… dijaga dan perasaan itu membuat dadanya menghangat di tengah ketakutan yang belum juga pergi.

Ponsel Gio tiba-tiba bergetar di sakunya.

Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Gio membukanya, lalu wajahnya langsung berubah kaku.

Sasha menatapnya cemas. “Siapa?”

Gio menoleh pelan, menatap Sasha dengan sorot mata yang membuat napasnya tercekat.

“Dia menulis…” suara Gio turun pelan.

“Aku sudah di dalam rumah kalian.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!