NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 Kehancuran yang Direncana

Hujan gerimis menerpa atap kontrakan kecil yang kini menjadi tempat tinggal Maya dan keluarga Arga. Dinding tembok yang pecah belah tidak mampu menahan hawa dingin yang menusuk, membuat Maya menggigil meskipun sudah membungkus tubuhnya dengan selimut tipis yang hanya mampu memberikan sedikit kehangatan. Di sudut kamar yang kumuh, Arga terbaring lemah di tikar yang menyelimuti tanah liat basah, wajahnya pucat karena demam yang tak kunjung sembuh. Di sebelahnya, bu Ratna—ibu kandung Arga—duduk dengan badan membungkuk, tangannya yang keriput terus mengusap dahi anaknya sambil mengeluarkan hembusan napas yang penuh kesedihan.

“Maya… tolong… cari bantuan dokter untuk Arga,” ucap bu Ratna dengan suara yang lemah dan serak. “Dia sudah tiga hari tidak bisa makan dengan baik, dan panas badannya semakin tinggi. Kita tidak punya uang untuk membeli obat, apalagi pergi ke rumah sakit.”

Maya hanya menoleh ke arah jendela kecil yang penuh dengan genangan air hujan, wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun rasa prihatin. Selama dua minggu sejak mereka dikeluarkan dari rumah Rania, kehidupan mereka hanyut dalam kegelapan dan kemiskinan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Semua barang mewah yang pernah dia miliki telah terjual habis untuk membeli makanan dan biaya kontrakan yang murah meriah ini. Mobil mewah yang pernah dia gunakan untuk berkeliaran telah disita karena tidak mampu membayar cicilan, dan semua kartu kredit yang pernah dia banggakan telah dibekukan karena tunggakan yang menumpuk.

“Sudah tidak ada uang lagi, Bu,” jawab Maya dengan nada yang dingin. “Apa yang bisa saya lakukan? Arga sendiri tidak bisa bekerja sama sekali—dia bahkan tidak bisa berdiri tanpa bantuan. Kalau kamu mau, kamu bisa pergi meminta-minta ke pasar atau jalanan saja. Mungkin ada orang baik yang mau memberikan sedekah.”

Kata-kata itu seperti batu yang dilempar ke wajah bu Ratna. Matanya yang sudah mulai kabur karena usia memenuhi dengan air mata. “Maya… bagaimana kamu bisa berkata seperti itu padaku? Aku adalah ibunya Arga, yang selama ini kamu hormati sebagai mertuamu. Kamu yang dulu selalu bilang akan menjagaku dengan baik jika aku mau tinggal bersama kalian.”

“Sudah tidak ada lagi masa lalu itu, Bu!” teriak Maya dengan kemarahan yang tiba-tiba muncul. “Sekarang kita semua dalam masalah besar karena kamu dan keluarga kamu yang selalu mendorong Arga untuk berselingkuh denganku! Kalau bukan karena kamu yang bilang Rania tidak cocok untuk Arga dan aku lebih pantas menjadi istrinya, aku tidak akan terjebak dalam situasi seperti ini!”

bu Ratna terdiam, matanya menatap Maya dengan ekspresi yang penuh dengan penyesalan mendalam. Dia tahu bahwa kata-kata Maya itu tidak sepenuhnya salah—dia memang pernah melihat Rania sebagai wanita yang terlalu mandiri dan kuat, yang tidak akan pernah mengizinkan Arga menguasai segalanya seperti yang diinginkan keluarga mereka. Namun, dia tidak pernah menyangka bahwa keputusan salahnya akan membawa kehancuran bagi semua orang.

“Saya minta maaf, Maya,” ucapnya dengan suara yang hampir tak terdengar. “Saya tidak pernah bermaksud untuk menyakiti siapapun. Saya hanya ingin anak saya bahagia dan memiliki kehidupan yang layak.”

“Bahagia? Layak?” tanya Maya dengan nada yang penuh ejekan. “Lihatlah kita sekarang, Bu! Hidup seperti orang miskin yang tidak punya apa-apa! Semua impian saya tentang kehidupan mewah dan kemewahan telah sirna hanya karena kesalahanmu yang memaksa Arga untuk memilihku daripada Rania!”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Maya berdiri dan mengambil jaket tipis yang tersisa di sudut kamar. Dia melihat sekilas ke arah Arga yang masih terbaring tidak sadarkan diri, lalu menoleh lagi ke bu Ratna. “Aku akan keluar sebentar. Jangan harap aku akan membawa makanan atau obat untuk kalian—aku sendiri tidak tahu kemana harus mendapatkan uang. Tapi percayalah, aku akan menemukan jalan keluar dari semua ini. Aku tidak akan tinggal dalam kemiskinan seperti ini selamanya!”

Dengan itu, Maya membuka pintu kayu yang berderit dan melarikan diri dari kontrakan yang penuh dengan kesedihan dan keputusasaan. Hujan yang semakin deras menerpa tubuhnya, membuat pakaiannya basah kuyup dan tubuhnya menggigil karena kedinginan. Namun, dia tidak peduli—dia memiliki satu tujuan yang jelas di benaknya, satu-satunya harapan yang bisa menyelamatkannya dari kehidupan yang menyakitkan ini: menemukan Rio, mantan suaminya yang dulu selalu mencintainya dengan tulus.

Setelah berjalan selama hampir satu jam melalui jalan-jalan kumuh di pinggiran kota Bandung, Maya akhirnya sampai di depan sebuah rumah sederhana namun rapi yang terletak di perumahan kecil yang tenang. Rumah itu masih sama seperti yang dia ingat—dengan taman kecil yang penuh dengan bunga mawar merah yang dulu selalu dia rawat bersama Rio sebelum mereka menikah. Hatinya sedikit bergetar ketika melihat rumah itu, merasa bahwa semua kesalahan yang dia lakukan akan segera bisa diperbaiki.

Dia berhenti di depan pagar besi kecil dan mengetuk pintu dengan tangan yang gemetar. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan sosok seorang wanita muda dengan wajah ceria dan ramah muncul. Wanita itu mengenakan apron biru muda dan memiliki wajah yang menunjukkan kedekatan dengan Rio—Maya tahu bahwa ini adalah adik Rio, Sari, yang dulu sering mereka ajak bermain bersama.

“Maya?” ucap Sari dengan tatapan yang sedikit terkejut dan kemudian berubah menjadi dingin. “Apa yang kamu lakukan di sini? Kakakku tidak ingin melihatmu lagi, kamu tahu kan?”

“Tolong Sari… aku perlu berbicara dengan Rio,” pinta Maya dengan suara yang bergetar, mencoba menunjukkan ekspresi yang penuh kesedihan. “Aku sudah sangat menyesal dengan semua yang aku lakukan padanya. Aku datang untuk meminta maaf dan memohon dia untuk menerima aku kembali. Hidupku sekarang sangat menyakitkan—Aku tidak punya tempat tinggal, tidak punya uang, dan Arga sudah tidak bisa lagi membantu aku apa-apa.”

Sari hanya menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan tidak percaya. “Kamu datang ke sini sekarang hanya karena kamu dalam kesusahan, bukan karena kamu benar-benar menyesal, kan Maya? Saat kamu menikah dengan kakakku, kamu selalu tidak puas dengan apa yang dia berikan padamu. Kamu selalu menginginkan yang lebih banyak, yang lebih mewah. Dan ketika kamu bertemu dengan Arga yang kaya raya, kamu langsung meninggalkan kakakku tanpa belas kasian!”

“Aku sudah berubah, Sari,” ucap Maya dengan nada yang semakin meratap. “Aku menyadari bahwa kekayaan dan kemewahan bukanlah segalanya. Yang paling penting dalam hidup adalah memiliki seseorang yang benar-benar mencintai kita dengan tulus, seperti yang dilakukan Rio padaku. Tolong saja izinkan aku bertemu dengannya. Aku hanya perlu sedikit kesempatan untuk membuktikan bahwa aku sudah menjadi orang yang lebih baik!”

Sebelum Sari bisa menjawab, suara Rio yang akrab terdengar dari dalam rumah. “Siapa yang ada di luar sana, Sari?”

Beberapa saat kemudian, Rio muncul di belakang Sari, mengenakan kemeja putih yang rapi dan celana jeans yang membuatnya tampak lebih tampan dan matang dari sebelumnya. Ketika matanya bertemu dengan Maya, ekspresi wajahnya yang dulu selalu penuh dengan kelembutan kini digantikan oleh tatapan yang dingin dan penuh dengan ketegasan.

“Rio…” panggil Maya dengan suara yang lemah, air mata mulai mengalir di wajahnya yang basah karena hujan. “Aku… aku datang untuk meminta maaf padamu. Aku sangat menyesal dengan semua yang aku lakukan padamu. Aku tidak seharusnya meninggalkanmu untuk Arga. Aku menyadari bahwa kamu adalah satu-satunya orang yang benar-benar mencintai aku dengan tulus.”

Rio hanya berdiri diam di pintu, matanya tidak bergerak dari wajah Maya. Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, dia akhirnya berbicara dengan suara yang dalam dan penuh dengan keyakinan. “Aku sudah tahu mengapa kamu datang ke sini, Maya. Kamu tidak datang karena kamu benar-benar menyesal, tapi karena kamu sedang dalam kesusahan dan kamu berpikir bahwa aku akan segera menerima kamu kembali seperti dulu.”

“Tidak benar, Rio!” teriak Maya dengan emosi yang meluap. “Aku benar-benar menyesal! Aku sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya ditinggalkan dan dipermalukan. Arga telah menjadi lemah dan tidak berguna, dan keluarganya tidak bisa lagi membantu kita apa-apa. Aku hanya ingin kembali ke pangkuanmu, kembali ke kehidupan yang damai dan penuh cinta yang dulu kita miliki bersama!”

Rio menggeleng perlahan, wajahnya menunjukkan perpaduan antara kesedihan dan keputusasaan. “Aku sudah tidak bisa lagi memberikan apa yang kamu inginkan, Maya. Saat kamu meninggalkanku, kamu tidak hanya menghancurkan hatiku, tapi juga menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun. Kamu menjual pusaka keluarga ku, mencoba menyalahgunakan hak milik rumah ibuku, dan bahkan menghianati aku dengan sahabatku sendiri—Arga. Bagaimana kamu bisa berpikir bahwa aku akan bisa memaafkan semua itu dengan mudah?”

“Karena kamu mencintaiku, Rio!” jawab Maya dengan suara yang semakin tinggi. “Kamu selalu bilang bahwa cintamu padaku tidak akan pernah pudar, tidak peduli apa yang kulakukan. Kamu tidak bisa begitu saja berhenti mencintaiku seperti itu!”

“Aku memang pernah mencintaimu dengan sepenuh hati, Maya,” ucap Rio dengan nada yang lembut namun tegas. “Tapi cinta itu tidak hanya tentang perasaan—itu juga tentang rasa hormat, kejujuran, dan komitmen. Kamu telah menghancurkan semua itu dengan tanganmu sendiri. Dan sekarang, aku sudah menemukan seseorang yang benar-benar layak untuk dicintai—seseorang yang kuat, baik hati, dan selalu jujur dalam setiap tindakannya. Dia telah membantu aku bangkit dari kehancuran yang kamu berikan padaku, dan dia telah menunjukkan padaku bahwa cinta yang sesungguhnya tidak membutuhkan kemewahan atau kekayaan untuk bisa tumbuh dan berkembang.”

Maya merasa hati nya seperti tertusuk oleh ribuan jarum ketika mendengar kata-kata itu. Siapakah wanita yang dimaksud Rio? Siapakah orang yang bisa menggantikannya dalam hati pria yang dulu mencintainya dengan sepenuh hati?

“Siapa dia?” tanya Maya dengan suara yang lemah dan penuh dengan rasa cemburu. “Siapa wanita yang telah mengambil tempatku di hatimu?”

Rio menghela napas perlahan, matanya melihat jauh ke arah langit yang masih penuh dengan awan gelap. “Aku tidak akan memberitahumu siapa dia, Maya. Yang penting adalah aku sudah bahagia dengan dia, dan aku tidak ingin ada yang mengganggu kehidupan damai yang kini aku miliki. Aku datang menemui kamu hari ini bukan untuk membicarakan tentang cinta atau masa lalu kita—aku datang untuk memberitahumu bahwa kamu harus berhenti mencari aku dan mulai mengambil tanggung jawab atas semua tindakanmu sendiri.”

gemetar, matanya menatap Rio dengan ekspresi yang penuh dengan kehancuran dan keputusasaan. Dia tahu bahwa dia telah kehilangan kesempatan terakhirnya untuk mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya—kesempatan yang dia sendiri yang sia-siakan karena keserakahan dan kesalahan yang dia lakukan.

“Tapi… apa yang akan kulakukan sekarang, Rio?” tanya dia dengan suara yang meratap. “Aku tidak punya tempat tinggal, tidak punya uang, dan tidak punya siapapun yang bisa membantu aku. Aku sudah merusak semua hubungan yang pernah kulakukan dengan orang lain."

"Kamu harus kembali ke Arga, dia telah meninggalkan Rania hanya demi kamu, dan setelah dia jatuh terpuruk kamu meninggalkannya begitu saja."ucap Rio

"Tapi dia sudah miskin dan tidak punya apa-apa rio, aku tidak bisa hidup tanpa kemewahan, kamu tahu kan?" ucap maya mencoba merayu Rio

"Sudahlah maya, sekarang segera pergi dari rumahku, aku sudah tidak mau melihatmu lagi, pergi maya." usir Rio

Akhirnya Maya meninggalkan rumah Rio dengan terpaksa, dia masih sempat memandang rumah rio dari kejauhan, maya benar-benar menyesal. Dia pun kembali ke kontrakannya Arga yang kecil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!