Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Dalfa tidak tahu sejak kapan pikirannya mulai sering terseret pada satu sosok, Kayla. Awalnya, ia menganggap perempuan itu hanya salah satu asisten rumah tangga yang kebetulan bekerja di rumah ayahnya. Tidak kurang, tidak lebih.
Dalfa bukan tipe pria yang mudah tertarik pada orang lain, apalagi pada hal-hal di luar pekerjaannya. Namun, semakin lama, semakin sering ia mendapati dirinya memperhatikan Kayla tanpa sengaja. Bukan caranya bekerja yang membuatnya penasaran, meski Kayla memang cekatan, rapi, dan nyaris tak pernah membuat kesalahan. Bukan pula sikapnya yang sopan dan tertutup. Yang terus menghantui Dalfa adalah matanya.
Kayla memiliki bola mata berwarna Amber yang langka. Hangat seperti madu, tetapi dalam seperti menyimpan badai yang tak pernah terlihat di permukaan.
Di dalam hati Dalfa, sesuatu bergejolak. “Kenapa matanya terasa familier?”
Setiap kali Kayla menunduk, setiap kali ia menghindari tatapan Dalfa, setiap kali ia berbicara dengan suara pelan, mata itu selalu terbayang di benak Dalfa. Anehnya, di ingatannya, mata itu tidak selalu terlihat tenang seperti sekarang. Terkadang tanpa ia mengerti alasannya, bayangan mata amber itu muncul dalam bentuk lain, basah oleh air mata, bergetar, penuh ketakutan.
Suatu malam, Dalfa terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia mengusap wajahnya kasar.
“Kenapa aku memimpikan dia menangis?” batinnya gusar.
Dalfa diselimuti dengan perasaan ganjil setelah memimpikan hal itu. Padahal, selama Kayla bekerja di rumahnya, Dalfa tidak pernah melihat perempuan itu menangis. Tidak pernah melihatnya rapuh. Tidak pernah melihatnya kehilangan kendali. Justru Kayla selalu tampak berhati-hati, terjaga, seolah sedang berusaha bertahan.
Semakin dipikirkan, semakin membuat Dalfa gelisah. Namun, ia bukan pria yang suka mengorek perasaan. Ia memilih menepis semua itu dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Sebagai anak sulung, Dalfa memikul tanggung jawab besar. Sejak beberapa tahun terakhir, ia melanjutkan usaha milik Pak Ramlan, sebuah perusahaan real estate yang sudah lama berdiri dan memiliki reputasi kuat di kota. Bangunan tinggi, proyek perumahan elit, perkantoran modern, semua itu berada di bawah kendalinya.
Dalfa dikenal sebagai pria yang dingin, tegas, dan disiplin. Ia bukan tipe yang gemar berfoya-foya atau menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.
Hidupnya nyaris sepenuhnya berputar di sekitar pekerjaan. Pagi di kantor, siang rapat, sore meninjau proyek, malam masih membaca laporan. Bahkan di hari libur pun, pikirannya jarang benar-benar beristirahat. Ia tidak membenci kehidupannya, ia justru merasa inilah jalan yang memang harus ia tempuh. Namun, belakangan, pikirannya mulai terganggu oleh satu hal yang tak bisa ia kendalikan, Kayla.
Sementara itu, di sisi lain kota, Ashabi menjalani hidup yang sangat berbeda. Ia bukan pewaris perusahaan besar seperti Dalfa. Semua yang ia miliki ia bangun sendiri dari nol.
Sejak zaman SMK, Ashabi sudah membuka bengkel kecil di dekat sekolahnya. Bermodalkan kunci pas, keberanian, dan tekad, ia belajar memperbaiki motor satu per satu.
Saat kuliah, ia mulai mengembangkan usahanya membuka toko onderdil kendaraan yang awalnya kecil, lalu perlahan semakin besar. Banyak yang meremehkannya saat itu. Banyak yang menganggap usahanya tidak akan bertahan lama. Akan tetapi, Ashabi membuktikan sebaliknya.
Setelah lulus, ia tidak puas hanya dengan bengkel dan toko onderdil. Ia melihat peluang baru di bidang kuliner waralaba yang sedang ramai, lalu mendirikan perusahaan sendiri.
Kini, ia memiliki; beberapa bengkel kendaraan,
toko onderdil terbesar di kota, serta jaringan waralaba kuliner yang terus berkembang. Semua itu murni hasil kerja kerasnya, tanpa bantuan keluarga, tanpa modal besar dari orang tua.
Namun, meski sukses, Ashabi tetap rendah hati. Ia masih sering turun langsung ke bengkel, berbincang dengan karyawan, dan membantu siapa saja yang membutuhkan.
Sejak mengenal Kayla, Ashabi beberapa kali berpikir untuk membantunya mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Tetapi semakin dipikirkan, semakin sulit. Menempatkan Kayla di bengkel atau toko onderdil miliknya tidak mungkin, pekerjaan di sana membutuhkan kecepatan, ketelitian, dan tekanan tinggi. Ia tahu Kayla tidak akan cocok dengan ritme itu.
Menjadikannya karyawan minimarket juga bukan pilihan yang aman. Pendidikan Kayla hanya sampai SMP.
Ashabi sudah cukup lama berkecimpung di dunia usaha untuk tahu bagaimana lingkungan kerja bisa kejam. Ia takut Kayla akan dibully, diremehkan, atau diperlakukan tidak adil oleh rekan kerja yang lebih berpendidikan. Ia tidak ingin niat baiknya justru membuat Kayla semakin tertekan.
Karena itulah, Ashabi diam-diam merasa lega ketika ibunya menerima Kayla sebagai asisten rumah tangga. Setidaknya, di sana Kayla berada di lingkungan yang aman, stabil, dan terhormat. Namun, tetap saja, Ashabi tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya.
Sementara itu, perasaan Kayla sendiri mulai berubah tanpa ia sadari. Awalnya, bagi Kayla, Ashabi hanyalah sosok penyelamat. Pria yang menolongnya dari cengkeraman Mami Rose. Pria yang membelanya tanpa mengharapkan imbalan. Pria yang mengantarnya pulang, membawakan makanan untuk adik-adiknya, dan mengajari mereka mengaji. Di matanya, Ashabi adalah pahlawan. Orang baik. Orang yang sangat ia hormati.
Setiap kali melihat Ashabi tersenyum, Kayla merasa tenang. Setiap kali mendengar suaranya yang lembut dan sopan, hatinya terasa lebih ringan. Namun, semakin lama, perasaan itu mulai terasa berbeda. Bukan sekadar rasa aman atau rasa terima kasih.
Suatu sore, saat Ashabi datang mengantarkan makanan ke kontrakan, Kayla mendapati dirinya menatap pria itu lebih lama dari biasanya. Ia memperhatikan cara Ashabi berbicara dengan adik-adiknya, begitu sabar, hangat, penuh perhatian. Dadanya berdegup lebih cepat tanpa alasan yang jelas.
Saat Ashabi tertawa kecil, Kayla merasa wajahnya memanas. Dan ketika pria itu pamit pulang, Kayla diam-diam merasa ada ruang kosong yang tertinggal di hatinya.
Malam itu, saat ia berbaring di kamar sempitnya, Kayla menatap langit-langit dengan pikiran berkecamuk. “Kenapa aku jadi begini?” batinnya gelisah.
Kayla teringat wajah Ashabi, senyumnya, nada suaranya. Jantungnya kembali berdebar. Kayla menggeleng cepat, mencoba menepis perasaan itu.
“Tidak. Tidak boleh. Dia hanya orang baik. Dia hanya menolongku. Tidak lebih.”
Namun, semakin ia menyangkal, semakin kuat perasaan itu muncul. Perasaan hangat yang asing. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Mungkin seperti perasaan suka.
up LG Thor