Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.
Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar yang Berhembus di Kota
Pagi setelah pertarungan di lantai 200 terasa seperti kota yang tiba-tiba diam—seperti napas yang tertahan sebelum badai besar datang lagi. Raito, Mira, dan Yuna duduk di meja kecil penginapan, sarapan roti panggang dan telur mata sapi yang Mira buat. Yuna mengunyah dengan lahap, tapi matanya sesekali melirik Raito, seperti ingin bertanya tapi takut mengganggu.
Raito memandang ke luar jendela. Langit Yorknew pagi itu abu-abu tebal, awan rendah menutupi gedung-gedung tinggi. Udara terasa lembab, penuh bau asap kendaraan dan makanan jalanan yang mulai dibuka.
“Kak Raito… kamu menang lawan orang menyeramkan itu ya?” tanya Yuna pelan.
Raito tersenyum kecil. “Bukan menang. Cuma… bertahan. Dan dia pergi dengan sendiri.”
Mira menuang teh ke cangkir Raito. “Hisoka bukan tipe yang mundur selamanya. Dia akan kembali. Dan kalau dia kembali… kita harus lebih siap.”
Raito mengangguk. “Aku tahu. Makanya aku mau naik lagi ke lantai atas. Tapi sebelum itu… aku mau dengar kabar dari Sera. Dia bilang ada rumor besar di kota ini.”
Mereka selesai sarapan cepat. Yuna ditinggal di penginapan dengan pesan ketat dan kunci ganda—dia sudah terbiasa, meski masih cemberut.
Pasar gelap pagi itu ramai seperti biasa—pedagang berteriak menjajakan barang langka, aroma rempah gelap bercampur bau logam karat. Sera sudah menunggu di kios kecilnya, buku catatan tebal terbuka di depannya, kacamata tipis hampir jatuh dari hidung.
“Kalian datang cepat,” kata Sera tanpa salam. Matanya langsung tertuju ke Raito. “Auramu… semakin terbuka. Retak itu sekarang seperti jendela yang sengaja dibiarkan terbuka. Bagus.”
Raito duduk di bangku kecil. “Kami datang karena rumor yang kamu sebut kemarin. Apa yang terjadi di kota ini?”
Sera menutup buku catatannya pelan, seperti takut kata-katanya terdengar orang lain. Suaranya jadi bisik.
“Phantom Troupe. Mereka sudah bergerak di Yorknew sejak dua minggu lalu. Bukan cuma mencuri barang di lelang besar—mereka cari sesuatu yang lebih spesifik. Artefak dari Dark Continent. Benda yang bisa ‘membuka jalan’ atau ‘mengubah realitas’. Aku dengar mereka dapat info tentang Eclipse Stone.”
Mira menegang. “Mereka tahu tentang batu itu?”
Sera mengangguk. “Bukan tahu persis. Tapi mereka dengar rumor tentang ‘cahaya yang bisa buka portal’. Dan mereka tahu kamu yang pegang batu itu kemarin malam. Chrollo—pemimpin mereka—sudah perintahkan anak buahnya mencari ‘pemilik cahaya’.”
Raito menelan ludah. Dia ingat Phantom Troupe dari rumor di ujian Hunter—kelompok pembunuh yang tidak punya belas kasihan, yang bunuh seluruh klan Kurta hanya karena alasan yang tidak jelas. Mereka bukan seperti Shadow Serpent yang bisa diusir dengan cahaya. Mereka adalah kegelapan yang hidup.
“Apa yang mereka mau dari aku?” tanya Raito.
Sera menatapnya tajam. “Mereka mau portal itu. Kalau Eclipse Stone bisa buka jalan ke dunia lain atau ke Dark Continent… itu artinya akses ke kekuatan dan barang yang tak terbayang. Chrollo adalah kolektor—dia kumpulkan Nen, buku, artefak. Cahaya-mu… mungkin dia anggap sebagai Nen yang unik. Atau sebagai kunci.”
Mira mengepal tangan. “Kalau mereka datang… kita nggak bisa lawan mereka berdua saja.”
Raito diam sejenak. Lalu dia bicara pelan. “Aku nggak mau lawan mereka dengan kekerasan. Tapi aku juga nggak akan biarkan mereka ambil batu itu atau sakiti kalian.”
Sera mengeluarkan kertas kecil dari buku catatannya. “Ini lokasi lelang besar malam ini—tempat yang jadi target Troupe. Kalau kalian mau cari tahu lebih banyak atau cegah mereka, pergi ke sana. Tapi hati-hati. Troupe nggak main-main. Dan Hisoka… dia juga mungkin ada di sana. Aku dengar dia tertarik pada ‘pertarungan besar’ di lelang.”
Raito mengambil kertas itu. Alamat tertulis rapi: gedung lelang bawah tanah di distrik pusat, malam ini jam 22.00.
Mira memandang Raito. “Kamu mau pergi?”
Raito mengangguk. “Ya. Bukan untuk lawan Troupe. Tapi untuk pastikan batu itu nggak jatuh ke tangan mereka. Dan kalau Hisoka ada di sana… aku akan hadapi dia lagi.”
Yuna, yang mereka ajak kali ini karena nggak mau ditinggal sendirian lagi, memandang mereka berdua. “Aku ikut! Aku nggak takut!”
Mira menggeleng. “Kamu tetap di penginapan dengan Sera. Kami nggak mau ambil risiko bawa kamu ke lelang.”
Yuna protes, tapi akhirnya mengangguk dengan mata berkaca-kaca. “Janji kalian balik ya?”
Raito mengaitkan kelingkingnya. “Janji.”
Malam itu, Raito dan Mira berjalan ke gedung lelang bawah tanah. Udara malam terasa lebih dingin, angin membawa bau hujan yang belum turun. Di pintu masuk gedung—sebuah bangunan tua yang disamarkan sebagai gudang—ada penjaga bersenjata yang memeriksa undangan.
Mereka masuk dengan undangan palsu dari Sera—akses sebagai “pedagang kecil”.
Di dalam, lelang sudah dimulai. Aula besar penuh orang berpakaian mewah dan gelap—mafia, kolektor, Hunter gelap. Di panggung, barang-barang langka dilelang satu per satu: senjata Nen, permata langka, bahkan bagian tubuh Chimera Ant yang diawetkan.
Tapi Raito langsung merasakan aura yang berbeda—dingin, tajam, seperti pisau yang disembunyikan di kegelapan.
Phantom Troupe ada di sini.
Di sudut aula, Chrollo Lucilfer duduk tenang dengan buku di pangkuan. Di sekitarnya, beberapa anggota—Feitan, Machi, Nobunaga—berdiri dengan posisi santai tapi siap bertarung. Mereka tidak mengincar barang lelang biasa. Mata Chrollo tertuju ke arah Raito dan Mira—seperti sudah tahu mereka datang.
Raito berhenti. Dadanya berdenyut—cahaya di dalamnya tidak takut, tapi waspada.
Mira berbisik. “Mereka tahu kita di sini.”
Raito mengangguk. “Aku rasakan. Chrollo… dia memandang kita.”
Chrollo berdiri pelan, menutup bukunya. Dia berjalan mendekat—langkahnya tenang, seperti orang yang sudah tahu akhir cerita.
“Kalian yang punya cahaya itu, ya?” suaranya lembut, tapi penuh kekuatan. “Aku dengar kalian bikin Viktor lari. Dan Hisoka tertarik. Menarik sekali.”
Raito berdiri tegak. Embun cahaya tipis muncul di sekitar tubuhnya—bukan untuk menyerang, tapi siap melindungi.
“Kami nggak mau masalah dengan kalian,” kata Raito. “Kami cuma mau pastikan Eclipse Stone nggak jatuh ke tangan yang salah.”
Chrollo tersenyum tipis. “Sayang sekali. Kami juga mau batu itu. Dan kalau kalian menghalangi… kami nggak ragu untuk ambil paksa.”
Mira maju setengah langkah. “Coba saja.”
Ruangan mulai tegang. Penonton lelang mulai mundur—mereka tahu kalau Phantom Troupe mulai bergerak, darah akan tumpah.
Chrollo mengangkat tangan—gerakan santai, tapi aura-nya meledak pelan. Buku di tangannya terbuka sendiri, halaman-halaman berputar cepat.
“Skill Hunter,” bisiknya. “Aku sudah kumpulkan banyak Nen menarik. Cahaya-mu… mungkin akan jadi koleksi bagus.”
Raito menarik napas dalam. Embun cahaya mengembang jadi gelombang hangat yang menyelimuti tubuhnya dan Mira.
“Aku nggak mau lawan kamu,” kata Raito. “Tapi kalau kamu ancam orang di sampingku… aku nggak akan diam.”
Chrollo tersenyum lebih lebar. “Bagus. Aku suka orang yang punya alasan.”
Dia maju satu langkah.
Dan di aula lelang itu, pertarungan besar yang belum resmi dimulai—bukan di ring, tapi di tengah kerumunan, di antara barang langka dan orang-orang yang takut.
Cahaya Raito berdenyut—siap menerangi kegelapan yang datang.
Dan Phantom Troupe, kegelapan yang hidup, sudah siap menelan cahaya itu.