NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang di Luar Ring

Lift Heavens Arena berhenti di lantai 110 dengan denting lembut yang terasa seperti bel tanda bahaya. Pintu terbuka ke koridor lebar yang diterangi lampu neon dingin—koridor yang lebih sunyi dari lantai bawah, tapi lebih berat auranya. Di sini, petarung tidak lagi berteriak atau tertawa. Mereka berjalan dengan langkah hati-hati, mata saling menghindari tapi tetap mengukur.

Raito keluar lift terlebih dulu, Mira di samping kanan, Yuna di belakang dengan tangan memegang lengan Mira erat-erat. Mereka baru saja menang di lantai 109 melawan petarung bernama “Thunder Fist”—pria bertubuh besar yang aura-nya seperti petir, tapi menyerah setelah Raito menggunakan Dawn Pulse untuk membuatnya “melihat” kekosongan di balik amarahnya. Kemenangan itu seharusnya terasa manis, tapi Raito merasa ada yang mengintai sejak mereka naik lift tadi.

Koridor lantai 110 panjang dan sempit di beberapa bagian, dengan pintu-pintu arena di kedua sisi. Di ujung koridor, sebelum belokan ke ruang tunggu peserta, Raito berhenti. Dia merasakan aura yang familiar—dingin, lengket, dan penuh rasa ingin tahu yang sakit.

Hisoka berdiri bersandar di dinding, satu kaki ditekuk, kartu remi berputar lambat di jari telunjuk. Dia tidak memakai baju arena—hanya kemeja putih longgar dengan lengan digulung, rambut merahnya sedikit acak-acakan seperti baru selesai bertarung.

“Ara~ Ara~ Kamu cepat sekali naiknya,” katanya dengan nada main-main yang terlalu manis. “Aku baru saja menang di lantai 115. Lawanku… mengecewakan. Tidak seperti kamu.”

Mira langsung maju setengah langkah, pisau sudah di tangan tapi belum terhunus. “Ini bukan arena. Jangan mulai di sini.”

Hisoka tersenyum lebar, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Tenang, cantik. Aku tidak akan bertarung sekarang. Aku cuma… ingin ngobrol. Di luar ring. Tanpa aturan. Tanpa penonton.”

Yuna mundur ke belakang Raito, tangannya gemetar. Raito meletakkan tangan di bahu Yuna pelan, tapi matanya tetap tertuju ke Hisoka.

“Kamu mau apa?” tanya Raito tegas. Embun cahaya tipis mulai muncul di sekitar tubuhnya—bukan untuk menyerang, tapi sebagai peringatan.

Hisoka memiringkan kepala, kartu di jarinya berhenti berputar. “Aku mau tahu… apa yang bikin cahaya-mu bisa bikin orang menyerah tanpa darah. Aku lihat rekaman pertarunganmu di lantai 100. Lawanmu tidak kalah karena sakit. Dia kalah karena… tiba-tiba merasa kosong. Itu… sangat indah.”

Raito menatapnya tanpa berkedip. “Itu bukan kekuatan. Itu cuma… penerimaan. Aku nggak bikin mereka kalah. Aku bikin mereka lihat sendiri bahwa bertarung sampai mati bukan satu-satunya cara.”

Hisoka tertawa pelan—tawa yang membuat udara terasa lebih dingin. “Penerimaan? Itu kata yang lucu dari orang yang punya retak di dadanya. Aku bisa rasakan—retak itu semakin lebar. Semakin kamu terima, semakin kuat cahaya-mu. Tapi juga… semakin berbahaya kalau retak itu pecah.”

Mira maju lagi. “Cukup. Kami nggak punya waktu buat permainanmu.”

Hisoka mengangkat tangan—gerakan santai, tapi aura Bungee Gum samar mulai mengelilingi jari-jarinya. “Aku nggak main-main. Aku cuma mau uji sedikit. Di luar arena, tidak ada aturan bunuh. Kalau aku lempar kartu sekarang… kamu bisa menahannya dengan cahaya-mu yang baru itu?”

Raito tidak mundur. Embun cahaya di tubuhnya mengembang pelan—bukan jadi perisai tebal, tapi seperti kabut hangat yang menyelimuti koridor. Yuna menutup mata, tapi tetap memegang tangan Raito.

Hisoka lempar kartu remi satu lembar—bukan ke Raito, tapi ke udara di depan mereka. Kartu itu melayang lambat, aura merah muda lengket mengelilinginya seperti benang karet yang hidup.

Raito angkat tangan kanan. Embun cahaya berubah—bukan gelombang, bukan sinar tajam. Ia membentuk lingkaran kecil di depan telapak tangannya, seperti cermin kecil yang bercahaya hangat.

Kartu Hisoka menyentuh lingkaran itu. Aura Bungee Gum bertabrakan dengan cahaya Raito—ada suara hiss pelan seperti air bertemu bara. Kartu itu berhenti di udara, terperangkap di lingkaran cahaya, tidak bisa maju, tapi juga tidak jatuh.

Hisoka memiringkan kepala. “Menarik. Cahaya-mu sekarang bisa menahan tanpa menolak. Kamu benar-benar… berkembang.”

Raito menurunkan tangan pelan. Kartu itu jatuh ke lantai tanpa efek.

“Aku nggak mau lawan kamu di sini,” kata Raito. “Tapi kalau kamu ancam orang di sampingku… aku nggak akan ragu.”

Hisoka tertawa lagi—kali ini lebih dalam, lebih puas.

“Kamu mulai terasa seperti lawan yang layak. Bukan karena kuat… tapi karena kamu nggak mau jadi seperti aku.”

Dia melangkah mundur, tubuhnya mulai menghilang ke bayang-bayang koridor.

“Aku akan tunggu di lantai 200. Saat kamu sampai di sana… kita main sungguhan. Tanpa aturan. Tanpa penonton. Hanya kau, aku, dan retak di dadamu.”

Hisoka menghilang sepenuhnya. Koridor kembali hening.

Yuna membuka mata, napasnya tersengal. “Dia… pergi?”

Mira memasukkan pisau. “Untuk sekarang. Tapi dia nggak bohong. Dia akan tunggu di lantai 200.”

Raito memandang ke arah Hisoka menghilang. Embun cahaya di tubuhnya meredup pelan.

“Aku akan sampai ke sana,” katanya pelan. “Bukan untuk kalahkan dia. Tapi untuk tunjukkin… ada cara bertarung yang nggak harus sampai mati.”

Mira meletakkan tangan di bahu Raito. “Kita naik bareng. Satu lantai demi satu lantai.”

Yuna memeluk kaki Raito. “Aku juga mau ikut! Aku mau lihat Kak Raito sampai lantai 200!”

Raito mengangkat Yuna. “Kamu ikut. Tapi dari tribun. Kamu adalah alasan aku nggak mau kalah.”

Mereka bertiga berjalan ke lift lagi—menuju lantai berikutnya.

Di belakang mereka, dari balik sudut koridor, Hisoka memandang dengan senyum tipis.

“Fajar yang tertahan… sekarang mulai bergerak lebih cepat. Aku akan ikuti… sampai kau benar-benar bersinar.”

Lift bergerak naik.

Dan di dalam dada Raito, cahaya berdenyut—bukan lagi fajar yang ragu, tapi fajar yang mulai yakin akan menyingsing.

Yorknew terus bernapas.

Dan perjalanan ke lantai 200—ke pertemuan dengan Hisoka, ke jawaban tentang retak, ke masa depan yang belum terlihat—baru saja memasuki babak baru.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!