Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 22
Max duduk bersandar dinding yang sudah lusuh, jaraknya tak terlalu dekat dengan Zayna, namun cukup untuk merasakan tubuh gemetar Zayna yang belum juga mereda. Rumah itu sunyi. Hanya suara isakan kecil yang terputus-putus memenuhi ruang tamu yang temaram.
Zayna tampak rapuh malam itu. Tidak lagi perempuan tegar yang berani melabrak Drake di depan umum. Tidak lagi sosok yang penuh harga diri. Yang tersisa hanya seorang perempuan yang hatinya baru saja dihancurkan oleh orang yang ia cintai.
Air matanya terus mengalir, seolah tak mengenal lelah.
Max menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kemarahan di sana—bukan pada Zayna, melainkan pada Drake.
“Dia yang akan menyesal, dia tidak bisa melihat betapa berharganya dirimu.” Kata Max pelan.
Namun lebih besar dari itu, ada sesuatu yang jauh lebih lembut. Sesuatu yang selama Max kubur dalam diam, yaitu ia mulai ketergantungan dengan Zayna.
“Sudah cukup,” ucap Max pelan, suaranya rendah dan menenangkan. “Kalau terus begini, kau bisa kehabisan air mata.”
“Aku bodoh, kan?” suaranya serak. “Aku pikir dia akan setia, kami saling mengenal bukan hanya setahun dua tahun, kami tumbuh bersama.”
Max menggeleng pelan. “Kau tidak bodoh. Kau hanya mencintai orang yang salah.”
Kalimat itu membuat tangis Zayna pecah kembali. Namun kali ini, bukan hanya karena luka—melainkan karena ada seseorang yang memahami tanpa menghakimi.
Tanpa diduga, tubuh Zayna perlahan bergeser mendekat. Jarak yang tadinya dijaga, kini menghilang begitu saja. Ia tidak meminta izin. Tidak pula memberi aba-aba.
Kepalanya jatuh perlahan di bahu Max.
Gerakan sederhana. Namun bagi Max, itu seperti gempa kecil di dalam dada.
Tubuhnya sempat menegang. Nafasnya tertahan sepersekian detik. Ia tidak pernah membayangkan momen ini datang dalam situasi seperti ini—saat Zayna hancur karena pria lain.
Namun ia tidak bergerak menjauh.
Sebaliknya, Max menyesuaikan posisi duduknya agar Zayna lebih nyaman dan lebih rapat padanya. Tangannya terangkat ragu, lalu perlahan mendarat di bahu gadis itu. Tidak posesif. Tidak memanfaatkan keadaan. Sebuah ketulusan dari hati Max paling dalam. Hanya sebuah sentuhan hangat, penuh perlindungan.
Zayna terisak pelan di sana, wajahnya tersembunyi di lekuk leher Max. Kehangatan tubuh pria itu terasa menenangkan, berbeda dengan dinginnya pengkhianatan yang baru saja Zayna rasakan.
“Aku lelah, Max…” bisiknya lirih.
“Aku tahu,” jawabnya lembut.
“Kau bisa bersandar padaku. Kapan pun kau mau…”
Zayna masih menangis dan mencengkram krah kemeja Max dengan jemari rapuhnya. Dan untuk pertama kalinya, Zayna merasa tidak sendirian, ketika ia benar-benar jatuh ke dalam kubangan.
Sementara itu, di dalam hati Max, badai lain tengah berkecamuk. Ia ingin memeluk Zayna lebih erat. Tiba-tiba perasaan ingin mencium Zayna pun terlintas di benaknya, wanita rapuh itu benar-benar menguji pengendalian dirinya.
Max juga ingin mengatakan bahwa sejak awal, ia tidak pernah berniat menyakiti Zayna seperti Drake. Bahwa jika saja diberi kesempatan, ia akan menjaga Zayna seperti sesuatu yang paling berharga di dunia.
Namun ia menahan diri.
Karena ia tahu—malam ini Zayna tidak membutuhkan cinta baru. Ia hanya membutuhkan tempat untuk bersandar.
Dan jika menjadi bahu sementara adalah perannya, Max rela.
Di balik kepala Zayna yang bersembunyi di dadanya, Max menatap kosong ke depan. Rahangnya mengeras.
Drake mungkin telah menghancurkan hati Zayna.
Tapi Max bersumpah dalam diam—tidak akan ada yang menghancurkannya lagi.
Tidak selama ia ada di sisinya.
Max memberanikan diri mendekap Zayna, menariknya begitu erat hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Dalam keheningan malam, hanya deru napas yang saling memburu.
Max merasakan kontrol dirinya mulai terkikis, sementara Zayna mendongak dengan tatapan rapuh dan mata yang masih digenangi sisa air mata.
“Max…” bisik Zayna lirih, sebuah panggilan yang terdengar seperti permohonan.
Wajah yang tampak hancur namun cantik itu memicu gejolak hebat dalam diri Max. Ia membingkai wajah mungil Zayna dengan kedua telapak tangannya yang besar, seolah sedang memegang porselen yang sangat berharga.
“Aku tahu ini terkesan licik, tapi aku rela jika kau ingin memanfaatkanku. Aku tidak keberatan meski hanya menjadi pelarianmu,” ucap Max dengan suara rendah yang serak.
Manik mata polos Zayna melebar, ia tertegun. “Kenapa?”
“Sudah kukatakan, aku ingin kau selalu mengandalkanku. Aku ingin, apa pun yang terjadi, kau hanya bergantung padaku.”
Max memangkas jarak. Saat bibir mereka bersentuhan, Zayna perlahan memejamkan mata, menyerahkan seluruh pertahanannya. Ciuman itu pun pecah, menari di tengah sunyi malam yang dingin.
Namun, suhu tubuh mereka justru kian memanas, membakar keraguan yang sempat ada.
Lengan kekar Max melingkar di pinggang Zayna, menariknya hingga Zayna kini terduduk di pangkuannya.
Ciuman mereka semakin dalam dan menuntut; lidah mereka saling bertautan dalam tarian yang penuh gairah sekaligus menyirami hasrat yang kian bangkit.
Sentuhan Max berpindah dari pipi ke tengkuk Zayna, jari-jarinya membenam di sela rambut Zayna untuk memperdalam tautan mereka. Zayna mengerang pelan di sela ciuman, tangannya yang gemetar kini mencengkeram bahu kokoh Max, mencari tumpuan saat dunianya terasa berputar.
Hawa panas itu kini bukan lagi sekadar kiasan. Max bisa merasakan detak jantung Zayna yang berdegup kencang di dadanya, seirama dengan miliknya yang kian tak beraturan.
Ciuman yang tadinya penuh kelembutan berubah menjadi lebih liar dan lapar. Max mulai menelusuri garis rahang Zayna dengan bibirnya, memberikan kecupan-kecupan panas yang membuat napas Zayna semakin pendek.
"Max... Ehmmh….," desahaan Zayna dengan suara yang nyaris hilang.
Mendengar erangaan nyaring dari mulut Zayna, Max semakin memeluk punggung Zayna, ciuman Max turun di leher Zayna, menghisapnya dan mengecupnya berkali-kali. Hingga menimbulkan bekas merah.
Kedua tangan Zayna mencengkram kepala dan rambut Max, tubuh Zayna bergetar hebat, merasakan rangsangan hebat yang telah lama tidak Zayna rasakan. Rangsangan yang penuh kelembutan dan juga keintiman.
Max berhenti sejenak, menatap lekat ke dalam mata Zayna yang sayu karena gairah. Ia ingin memastikan sekali lagi, meski akal sehatnya sudah hampir habis. Ia mengecup kening Zayna dengan lembut sebelum kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Zayna, menghirup aroma tubuh wanita itu yang memabukkan, sementara tangannya mulai meraba kedua buah dadaa Zayna yang lebih besar dari ukuran wanita lainnya.
Sedangkan tangan satunya milik Max meraba punggung Zayna menelusup masuk ke dalam baju Zayna dan melepaskan pengait Bra milik Zayna, tubuh mereka semakin menggesek satu sama lain, semakin lebih dekat, tanpa jarak sedikitpun, seolah ingin menyatukan dua jiwa itu menjadi satu selamanya.
Max berhenti sejenak, agar Zayna mengambil napas, dan memastikan bahwa tak ada penolakan apapun dari Zayna.
“Kau percaya padaku kan?” Tanya Max pada Zayna.
Zayna mengangguk perlahan di atas pangkuan Max, tubuh mereka saling berhadapan.
Bersambung
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk