Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tamu di balik tembok naga
Beberapa minggu berlalu sejak malam yang mengerikan itu. Kaisar Jian Feng mendadak menjadi sangat sibuk. Sebagai penguasa tunggal yang baru saja memperluas wilayahnya hingga ke Hutan Kegelapan, urusan birokrasi, penataan pasukan, dan peradilan para pemberontak menyita seluruh waktunya. Ia jarang mengunjungi kamar Mei Lin, namun bukan berarti ia melupakan wanita itu. Dalam diam, Jian Feng merencanakan sesuatu yang ia pikir akan mengembalikan cahaya di mata kosong Mei Lin.
Tanpa sepengetahuan Mei Lin, Jian Feng memerintahkan pasukan bayangannya untuk membawa keluarga Mei Lin ke ibu kota. Ia memberikan mereka sebuah rumah megah dengan kebun luas yang dipenuhi tanaman subur dan lumbung gandum yang tak akan pernah habis. Tidak hanya itu, peti-peti berisi koin emas diletakkan di hadapan ibu Mei Lin yang masih terheran-heran.
"Jangan pertanyakan dari mana semua kemewahan ini berasal," ucap Jian Feng dengan nada dingin saat mengunjungi mereka secara rahasia. "Terima kasihlah pada putri sulungmu. Dia adalah alasan mengapa kalian masih bernapas dan hidup dalam kemewahan ini."
Ibu Mei Lin hanya bisa menangis haru sekaligus takut, sementara Xiao Mei si bungsu merasa lega karena kakaknya ternyata baik-baik saja. Namun, bagi Lin Hua, adik kedua Mei Lin, ini adalah kesempatan emas yang sudah lama ia impikan. Sifatnya yang iri dan haus akan kekuasaan meledak seketika.
"Jika kakakku yang hanya seorang pelayan bisa mendapatkan semua ini, mengapa aku tidak bisa?" pikir Lin Hua dengan licik.
Dengan keberanian yang luar biasa—atau mungkin ketidaktahuan diri yang parah—Lin Hua memohon kepada Jian Feng untuk diizinkan tinggal di istana sebagai tamu, dengan dalih ingin menemani kakaknya yang kesepian. Jian Feng, yang hanya ingin melihat senyum kembali di bibir Mei Lin, menyetujui permintaan itu tanpa pikir panjang. Ia berpikir kehadiran keluarga akan mengobati luka mental Mei Lin.
Namun, Jian Feng tetaplah pria yang waspada. Ia menempatkan Lin Hua di sebuah paviliun yang letaknya sangat jauh dari kamar utama Mei Lin, dipisahkan oleh jembatan batu dan taman labirin. Jian Feng tidak ingin ada orang yang mengganggu privasinya dengan sang Tian-Zhi-Bao.
Lin Hua melangkah masuk ke istana dengan mata yang berbinar penuh keserakahan. Ia melihat pilar-pilar emas, lantai marmer yang mengkilap, dan para pelayan yang menunduk hormat. Meskipun ia hanya ditempatkan di paviliun jauh, baginya ini adalah awal dari pendakian takhtanya. Ia merasa kecantikannya tidak kalah dari Mei Lin, dan ia merasa lebih pantas menikmati kemewahan ini daripada kakaknya yang selalu terlihat murung.
Suatu malam, saat Mei Lin masih terkurung dalam kesedihannya di kamar utama, Lin Hua mulai menyusun rencana jahat di kamarnya yang baru. Ia merasa kesal karena dilarang bertemu kakaknya oleh penjaga ketat. Ia mulai menghasut para pelayan muda, mencari tahu tentang kebiasaan kaisar, dan yang paling mengerikan, ia mencari tahu tentang rahasia "Harta Karun Langit" yang menjadi sebutan kakaknya.
"Jika aku bisa menyingkirkan Mei Lin, atau setidaknya membuat Kaisar berpaling padaku, maka seluruh istana ini akan berada di bawah kakiku," bisik Lin Hua pada bayangannya sendiri di cermin.
Lin Hua mulai berpura-pura baik di depan para penjaga. Ia menggunakan kecantikannya yang sedikit menyerupai Mei Lin untuk menggoda perhatian beberapa perwira muda guna mendapatkan informasi. Rencana jahatnya sederhana namun mematikan: ia ingin menjebak Mei Lin agar terlihat seperti sedang berkhianat lagi, atau membuat Mei Lin tampak gila di depan Jian Feng, sehingga ia bisa mengambil posisi kakaknya sebagai pendamping sang kaisar.
Ia tidak tahu betapa berbahayanya Jian Feng. Ia tidak tahu bahwa pria yang ia coba dekati adalah monster yang telah mencap kakaknya dengan besi panas. Ketidaktahuan diri Lin Hua membawanya pada ambisi yang gelap, tanpa menyadari bahwa ia sedang menari di atas sarang naga yang siap menyemburkan api kapan saja.
Sementara itu, Mei Lin yang masih belum tahu bahwa keluarganya telah berada di dalam lingkungan istana, hanya bisa menatap bulan dari jendela kamarnya. Ia tidak tahu bahwa ancaman terbesar bagi keselamatannya kini bukan lagi dari musuh luar, melainkan dari darah dagingnya sendiri yang sedang merayap di lorong-lorong istana, siap menusuknya dari belakang demi sebuah mahkota berdarah.
Bersambung