Masih di atas gunung, Aya membuang bekas pembalutnya sembarangan ke semak-semak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TuanZx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25; Tersesat?
Belum kelar ceritanya?” kata Ari sesaat setelah dia keluar mobil.
Agaknya, datangnya dia kesini untuk jemput Aya. Pacarnya yang datang ke rumahku seorang diri, mungkin dengan menaiki kendaraan yang di pesan online.
"Baru aja kelar." sahut Aya.
"Lu kemana aja?” kata ku setelah kurang lebih 12 jam ngedengerin sekaligus nyatet kisah yang di bagikan Aya. Atau kisah pendakian versinya.
"Biasa, baru beres ngantor, banyak deadline yang harus di kelarin hari ini juga." kata Ari menanggapi pertanyaan ku.
Kemudian, dia ikut duduk bareng kami dengan buah tangan yang pokoknya bisa bikin perut kenyang.
"Ah, tau aja bujang satu ini kalo kami lagi lapar. Semoga aja ada jatah buat ku." pikir ku.
Karena seperti yang kalian tau, ngedengerin dan nyatet kisah selama itu tanpa makan, pastinya bikin perut lapar juga.
Ya, terkadang rasa merinding setelah ngedengerin kisah Aya, bisa bikin lupa sama perut yang udah kosong aja. Dan keinget lagi pas Ari bawa makanan. He he. Meski sebenernya tadi aku ikut nyicip cemilan yang di bawa Aya.
Dan sambil makan gitu, aku gak lupa buat nanya pertanyaan yang tadi sempet teralihkan. Yaitu, tentang siapa sih yang sebenernya naik malem itu? Ari apa Aya?
Kemudian Ari dan Aya saling tatap satu sama lain. Sebelum kemudian, Ari bilang, "Kita juga gak ada yang tau soal itu. Tapi kayaknya dalam keadaan pingsan malam itu, arwah atau roh kami naik lagi buat ambil kotoran itu. Dan alhamdulillahnya, kita dapet pertolongan dari Tuhan melalui Mak Encep, si Bapak, si Kakek, orang-orang yang ada di Cibungar, sama Bang Maka."
Aku diam, masih nyerna apa yang dia katakan. Sebelum kemudian, "Jadi, kalo gitu, Bang Maka, Mak Encep, Si Kakek, sama orang-orang di Cibungar bukan orang?”
Ari sama Aya menggeleng. Kemudian Aya bilang, "Kayaknya, mereka itu penunggu atau Kuncen di gunung itu. Mungkin, tapi gak yang tau juga. Wallahu a'lam bissawab." (Dan Allah yang paling tahu kebenaran.)
Ari ngangguk, setuju sama apa yang Aya bilang.
"Bentar-bentar, masih banyak yang pengen ku tanya." kata ku setelah ngedenger penjelasan itu. Lalu kutanya lagi dengan bilang, "Tapi, kalo mereka bukan orang, terus yang bawa kalian ke rumah sakit siapa?"
Aya jawab lagi, "Polisi hutan, Mas. Tapi itu juga kata susternya. Kita sendiri gak tau, soalnya masih pingsan."
Aku ngangguk. Tapi masih ada rasa penasaran yang harus di tanyakan, seperti, "Jadi, kalo gitu, sebenernya kalian pingsan berapa hari?”
Lalu, sekarang giliran Ari yang jawab, "Kalo di dunia gaib, kita kayaknya pingsan dua sampai tiga hari. Kalo di dunia nyata ternyata kita cuma pingsan satu hari." kata dia seraya menyuap nasi ke mulutnya.
Aku ngangguk lagi. Sebenernya masih banyak yang pengen di tanyain. Tapi berhubung perut lapar, aku malah milih ikut makan. He he.
Kemudian setelah makanan yang dibawa Ari hampir abis. Dia nanya, "Bro, Gua sama Aya nginep di sini boleh ya? Gua capek, ngantuk juga harus bawa mobil ke Jakarta. Kebetulan besok kita libur."
"Boleh Bro, boleh banget." kata ku cepet. Seneng ada yang nginep di rumah ini, jadi rame.
"Tapi ada kamar kosong gak Bro? Buat pacar gua."
"Ada, Bro. Tapi cuma ada satu, kamar tamu aja. Itupun agak berantakan, belum di beresin. Gua beresin dulu bentar." kata ku seraya bangkit dari tempat duduk.
Tapi Aya bilang, "Gak usah repot-repot, Mas. Nanti biar Saya aja yang beresin."
Ari juga bilang, "Iya, lu santai aja Bro, baru kelar makan juga, gak boleh banyak gerak diemin dulu. kayak sama siapa aja. Pacar gua mah biasa tidur di gunung, berantakan dikit mah gak ngaruh." kata dia sambil ketawa sedikit.
Kemudian aku nurut, karna lumayan begah. Lagian, kamarnya juga gak terlalu berantakan, cuma agak berdebu aja deh kayaknya.
Dan setelah itu, kami sempet bahas tentang rutinitas masing-masing di luar pekerjaan. Selain ngantor buat mereka, dan selain nulis buat aku sendiri.
Alih-alih kembali bahas hal mistis, kami malah bertahan dengan terus membahas topik barusan hingga jam setengah 12 malam.
Entah takut tambah merinding. Atau memang sejenak, kita perlu keluar dari topik yang sudah di bahas 12 jam lebih, atau mungkin kami tak ingin mimpi buruk malam ini.
Dan sekitar jam 12an, rasa kantuk tak bisa di tahan lagi. Kami memutuskan untuk tidur.
———
Paginya, sekitar jam setengah 6 setelah shalat subuh. Mereka izin pulang.
Aku sempat menahan mereka, maksudku, "Kenapa buru-buru? Udara Bogor pagi-pagi sayang kalo gak di hirup."
Dan Ari bilang, "Justru itu, gua pengen pagi-pagi keliling Bogor. Kita juga mau ke Puncak, lu mau ikut?”
Aku menggeleng, meski sebenernya pengen. Ya, selain gak pengen jadi nyamuk, emang ada yang ada harus ku kerjain juga dengan buku-buku novel ku yang lain.
Tapi sebelum mereka pergi, aku nyempetin diri buat nanya soal kelanjutan buku ini. Maksudku, soal kelanjutan buku ini mau akan di apakan. Buku ini, saat itu masih butuh pengembangan, masih butuh perapihan, masih butuh penyesuaian, dan butuh kesepakatan, soal nama-nama yang terlibat di dalamnya. Apa pake nama-nama asli sesuai dengan cerita apa gimana?
Dan setelah berpikir sebentar, mereka sepakat agar sebaiknya di samarkan saja, untuk menjaga privasi orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Begitu pun dengan nama tempat kejadian, mereka juga sepakat agar ikut di samarkan, karena menurut mereka, tak ada gunung yang angker, keangkeran hanya akan menimpa mereka yang tak menghargai, tak menghormati, dan tak menjaga keasrian juga kebersihan gunung.
Aku mengangguk setuju.
Tapi setelah ku tanyakan ulang soal kelanjutan buku ini mau di apakan, mereka menjawab dengan mengatakan bahwa mereka belum siap mengambil keputusan. Yang artinya, mereka masih butuh waktu untuk mengambil keputusan mengenai kisahnya yang akan di sebar luaskan.
Ari bilang, "Bro, soal itu, kayaknya nantian aja ya? Kita masih harus pikir-pikir dulu, kita masih butuh waktu."
"Kenapa?” tanya ku saat itu. Maksudku, nunggu apa lagi, bukankah lebih cepat lebih baik?
Dan Aya bilang, "Bagi kami itu aib, Mas. Mau gimanapun, Saya tetep salah udah ngotorin gunung. Saya khilaf. Selain itu, Saya juga masih trauma, Mas. Saya masih butuh waktu."
Secepat mungkin aku minta maaf, karna mungkin terlalu semangat ingin menerbitkan buku ini, dan melihat langsung reaksi dari pembaca. Mengesampingkan mental dan perasaan orang yang mengalaminya. Sepenuhnya aku memahami apa yang Aya dan Ari rasakan. Sekali lagi aku minta maaf ke meraka.
"Gak papa, Mas. Saya ngerti, dan secepetnya juga akan Saya kabari kalo udah siap."
Aku ngangguk, kemudian bilang. "Kisah versi Ari udah saya kembangkan. Nanti sekitar satu mingguan kalo gak keberatan kisah versi Mbak Aya juga mau Saya kembangkan, apa boleh Mbak? Siapa tau Mbak suka?”
"Oh boleh Mas." kata dia antusias.
"Nanti kalo udah beres, Saya kirim Pdfnya ya Mbak? Sekarang Mbak mau saya kirim juga kisah versi Ari yang udah saya kembangkan? Siapa tau Mbak suka? Nanti kalo Mbak suka, mungkin pengembangan kisah versi Mbak juga gak bakal beda jauh sama versinya Ari."
Aya ngangguk, dia bilang. "Boleh, Mas."
Kemudian, setelah kirim Pdf versi Ari dan basa-basi sebentar, aku tak punya alasan lagi untuk menahan kepergian mereka.
Mereka pergi berkeliling Bogor, dan akan menghabiskan waktu liburnya di temani udara segar dan pemandangan hijau Puncak Bogor.
"Semoga menyenangkan, jangan buang pembalut sembarangan lagi." gumamku sembari memandangi kepergian mereka.
———
Kemudian setelah satu minggu berlalu, aku mengirimkan berkas Pdf yang sudah di ku kembangkan versi Aya ke dia dan Ari.
Alhamdulillah, Aya suka, dan Ari juga demikian. Dan aku seneng dengernya.
Tapi, soal penerbitan buku ini tak ku tanyakan meski sebenernya ingin.
Lagi-lagi aku menghormati keputusan dan kesiapan yang akan mereka kabari lagi nanti.
"Semoga gak terlalu lama, tapi kalau pun begitu, aku siap nunggu." gumam ku sesaat setelah denger reaksi mereka.
———
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu. Kabar tentang kesiapan penerbitan buku ini masih belum ku dapatkan.
Tapi kabar baiknya, di media sosial Ari, aku liat mereka udah mulai naik gunung lagi. (Bukan gunung yang sama seperti sebelumnya)
Dan, kami juga masih lumayan sering bertukar pesan meski lewat media sosial. Alhamdulillahnya, mereka dalam keadaan baik, semakin membaik. Semoga terus begitu, dan selalu seperti itu.
———
Namun, setelah empat bulan berlalu, kami mulai jarang sekali bertukar pesan. Saat itu, aku gak terlalu mikirin persoalan itu. Aku pikir, mereka mungkin sedang sibuk dengan kerjaan kantor dan semacamnya. Begitupun dengan aku yang berusaha memperbaiki kualitas menulis ku agar di gemari para peminat.
Bisa di bilang, pada bulan itu, kami sibuk dengan dunia masing-masing.
Dan setelah memasuki bulan ke lima. Kami sama sekali tak lagi bertukar pesan.
Bulan ke enam, masih sama. Tapi ketika memasuki pertengahan tanggal bulan tersebut, aku mendapat pesan dari Ari yang nyaris bikin nganga gak percaya.
Pesan itu berisi, [Bro, gua nyaris mati. Gua abis tersesat di gunung *****. Tapi alhamdulillah gua selamat lagi.] (Dalam sensor bintang itu, Ari menyebut nama salah satu gunung yang ada di Sumatera Barat)
Dengan poto dirinya yang sedang di infus. Latar belakang poto itu juga ngeliatin ruangan rumah sakit tempatnya di rawat.
Dan di bawah poto tersebut terdapat keterangan, [Kayaknya lu harus nulis kisah gua lagi Bro.]
jangan2 yang tadi cerita itu bukan orang asli nih..
ih serem...
pas kena sorot mobil Ari di tengok udah ga ada orangnya...
malah orangnya baru keluar dari mobilnya Ari...
gimana tuh bang kalo bener begitu kejadiaanya...
masa cuma dari tali pocong bisa kaya...
kalo mau kaya ya usaha, kerja, dagang jangan yang aneh2 dech