Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panas yang Tak Bisa Dipadamkan
Perahu kecil mereka meninggalkan pulau saat fajar menyingsing, membawa empat orang yang kini terikat oleh rahasia lebih dalam daripada darah. Bayu mengemudikan layar dengan tangan lebih mantap—pengalaman bertarung kemarin membuatnya tidak lagi gemetar setiap kali angin berhembus kencang. Kirana duduk di haluan, mata hijau zamrudnya menatap horizon, tapi sesekali melirik ke belakang—ke arah Jatayu dan Banda yang duduk berdekatan di tengah perahu.
Jatayu memegang kristal biru yang kini dibungkus kain biru tua milik Banda. Kristal itu terasa hangat di telapak tangannya, seperti denyut jantung kedua. Setiap kali ia menyentuhnya, ada getaran kecil yang merambat ke lengan—seperti api Phoenix-nya bereaksi pada air Naga Laut.
Banda duduk di sampingnya, lutut mereka hampir bersentuhan. Sejak kebangkitan di kuil, ia merasakan perubahan halus di tubuhnya: napas lebih dalam, pendengaran lebih tajam terhadap suara ombak, dan yang paling mengganggu—setiap kali Jatayu dekat, ada panas samar di dadanya, seperti bara yang siap menyala.
“Kau merasakannya juga, kan?” tanya Banda pelan, suaranya hanya untuk Jatayu.
Jatayu mengangguk tanpa menatapnya. “Ikatan darah. Semakin kuat kekuatanmu bangkit, semakin dekat kita terhubung. Aku bisa merasakan detak jantungmu sekarang… seperti ombak yang bergulung di telingaku.”
Banda menatap tangannya sendiri. “Aku takut kalau ini membuatku kehilangan kendali. Di kuil tadi… aku hampir membunuh Si Abu-abu tanpa berpikir. Air itu… membara. Seperti api milikmu, tapi dingin.”
Jatayu akhirnya menoleh. Matanya kuning keemasan bertemu mata biru gelap Banda. “Itu kutukan yang mulai bekerja. Setiap kali kau pakai kekuatan untuk melindungiku, kau semakin mendekati titik di mana kau harus memilih: membunuhku agar kau hidup, atau mati bersamaku.”
Kirana yang mendengar dari haluan menoleh cepat. “Jangan bicara seperti itu. Kita masih punya waktu. Kristal merah di Merapi… mungkin bisa mematahkan ikatan ini sebelum terlambat.”
Bayu mendengus dari belakang. “Atau mungkin kristal itu malah mempercepatnya. Kita lagi main-main dengan kekuatan yang bahkan kalian yang abadi pun tak paham sepenuhnya.”
Jatayu menghela napas. “Kita tidak punya pilihan lain. Klan Phoenix menyimpan rahasia kristal merah lebih lama dari siapa pun. Kalau ada jawaban, ada di sana.”
Perjalanan ke daratan utama memakan waktu hampir dua hari. Mereka mendarat di pantai kecil dekat pelabuhan kecil di selatan Sulawesi, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki dan menumpang perahu nelayan kecil menuju daratan Jawa. Sepanjang jalan, mereka menghindari kota besar—terlalu berisiko kalau werewolf atau pemburu Phoenix mengintai.
Malam ketiga, mereka berkemah di lereng bukit kecil yang menghadap ke arah pegunungan. Api unggun kecil menyala, tapi tidak cukup untuk menghangatkan udara malam yang mulai dingin karena mendekati dataran tinggi.
Banda dan Jatayu duduk agak menjauh dari api, di balik batu besar yang menghalangi pandangan Bayu dan Kirana. Kirana berpura-pura sibuk mengatur bekal, tapi matanya sesekali melirik ke arah mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Kau dingin,” kata Banda pelan, melihat Jatayu menggosok lengan.
Jatayu menggeleng. “Phoenix tidak mudah kedinginan. Tapi… sejak kristal biru, tubuhku terasa aneh. Seperti ada bagian yang haus akan panas, tapi panas itu datang dari dalam dirimu.”
Banda ragu sejenak, lalu mengulurkan tangan. “Coba pegang.”
Jatayu menatap tangan itu lama. “Kalau kita sentuh lagi sekarang… ikatan bisa semakin kuat. Kita belum tahu efek sampingnya.”
“Tapi kalau kita tidak coba, kita tidak akan tahu cara mengendalikannya,” balas Banda. “Dan aku tidak mau kau kedinginan karena aku.”
Jatayu menghela napas, lalu menyentuh telapak tangan Banda.
Saat kulit mereka bersentuhan, dunia seolah berhenti.
Panas meledak dari titik kontak—bukan panas biasa, tapi panas yang hidup, yang merambat ke seluruh tubuh mereka berdua. Banda merasakan api Phoenix Jatayu menyusup ke nadinya, seperti lava yang mengalir di pembuluh darahnya. Jatayu merasakan ombak dingin Banda membungkus jiwanya, seperti pelukan air yang membekukan sekaligus menghangatkan.
Mereka berdua tersentak bersamaan. Napas mereka menjadi satu irama. Di benak mereka, visi singkat muncul: mereka berdua berdiri di tengah lautan api dan air yang bertabrakan, tapi bukannya saling memusnahkan, api dan air menyatu menjadi kabut emas yang indah, membentuk bentuk naga dan phoenix yang melingkar satu sama lain.
Versi itu pudar. Tapi panasnya tetap.
Jatayu menarik tangan dengan cepat, tapi terlambat. Tubuhnya gemetar. Wajahnya memerah—bukan karena malu, tapi karena api Phoenix-nya bereaksi hebat. “Ini… terlalu kuat. Kita tidak boleh lagi—”
Banda tidak melepaskan. Ia malah menarik Jatayu lebih dekat, hingga dahi mereka hampir bersentuhan. “Kalau kita takut setiap kali menyentuh, kita tidak akan pernah mengerti ikatan ini. Dan kalau kita tidak mengerti, kutukan akan menang.”
Jatayu memejamkan mata. Napasnya tersengal. “Kau tidak tahu apa yang kau minta. Setiap kali kita dekat seperti ini… aku merasakan keinginan untuk membakarmu habis. Dan kau… kau merasakan keinginan untuk menenggelamkanku.”
Banda mengangguk pelan. “Aku tahu. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bilang kita bisa saling melengkapi, bukan saling hancurkan.”
Jatayu membuka mata. Air mata kecil menggenang di sudut matanya—air mata yang langsung menguap jadi uap emas tipis. “Aku takut, Banda. Takut kalau aku jatuh terlalu dalam… aku akan kehilangan diriku. Atau lebih buruk—kehilanganmu.”
Banda menyentuh pipi Jatayu dengan lembut. Kulitnya hangat, terlalu hangat, tapi ia tidak menarik tangan. “Kita jatuh bersama. Atau kita bangkit bersama. Tidak ada pilihan tengah.”
Untuk pertama kalinya, Jatayu tidak mundur. Ia membiarkan dahi mereka bersentuhan. Napas mereka bercampur. Panas di antara mereka semakin kuat, tapi kali ini bukan ancaman—lebih seperti janji.
Dari balik batu, Kirana memandang mereka dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak mendengar kata-kata, tapi ia merasakan ikatan itu—ikatan yang tidak pernah ia miliki dengan Jatayu, meski sudah ratusan tahun bersamanya. Tangannya mengepal di dada, tapi ia tidak bergerak. Hanya diam, menahan rasa sakit yang sudah terlalu lama ia pendam.
Bayu, yang duduk di dekat api, melihat Kirana dan menghela napas pelan. “Ini bakal rumit banget, ya?”
Kirana mengangguk kecil, tanpa menjawab.
Malam itu, mereka tidur dengan jarak yang lebih dekat dari sebelumnya. Tapi di antara mereka, ikatan darah semakin kuat—dan semakin berbahaya.
Di kejauhan, di lereng Merapi yang gelap, cahaya merah samar berkedip dari reruntuhan kuil kuno. Kristal merah terasa getarannya—seolah tahu bahwa pemilik darah campuran sedang mendekat.
Dan di dalam gunung itu, sesuatu yang lebih tua dari naga dan phoenix mulai bergerak pelan.
Dewi Lara—pemimpin klan Phoenix—berdiri di depan altar kosong, matanya menyala merah.
“Mereka datang,” bisiknya pada angin. “Dan kali ini… aku tidak akan membiarkan pengkhianatan berulang.”