NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26 Puncak Beku dan Gerbang yang Tersembunyi

Dinginnya Pegunungan Himalaya bukan sekadar suhu udara yang menusuk tulang, melainkan sebuah tekanan metafisika yang mampu membekukan aliran waktu itu sendiri. Di ketinggian 6.000 meter di atas permukaan laut, di mana oksigen begitu tipis hingga setiap napas terasa seperti sayatan pisau, Saka dan Anita mendaki tanjakan curam menuju koordinat yang diberikan oleh Arloji Void.

Bagi Anita, perjalanan ini adalah ujian fisik yang hampir melampaui batas kemanusiaannya. Ia mengenakan jaket thermal khusus yang dimodifikasi dengan energi perak untuk melindunginya dari hipotermia kronos. Di sampingnya, Saka berjalan dengan wujud hantu peraknya yang samar. Saka tidak merasakan dingin, namun ia merasakan "berat" dimensi yang luar biasa. Semakin tinggi mereka mendaki, semakin kuat gravitasi waktu yang mencoba menarik jiwa hantunya kembali ke titik nol.

"Saka... berapa jauh lagi?" Anita terengah-engah, uap napasnya membeku seketika di udara.

"Sedikit lagi, Nit. Arlojinya bilang gerbangnya akan terbuka saat matahari berada tepat di puncak Everest," Saka menatap arlojinya yang kini memancarkan cahaya biru yang stabil. "Tahan sebentar lagi. Pengetahuan di otakmu seharusnya bisa membantumu mengatur suhu tubuhmu."

Anita memejamkan mata, mengakses Perpustakaan Hidup. Ia menemukan sebuah catatan kuno dari peradaban Tibet tentang Tummo—seni menghasilkan panas tubuh melalui meditasi. Seketika, suhu tubuhnya meningkat, dan rona merah kembali ke pipinya yang pucat.

Tepat pukul 12 siang, sebuah fenomena aneh terjadi. Cahaya matahari yang memantul di hamparan salju tiba-tiba membiaskan spektrum warna yang tidak ada dalam pelangi. Ruang di depan mereka retak, membentuk sebuah lubang kunci raksasa yang terbuat dari kristal es murni.

"Siapa yang berani mengetuk gerbang Chronos Academy tanpa undangan?" sebuah suara menggelegar dari balik kabut salju.

Dua sosok muncul dari balik badai. Mereka mengenakan jubah biru tua dengan aksen emas, dan di punggung mereka terdapat pedang besar yang jarum jamnya terus berputar. Mereka adalah Sentinels, penjaga akademi.

Saka melangkah maju, meskipun suaranya hanya terdengar seperti gema batin. "Namaku Saka, sang Ghost Guard dari Bandung. Dan ini Anita, sang Living Library. Kami datang untuk memenuhi panggilan arloji ini."

Salah satu Sentinel mendekat, memindai Saka dengan alat yang menyerupai lensa mata mekanis. "Subjek dengan energi Tinta Keabadian dalam darah hantu... dan seorang gadis yang membawa beban Alexandria? Tidak mungkin. Alexandria seharusnya sudah musnah tanpa sisa."

"Sejarah tidak pernah musnah, ia hanya berpindah tangan," sahut Anita dengan wibawa yang membuat para Sentinel terdiam.

Pintu gerbang kristal itu terbuka dengan suara gemuruh yang menggetarkan seluruh gunung. Di baliknya, tidak ada hamparan salju yang membosankan. Di balik gerbang itu berdiri sebuah kompleks bangunan megah yang memadukan arsitektur kuil kuno dengan teknologi masa depan yang futuristik. Di sana, waktu berjalan seribu kali lebih lambat daripada di luar. Inilah tempat di mana para pelindung garis waktu dari seluruh penjuru sejarah dilatih.

Saka dan Anita dipandu masuk menuju aula utama yang disebut The Grand Pendulum. Di sana, sebuah pendulum raksasa berayun di atas kolam merkuri cair, setiap ayunannya menentukan detak jantung dunia.

Di depan kolam itu, berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian rapi ala profesor Universitas Oxford, namun tangannya sepenuhnya terbuat dari mekanik perunggu yang rumit.

"Selamat datang, anak-anak Bandung," ucap pria itu. "Aku adalah Dekan Silas. Kami sudah lama mengawasi pergerakan kalian sejak insiden Menara Paradoks. Kalian telah melakukan banyak pelanggaran protokol waktu, namun keberhasilan kalian mengalahkan Vena membuat kami terkesan."

"Pelanggaran protokol?" Saka mendengus. "Kami menyelamatkan dunia."

"Dunia yang kalian selamatkan hanyalah satu helai benang di dalam kain kafan yang luas, Saka," Silas mendekat, mata mekanisnya berputar mencari celah dalam wujud hantu Saka. "Kalian menyelamatkan masa kini, tapi kalian membuka luka di masa lalu dan masa depan. Itulah sebabnya kalian di sini. Bukan untuk diberi medali, tapi untuk didisiplinkan."

Silas menjelaskan bahwa di Chronos Academy, terdapat penjaga lain. Ada Kaito dari masa depan Tokyo yang bisa menghentikan waktu dalam radius 10 meter, ada Zhara dari Persia Kuno yang bisa melihat masa depan melalui pasir, dan banyak lainnya. Mereka semua adalah individu yang "rusak" oleh waktu.

"Kalian akan menjalani pelatihan intensif selama tiga bulan di sini—yang bagi dunia luar hanya akan berlangsung selama tiga jam," lanjut Silas. "Anita akan diajari cara mengunci memori Alexandria agar tidak meledakkan otaknya, dan Saka... kami akan mencoba memberimu tubuh fisik kembali."

Mata Saka berbinar. "Tubuh fisik? Bagaimana?"

"Dengan satu syarat," Silas tersenyum misterius. "Kamu harus bisa mengalahkan bayanganmu sendiri dalam simulasi 'The Final Second'. Jika gagal, jiwamu akan terserap menjadi bahan bakar pendulum ini selamanya."

Malam harinya, Saka dan Anita diberikan kamar yang saling berseberangan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka merasa aman, meski berada di tempat yang penuh misteri.

Anita duduk di balkon kamarnya, menatap bintang-bintang yang tampak diam tak bergerak. Ia merasa kekuatannya semakin tajam. Ia bisa mendengar suara buku-buku di perpustakaan akademi memanggilnya dari jarak jauh.

Saka muncul di sampingnya, siluet peraknya kini tampak lebih solid berkat energi yang melimpah di akademi. "Kamu takut, Nit?"

"Sedikit," jawab Anita jujur. "Tapi aku merasa ini adalah tempat yang seharusnya kita tuju. Silas bilang mereka bisa memberimu tubuh kembali. Itu artinya... kita bisa benar-benar bersentuhan lagi."

Saka terdiam. Ia tahu Silas tidak menceritakan seluruh harganya. Di dunia waktu, tidak ada yang gratis. Untuk mendapatkan tubuh fisik, ia mungkin harus melepaskan kekuatannya sebagai Ghost Guard, atau lebih buruk lagi, melupakan masa lalunya di Bandung sepenuhnya agar identitas barunya bisa diterima oleh hukum alam.

"Apapun yang terjadi, jangan pernah lepaskan arloji itu, Nit," bisik Saka.

Saat mereka saling menatap, sebuah lonceng besar berbunyi di puncak akademi. Itu bukan lonceng jam; itu adalah Lonceng Peringatan.

"Ada serangan!" teriak seorang murid dari lorong. "Seseorang telah meretas Core waktu dari dalam!"

Saka dan Anita segera berlari menuju aula utama. Di sana, mereka menemukan Dekan Silas terkapar, dan kolam merkuri di bawah Grand Pendulum mulai berubah warna menjadi hitam pekat. Sesosok pemuda berdiri di atas pendulum yang berayun, memegang sebuah belati yang terbuat dari Tinta Hitam.

Pemuda itu menoleh, dan Saka tersentak. Wajah pemuda itu sangat mirip dengan Rian, namun jauh lebih muda dan penuh dengan kebencian.

"Halo, Saka," ucap pemuda itu. "Ayahku mengirim salam dari Zona Nol. Dia bilang, sudah waktunya akademi ini terbakar."

Saka menyadari bahwa dendam keluarga The Eraser belum berakhir. Anak dari garis waktu yang hancur telah menyusup ke tempat paling aman di semesta.

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!