Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Yang Seimbang
CHAPTER 29
Hari sudah malam.
Kota semakin ramai. Terlihat Shun dan Niel mulai bersiap untuk memulai misi.
Shun membawa tas yang berisi tiga benda, dan Niel terlihat memakai knuckle di kedua lengannya. Setelah selesai bersiap, ternyata Retsu ikut dalam misi ini, namun ia tidak akan banyak bertindak karena ingin melihat langsung kemampuan Shun.
Tanpa banyak bertanya, mereka bertiga langsung pergi ke tempat tujuan.
Tempat yang mereka tuju adalah mansion kediaman si pejabat yang cukup dekat dengan kota. Mansion yang terlihat besar dan megah itu membuat Shun terkejut karena uang untuk membangun mansion itu pasti dari uang rakyat.
Shun dan Niel bersembunyi di balik pohon, melihat-lihat sekeliling, dan menemukan penjaga yang sedang berkeliling. Mereka berdua mulai menyiapkan rencana.
Tidak lama, rencananya dimulai. Saat penjaga itu berbelok badan, suara semak-semak terdengar di telinganya yang membuat penjaga itu mengarahkan senternya ke semak-semak itu.
"Siapa di sana!" Penjaga itu melangkah mendekat.
Saat sudah dekat dan perlahan melihat di balik semak-semak itu, penjaga itu terkejut karena...
"Yo! Yo! Yo!.... Pak Penjaga! Apa! Apa! Kabarrrrr!!!!!" Niel keluar dari balik semak-semak dengan gaya seorang rapper.
Penjaga itu terkejut melihat Niel yang sangat aneh. "Kau! Kenapa di sini? Pergi sana! Ini bukan tempat bermain," lanjutnya.
"K, k, k, k, kenapa begitu!" Gang sign terlihat di tangan Niel. "Tentu saja! Aku tidak mau! Karena sedang menjalankan MISIIIII!!!!!" teriak Niel.
"Misi?" Penjaga itu sedikit bingung tentang perkataan Niel.
Setelah menyadarinya, penjaga itu ingin berlari dan melapor, namun saat membalikkan badan, Shun sudah berada di sana.
Shun dengan tenang memukul kepala bagian belakang penjaga itu supaya dia pingsan dan tidak mengingat apa yang terjadi sebelum dia pingsan.
Shun mengomeli Niel karena membocorkan misi, namun Niel hanya tertawa karena menurutnya itu adalah strategi cerdas.
Shun dan Niel melangkah perlahan dan sampai di gerbang utama. Terlihat dua penjaga yang menjaga gerbang itu dengan wajah yang sangat serius.
Shun dan Niel berjalan santai ke arah kedua penjaga itu. Tentu saja, kedua penjaga itu mengarahkan senapan ke Shun dan Niel.
Shun mengakali situasi ini dengan cara menanyakan alamat dan membohongi penjaga itu kalau mereka berdua tersesat. Saat penjaga itu memanggil temannya dan menoleh ke arah Shun dan Niel...
Tepat di mukanya, sebuah tinju yang menggunakan knuckle mengarah ke wajahnya dengan cepat dan mengenai serangan tanpa sempat menghindar.
Penjaga yang terkena serangan langsung terlempar dan menabrak gerbang. Siapa sangka, gerbang itu langsung patah padahal terbuat dari besi.
Yang paling mengejutkan, Niel menggunakan Fix, memusatkan energi di tangannya untuk memukul penjaga tadi.
"Oi! Pukul biasa bisa, ga sih!?" Shun berbisik ke Niel.
Saat Shun menoleh ke arah lain, penjaga yang satunya lagi maju untuk menyerang mereka berdua, menembaki Shun dan Niel secara tidak beraturan.
Menggunakan kecerobohan si penjaga, Shun dan Niel mudah untuk menghindar. Shun meloncat ke belakang sambil mengambil dua belatinya di tasnya.
Ia mendarat tepat di belakang penjaga itu dan langsung menebasnya dengan cepat. Karena suara tembakan senapan penjaga itu bisa saja membuat mereka ketahuan.
Setelah itu, dengan berhati-hati Shun dan Niel masuk melewati gerbang. Mereka pergi ke taman untuk menunggu Retsu yang sedang mencari keberadaan pejabat itu.
Shun dan Niel bersembunyi di gudang dekat taman dan mengobrol sebentar. Sampai saatnya, Retsu datang sambil tersenyum.
Retsu mengatakan untuk cepat menangkap pejabat itu karena para penjaga sudah bertindak setelah melihat dua penjaga yang menjaga gerbang tergeletak tak berdaya.
"Pejabat itu sepertinya tidur di kamarnya karena aku tidak melihat keberadaannya di mana pun," Retsu mengintip lewat lubang di pintu gudang. "Mungkin karena sudah larut," lanjutnya sambil menoleh ke arah Shun dan Niel.
Retsu sedikit terkejut melihat Shun dan Niel mengaktifkan Ten bersamaan. Terlihat energi hitam dan merah milik Shun menyelimuti tubuhnya dan mengubah belatinya seperti biasanya.
Terlihat juga Niel, energi kuning cerah menyelimuti tubuhnya dan mengubah knuckle-nya menjadi knuckle berduri berwarna kuning gelap.
Niel memukul-mukul angin. "Aku! Bisa! Memanjangkan! Duri-duri! Di Knuckle ku loh!"
"Gak ada yang nanya," jawab Shun cepat.
Setelah itu, mereka mulai keluar dari gudang dan melangkah dengan hati-hati, menyelinap masuk lewat jendela yang entah masuk ruang yang mana.
Mereka, tanpa tahu kamar pejabat itu di mana, mencoba membuka setiap ruangan yang mereka temui. Retsu juga mengatakan bahwa pejabat ini salah satu pejabat yang dilindungi Justice.
Di setiap ruangan, tentu saja mereka ketahuan oleh penjaga, namun itu bukan masalah bagi Shun dan Niel karena setiap penjaga yang datang bukanlah tandingan mereka.
Setelah menyelusuri lantai bawah, Shun dan Niel tidak menemukan kamar si pejabat itu. Mereka memutuskan untuk ke lantai dua.
Namun, setelah melewati tangga itu, rintangan mereka berdua ada di hadapan mereka langsung. Yang mereka lihat adalah dua orang yang sudah seperti menunggu kedatangan Shun dan Niel.
Tanpa basa-basi, Shun dan Niel bersamaan menyerang dua orang yang di hadapan mereka masing-masing. Shun dengan gesit menyerang lawannya, namun lawannya juga dengan gesit menghindari setiap serangan Shun, bahkan sambil tersenyum.
Shun sedikit marah saat melihat orang itu tersenyum karena merasa dia telah diremehkan. Shun mempercepat serangannya, dari sisi kanan, dari sisi kiri. Setiap serangan Shun ditangkis oleh orang itu menggunakan pistol yang memiliki pisau yang ia pegang.
"Kau boleh juga. Siapa namamu?" Orang itu berkata sambil tersenyum sombong.
"Shunsuke, memangnya kenapa!?" Shun menyiapkan kuda-kuda untuk serangan selanjutnya.
"Ohhh, begitu ya... Kau adalah orang yang membunuh orang tua sendiri itu, ya?" Kata orang itu dengan nada mengejek Shun.
Shun langsung termakan emosi amarah saat mendengar itu dan langsung melaju ke depan lawannya dengan kecepatan tinggi.
Orang itu sedikit terkejut dan takut karena melihat energi Shun yang seperti membesar. Dia masih bisa menangkis serangan Shun, namun dampaknya dia terlempar cukup jauh dari Shun.
Shun menoleh perlahan, dengan tatapan intimidasi yang tinggi.
"Jika tidak tahu kebenarannya, diam saja, pria sombong," Ucap Shun dingin.
Namun, saat melangkah, tiba-tiba seseorang memegang bahu Shun. Ternyata, orang itu adalah Retsu. Retsu menenangkan Shun dengan tatapan yang lebih mengintimidasi yang membuat Shun langsung menenangkan diri dan menyuruh Retsu untuk menonton saja.
"Sebagai ganti mengetahui namamu, aku akan memberitahu namaku," Orang itu berdiri perlahan dan menoleh ke Shun. "Namaku adalah Akari," Ia mengibaskan rambutnya.
"Siapa yang peduli dengan namamu," Shun langsung melaju cepat ke arah Akari.
Dan menyerang horizontal menggunakan tangan kanan dan kiri. Akari mengaktifkan Ten sambil menghindar dan mengubah pistolnya menjadi lebih futuristik. Pisau di pistolnya menjadi lebih panjang dan tajam.
Akari menangkis setiap serangan Shun, namun masih ada beberapa serangan yang mengenainya. Akari melompat ke belakang dan menembak Shun.
Shun menggeser kepalanya. Peluru Akari lewat begitu saja, namun ternyata peluru itu meledak tepat di samping Shun. Untungnya, Shun cepat bereaksi karena ia berpikir tidak mungkin hanya berubah dari penampilannya saja.
Akari terus menembaki Shun. Setiap peluru yang ia tembakkan dan mendekat ke Shun langsung meledak begitu saja.
Shun menghindar dengan berlari. Karena lantai dua lumayan luas, Shun bisa bergerak lebih leluasa untuk menghindar. Namun, saat Shun sedikit lengah, peluru menuju tepat di depannya.
Tanpa kehabisan akal, Shun menendang sofa yang ada di depannya ke atas. Secara bersamaan dengan peluru yang meledak, Shun berhasil selamat.
Benar saja, dampak dari ledakan itu sangat kuat karena sofa yang Shun tendang langsung hancur dalam sekejap.
Pertarungan Shun kali ini seimbang.
Pertama kali Shun menemukan lawan yang seimbang karena lawan biasanya jauh lebih kuat dari Shun.