NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 - Tuntutan Pernikahan

Setelah jeda yang panjang, William akhirnya berbicara dengan suara rendah tanpa nada antusias. "Aku tidak menerima janji kosong, Rahez. Jika kau ingin aku mempertimbangkan aliansi ini, bawakan rincian kontrak kerjanya dan biarkan timku mengaudit standar kelayakan aliansi ini. Jika semuanya memenuhi standar Marculles yang tidak bisa dinegosiasikan... aku mungkin akan mempertimbangkan wanita yang kau maksud."

Rahez tersenyum tipis, merasa telah memenangkan satu langkah krusial. "Kau tidak akan kecewa. Dia adalah standar tertinggi yang dimiliki Aestrasia. Jika suatu hari Anda membutuhkan seseorang dari Aestrasia yang dapat diandalkan, kau bisa datang padaku"

"Kita lihat saja nanti, jika aku membutuhkan sesuatu dari Aestrasia," jawab William perlahan, "Aku akan meminta Rafael menghubungimu."

William membalas sinis sebelum berbalik meninggalkan Rahez tanpa kata pamit, membiarkan jubah kebangsawanannya berkibar diterpa angin malam Arthenapolis yang dingin.


Aku hanya perlu menunggu Alvaren tersingkir. Setelah itu… aku akan menyeret Jihan dan membawanya ke altar pernikahan, dan William akan menerima tawaran yang tidak bisa ia tolak. Dalam batin Rahez

—-

Malam hari dikediaman Marculles

Alexander Marculles duduk tegak di sofa utama, sementara Lady Eleanor yang mengenakan gaun sutra mahal duduk di kursi tunggal dengan ekspresi yang merupakan campuran antara harapan dan rasa frustrasi. Di dekat jendela, William Marculles berdiri memunggungi mereka.

Alex mengembuskan napas berat, meletakkan dokumen di tangannya ke meja marmer. "William. Kami harus bicara sekarang. Bukan sebagai rekan bisnis, tapi sebagai daddy mu."

William tidak menoleh. Matanya terpaku pada refleksi lampu kota di jendela besar itu. "Daddy, kau tidak pernah berbicara kepadaku tanpa agenda," sahutnya dengan suara datar yang menyeramkan. "Katakan saja agenda apa yang membuatmu membatalkan penerbangan pribadiku ke Tokyo malam ini."

"Agenda kami adalah kelangsungan hidup kekaisaran ini, William!" Eleanor menyela, suaranya naik satu oktav karena amarah yang tertahan.

Eleanor merapikan lipatan gaunnya dengan kasar. "Kau sudah tiga puluh tiga tahun! Semua orang mulai bertanya-tanya. Kami malu kau terus menjadi bujangan paling dingin dan kejam di dunia!"

William akhirnya berbalik. Ekspresinya menunjukkan penghinaan yang terang-terangan saat ia menyesap whiskey di tangannya. "Aku tidak peduli dengan gosip, Mommy. Aku hidup untuk menguasai pasar global dan membuat dunia tunduk. Itu lebih dari cukup."

"Kekuasaan tidak berarti apa-apa jika tidak ada darah yang akan mewarisinya," Alex berdiri, berjalan perlahan menuju perapian. Suaranya mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. "Aku tidak ingin semua yang kubangun runtuh hanya karena keegoisanmu untuk berpegangan pada masa lalu yang sudah tiada."

Rahang William menegang seketika. masa lalu itu memicu luka yang langsung ia tutupi dengan tatapan kejam. "Jangan bicara tentang Anna, Daddy. Aku tidak butuh seseorang untuk menggantikannya. Aku tidak butuh wanita lemah yang hanya bisa merengek dan manja."

"Justru karena itu!" Eleanor menyahut manipulatif. "Kami sudah memperkenalkanmu pada putri bangsawan dan konglomerat terbaik! Tapi kau selalu bersikap kasar. Itu sangat tidak sopan, William!"

"Mereka hanya tertarik pada nama Marculles dan saldo bankku," William menggeleng muak. "Manja, mengeluh tentang detail kecil, dan tidak bisa bicara apa pun selain hal sepele. Aku benci kelemahan. Aku tidak akan menikah dengan wanita seperti itu."

Alex berbalik. Matanya kini sedingin baja saat ia memutuskan untuk mengeluarkan kartu terakhirnya. "Kalau begitu, bersiaplah melihat kekaisaran ini runtuh. Aku sudah bertemu pengacaraku. Jika kau tidak memiliki pewaris dalam waktu dua tahun, kendali Marculles Group akan kuserahkan kepada Sean."

William membeku. Gelasnya menghantam meja dengan bunyi dentum yang keras. "Sean? Dokter itu? Anak Paman Maxime yang telah tiada itu. Dia bahkan tidak tahu perbedaan antara hedge fund dan mutual fund? Dia akan menghancurkan perusahaan ini dalam semalam!"

"Aku tahu!" balas Alex tegas.

Alex dengan tatapan menyakinkan menutupi kebohongan yang ia simpan rapat “ Tapi setidaknya dia membawa darah Marculles. Dia akan memegang lima puluh satu persen saham. Bayangkan, William. Kau, sang penguasa dunia, harus meminta persetujuan pada seorang dokter yang hidupnya hanya mengurus flu musiman."

Kemarahan membara di mata William. Ancaman ini menyentuh inti dominasinya. Seluruh tubuhnya menegang saat ia membayangkan harus tunduk pada seseorang yang dianggapnya tidak kompeten.

"Daddy! Kau tidak bisa! Itu penghinaan!" geram William.

Melihat celah, Eleanor melunakkan suaranya. "Putraku, kau memang sangat hebat. Karena itulah kami ingin kau memastikan semua ini aman. Kami hanya ingin cucu laki-laki sebagai penerusmu. Mommy ingin menantu perempuan yang bisa diajak bersosialita. Kami sudah memilihkan kandidat—"

"CUKUP, MOMMY!" William membanting tangan ke meja, memotong kalimat ibunya. Matanya menggelap. "Jangan sebutkan nama wanita lain di depanku lagi!"

William menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan dirinya yang biasanya tidak tergoyahkan. Ekspresi geram dan pertimbangan berganti di wajahnya. Pikiran Sean mengambil alih membuatnya mual.

“Baik." Kata itu keluar seperti desisan. “Aku tidak akan membiarkan Sean Marculles menyentuh sehelai pun dari kekaisaran ini. Aku akan mendapatkan keturunan."

Kesepakatan dengan Rahez harus segera dipercepat. Aku akan menggunakan wanita keluarga Alvarezh itu memberiku pewaris untuk mengamankan sahamku setelah itu akan ku hancurkan martabatnya sebagai seorang Alvarezh dan aku akan membuang wanita itu seperti sampah.Batin William.

"Bagus, William. Itu adalah keputusan yang bijaksana. Dan ini harus segera." Alex Merasakan kemenangan, dia duduk kembali, ekspresinya kembali tenang.

William meneguk sisa whiskey-nya, matanya menatap sang ayah dengan peringatan tajam. "Aku yang menentukan wanita mana yang akan kunikahi. Tapi bukan wanita pilihan kalian. Aku akan membawanya sendiri, jadi jangan pernah ikut campur!"

Eleanor Tersenyum cerah "Ya, ya, William! Tentu saja! Selama Mommy bisa mengadakan baby shower termewah yang pernah ada, menantu perempuanku  terlihat bagus di foto!"

William Mendengus jijik, memutar matanya, lalu berjalan menuju pintu keluar ruang santai. Dia berhenti di ambang pintu, menatap ayahnya dengan tatapan peringatan

“Jangan pernah lagi membandingkan pekerjaan seorang penguasa dunia dengan seorang dokter, Daddy. Aku tidak akan lupa ancaman ini."

Tanpa menunggu jawaban, William berbalik dan menghilang ke lorong, membanting pintu dengan kekuatan yang menggetarkan ruangan.

Di dalam ruangan, Alex dan Eleanor saling bertukar senyum puas. Rencana mereka berhasil.

"Aku tahu ancaman tentang sean itu pasti berhasil!" Eleanor tertawa kecil sambil memeluk suaminya. "Kau tahu betapa William membenci gagasan kekuasaan jatuh ke tangan orang yang kurang kompeten."

Alex menyesap Armagnac-nya, matanya berkilat licik. "Sekarang tinggal menunggu. Anak itu pasti bergerak cepat. Dalam hitungan hari, dia akan membawa seseorang untuk mengamankan sahamnya."

Eleanor berbinar, sudah membayangkan pesta besar. "Aku bahkan sudah memilihkan tema baby shower Royal Heirs of Europe. Itu sangat cocok, kan?"

"Kau bahkan belum tahu siapa calon ibunya, Eleanor," Alex mengangkat alis.

"Oh, itu tidak penting," Eleanor melambaikan tangan. "Selama dia cukup cantik, berkelas, dan tidak membuat terlihat buruk di foto publik, dan tidak membuat malu keluarga Marculles, aku akan menerimanya dengan tangan terbuka."

——

Di Bar Eksekutif

Cahaya remang-remang bar. William mengangkat gelas kristal yang berulang kali ke bibirnya. Cairan keemasan mengalir, membakar tenggorokannya.

Di sudut ruangan, Rafael, sekretaris sekaligus asisten pribadinya yang paling setia, mengawasi dalam diam. Ia tahu kebiasaan ini sudah menjadi pelarian William setiap kali ada percakapan yang berakhir dengan tekanan.

William menunduk, memutar gelasnya perlahan. Suara Daddy masih terngiang.

Jika kau tidak memiliki anak laki-laki pewaris dalam waktu dua tahun, kendali Marculles Group akan kuserahkan kepada Sean.

Ia mendesah panjang. Sean. Nama itu selalu menusuk sisi ambisinya yang paling dalam. William tidak ingin Sean, sepupunya, yang dijadikan anak angkat oleh orang tuanya karean orang tua sean telah tiada, merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya. Marculles Group adalah harga dirinya, kekuasaannya, warisan yang tak boleh jatuh pada tangan orang lain.

Namun di sisi lain, William menutup rapat pintu hatinya. Luka ditinggal tunangannya, mendiang Anna Paula, delapan tahun lalu masih terlalu dalam, membentuk tembok yang tak bisa ditembus oleh wanita mana pun. Setiap kali ia mencoba mendekat, bayangan Anna selalu hadir, membuatnya dingin dan menjauh. Tangannya mengepal di atas meja bar.

“Aku tidak butuh wanita…” Gumamnya dalam hati.

"Anna... Aku tidak bisa melupakanmu. Setiap wanita yang kutemui terasa palsu, manja, dan menyedihkan. Mereka bukan dirimu. Aku tidak akan pernah membuka hati lagi. Cinta adalah kelemahan, dan kelemahan adalah musuh kekuasaan.” William berucap lirih.

Meski begitu, satu hal yang selalu menghantui benaknya, keinginan memiliki anak laki-laki. Seorang penerus yang akan mewarisi kekuasaan dan nama Marculles. Sosok kecil yang akan menjadi cerminan dirinya. Anak laki-laki yang ambisius, yang mewarisi kecerdasannya, dan yang akan memimpin kekaisaran ini lebih jauh lagi. Namun tidak bersama pasangan wanita mana pun. William tidak ingin lagi terikat secara emosional, tidak ingin lagi terluka.

“Tuan William, mungkin sudah cukup untuk malam ini.” Rafael melirik, memperhatikan tuannya yang meneguk gelas ke sekian kalinya sambil berucap hati-hati.

William tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke arah gelas yang baru saja kosong, seolah di balik pantulan itu ia melihat masa depan yang samar, kekuasaan yang diperebutkan, ambisi yang membara, dan bayangan anak laki-laki yang selalu ia dambakan.

—-

Beberapa hari kemudian

Kafe Soleil d’Or Terrace

Sore yang jernih menyelimuti Soleil d’Or Terrace, restoran outdoor mewah dengan taman lavender, bergantung di antara pepohonan, dan hidangan yang tertata.

Di meja sudut yang menghadap danau buatan, Jihan duduk bersama empat sahabatnya. Zara, Anena, Dianra, Felix.

Pelayan meletakkan piring dessert berbentuk mawar berlapis emas tipis di depan Jihan.

"Happy twenty second birthday, Jihan! Kau tampak seperti bunga musim semi. Tenang tapi mematikan jika disentuh sembarangan."

Zara menepuk tangan sambil bersorak kecil.

Jihan tertawa kecil,”Aku tidak mematikan siapa pun, Zara. Tapi terima kasih." Mengibas rambutnya dengan lembut.

Anena, yang paling glamour dan humoris, mengangkat gelas champagne nya.

“Untuk Jihan, si calon lulusan S2 termuda yang kukenal dan satu-satunya yang masih terlihat segar setelah begadang menyelesaikan proyek."

"Kau mengungguli kami semua, Jihan. Bahkan profesor kita pun lupa kalau kau masih 22." Ucap Felix, yang lebih kalem, tersenyum sambil memainkan sendoknya.

Dianra, yang paling lembut, mendekat sedikit. “Selamat ulang tahun, Jihan. Dan selamat untuk kelulusanmu minggu depan. Kita harus merayakannya besar-besaran, kan?"

Jihan tersenyum pelan. “Perayaanku hari ini sudah lebih dari cukup. Aku tidak butuh pesta besar-besaran." wajahnya hangat dan tenang.

"Tidak! Itu tidak boleh!" Zara menggeleng keras. "Kau sudah melewati fase paling sulit di hidupmu, analisis data, diplomasi, tugas proyek, shift butik, shift kafe, dan kuliah… Kau layak merayakan kemenanganmu!"

Anena menusuk dessert-nya dengan antusias. "Benar. Lagi pula, liburan musim panas sebentar lagi. Kita harus pergi ke pantai atau ke Eropa. Atau… ke resor thermal baru milik Alvarezh Group."

"Aku tidak tahu apakah aku bisa liburan panjang," Jihan tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyembunyikan kerumitan hidupnya. "Aku… menunggu kakakku pulang dari perbatasan dan aku mungkin akan langsung melanjutkan studiku ke jenjang berikutnya agar semua tanggung jawabku segera selesai."

Felix bersandar di kursinya, mengamati gerakan tangan Jihan yang halus ketika ia mengusap rambut dari wajahnya. "Jihan… kau juga harus hidup untuk dirimu sendiri. Tidak apa-apa mengambil jeda."

"Ya. Kau melakukan begitu banyak hal sekaligus. Bahkan di ulang tahunmu pun kau masih memikirkan keluarga," Dianra mengangguk lembut menyetujui.

Jihan tersenyum sambil menatap danau yang memantulkan sinar matahari keemasan. "Mereka keluargaku. Kak Alvaren sedang di perbatasan… Jinan juga kau tahu sendiri jadwal syuting dan konsernya sangat padat, tapi ia masih menyempatkan diri meninggalkan semua urusannya sore ini. Aku tidak bisa bersenang-senang terlalu lama tanpa mereka."

Zara menghela napas dramatis. "Baiklah, tapi minimal kau harus menerima hadiah ulang tahun dari kami. Tidak boleh menolak."

"Dan kau juga harus berpikir tentang pekerjaan masa depan," Anena menggoda dengan semangat. "Dengan otakmu, kau bisa kerja di kementerian luar negeri atau perusahaan teknologi internasional… kamu bisa menguasai dunia jika mau."

Jihan tertawa kecil. "Aku tidak sedang ingin menguasai dunia. Aku hanya ingin hidup tenang, menikmati hidup kehidupan yang aku sukai."

"Itu adalah hal yang paling sulit didapat, Jihan," sahut Felix lembut namun tajam.

Meja mereka sudah penuh tawa ketika Zara meletakkan garpu dan berseru dramatis. "Oke, Jihan! Setidaknya setelah kakakmu kembali dan kelulusanmu minggu depan, kita HARUS kabur dari negara ini minimal seminggu!"

"Setuju! Kita pergi ke Santorini! Atau ke Wina! Atau kita ke Swiss menjadi putri bangsawan yang sedang healing!" Anena menimpali dengan heboh.

Dianra ikut bersemangat. "Aku tahu, bagaimana kalau satu yacht di Riviera yang bisa kita sewa."

"Kalian ini belum lihat saldo kalian sendiri ya?" Felix mengangkat alis, menahan tawa. "Bahkan aku yang calon arsitek pun baru menerima setengah gaji proyek pertama."

"Felix, ssshhh! Jangan bawa-bawa realita ke sini, ini ruang fantasi!" Zara menyemprot dengan nada bercanda. "Bagaimana kalau ke pegunungan Levandor untuk skiing? Atau mungkin Paris untuk belanja?"

Jihan tertawa kecil, menutup mulut dengan tangan. "Aku bahkan belum memutuskan mau bekerja di mana setelah lulus atau bahkan memutuskan jurusan studiku. Kalian sudah sibuk merencanakan liburan internasional."

"Justru itu. Kita harus merayakan sebelum kau terjun ke dunia diplomasi atau teknologi tingkat tinggi dan menghilang dari muka bumi," Dianra memiringkan kepalanya.

Anena langsung memotong dengan jenaka. "Ah tidak! Jihan MASUK diplomasi? Tidak bisa! Aku duluan! Aku sudah latihan senyum palsu dan jabat tangan diplomatik!" Ia memperagakan jabat tangan penuh formalitas, membuat Zara hampir tersedak tawa.

"BAH! Diplomasi itu cocok untukmu, Nen. Kau bisa berdebat dengan presiden mana pun dan tetap kelihatan cantik," sahut Zara.

Felix menimpali dengan bangga. "Sedangkan aku akan jadi orang yang membangun gedung untuk tempat kalian debat. Smart city architect. Kota masa depan, AI, struktur geodome, semua itu sedang naik daun."

"Itu pekerjaan yang paling mulia di antara kita semua," Zara menepuk bahu Felix. "Sementara aku hanya ingin membuat gaun yang dipakai di karpet merah."

"Zara, gaunmu itu sudah level karpet merah. Aku lihat rancangan terbarumu, semua orang akan rebutan pakai," puji Jihan tulus.

Zara langsung menjerit kecil. "KAU DENGAR ITU?! JIHAN BILANG RANCANGANKU BAGUS! Itu validasi dari wanita paling teliti se-ALVAREZH!"

Meja mereka hampir bergetar karena semuanya tertawa. Namun tiba-tiba Zara menyandarkan punggungnya, matanya menatap kursi kosong di ujung meja. "Ngomong-ngomong, di mana Alkhan? Ini ulang tahunmu, dan ini pertama kalinya dia tidak muncul. Apakah karena status kalian yang sudah jadi mantan , Jihan ?

Jihan meletakkan garpu peraknya dengan tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!